Happy reading.
Maya memasuki restoran mewah dengan langkah anggun, gaun malamnya yang berwarna zamrud memancarkan kilau lembut di bawah pencahayaan temaram. Aroma masakan Prancis dan anggur mahal menyambutnya, berpadu dengan bisikan percakapan dari para pengunjung lainnya. Di salah satu sudut, dekat jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota, seorang pria muda bangkit dari tempat duduknya.
"Hay beb," sapanya dengan senyum menawan, matanya yang hangat bertemu pandang dengannya.
Maya membalas senyumnya, "Dion."
Mereka duduk, dan Dion dengan sigap menarik kursi untuknya. Suasana restoran begitu hidup, namun seolah ada gelembung tak terlihat yang menyelimuti meja mereka, menciptakan keintiman tersendiri.
Pelayan datang, menu disodorkan. Maya melirik sekilas, namun fokusnya lebih tertuju pada Dion. Pria itu terlihat semakin tampan dalam balutan setelan jas hitam, rambutnya tertata rapi, dan aura percaya diri memancar darinya.
"Masih sama, tamlan dan menggoda."
Mereka mulai berbincang ringan, membahas pekerjaan, hobi, dan rencana masa depan. Maya merasa nyaman dengan Dion. Ia menyukai cara Dion mendengarkan dengan saksama, sesekali memberikan tanggapan yang cerdas dan humoris. Dion juga memiliki tawa yang renyah, membuat Maya ikut tersenyum.
Ketika hidangan utama tiba, berupa filet salmon dengan saus bordelaise dan gratin dauphinois, Maya mengambil sendoknya."Ini terlihat luar biasa," ujarnya.
"Aku tahu tempat ini tidak akan mengecewakanmu," sahut Dion, mengangkat gelas anggurnya. "Untuk malam ini dan kamu yang begitu seksi."
Maya mengangkat gelasnya juga, kilauan cahaya memantul dari permukaannya. "Untuk malam ini, dan kamu yang semakin tampan." Mereka menyeruput anggur, menikmati cita rasa kompleks yang menyelimuti lidah.
Percakapan mereka terus mengalir. Ada momen ketika Dion bercerita tentang perjalanannya ke Patagonia, menggambarkan lanskap gunung es dan danau biru yang memukau.
Hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka begitu pintu kamar hotel itu tertutup dengan bunyi klik yang halus. Maya berdiri mematung di dekat meja kerja kayu yang mengilap, tas kecilnya masih tersampir erat di bahu.
Dion melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga siku. Ia berjalan menuju jendela besar yang menyuguhkan pemandangan lampu kota Jakarta yang gemerlap dari lantai dua puluh.
"Pemandangannya lebih bagus dari sini," ucap Dion tenang, tanpa menoleh.
Maya melangkah mendekat, meski ragu. "Aku tidak pernah menyangka kamu akan menjadi simpananku selama ini Dion, padahal aku sudah punya suami yang begitu baik seperti Mas Reno."
Dion berbalik. Tatapannya tidak lagi tajam seperti saat mereka berdebat di lobi tadi, melainkan penuh dengan kelelahan yang jujur. "Aku juga tidak menyangka kalau kamu mau menjadi wanita ku, padahal kamu ini istri orang."
"Aku begitu mencintaimu, Dion. Melebihi cintaku kepada suamiku. Walaupun, aku sudah jahat dengan suamiku."
"Bagaimana, kalau kita menikah saja. Kau cerai dengan Reno dan menikah denganku," bisik Dion.
"Tapi, aku tidak bisa melahirkan seorang anak untukmu. Apa kamu masih mau menjadikan aku istrimu?"
"Aku mencintaimu, terlepas kamu nggak akan punya anak atau tidak. Aku tidak mempermasalahkan itu semua," balas Dion kembali.
***
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, membentuk garis emas panjang di atas karpet tebal kamar hotel.
Suara bising kendaraan di kejauhan mulai terdengar, menandakan kota sudah kembali pada ritme pagi yang sesungguhnya.
Maya terbangun lebih dulu. Ia menemukan dirinya masih mengenakan pakaian semalam, meski kini tertutup selimut putih yang hangat. Di sampingnya, Dion masih terlelap dengan posisi membelakanginya, menyisakan ruang yang cukup luas di antara mereka.
Maya duduk perlahan, merapikan rambutnya yang berantakan. Ia menatap punggung Dion, teringat bagaimana percakapan emosional semalam berakhir dengan mereka yang kelelahan dan tertidur begitu saja karena beban mental yang terangkat.
"Aku mencintaimu, Dion. Hanya, kamu yang mengerti aku. Bukan Mas Reno," ucap pelan Maya.
Dion mengerang pelan sebelum akhirnya berbalik dan membuka mata. Ia butuh beberapa detik untuk menyadari di mana ia berada sebelum matanya bertemu dengan tatapan Maya.
Ia tidak langsung bangkit. Ia hanya tersenyum tipis, suara seraknya khas orang baru bangun tidur. "Kamu sudah bangun?"
"Baru saja, apa tidurmu nyenyak?"
Dion mengangguk. "Tidurku akan selalu nyenyak jika kamu ada disampingku, beb. Jadi, mulai kapan kamu akan bersamaku?"
"Kita bicarakan itu nanti, pagi ini aku akan pulang ke rumah."
Dion bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya. Ia kemudian menoleh ke arah Maya dengan ekspresi yang lebih serius namun lembut. "Aku akan memesan kopi dan sarapan. Jangan pergi dulu, ya? Kita perlu bicara soal apa yang terjadi setelah kita keluar dari pintu kamar ini."
Maya tersenyum, kali ini tanpa beban. Ia menyadari bahwa hotel ini bukan sekadar tempat pelarian semalam, melainkan garis start yang baru.
Aroma kopi hitam yang kuat segera memenuhi ruangan setelah pelayan mengantarkan baki sarapan. Mereka tidak duduk di meja makan formal sebaliknya, mereka memilih duduk di kursi dekat jendela, membiarkan sinar matahari pagi menyiram wajah mereka.
Dion menyesap kopinya perlahan, matanya menatap lalu lintas yang mulai padat di bawah sana sebelum beralih ke Maya.
"Maya," Dion membuka suara, nadanya tidak lagi ragu. "Sampai kapan pun aku akan menunggu kamu, sejak kamu menikah dengan Reno sepupuku itu. Aku berharap kamu tidak akan lama dengannya, memang terlihat jahat. Tapi, aku adalah orang pertama yang jatuh cinta denganmu. Bukan Reno suamimu," kata Dion.
Maya meletakkan cangkirnya. "Lalu, setelah aku bercerai dengan Reno. Apa kamu akan menerima ku sepenuhnya, walaupun aku nggak bisa melahirkan keturunan untukmu."
"Yang berbeda adalah aku sudah belajar bahwa hidup tanpa kamu itu jauh lebih sulit daripada mendapatkan seorang keturunan, jadi apa kamu masih meragukan kesungguhan ku setelah sekian lama aku menunggu mu."
Mereka menghabiskan sarapan dalam obrolan yang lebih ringan membahas hal-hal kecil yang mereka lewatkan selama ini. Tawa kecil mulai terdengar, memecah ketegangan yang tersisa.
Saat jam menunjukkan pukul sepuluh, Dion berdiri dan meraih kunci mobilnya. Ia membantu Maya mengenakan jasnya yang sempat tersampir di kursi.
"Sampai kapan pun kamu akan tetap cantik dimataku, baby."
"Dion, aku akan-"
Cup.
Mereka berdiri bersisian sejenak di depan cermin besar dekat pintu. Keduanya tampak berbeda dari semalam; tidak lagi terlihat lelah atau penuh amarah.
Dion membukakan pintu untuknya. "Siap untuk kembali ke dunia nyata?"
Maya melangkah keluar terlebih dahulu, lalu menoleh sambil tersenyum tipis. "Selama dunianya tidak lagi terasa sesak, aku siap."
Mereka berjalan menuju lift dalam diam, namun jari-jari mereka bertautan erat. Saat pintu lift terbuka di lobi yang ramai, mereka tidak lagi berjalan ke arah yang berlawanan. Mereka melangkah keluar melalui pintu putar hotel menuju cahaya matahari, siap menghadapi apa pun yang menunggu di luar sana.