Happy reading.
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Reno berbaring di samping Maya, namun matanya terus menatap langit-langit kamar yang gelap. Setiap kali Maya bergerak dalam tidurnya, jantung Reno berdegup kencang karena rasa bersalah.
"Kenapa jadi seperti ini? Aku semakin tidak bisa lepas dari Laras, ini benar-benar gila."
Reno merasa seperti pecandu yang sedang ditarik oleh zat yang mematikan. Ada bagian dari dirinya yang sangat ketakutan, namun ada bagian lain yang gelap dan haus akan kehadiran Laras.
Pukul satu dini hari. Reno bangkit perlahan, memastikan napas Maya tetap teratur sebelum ia menyelinap keluar kamar. Langkah kakinya nyaris tak terdengar saat ia menelusuri lorong rumah yang sunyi menuju balkon belakang yang menghadap ke taman.
Laras sudah di sana. Ia berdiri menyandar pada pagar balkon, membelakangi pintu masuk. Cahaya bulan menyinari bahunya yang terbuka, membuatnya tampak seperti siluet yang anggun namun berbahaya.
"Aku tahu Mas bakal datang," ucap Laras tanpa menoleh. Ia berbalik, memamerkan senyum penuh kemenangan yang selalu membuat Reno tidak bisa berkutik dengan senyuman Laras.
"Mendekatlah Mas Reno, aku sudah menunggu kamu sejak tadi."
Reno mendekat, suaranya sangat rendah hingga nyaris tertelan angin malam. "Apa yang kamu mau sebenarnya, Laras? Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau malam itu. Dan kenapa harus meminta lagi malam ini, apa kamu tidak cukup membuat Mas tersiksa."
Laras melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Reno bisa mencium aroma mawar dari rambutnya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di d**a Reno, merasakan detak jantung pria itu yang selalu menjadi musik favoritnya.
"Aku nggak mengancam, Mas. Aku cuma mengingatkan bahwa kita punya rahasia," bisik Laras. Ia mulai menggerakkan jemarinya secara perlahan, menciptakan pola acak di atas kaus Reno yang membuat pria itu sulit untuk berpikir jernih. "Dan rahasia itu membuat Mas merasa lebih hidup daripada pernikahan Mas yang membosankan ini, kan?"
Reno mencoba memalingkan wajah, namun Laras meraih rahangnya, memaksa pria itu menatap langsung ke matanya yang tajam. "Jangan bohong, Mas. Mas nggak akan di sini kalau Mas nggak candu dengan apa yang kita lakukan di ruang kerja waktu itu."
Laras kembali memberikan sentuhan-sentuhan halus yang selama ini menghantui pikiran Reno. Ia menarik pria itu ke sudut balkon yang lebih gelap, jauh dari jangkauan pandangan lampu jalan.
Di bawah langit malam yang sunyi, Reno kembali menyerah. Candu itu lebih kuat dari akal sehatnya. Ia membalas dekapan Laras dengan intensitas yang lebih besar, seolah-olah sedang mencari pelarian dari rasa frustrasinya sendiri.
"Hanya malam ini, Laras." gumam Reno dengan suara pelan.
"Itu yang Mas katakan semalam," jawab Laras sambil tersenyum di balik kegelapan. "Dan aku tahu, Mas akan kembali-"
Reno membungkam bibir mungil Laras cepat, ia tidak ingin berlama-lama di balkon ini. Ia bahkan ingin membawa tubuh Laras menuju kamar adik iparnya yang selama ini menjadi tempat rahasia mereka berdua.
"Mas Reno, ah."
"Aku nggak akan membiarkan kamu tidur malam ini Laras, ini yang kamu mau bukan?"
Beberapa jam kemudian, saat mereka sudah terbuai dalam lingkaran nafsu kebersamaan di balkon. Mereka berlanjut masuk ke dalam kamar Laras, ia tidak lupa mengunci pintu agar tidak ada yang membuka pintu.
"Laras, kamu memang berbeda dengan Maya. Aku benar-benar sudah kecanduan,"
Laras menyadari bahwa ia telah memenangkan pertempuran memperebutkan hasrat Reno, namun baginya itu belum cukup. Ia ingin melihat sejauh mana Reno akan menerimanya dan melupakan Maya.
***
Sore harinya, saat Reno bersiap-siap untuk berangkat ke acara makan malam kantor, Laras masuk ke kamar saat Maya sedang sibuk merias wajah di depan cermin besar. Reno sedang berdiri di depan lemari, mencoba merapikan dasinya dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena kehadiran Laras di ruangan yang sama.
"Sini, Mas. Biar aku bantu," ucap Laras dengan nada suara yang sangat polos, seolah ia hanyalah seorang adik ipar yang berbakti.
Maya menoleh sekilas dari cermin dan tersenyum. "Iya, Ras. Tolong ya, Mbak masih tanggung pakai eyeliner nih."
Laras mendekati Reno. Ia berdiri sangat dekat, menghalangi pandangan Maya ke arah d**a Renk. Sambil berpura-pura merapikan simpul dasi, Laras melakukan sesuatu yang sangat berani. Ia menggunakan jemarinya yang telah dipoles dengan lip tint berwarna merah ceri yang masih basah, lalu menekannya dengan sengaja pada bagian dalam kerah kemeja putih bersih yang dikenakan Reno.
Tak cukup di situ, ia mendekatkan wajahnya, seolah sedang memeriksa kerapian kerah, dan dengan gerakan yang sangat cepat, ia meninggalkan aroma parfumnya yang sangat tajam tepat di garis leher kemeja itu.
Cup.
"Selesai, Mas," bisik Laras sambil menatap mata Reno dengan tatapan menantang. "Sekarang Mas terlihat sempurna."
Reno tidak menyadari ada noda merah kecil di kerahnya, namun senyuman Laras membuat ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi.
"Ayo, Mas! Kita jalan sekarang, nanti keburu malam."
Laras melambaikan tangannya, tersenyum tipis ketika Reno menatapnya. Sebentar lagi akan terjadi sesuatu antara Reno dan Maya, yang akan membuatnya bahagia atas apa yang akan terjadi dengan keduanya.
Beberapa jam kemudian.
Saat mereka baru saja pulang dari makan malam dan Maya membantu Reno melepaskan jasnya di kamar, keheningan pecah. Aris sedang duduk di tepi ranjang, merasa lelah karena beban rahasia yang ia pikul, ketika ia melihat gerakan Maya terhenti.
Tangan Maya terpaku pada kerah kemeja Reno. Matanya menyipit, menatap noda kemerahan yang samar namun jelas berbentuk bekas sentuhan jari, serta aroma vanilla dan mawar yang tidak asing. Aroma parfum yang bukan miliknya.
"Mas." suara Maya terdengar bergetar, "Kenapa ada noda merah di kerahmu? Dan, bau parfum ini kenapa nggak asing ya."
Reno membeku. Jantungnya berpacu hebat. Dari celah pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit, ia bisa melihat bayangan Laras yang sedang berdiri di lorong gelap, memperhatikan mereka
"Itu mungkin noda makanan di kantor tadi, May," jawab Reno terbata-bata, sebuah kebohongan yang terdengar sangat lemah bahkan di telinganya sendiri.
"Ini noda lipstik, dan warnanya nggak asing bagiku."
Maya terdiam, jarinya mengusap noda itu perlahan. Untuk pertama kalinya, ada keraguan yang sangat besar di matanya. Di luar kamar, Laras tersenyum puas, ia telah menanamkan benih kecurigaan yang tidak akan pernah bisa dicabut lagi.
"Apa selama ini Mas Reno punya wanita lain selain aku? Tapi, siapa wanita itu? Kenapa aku bisa kecolongan seperti ini?"
"Mas Reno itu selingkuh sama aku Mbak Maya, dan itu balasannya untuk kamu karena telah-"