Happy reading.
Reno Samudera berdiri di balkon kamarnya, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Tatapannya kosong ke arah kolam renang di bawah, namun pikirannya tertuju pada satu nama yang seharusnya ia ingat lagi. Larasati Prameswari adik iparnya sendiri.
Sebagai kakak ipar, Reno seharusnya hanya memandang Laras sebagai adik. Namun, setiap kali Laras hadir di tengah keluarga mereka, ada debaran yang sulit ia padamkan sebuah perasaan yang ia simpan rapat di balik topeng wibawa dan ketegasannya sebagai kepala keluarga.
"Huft, kenapa akhir-akhir ini selalu memikirkan Laras. Seharusnya aku memikirkan Maya," gumam Reno.
Reno ingat betul bagaimana Laras selalu menjadi orang pertama yang menyadarinya jika ia sedang lelah sepulang dari kantor. Sementara istrinya Maya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, Laras akan datang dengan segelas air putih dan senyum tulus yang menenangkan.
"Mas Reno kelihatan capek banget hari ini," suara lembut Laras terngiang di telinganya. "Mau aku pijat?" tanya Laras kepada Reno.
Reno memejamkan mata. Ia membenci dirinya sendiri karena setiap kali Laras tertawa, ia merasa dunianya sedikit lebih cerah. Ia membenci kenyataan bahwa ia mulai menghafal aroma parfum vanila Laras atau bagaimana cara wanita itu merapikan rambut di balik telinganya.
"Sial, kenapa harus Laras? Kenapa nggak Maya yang ada dipikiran ini?"
Beberapa hari lalu, di ruang tengah. Reno melihat Laras sedang melamun menatap ponselnya. Ia tahu Laras sedang kalut karena masalah percintaan dengan kekasih Laras, ada keinginan besar dalam diri Reno untuk duduk di sampingnya, merangkul bahunya, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, Reno hanya bisa berdiri di kegelapan koridor, memperhatikannya dari jauh. Ada jarak yang tidak terlihat namun sangat tebal di antara mereka. Jarak yang bernama pernikahan dan status keluarga.
"Kamu terlalu berharga untuk sedih karena urusan orang lain, Laras," bisik Reno pelan, suaranya hilang ditelan angin malam.
Semakin hari semakin Reno bermain api. Perasaan yang ia alami adalah pengkhianatan, bukan hanya kepada istrinya, tapi juga kepada kepercayaan Laras yang menganggapnya sebagai pelindung. Namun, setiap kali melihat Laras tersakiti atau menangis seperti saat Laras pulang beberapa hari lalu. Reno ingin sekali menjadi tempat Laras bersandar, bukan sekadar Mas Reno yang formal, melainkan pria yang bisa mendekapnya dengan utuh. Tapi ia adalah seorang Reno Samudera, dan ia tahu betul konsekuensi dari perasaan aneh ini.
"Laras." panggilnya lirih.
Laras tersentak, ia mendongak dengan mata yang sembab dan hidung kemerahan. Melihat Reno ada di sana, pertahanannya runtuh. Tanpa memikirkan apa pun, Laras menghambur ke pelukan kakak iparnya itu, mencari perlindungan dari kenyataan pahit yang baru saja ia saksikan di hotel.
"Mas Reno, aku sedih."
Reno membeku sesaat. Detak jantungnya berpacu liar saat merasakan tubuh Laras bersandar di dadanya. Aroma vanila yang familiar itu kini bercampur dengan aroma air mata. Dengan tangan yang sedikit ragu, Reno akhirnya melingkarkan lengannya, mendekap Laras dengan erat mungkin sedikit terlalu erat untuk ukuran seorang kakak ipar.
"Sshhh sudah, jangan menangis. Mas ada di sini," bisik Reno tepat di telinga Laras. Ia mengusap punggung Laras dengan gerakan memutar yang menenangkan, sebuah sentuhan yang lebih dari sekadar simpati.
Laras terisak di ceruk leher Reno. "Mas Reno aku melihat kekasih ku dengan wanita lain. Bahkan, mereka masuk ke dalam kamar hotel."
"Kamu nggak perlu memikirkan pria b******n itu, Laras. Ada Mas di sini yang selalu menjadi garda terdepan untukmu. Jangan menangis lagi, tangisanmu membuat aku sedih." ucap Reno tanpa sadar. Kalimat terakhirnya lolos begitu saja, mengungkapkan sedikit dari gunung es perasaannya yang terpendam.
Laras sedikit merenggangkan pelukannya, menatap wajah Reno dengan bingung. "Mas Reno sayang sama Laras?"
Reno tersadar. Ia menatap mata Laras yang basah, dan untuk beberapa detik, pandangan mereka terkunci. Ada sesuatu yang intens di mata Reno, sesuatu yang bukan sekadar kasih sayang saudara. Tangan Reno yang tadinya mengusap punggung, kini naik ke pipi Laras, menghapus air mata dengan ibu jarinya.
Cup.
Tepat saat suasana berubah menjadi sangat intim dan berbahaya, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.
"Mas? Kamu di bawah? Kok gelap-gelapan?" suara Maya terdengar dari atas kamar.
Reno tersentak dan segera menarik tangannya, menciptakan jarak yang tiba-tiba. Laras pun dengan cepat menghapus sisa air matanya, memalingkan wajah ke arah kegelapan taman.
Suasana di ruang tengah mendadak mencekam. Detak jantung Reno terasa seperti dentuman genderang di dadanya. Ia berdiri dengan kaku, sementara Laras tertunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab.
"Iya, May. Aku cuma ambil minum," sahut Reno dengan suara yang diusahakan sedatar mungkin.
"Cepat Mas, aku sudah mengantuk."
"Iya May, aku akan naik sebentar lagi."
"Mas Reno, Laras sayang sama Mas."
"Tidur Ras, besok kamu bisa terlambat kuliah."
***
Keesokan harinya, Reno pergi ke kantor. Ia seperti biasa datang tepat waktu, namun baru saja ia sampai ada pesan masuk ke dalam ponselnya. Reno mengira pesan tersebut dari Maya, tapi ternyata ia salah besar. Laras adik iparnya yang mengirimkan pesan singkat tersebut.
"Mas Reno, aku boleh ke kantor hari ini? Aku bosan sendirian di rumah, Mbak Maya pergi dan aku nggak tahu kapan pulang."
"Boleh, datanglah ke kantor hari ini. Aku tunggu," balas Reno.
Satu jam kemudian.
Reno memutuskan untuk mengambil kendali penuh atas situasi ini. Ia tidak ingin Laras berada di area terbuka kantor di mana mata-mata karyawan atau kemungkinan kunjungan mendadak Maya bisa mengganggu mereka.
"Batalkan semua pertemuan di luar. Saya tidak ingin diganggu oleh siapa pun hari ini," kata Reno menekankan suaranya.
"Baik Pak Reno, semua pertemuan akan dibatalkan untuk hari ini."
"Mas, apa ini tidak berlebihan? Orang-orang akan bicara aneh-aneh tentang aku" bisik Laras, matanya menyapu ruangan yang terasa terlalu intim itu.
"Biarkan mereka bicara, Laras. Hari ini, kamu hanya perlu tenang," jawab Reno tenang. Ia melepaskan jasnya, melonggarkan dasi, dan menggulung lengan kemejanya. Pemandangan yang membuat Laras sulit untuk membuang muka.
"Duduklah, aku akan mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda. Nikmati saja hari ini di ruang kerjaku, Laras."
"Siap Mas Reno, aku mau lihat Drakor dulu."
Saat waktu makan siang tiba, Reno ingin memesan makanan dari restoran favorit Laras. Namun, ia baru menyadari bahwa Laras tidur di atas sofa yang berada beberapa meter dari tempatnya duduk.
"Pantas saja nggak berisik, ternyata tidur."
Reno mengendong Laras menuju ruang istirahat tempat Reno melepaskan penat seharian bekerja, ia tidak lupa mengunci pintu ruangan tersebut agar tidak ada yang masuk selain dirinya dan Laras.
"Mas Reno, jangan kemana-mana. Temani aku tidur," ucap Laras tanpa membuka kedua matanya.
"Ehm, aku akan temani kamu tidur siang ini."
Ketika matahari mulai terbenam, cahaya jingga menembus dinding kaca, menyinari wajah mereka berdua. Reno bangun menghadap Laras yang sedang tertidur pulas.
Reno bangkit berdiri, melangkah mendekat. Ia berjongkok di samping Laras, memandangi wajah damai itu cukup lama. Ia merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Laras dengan ujung jarinya yang kasar.
"Seharian bersamamu seperti ini membuatku tidak ingin memikirkan orang lain," gumam Reno lirih.
Laras sedikit terusik, matanya perlahan terbuka dan langsung bertemu dengan mata Reno yang berada sangat dekat. Keheningan yang tercipta di antara mereka di dalam ruangan terkunci itu terasa begitu pekat. Laras menyadari bahwa mereka telah menghabiskan waktu berjam-jam hanya berdua, menciptakan gelembung realitas mereka sendiri yang berbahaya.
Cup.
"Mas Reno sayang sama-"
Reno mencium bibir Laras, ia tidak akan membiarkan satu kata pun keluar dari bibir mungil Laras. Ciuman kali ini begitu lembut hingga Laras mengklaim jika Reno menginginkannya lebih dari biasanya.