Happy reading.
Pagi itu, area parkir kampus sudah mulai dipadati kendaraan. Laras turun dari mobil milik Reno, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah apa yang mereka lakukan beberapa menit lalu.
"Gak telat kan?" tanya Reno sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
Laras menggeleng kecil, senyum tipis terukir di wajahnya. "Masih ada sepuluh menit lagi, nanti siang aku jemput kamu."
"Ya, Mas Reno. Aku masuk ke dalam dulu ya, ingat jangan macem-macem di kantor tanpa ada aku."
Cup.
"Semangat kelasnya. Nanti kalau sudah selesai, kabari ya." ujar Reno dengan nada rendah yang hangat.
Laras mengangguk patuh. "Iya, kamu jangan lupa makan dan sampai ketemu nanti, Mas Reno."
Reno hanya membalas dengan lambaian tangan sebelum berbalik menuju kantor, meninggalkan Laras yang masih berdiri sejenak memperhatikannya pergi sebelum akhirnya melangkah masuk ke ruang kelas dengan perasaan yang sedikit lebih cerah pagi itu.
Laras melangkah masuk ke ruang kelas yang sudah setengah penuh. Riuh rendah obrolan mahasiswa seketika menjadi latar belakang yang samar saat ia menemukan tempat duduk favoritnya di barisan tengah. Namun, fokusnya sedikit terganggu rasa hangat dari ciuman Reno di bibirnya tadi seolah masih tertinggal di sana.
Baru saja ia meletakkan tas, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Reno muncul di layar.
"Jangan melamun. Belajar yang rajin, nanti aku jemput kamu."
"Siap! Mas Reno!"
Dua jam berlalu dengan materi teori komunikasi yang cukup berat, beruntung ia bisa lalui dengan aman. Menurutnya pembelajaran hari ini tidak begitu sulit dan bisa ia kerjakan dengan benar.
Di pintu keluar, ia berpapasan dengan Ana, sahabatnya yang langsung menyenggol lengannya dengan wajah penuh godaan.
"Cie, yang pagi-pagi sudah diantar supir pribadi."
Laras hanya memutar bola matanya, meski pipinya sedikit memerah. "Yang antar aku itu Mas Reno, bukan supir pribadi."
"Oh, kakak iparmu yang terlalu ganteng itu."
"Ehm, dan sampai sekarang masih tetap ganteng."
"Ck, kalau saja bukan kakak iparmu. Apa kamu mau sama Mas Reno?"
Laras mengedikan bahunya, sejujurnya ia malas untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Sebentar lagi pulang, kita ke mall yuk!"
"No, aku mau pulang cepat. Mbak Maya lagi nggak di rumah, aku harus jaga rumah."
"Jaga rumah atau jaga suaminya?"
***
Siang harinya, langit kampus mulai berubah semakin cerah. Laras baru saja keluar dari perpustakaan ketika ia melihat mobil Reno sudah terparkir di depan gerbang.
Namun, ada yang berbeda. Reno tidak mengenakan jas, tapi kemeja yang sudah digulung sampai siku. Membuat penampilan Reno semakin terlihat tampan dimata Laras.
"Mas Reno, kenapa tampan sekali?" tanya Laras saat sudah berada di depan Reno.
Reno tidak menjawab, ia hanya membuka pintu mobil dan mengajak Laras masuk ke dalam mobilnya. "Sudah sejak lama aku memang tampan, kamu saja yang baru menyadarinya."
"Ternyata, Mas Reno bisa narsis juga."
"Bisa, tapi hanya sama kamu."
"Ayo! kita pergi dari sini, nanti ada mahasiswi yang lihat ketampanan Mas Reno."
Alih-alih berbelok ke arah jalan pulang, Reno mengarahkan mobilnya menuju kawasan pusat bisnis. Mobil itu akhirnya berhenti di depan lobi sebuah restoran fine dining di lantai atas sebuah gedung pencakar langit.
Laras turun dengan ragu, melihat penampilannya sendiri yang hanya memakai kardigan dan celana jeans. "Mas Reno, kita mau makan di sini? Aku salah kostum, lho."
"Enggak ada yang salah," potong Reno sambil menggandeng tangan Laras, menuntunnya masuk melewati pintu kaca besar. "Kamu tetap cantik, kok. Dan aku sudah pesan meja di pojok yang paling tenang."
Begitu sampai di meja mereka, pemandangan kota Jakarta dari dalam restoran menyambut kedua mata Laras.
"Wah, indah banget view restoran ini."
Lampu-lampu berwarna keemasan menyala, menciptakan aliran cahaya yang indah di bawah sana. Pelayan datang menyajikan hidangan pembuka dengan piring-piring estetik yang terasa mewah menurut Laras.
Suasana di antara mereka awalnya sedikit canggung karena perubahan suasana yang drastis. Reno berdeham, mencoba mencairkan suasana.
"Ras, Mas mau bicara serius sama kamu."
Reno memulai pembicaraan sambil menatap mata Laras lekat-lekat. "Mas mau kita menikah setelah cerai dengan Maya."
Laras tersenyum kecil, kali ini senyumnya tulus tanpa paksaan. "Beneran Mas, apa aku nggak sedang bermimpi."
"Aku ingin kamu tahu," lanjut Reno, suaranya merendah dan terdengar lebih serius di bawah denting piano yang mengalun di restoran itu. "Hubungan pernikahan aku sama Maya sepertinya sudah terasa asing, dan aku merasa Maya sudah tidak mencintai ku lagi seperti dulu."
Laras merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Di bawah cahaya lilin yang temaram, Reno mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
Laras baru saja hendak menyentuh kotak kecil di atas meja ketika tiba-tiba langkah kaki yang mantap mendekat ke arah mereka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas formal yang sangat rapi berhenti tepat di samping meja, diikuti oleh dua asisten di belakangnya.
"Pak Reno Samudera? Ternyata benar anda," suara bariton pria itu memecah suasana romantis yang baru saja terbangun.
Reno terperanjat. Ia segera berdiri, sedikit kikuk karena harus menyembunyikan kotak kecil tadi ke balik telapak tangannya. "Pak Hendrawan? Selamat siang, Pak. Saya tidak menyangka kita bertemu di sini."
Laras ikut berdiri, merasa sedikit bingung. Reno kemudian memperkenalkan mereka. "Ras, ini Pak Hendrawan, klien utama di perusahaan."
Pak Hendrawan mengangguk sopan ke arah Laras, lalu kembali menatap Reno dengan sorot mata tajam namun terkesan puas."Saya tidak bermaksud mengganggu kencan kalian. Saya hanya ingin memastikan kalau kamu itu Reno Samudera.
Reno berdeham, mencoba tetap profesional meski wajahnya sedikit memerah karena situasi ini. "Maaf, Pak Hendrawan. Laras ini-"
"Tenang Pak Reno, saya tahu jiwa muda Pak Reno yang penuh petualangan, jadi bagi saya tidak masalah. Yang terpenting, kerja sama antara kita masih berjalan." Pak Hendrawan menepuk bahu Reno, lalu melirik meja yang tertata mewah itu.
"Pilihan restoran yang bagus. Semoga hari anda menyenangkan."
Setelah Pak Hendrawan pergi, Reno duduk kembali dengan helaan napas panjang. Ia tampak sedikit gusar. Laras bisa melihat perubahan yang terjadi didiri Reno.
"Maaf ya, Ras," ucap Reno pelan. "Aku beneran nggak menyangka kalau bisa bertemu dengan Pak Hendrawan, dan aku belum bisa mengenalkan kamu sebagai pasanganku."
Laras meraih tangan Reno di atas meja, mencoba menenangkannya. "Nggak apa-apa, Mas Reno. Aku tetap bangga bisa dikenalkan sama klien kamu itu, semoga saja nanti aku berubah status disaat nanti bertemu lagi sama Pak Hendrawan."
Reno tersenyum tipis, rasa bersalahnya sedikit berkurang. Namun, kotak kecil yang tadi sempat ia keluarkan masih tersimpan di tangannya. Ia kembali menatap Laras, mencoba mengembalikan sisa-sisa suasana romantis yang sempat terganggu.
"Mungkin waktunya belum tepat untuk aku kasih cincin ini," ucap Reno dalam hatinya.