11. Kecewa 2

1482 Words
Juno tak lagi berucap. Dirinya tengah kalut dengan beban hati yang teramat berat, ia sendiri sangat sulit mengucapkan kalimat yang ia anggap sebagai ancang-ancang langkah selanjutnya. Hatinya sakit saat dengan tenangnya ia mengucapkan itu semua, lebih sakit lagi saat mendengar istrinya yang langsung menangis terisak sambil menggumamkan nama Hikmah. Jika saja tak mengingat dirinya adalah seorang lelaki, Juno ingin menangis saat ini sekeras-kerasnya, meluapkan rasa gelisah dan amarahnya. Mobil kemudian berbelok ke arah kanan guna menyebrang jalan dan memasuki kantor polisi, kaki Nina terasa lemas bukan main saat mobil yang ia tumpangi telah berhenti tepat di parkiran kantor polisi. Tangannya menarik kuat kemeja lengan pendek suaminya, menahan agar tidak masuk dan melihat fakta sebenarnya. Jujur saja, ia sama sekali tidak siap. "Turun," bisik Juno pada Nina yang masih saja menarik kemeja yang ia pakai, dengan sedikit paksaan ia melepaskan tarikan Nina pada kemejanya lalu segera membuka pintu keluar, saat pintu terbuka sudah ada dua orang polisi yang menunggu di luar mobil, segera saja ia beralih ke tempat Nina dan membuka pintunya, memaksa Nina agar segera masuk ke dalam. "Mas, enggak mau!" tolak Nina sambil berusaha melepaskan cekalan tangan suaminya, Juno tak menjawab. Namun, semakin erat mencekal tangan istrinya, Nina memekik membuat Juno sadar. "Aaaww, Mas!" pekiknya saat cekalan Juno semakin erat, Juno yang terkejut pun segera melepaskan cekalannya dan membawa istrinya ke dalam, ia merasa malu jika terus-terusan berada di luar, banyak pasang mata yang menatapnya dengan tajam. "Mas, aku mohon," pinta Nina memelas yang langsung ditolak oleh Juno, ia sudah sangat penasaran dan hanya cara inilah yang bisa menuntaskan rasa penasaran dan meluruskan kesalah pahaman yang ada. "Enggak, kita harus lihat kebenarannya agar semua dapat diselesaikan dengan cepat," tegas Juno dan langsung menarik tangan istrinya agar segera masuk mengikuti seorang polisi yang menuntun mereka. Jujur saja, hati Juno terasa berat sekali dan bukan hanya Nina yang merasakan hal ini, ia takut jika semua ini memang benar adanya. Mereka kemudian masuk dengan hati yang enggan. Nina masih sibuk menangis sambil memegang erat tangan suaminya, langkah mereka secara mendadak terhenti saat sampai di dalam, mata mereka tertuju pada seorang gadis yang duduk dengan kepala tertunduk dan baju yang sudah tidak karuan, berantakan dan kusut luar biasa. Terlebih lagi, cadar yang seharusnya terpasang rapih di sebagian wajah justru hilang entah ke mana. "Hikmah," gumam Juno pelan saat mendapati Hikmah—anaknya—yang sedang duduk di kantor polisi, benar ternyata perkataan polisi itu, anaknya ada di sini sebagai bukti. Nina dan Hikmah mendongak, seakan memiliki telepati untuk saling merasakan keberadaan orang tersayang dan detik itu juga keduanya melemas, menangis semakin pilu karena kebenaran yang ada. Nina bahkan tidak dapat menopang badannya dengan baik hingga dengan mudahnya ia limbung dan Juno langsung mendudukannya di bangku yang bersebrangan dengan Hikmah, Hikmah panik dan berusaha mendekat, tetapi petugas polisi melarangnya dan memerintahkannya agar tetap duduk di bangku dengan tenang. "Duduk." "Ta—tapi itu i—ibu saya," gugup Hikmah yang langsung mendapat tatapan tajam dari petugas polisi wanita itu. Dengan tegasnya petugas polisi itu berkata mengenai hal yang sangat melukai hati Hikmah dan orang tuanya. "Kalau kamu khawatir dengan ibu kamu, harusnya kamu tidak bertindak rendah seperti ini, sayangmu itu palsu!" ucapnya sinis. Juno, Hikmah, dan Nina merasakan sakit luar biasa. Hikmah menggeleng, rasa sayangnya pada kedua orang tuanya bukanlah tipuan semata, ia benar-benar sayang pada kedua orang tuanya, kenapa tidak seorang pun mengerti dirinya? Bukti saja belum tentu benar bukan? Sementara Juno, dalam hati merasa sakit bukan main saat anaknya dibentak dan diperlakukan seburuk itu, ia yang sebagai orang tuanya saja tidak pernah namun hatinya juga merasakan kecewa yang teramat besar pada Hikmah. Tak menyangka Hikmah menyiapkan hadiah yang sangat besar untuknya dan mungkin tak akan pernah ia lupakan. Matanya tak pernah beranjak dari Hikmah yang tampak sangat rapuh dan terluka, ingin rasanya ia mendekap putri kecilnya itu seerat yang ia bisa, ingin rasanya ia mengecup sayang puncak kepala putri semata wayangnya. Namun, semua itu seakan sirna diganti kekecewaan yang besar terlebih saat matanya menatap seorang lelaki yang sedang duduk tak jauh dari Hikmah, lelaki setengah telanjang itu seolah membuatnya paham dan semakin menambah kecewa yang ia rasakan. Lelaki yang setengah telanjang, pakaian Hikmah yang berantakan, dan penjelasan polisi mengenai kasus yang menyandung anaknya itu semakin membuatnya jatuh dalam kekecewaan. Siapa pun yang melihat lelaki setengah telanjang dengan kasus perbuatan tak senonoh pasti bisa langsung menebak bahwa lelaki itu adalah pelakunya, lelaki yang memiliki tampang urakan dan nakal namun tampan itu berhasil membuat hati Juno diliputi kemarahan. Ia marah karena lelaki itu dengan berani menyeret anaknya ke dalam jurang dosa, ia benar-benar marah saat ini. Sementara Nina tak berkutik, dia tetap diam sambil menangis pilu membayangkan nasib anaknya ke depannya. "Sudah belum menghubungi ibumu?" tanya seorang polisi dengan datarnya pada Hans yang telah selesai menghubungi ibunya agar segera datang dan mengurus kasusnya. "Kamu tidak ingin meminta maaf pada orang tua gadis itu?" tanyanya lagi yang membuat Hans mengernyitkan kening, merasa heran. "Untuk apa?" tanya Hans bingung, kenapa ia harus minta maaf, bukankah karena Hikmah yang jatuh di atas tubuhnya ia jadi tersandung kasus seperti ini. Polisi itu menghela napas, lalu memilih untuk duduk di samping Hans, hatinya sedikit melunak. "Kamu sudah m*****i anaknya sehingga kalian berada di sini saat ini, apa kamu merasa tidak bersalah?" Hans terdiam sambil menahan emosinya, ia tidak boleh bertindak gegabah atau para polisi dan warga yang masih menunggu di depan akan menghajarnya habis-habisan. "Saya tidak salah dan saya tidak m*****i gadis itu!" tekan Hans lalu terdiam setelahnya, ia tidak ingin berbicara lagi karena semua akan terbuang percuma, tak akan ada orang yang mau mendengarkan penjelasannya. Juno mendengar hal itu, ia jadi ingin berbicara berdua bersama lelaki yang katanya ditemukan bersama anaknya dalam posisi yang tidak senonoh itu. Ia perlu mengorek lebih dalam meski kecewa dan amarah mencambuk dirinya saat ini, ia tetap tidak boleh melampiaskannya. Seorang petugas lalu menghampirinya bersama seorang lelaki dengan kumis besar di wajahnya membuat tangis Nina berhenti seketika saat menyadari ada yang mendekati mereka. Namun, saat itu juga wajah Hikmah menjadi pucat pasi, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan ia merasa tidak siap, sangat tidak siap melihat reaksi kedua orang yang sangat ia sayangi saat mendengar keterangan pak RT dari daerah tempat ia dituduh berzina. "Pak, dia adalah RT di mana anak Bapak ditangkap, dia akan menjelaskan semuanya." Juno terdiam, matanya kemudian melirik sebentar pada Hikmah dan lelaki setengah telanjang itu, ia tahu Hikmah menangis dan wajahnya sudah pucat pasi, dan ia juga tahu bahwa lelaki yang tidak ia ketahui bernama Hans itu tengah menahan emosi. "Baik, saya akan mendengarkannnya," putus Juno, ia berusaha menguatkan hatinya. Hikmah melemas, kenapa ayahnya justru menyanggupinya? Ia tak ingin ayah yang selalu berujar bangga padanya justru dipermalukan karenanya. "Di mana anak saya?" tanya seorang wanita yang berpakaian mahal itu saat memasuki kantor polisi, ia tadi dihubungi oleh anaknya dan seorang polisi agar segera datang dan mengurus kasus yang menyandung anak lelakinya itu. "Mama!" ucap Hans antusias karena ibunya telah tiba, itu artinya dia akan segera bebas dan ia bisa keluar dari tempat menyesakkan yang sejak tadi selalu menjadi saksi bisu dirinya direndahkan. Tiara—ibu dari Hans—berjalan mendekati anaknya yang setengah telanjang, setelah mendengar teriakan Hans ia langsung menyadari bahwa memang benar anaknya berada di sini. Langkahnya terasa sangat berat saat mengetahui anaknya telah berbuat di luar batas. Dalam hati ia tidak menyangka bahwa Hans akan melakukan semua ini setelah segala hal yang ia berikan guna menutup luka lama Hans pada ayahnya yang selalu mengabaikan mereka, bahkan ketika ayahnya meninggal pun Hans sama sekali tak bersedih, hatinya terlampau keras untuk merasakan kesedihan. Ia pikir dengan memberikan kebebasan pada Hans maka ia bisa membuat Hans lepas dari masa lalunya. Namun, nyatanya ia salah, Hans tetap terjun ke dalam lubang yang sama dengan ayahnya. "Mama, Hans ditangkap tapi Hans enggak salah!" adu Hans berharap ibunya percaya, karena selama ini ibunya selalu percaya padanya. Juno yang tadinya ingin mendengar penjelasan dari pak RT pun mengurungkan niatnya. Ia ingin mengetahui kejadian selanjutnya antara ibu dan anak itu, dan mengenai penjelasan, ia akan mengajak ibu dari lelaki itu untuk mendengarkan bersama. "Mama kenapa hanya diam? Bantu Hans, Hans enggak salah!" tanya Hans heran saat ibunya hanya diam saja padahal sudah berada tepat di depannya. "Bantu apa?" tanya Tiara pelan, matanya menatap nanar keadaan sang anak yang dulu pernah ia lihat di masa lalunya. Kepalanya mendadak pening saat sakit dalam hatinya kembali merajam. "Bantu bebaskan Hans, Ma. Hans tidak ingin berada di sini, Hans ingin pulang dan Hans tidak bersalah!" kekeh Hans pada Tiara yang masih saja diam, tidak bertindak secepat yang ia inginkan. Tiara tersenyum pedih, anaknya berbicara persis seperti ayahnya dulu ketika digelandang ke kantor polisi karena dengan lancangnya m*****i gadis yang tidak bersalah. "Kenapa, Hans?" "Kenapa kamu mengulangi masa lalu lagi? Kenapa kamu membuka lembaran lama yang sudah kita tutup untuk hidup lebih baik di masa depan? Kenapa kamu melakukan hal yang sama seperti ayahmu?" "KENAPA HANS?!!" Deg! "Mama,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD