Rahasia terbongkar

1052 Words
Happy reading. Keesokan harinya. "Mas Reno, sepertinya Mbak Maya belum pulang juga." "Biarkan saja, aku nggak peduli. Yang aku pedulikan itu kamu, Ras." "Mas Reno, cinta banget sama aku." "Ehm, kamu dan calon anak kita tentunya." Degh. "Calon anak? Jadi, Laras sedang hamil anak Mas Reno." Udara di dalam ruang keluarga itu mendadak terasa sesak. Maya berdiri mematung di ambang pintu kamar tamu yang sedikit terbuka, jemarinya masih menggenggam erat ponsel miliknya.Di ruang itu, ia melihat pemandangan yang seketika menghancurkan seluruh dunianya. Laras adiknya tengah berciuman dengan Reno. Ciuman mereka begitu intens, hingga mereka tidak mengetahui bahwa dirinya sedang melihat adegan yang sangat memalukan. Maya merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dua kali lipat, hingga telinganya berdenging. Ia teringat bagaimana Laras mengatakan bahwa sedang berpacaran dengan seorang pria, dan ia mengatakan boleh berpacaran dengan pria asal bukan dengan suami orang. "Kita harus lebih hati-hati, Mas Reno," bisik Laras. Suaranya yang lembut biasanya menenangkan Maya, tapi kini terdengar seperti desis ular. Reno terkekeh pelan, tangan pria itu mengusap pipi Laras. "Maya sudah berselingkuh dengan pria itu, jadi kenapa kita harus menutupi lagi. Toh, Maya ke ih dulu bermain-main dengan pria itu dibandingkan dengan kita." "Mas Reno, memang benar. Tapi, bagaimana pun juga Mbak Maya masih istri Mas. Jadi, kita tetap bagus berhati-hati." "Tidak masalah dengan status pernikahan aku dengan Maya, kita sama-sama impas. Berselingkuh ketika masih bersama, jadi buat apa harus berhati-hati." Pernyataan Reno adalah belati yang tepat menghujam ulu hati Maya. Naif. Kata itu berputar-putar di kepalanya, benar-benar membuat hatinya sakit. Prank. Maya tidak berteriak. Ia tidak melempar pas bunga yang berada tepat disampingnya. Meski jiwanya meraung ingin melakukannya. Ia hanya menatap mereka bergantian dengan mata yang perlahan menggenang, namun sorotnya tajam seperti silet. "Jadi, ini pria yang kamu maksud, Laras?" tanya Maya dengan suara yang sangat tenang ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah. Reno melangkah maju, tangannya terjulur. "Kita bicara berdua, kamu nggak berhak menghakimi Laras." "Aku hanya ingin berbicara dengan Laras, bukan kamu." "Maya, jangan buat masalah dengan Laras dan calon anakku." "Jangan sebut namaku lagi, Mas Reno. Aku jijik mendengarkannya" potong Maya dingin. Maya berbalik, meninggalkan mereka yang mematung. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia menyadari satu hal yaitu kehilangan suami dan adiknya. Dan, semua itu Maya tidak masuk ke dalam kamar. Ia tidak ingin terjebak dalam ruang sempit yang pengap oleh pengkhianatan mereka. Sebaliknya, ia berjalan menuju ruang tengah dan duduk sendiri menatap foto keluarga dimana ada dirinya, Reno dan juga Laras. "Maya, aku ingin kita bercerai." Reno memulai, suaranya gemetar. "Laras sedang hamil anakku, dan aku mau secepatnya Laras menjadi istriku." "Ternyata, apa yang kamu inginkan selama ini ada di dalam diri Laras. Kamu memang ingin mempunyai anak bukan, Mas Reno." potong Maya tanpa menoleh. "Dan, ternyata Laras yang bisa memberikan kamu keturunan bukan aku." Maya menatap Laras. Adiknya itu masih diam berdiri disamping Reno, seperti sedang meminta perlindungan ketika ada hal-hal yang tidak baik untuknya. "Laras, apa selama ini kamu memang sudah mengincar suamiku?" tanya Maya datar. "Apa selama ini kamu mencintai suamiku seperti aku mencintainya?" tanya Maya kembali. "Sejujurnya, aku menghormati Mas Reno seperti seorang adik dengan kakaknya. Tapi, ketika aku melihat perselingkuhan Mbak Maya sama Dion beberapa bulan lalu. Aku berinisiatif untuk merebut Mas Reno dari Mbak Maya," Laras mencoba memelas. "Kamu berselingkuh sejak lama May, dan aku nggak tahu itu. Tapi, Laras yang membuka semua rahasia yang selama ini kamu simpan." Maya memang salah, tapi keadaan yang membuat ia melakukan perselingkuhan dengan Dion. Ia tahu cepat atau lambat perselingkuhan antara dirinya dan Dion akan terbongkar, ia harus ikhlas menerimanya. Tapi, mengapa harus Laras yang menjadi wanita pilihan Reno bukan orang lain. "Aku mencintaimu, Maya. Sejak dulu cintaku hanya untukmu, tapi mengapa kamu lebih dulu berselingkuh dengan pria muda itu. Dan, Laras yang membuat pikiranku terbuka. Kalau, kamu berselingkuh mengapa aku tidak melakukannya. Impas bukan," bisik Reno pelan. Maya tersenyum getir. "Justru itu yang paling menyakitkan, Reno. Kamu berselingkuh dengan adikku sendiri, bukan wanita lain yang setara denganku." Maya berdiri, mengambil ponselnya, dan menaruhnya di dalam saku celananya. "Besok pagi, aku akan menemui pengacara. Aku tidak butuh penjelasan, aku tidak butuh permintaan maaf dari kalian berdua. Aku akan menyetujui perceraian ini," kata Maya sambil berlalu meninggalkan Reno dan Laras. "Mbak Maya, aku minta maaf-" "Stop! Laras, aku sudah tidak butuh validasi darimu." Maya pergi meninggalkan rumah, tujuannya hanya satu istirahat di apartemen miliknya yang selama ini tidak ada yang tahu. Maya sengaja membeli apartemen itu hanya untuk beristirahat dari rutinitas pekerjaan sementara, dan mulai sekarang apartemen itu akan menjadi tempat pengganti rumahnya. Malam harinya. Maya berdiri di balkon apartemen miliknya yang menghadap ke arah cakrawala kota. Tidak ada lagi furniture warisan atau kenangan menyesakkan dari rumah lamanya. Tempat ini adalah miliknya, hasil dari kerja keras selama ia menjadi model. Saat ini Maya sedang ingin sendiri, ponselnya ia matikan. Tidak fa panggilan atau pesan dari siapapun, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ting. Maya menatap pintu apartemennya, ada seseorang yang datang malam ini. Ia tahu, siapa yang datang. Hanya Dion yang tahu apartemen miliknya. "Dion? Apakah benar itu Dion?" Maya melangkah maju, membuka pintu apartemennya. Dan, benar saja Dion yang datang malam ini untuk menemui dirinya. "Babe, are you ok?" "Dion, pernikahan aku hancur. Dan, rahasia aku sudah terbongkar." Dion memeluk tubuh Maya, wanita yang selama ini telah menjadi pilihan hatinya. Maya memang seorang wanita kuat, tapi ia tahu ada sisi kelemahan yang Maya punya. "Kamu sudah memilih jalan ini, dan bagaimanapun kamu harus kuat." "Tapi, kenapa harus Laras? Bukankah di dunia ini banyak wanita yang lebih cantik, kenapa harus adikku sendiri yang menjadi wanita idaman lain Reno." Dion masih memeluk Maya, ia sudah tahu cerita tentang Reno dan Laras. Tidak bisa disalahkan juga kalau mereka terlibat cinta, karena bagaimanapun juga Reno pria normal. Selama ini Maya selalu pergi meninggalkan Reno bersama Laras. "Setelah perceraian dengan Reno, aku akan menikahi mu. Babe, kita akan pergi jauh meninggalkan kota ini." "Tapi, aku tidak bisa memberikan keturunan sama kamu." "Tidak masalah, aku hanya cinta kamu. Bukan cinta karena ingin mempunyai sesuatu, jadi move on Babe. Aku ada disamping mu," jawab Dion meyakinkan. Maya menghela nafas panjang, sisa beban yang ia rasakan sedikit mengurangi. Tapi, masih ada sedikit masalah yang akan ia hadapi dalam sidang perceraiannya beberapa hari kemudian. "Maya, aku mencintaimu sejak dulu sampai sekarang. Jadi, kamu nggak perlu khawatir akan kekurangan cinta dariku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD