Divorce

1045 Words
Happy reading. Laras menyesap kopi lattenya yang sudah mendingin, matanya berpura-pura fokus pada layar ponsel, padahal telinganya tegak menangkap setiap desis argumen di meja seberang. Di sana, di sudut kafe yang biasanya tenang, Maya dan Reno tampak seperti dua kutub magnet yang dipaksa bersatu: saling tolak-menolak dengan daya ledak tinggi. Ini adalah pertama kalinya Laras melihat mereka dalam satu ruangan setelah ketukan palu satu bulan lalu, dari posisinya, Laras bisa melihat perubahan drastis pada keduanya. "Harta gono-gini sudah aku siapkan, jadi kamu nggak perlu khawatir tentang perjanjian waktu itu." Maya mengetuk-ngetukkan kuku panjangnya ke meja kayu dengan ritme cepat tanda ia sedang memikirkan sesuatu, selama proses perceraiannya Maya selalu datang ke persidangan. Mematuhi semua peraturan yang ia ketahui, dan hasilnya proses perceraian selesai lebih cepat. "Sejujurnya, aku tidak membutuhkan itu semua. Karena, aku menyadari bahwa yang telah berselingkuh lebih dulu itu adalah aku." Reno akhirnya mendongak, ia kaget dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Maya. "Aku akan tetap mengikuti surat kesepakatan waktu itu, jadi kamu harus menerimanya. Tenang, aku nggak akan kekurangan sedikit harta untuk Laras dan calon anakku." "Cih, kamu begitu percaya dengan Laras? Mungkin saja anak itu bukan anakmu, tapi anak dari pria lain?" Laras menyaksikan bagaimana sebuah percakapan tentang anak bisa berubah menjadi medan perang untuk ego yang terluka. Tidak ada teriakan memang, tapi ketegangan itu terasa nyata, seolah udara di sekitar mereka bergetar karena amarah yang dipendam. Setiap kali pelayan lewat, mereka akan terdiam secara serentak akting formalitas yang sangat kaku sebelum kembali melanjutkan serangan verbal yang halus namun menyakitkan begitu suasana sepi kembali. "Aku memang sudah mengambil Mas Reno darimu, Mbak Maya. Tapi, tentu saja karena kamu yang memulai lebih dulu. Jadi, jangan salahkan aku." Maya berdiri dengan gerakan yang tiba-tiba hingga kursi kayu itu berderit nyaring, menarik perhatian beberapa pengunjung lain. Tanpa sepatah kata lagi, ia menyampirkan tasnya dan melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum mawar yang tajam dan suasana yang mendadak hampa. Reno tetap di sana, menunduk dalam-dalam. Laras melihat tangan pria itu sedikit gemetar saat meraih kunci mobil di meja. Laras menghela napas panjang, akhirnya meletakkan ponselnya. Melihat mereka bukan lagi tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang betapa melelahkannya menjaga api kebencian tetap menyala di atas puing-puing sesuatu yang dulunya indah. Laras ragu sejenak, namun akhirnya ia memutuskan untuk tidak membiarkan Reno tenggelam sendirian dalam sisa-sisa amarah itu. Ia berdiri, membawa cangkir kopinya yang tinggal ampas, dan melangkah mendekat. "Mas Reno, aku mau mengatakan sesuatu. Apa kamu punya waktu?" tanya Laras lembut. Reno tersentak, bahunya turun sedikit saat menyadari Laras yang berdiri di depannya. Ia mengusap wajah dengan kasar, lalu mengangguk lemah. "Ras, Minggu depan kita menikah." "Tapi, aku bukan ingin mengatakan hal itu." "Cepat atau lambat kita akan menikah, jadi kamu harus bersiap untuk acara penting kita." Reno menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya memerah. Tidak ada kata-kata yang ingin ia ucapkan, ia hanya ingin diam tanpa bersuara. "Kami sudah berpisah, Ras. Harta gono-gini sudah aku berikan kepada Maya," kata Reno pelan. Laras mendengarkan tanpa memotong. Dari ceritanya, ia sudah paham apa yang dibicarakan oleh Reno dan Maya. "Ya, itu hak Mbak Maya. Dan, aku nggak akan mengubahnya." "Semoga Maya mendapatkan suami yang baik, tidak seperti aku." "Mas Reno baik, hanya saja-" Tiba-tiba, ponsel Reno yang tergeletak di meja berdenting. Sebuah pesan singkat masuk dari Maya. Reno membacanya, lalu menggeser ponsel itu ke arah Laras dengan senyum kecut. "Aku akan pergi keluar negeri, jaga Laras untukku." *** Hujan sore ini terasa lebih dingin bagi Reno. Ia berdiri di depan jendela rumahnya, menatap berbagai macam tanaman yang basah akibat terkena air hujan. Sementara itu jemarinya tanpa sadar mengusap tepian meja makan yang kini terasa terlalu luas. Di sudut ruangan, sebuah kardus kecil masih terbuka. Di dalamnya ada beberapa barang yang sengaja ditinggalkan Maya, sebuah syal rajut yang warnanya sudah memudar, tumpukan buku novel dengan halaman yang terlipat di sana-sini, dan sebuah gantungan kunci berbentuk Menara Eiffel. "Ini semua milik Maya, dan akan selalu aku simpan di rumah ini." Reno duduk di sofa, menatap rak buku yang kini terlihat longgar karena sebagian koleksi Maya telah dibawa pergi. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan sosok Maya, tapi ia kehilangan pantulan dirinya dalam diri Maya. ​"Mas Reno, aku mau sesuatu pagi ini." "Kamu ngidam?" "Ehm, anakmu mau kamu lebih sayang sama mamanya." Reno tersenyum tipis, ia hampir lupa jika saat ini masih ada Laras dan calon anaknya. "Maaf, aku hampir lupa. Aku melupakan kalian berdua," ucap Reno. Cup. "Lebih baik kita memikirkan acara pernikahan kita satu Minggu lagi, aku mau menikah dengan khidmat." "Semua sudah siap, tinggal menunggu waktu itu tiba. Kamu, harus siap untuk pernikahan kita." Satu Minggu berlalu. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar di ruang tamu, menyapu lantai kayu dengan hangat. Reno berdiri di ambang pintu, menyesap kopi hitamnya sambil memandangi pemandangan di depannya. Sebuah pemandangan yang dulu hanya berani ia simpan dalam angan-angan paling jauh. Di sana, di atas karpet bulu, Laras sedang tertawa. Suara tawa yang dulu sempat hilang karena badai cobaan yang mereka lalui, kini terdengar begitu lepas. "Akhirnya, kita sudah sah menjadi pasangan suami istri." "Mas Reno, aku selalu sayang sama kamu." "Ras, mulai saat ini kita akan selalu bersama. Dalam susah maupun senang," kata Reno pelan. Bagi Reno, kebahagiaan ini bukan sekadar keberuntungan. Ini adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh luka, kesalahpahaman, dan penantian yang melelahkan. Ia ingat betul malam-malam di mana ia mulai tergoda dengan sentuhan Laras, dan ia mulai menyukainya bahkan menjadi candu Reno. "Kopinya sudah dingin, Mas Reno. Kenapa nggak diminum?" tanya Laras heran. Reno menggeleng, melangkah mendekat lalu duduk di samping istrinya. Ia meletakkan cangkirnya dan memberanikan diri menggenggam tangan Laras. Jemari mereka bertautan dengan pas, seolah memang diciptakan untuk saling mengisi. "Aku cuma lagi mikir," bisik Reno. "Ternyata kita benar-benar sampai di titik ini, ya?" Laras menyandarkan kepalanya di bahu Reno, mengamati putri mereka yang sibuk dengan dunianya sendiri. "Iya. Akhirnya, kita sampai dititik ini, Mas. Dan kita nggak akan pergi ke mana-mana lagi." Di momen itu, Reno menyadari bahwa Laras adalah bagian hidupnya. Saling melengkapi satu sama lainnya, Reno menyadari jika Laras adalah wanita yang tepat setelah ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Maya. "Mulai sekarang dan selamanya, aku akan panggil kamu sayang." "Aku akan panggil kamu, Mas Reno." "Ini pernikahan kedua aku, tapi akan menjadi pernikahan terakhir aku denganmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD