Happy reading.
"Oh. iya, mungkin noda makanan," gumam Maya pendek. Ia segera berbalik, membelakangi Reno dan menyibukkan diri merapikan meja riasnya. Suaranya terdengar terlalu tenang, sebuah ketenangan yang dipaksakan untuk menutupi sesuatu yang besar.
Reno mengerutkan dahi. Ia sudah menyiapkan seribu alasan, namun Maya melepaskannya begitu saja tanpa ada pertanyaan-pertanyaan yang membuat Reno tidak bisa berkutik.
"Aku istirahat duluan Mas, selamat malam."
Pukul dua pagi, Reno terbangun karena merasa haus. Saat ia melewati ruang tengah menuju dapur, ia melihat cahaya redup dari balkon samping. Ia mengintip dan melihat Maya sedang berdiri di sana, berbicara dengan suara yang sangat rendah di telepon.
"Aku juga merindukanmu, Mas Reno nggak curiga. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya," bisik Maya ke dalam ponselnya, tangannya gemetar pelat.
Reno terpaku di balik tembok. Dunianya serasa berputar. Ia yang merasa sebagai pengkhianat ulung, ternyata hanyalah salah satu pemain dalam permainan yang jauh lebih besar. Ironisnya, di saat bersamaan, sebuah tangan dingin melingkar di pinggang Reno dari belakang.
"Mas lihat, kan?" bisik Laras yang tiba-tiba muncul seperti hantu di kegelapan. Ia telah mendengar semuanya. "Mbak Maya punya dunianya sendiri. Jadi, Mas nggak perlu merasa bersalah lagi padanya."
Laras menarik Reno menjauh dari bayangan Maya, membawanya kembali ke dalam kegelapan yang lebih pekat. Sekarang, tidak ada lagi moral yang harus dijaga. Rumah itu telah menjadi sarang pengkhianatan yang simetris, di mana kesetiaan hanyalah sebuah dongeng lama yang sudah lama mereka tinggalkan.
Kini semua kartu telah terbuka di atas meja, meski mereka masih berpura-pura di depan satu sama lain.
Dua bulan yang lalu.
Kecurigaan Laras yang awalnya hanya berupa insting kini mendapatkan bukti nyata. Sore itu, Laras sengaja mengikuti Maya setelah kakaknya itu berpamitan untuk acara reuni teman SMA. Laras membuntuti taksi Maya dari kejauhan hingga berhenti di depan sebuah hotel butik mewah di sudut kota yang tenang.
Laras berdiri di balik pilar besar di seberang jalan, mengenakan kacamata hitam dan topi yang menutupi wajahnya. Ia melihat Maya turun dari taksi dengan penampilan yang jauh lebih berani dari biasanya gaun merah yang memeluk tubuh dan riasan wajah yang sangat tajam.
Tak lama kemudian, seorang pria jangkung dengan setelan jas rapi menghampiri Maya. Mereka tidak bersalaman, namun pria itu langsung melingkarkan tangan di pinggang Maya dan mengecup keningnya dengan cara yang sangat intim. Maya tersenyum manja, sebuah ekspresi yang tidak pernah lagi ia tunjukkan pada Reno di rumah.
Laras segera mengeluarkan ponselnya. Dengan tangannya sendiri, ia mengambil beberapa foto dan video saat keduanya berjalan masuk menuju lobi hotel, hingga mereka menghilang di balik pintu lift.
"Wah, Mbak Maya. Ternyata selama ini berselingkuh dibelakang Mas Reno." bisik Rena pada dirinya sendiri, senyum sinis tersungging di bibirnya.
***
Laras berdiri mematung di balik pilar marmer besar di lobby hotel bintang lima, jantungnya berdegup kencang, seirama dengan denting piano yang mengalun lembut di ruangan bernuansa emas itu.
Matanya tidak lepas dari sosok Maya kakak perempuannya yang baru saja melangkah melewati pintu putar otomatis.
Maya tidak sendirian. Di sampingnya, seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas navy yang tampak sangat mahal merangkul pinggang Maya dengan posesif.
"Jadi, selama ini Mbak Maya itu berselingkuh. Apa nggak memikirkan Mas Reno yang begitu mencintainya."
Laras menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan rasa sesak di dadanya. Ia membenarkan letak kacamata hitamnya, berharap penyamaran sederhananya cukup untuk tidak menarik perhatian.
Selama ini, Maya selalu bercerita tentang lembur dan proyek luar kota, namun pemandangan di depannya berkata lain.
Ia melihat mereka berhenti di meja resepsionis. Pria itu memberikan sebuah kartu hitam, sementara Maya menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil tersenyum, senyuman yang belum pernah Laras lihat saat Maya bersama Reno suami Maya sekaligus kakak iparnya.
"Aku, harus mendapatkan bukti lebih banyak lagi. Mungkin dengan berusaha masuk ke dalam kamar mereka," gumam Laras pelan.
Laras menunggu hingga mereka memasuki lift. Begitu angka di atas pintu lift bergerak menuju lantai 12, Laras bergegas menuju lift di sisi lain. Berharap masih ada waktu untuk mengejar Maya dan pria itu.
Ting.
Ketika pintu lift terbuka di lantai 12, lorong itu terasa sangat sunyi dan dingin dengan karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Laras mengintip dari sudut lorong. Ia melihat Maya dan pria itu berhenti di depan pintu kamar 1208.
Pria itu membuka pintu, lalu berbalik dan membisikkan sesuatu ke telinga Maya yang membuat wanita itu tertawa kecil. Sebelum masuk, Maya sempat menoleh ke arah lorong hampir membuat Laras terkesiap dan bersembunyi di balik lekukan dinding.
"Kamar 1208, pilihan yang bagus."
Pintu kamar tertutup dengan bunyi pelan, namun terasa seperti ledakan di telinga Laras. Ia kini berdiri sendirian di koridor yang mewah namun terasa mencekam.
"Huft, Mbak Maya sudah keterlaluan. Kalau seperti ini aku saja sebagai adiknya malu-"
Ting.
"Ras, Maya bilang dia lagi meeting sama klien sampai malam. Bisa titip beliin Mas obat pusing," kata Reno diseberang sana.
"Meeting sama klien? Sampai malam pula? Kamu sudah dibohongin Mas Reno, nyatanya Mbak Maya itu meeting di dalam kamar hotel."
Laras menatap layar ponselnya, lalu menatap pintu kayu jati nomor 1208 itu. Kebenaran ada di balik pintu itu, namun ia menyadari bahwa sekali ia melangkah masuk atau mengambil beberapa foto tanpa Maya tahu. Akan menjadi bumerang untuk Maya, bagaimanapun juga Maya adalah kakak kandungnya sendiri. Namun, ia tidak menyukai cara Amya berselingkuh dibelakang seperti sekarang.
"Aku harus masuk, ambil foto dan pergi dari hotel ini secepatnya."
Laras merasakan udara dingin mengalir di punggungnya. Pikirannya kosong, namun kakinya seolah bergerak sendiri, melangkah perlahan menuju pintu. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya, atau apa yang akan ditemukannya. Tangannya terulur, menyentuh gagang pintu yang dingin. Ajaibnya, gagang pintu itu berputar dengan mudah. Pintu itu tidak terkunci. Laras mendorongnya perlahan, menciptakan celah kecil. Dari celah itu, ia bisa mendengar tawa kecil Maya yang kini terdengar asing di telinganya.
Ia menggeser pintu lebih lebar, dan pemandangan di depannya langsung menghantam indra penglihatannya. Kamar itu mewah, dengan lampu temaram dan tirai tebal yang menutupi jendela, menciptakan suasana intim. Di kamar, Maya berada diatas ranjang, tertawa genit sambil menikmati sentuhan pria yang entah siapa namanya.
Pria tadi berada tepat diatas Maya, tangannya membelai rambut Maya dengan lembut dan pelan. Mencium bibir Maya hingga terdengar desahan dari bibir Maya.
Pakaian mereka masih lengkap, namun gestur dan tatapan mata mereka sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan segalanya. Maya terlihat sangat nyaman dan bahagia, bersandar pada pria itu seolah tidak ada orang lain di dunia ini. Pria itu membisikkan sesuatu, dan Maya terkikik, lalu membalas bisikan itu dengan senyuman menggoda. Laras melihat Maya meraih tangan pria itu, menggenggamnya erat, seolah tak ingin melepaskannya.
Laras tidak bisa bernapas. Rasa mual melanda perutnya. Ini bukan hanya tentang perselingkuhan antara Maya dan pria itu, akan tetapi ini tentang kebohongan yang rapi, tentang kepercayaan yang dikhianati oleh orang yang paling ia sayangi. Air matanya mulai mengalir, namun ia tidak mengeluarkan suara. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menjadi saksi bisu kehancuran yang tak terhindarkan.
Laras tidak bisa lagi menahannya. Air mata sudah membasahi pipinya. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah mundur, menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Maya dan pria itu di dalam kamar mewah itu, bersama dengan kebohongan yang baru saja terungkap.
Ting.
"Ras, jangan lupa obat pusing buat Mas."
Dengan perlahan, Laras mengetik kata demi kata untuk membalas pesan dari Kaka iparnya.
"Siap Mas Reno, obatnya sudah ada."