Happy reading.
Bunyi kunci yang berputar di lubang pintu terdengar lebih nyaring dari biasanya. Saat Maya melangkah masuk, ia tidak disambut oleh sapaan ceria Laras adiknya atau suara televisi yang biasanya dinyalakan Reno. Hanya ada keheningan yang dingin dan debu yang menari di bawah seleret cahaya dari ventilasi.
Rumah itu terasa terlalu luas. Sepatu hak tingginya yang mengetuk lantai granit menciptakan gema yang seolah mengejek kesendiriannya.
Maya berjalan menuju dapur, niatnya ingin mengambil segelas air, namun langkahnya terhenti di depan meja makan. Tidak ada piring kotor, tidak ada remah roti, hanya taplak meja yang rapi dan kaku.
"Mereka berdua kemana? Kenapa sepi sekali?"
Lalu, Maya berjalan menuju ruang kerja suaminya. Pintunya tertutup rapat. Maya sempat memutar kenopnya, hanya untuk melihat suasana ruang kerja Reno yang tertata sempurna seperti pemiliknya.
"Masih seperti pemiliknya, Reno Samudera yang sempurna tanpa celah."
Maya masuk kedalam ruang tersebut, kursi kosong itu masih menghadap jendela. Tanpa keberadaan suaminya yang menurutnya sempurna, lebih dari siapapun.
"Reno, maafkan aku."
Setelah beberapa menit berlalu, Maya duduk di sofa ruang tamu, masih mengenakan pakaian yang ia pakai sejak di hotel tadi. Kontras antara kehangatan tangan Dion beberapa jam lalu dengan dinginnya rumah ini terasa begitu tajam.
Di satu sisi, ia merindukan kehadiran Reno yang sebagai seorang suami. Hiruk-pikuk yang biasanya membuat Maya pening, kini terlihat sepi tanpa suara.
Ting.
"Sudah sampai rumah? Kabari aku kalau kamu sudah istirahat."
Maya menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit-langit lalu menatap layar ponselnya yang masih menyala. Jarinya sempat ragu untuk membalas pesan tersebut, namun akhirnya ia mengetik sebuah balasan singkat untuk Dion.
"Sudah. Aku baru saja ingin beristirahat," jawab Maya jujur."
Hanya butuh beberapa detik sampai status online muncul di bawah nama Dion, disusul tanda bahwa pria itu sedang mengetik.
"Kita akan bertemu kembali, dan aku akan pastikan kamu bahagia denganku."
Maya meletakkan ponselnya di meja kopi, lalu beranjak menuju kamar mandi. Ia menyalakan pancuran air hangat, membiarkan uap memenuhi ruangan yang serba putih itu.
Saat ia bercermin, ia melihat pantulan dirinya yang berbeda. Kelelahan semalam itu masih ada, tetapi binar kebahagiaan yang terpancar terlihat begitu nyata membuat ia tersenyum tipis. Kebersamaan antara dirinya dengan Dion semalam membuat perasaan kecilnya kembali bahagia.
Setelah mandi, Maya mengenakan piyama sutra abu-abunya yang paling nyaman. Ia menuju dapur dan, alih-alih memasak, ia hanya menyeduh teh chamomile. Ia membawa cangkir hangat itu ke balkon kecil di belakang rumah, tempat ia biasanya duduk bersama Reno untuk perdebatan kecil setiap harinya.
"Mungkin kali ini, aku tidak perlu menyembunyikanmu lagi," bisiknya pada kegelapan malam.
Sore itu, suara deru mobil di halaman depan memecah keheningan yang sejak pagi menyelimuti rumah. Maya, yang baru saja selesai merapikan beberapa berkas di ruang tengah, merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia segera berjalan menuju pintu depan.
"Mas Reno pulang?"
Maya berjalan menuju pintu utama, senyum tipis ia berikan kepada Reno agar pria itu tidak curiga dengan apa yang telah terjadi dengannya. Namun, senyum tipisnya pudar ketika Reno tersenyum puas bersama dengan Laras yang berada tepat disamping kemudi.
"Mereka berdua dari mana? Kenapa pulangnya bersamaan?"
***
Suasana ruang tamu terasa agak mencekam saat Reno melangkah masuk. Maya sudah duduk di sofa, menyilangkan kaki dengan tatapan yang tidak berpindah dari jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Dari mana saja kalian seharian?" tanya Maya langsung, tanpa basa-basi.
Reno meletakkan kunci mobilnya di atas meja dengan tenang, meski sebenarnya otaknya sedang bekerja secepat mesin jet untuk menyusun kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Maya istrinya.
"Baru dari kantor, dan kebetulan aku bertemu dengan Laras dijalanan. Jadi, kita berdua pulang bersamaan."
Maya mengerutkan kening, kecurigaannya sedikit goyah namun belum hilang sepenuhnya. "Terus, Laras memangnya dari mana. Kenapa bisa bertemu denganmu di jalan?"
Reno mengedikan bahunya, sesungguhnya ia tidak ingin membahas apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Namun, ia berpikir lebih baik menjawab pertanyaan Maya dibandingkan istrinya mencurigainya sekarang.
"Kamu tahu anak muda sekarang, kalau bukan pergi ke mall apa lagi. Sudahlah, May. Jangan kamu membuat Laras terkekang denganmu, biarkan adikmu merasakan kebebasan seperti anak-anak seusianya."
"Tapi, Mas. Aku nggak mau Laras itu menjadi anak liar, aku mau Laras jadi anak-"
"Stop! May, aku lelah. Jadi, lebih baik aku istirahat saja dibandingkan aku haru mendengarkan segala kritikan kamu hari ini."
Laras menyeringai tipis, bayangan tawanya terpantul di dinding ruangan. Tangannya mencengkeram kenop pintu yang sedikit terbuka, telinganya menangkap setiap bentakan dari dalam.
Maya, kakaknya, kini beradu mulut dengan Reno. Perut Laras terasa geli, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya. Rencana yang ia susun matang-matang kini telah membuahkan hasil.
"Sebentar lagi rahasia Mbak Maya akan terbongkar, jadi tunggu saja tanggal mainnya."
Laras menutup pintu kamarnya, ia tidak mengunci pintu agar Maya tidak masuk ke dalam kamarnya. Malam ini, ia hanya ingin tidur nyenyak tanpa gangguan dari Maya kecuali ia berharap Reno yang akan datang malam ini dan memeluk tubuhnya seperti apa ia rasakan beberapa jam lalu.
***
"Seharian kemarin kamu dimana Ras? Kenapa nggak ada kabar?" tany Maya kepada Laras yang baru saja turun dari kamarnya yang berada dilantai dua.
"Kemarin aku sibuk di kampus, mengerjakan apa yang harus dikerjakan."
Maya menatap wajah Laras dengan tatapan tidak percaya, ia tahu adik perempuannya sedang berbohong dengannya. Sejak kecil Maya sangat mengenal Laras, sehingga ketika Laras berbohong ia tahu betul.
"Kampus atau kamu pergi dengan pacar barumu?"
"Aku nggak punya pacar, sejak beberapa tahun lalu kakak tahu kalau aku jomblo."
Maya mengedikan bahunya, mungkin saja apa yang ia ucapkan benar. Bahwa, Laras adiknya sudah mempunyai seorang kekasih tanpa ia ketahui. Karena, menurut pandangan Maya. Akhir-akhir ini adiknya terlihat berbeda.
"Kalaupun kamu punya kekasih baru, Mbak Maya nggak larang kamu. Yang terpenting bukan suami orang, Mbak nggak setuju."
"Uhuk-uhuk."
"Mas Reno, kenapa tersedak?"
Nasi goreng yang baru sampai di tenggorokan Reno seolah berhenti mendadak. Rasa pedas cabai rawit langsung menyengat jalur pernapasannya. Wajah Reno memerah padam dalam hitungan detik.
"Eh, pelan-pelan. Mas!" seru Maya panik sambil menyodorkan gelas minum milik Reno.
Reno menyambar gelas itu dan meminumnya dengan cepat. Air dingin mengalir melewati kerongkongannya, membuat ia bisa bernafas dengan lega.
"Bagus dung, kalau Laras punya kekasih lagi. Jangan larang kehidupan adikmu, May."
Maya mengangguk polos, tidak menyadari bahwa reaksi fisik Reno barusan bukan sekadar kecelakaan makan. "Iya. Aku nggak akan melarang Laras punya kekasih baru, yang penting baik, sopan, dan bukan suami orang."
Reno mengusap bibirnya dengan tisu, mencoba mengembalikan moodnya yang hancur dengan ucapan Maya. Sejujurnya, ia ingin mengatakan bahwa pria yang sedang dekat dengan Laras ada seorang pria yang sudah mempunyai istri dan yang lebih parah lagi pria itu dirinya sendiri.
Ia kembali menatap piring nasi gorengnya, namun tiba-tiba selera makannya hilang tak bersisa. Ternyata, rasa cemburu jauh lebih sulit untuk ditelan daripada nasi goreng paling pedas sekalipun.
"Aku memang mempunyai kekasih baru, Mbak Maya. Kekasih aku itu suamimu sendiri," ucap Laras dalam hati.