“Rasa kecewa menandakan bahwa hati dalam keadaan terendah, puncak dari sebuah luka adalah kecewa, dimana hati masih ingin berharap, tetapi kenyataan menimbulkan sesak.”
➖➖➖
"Yah, kok perasaan Ibu semakin enggak enak, ya?" tanya Nina pada Juno yang tengah menanti pulangnya Hikmah. Sedari tadi perasaan sepasang orang tua itu tak menentu saat tahu bahwa anak gadisnya belum pulang hingga jam sepuluh malam mereka saja yang perkiraannya pulang malam nyatanya sudah sampai sejak maghrib tiba.
"Iya, Bu. Ayah juga, Hikmah kemana, ya?" balasnya sambil menatap ke luar rumah, matanya bergerak gelisah dan hatinya entah kenapa mendadak gundah. Padahal saat tiba di rumah ia baik-baik saja.
Nina bersender pada bahu lebar suaminya, mengelusnya pelan guna mencari kenyamanan. Hatinya gelisah dan takut secara bersamaan, entah apa yang terjadi pada anak semata wayangnya, ia hanya berharap Hikmah baik-baik saja.
"Yah, HP belum bisa nyala, ya? Ibu mau telfon Hikmah nanyain kabar," tanya Nina memelas pada Juno yang menghela napas panjang, ia kemudian melirik pada istrinya yang nampak sekali gelisah dan tidak bersemangat.
"Belum bisa nyala, rusak kayanya karena dibanting ke air sama anaknya Widi tadi," jelasnya pelan membuat Nina semakin bersedih. Ia menyesali ponselnya yang baru masuk counter dua hari yang lalu, dan sekarang ponsel suaminya juga rusak karena dibanting oleh cucu dari temannya.
"Duh, kalau HP ibu enggak rusak aja, pasti udah bisa telfon Hikmah nanyain kabar," keluhnya kesal membuat Juno tersenyum kecil lalu menangkup pipi dari orang yang telah menemaninya selama dua puluh dua tahun itu.
"Jangan ngeluh, Bu. Itu udah takdir Allah, semoga saja ada kebaikan di dalamnya yang Allah selipkan untuk kita," ucapnya tenang, dalam hati ia tak pernah luput untuk berdzikir, saat keluarganya berada di tengah kekalutan, ia selalu berusaha menjadi penengah, ia adalah seorang imam dan harus membimbing makmumnya agar selalu berpegang teguh pada ketentuan-Nya.
"Tapi, Yah, Ibu mau tahu kabar Hikmah, HP ibu rusak dua hari lalu dan sekarang HP Ayah juga ikut rusak, terus gimana hubungi Hikmah-nya?" keluhnya kesal. Dalam keadaan seperti ini rasanya ia tidak pernah bisa dan selalu gagal untuk meniru suaminya yang tetap tenang meski guncangan hebat melanda mereka. Ia sangat khawatir akan keadaan Hikmah.
"Bu, serahkan semuanya pada Allah, In Syaa Allah Hikmah enggak papa," putusnya yang langsung mendekap istrinya erat, berusaha menyalurkan ketenangan untuk Nina yang hanya bisa menghela napasnya panjang.
"Ibu Istigfar deh," titahnya yang langsung diangguki oleh Nina.
"Astagfirullah ...."
Mereka masih terdiam, Juno kemudian membawa istrinya untuk duduk di sampingnya dan ia pergi ke dapur ingin membuatkan teh hangat di tengah hujan deras seperti ini.
Dengan lihai tangannya menyalakan kompor dan lekas mengambil air di panci untuk dimasak. Sambil menunggu air matang, ia pun mengambil gelas kecil dan sebungkus teh serbuk untuk istrinya. Biasanya, di kala hujan begini mereka akan saling memeluk dan berbincang ria, Hikmah akan dengan manja tidur di pangkuan ibunya, ia sendiri akan menceritakan berbagai kisah dan bahan candaan yang langsung ditanggapi antusias oleh dua bidadarinya.
Sambil ditemani goreng pisang dan berbagai cemilan yang dibuat oleh Hikmah dan Nina, mereka akan menghabiskan waktu di kala hujan dengan quality time.
Juno tersenyum di sela-sela kegiatannya membuat teh, saat air sudah matang ia lekas mengangkatnya dan menuangkannya ke gelas, lalu diaduknya teh itu dengan diberi sedikit gula sebagai pemanis rasa.
Teh sudah siap dan tinggal ia bawa, tetapi secara mendadak pintu rumahnya ada yang mengetuk. Nina yang memang sedang gelisah menanti kepulangan anaknya pun lekas berdiri dan membukakan pintu, senyumnya mengembang sempurna.
Juno yang masih berada di dapur pun lekas berjalan ke luar sambil membawa teh sambil berpikir untuk kembali ke dapur dan membuatkan Hikmah teh seperti Nina.
Sepasang suami istri paruh baya itu pun membuka pintu, dengan Juno yang memegang teh dan Nina yang memesang senyum, tanpa melihat siapa yang mengetuk dari luar mereka tetap mengira itu adalah Hikmah.
Tok ... tok ... tok....
"Sebentar, Dek," ucap Nina yang langsung bergerak cepat membuka kunci pintu.
"Adek kemana aja, Ibu nungg—" ucapan Nina terpotong begitu saja karena matanya tidak menangkap sosok anaknya, justru menangkap segerombol polisi yang berdiri gagah di depannya, pun dengan Juno yang memegang gelas dengan gemetaran, ada apa ini?
"Nungguin," lanjut Nina pelan, berbagai pikiran buruk merasup dalam dirinya. Matanya berkaca-kaca secara mendadak saat membayangkan hal yang mungkin saja terjadi selanjutnya, Hikmahnya. Tangannya yang masih berada di tuas pintu gemetaran, napasnya menjadi sesak tiba-tiba.
"Dengan orang tua dari Hikmah Anindya?" tanya polisi itu yang justru membuat Nina dan Juno semakin dilanda ketakutan, rasa takut kehilangan mendadak menyergap mereka.
"I—iya, ada apa, ya?" tanya Nina pelan, bibirnya terasa kelu walau sekedar bertanya. Berbagai pikiran buruk merasuki Juno dan Nina, biasanya orang yang ditemui polisi pasti memiliki suatu permasalahan, dan saat ini Hikmah belum tiba di rumah membuatnya takut, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Semoga saja tidak, semoga anaknya dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada kekurangan apa pun.
Polisi itu menghela napas, sedikit tak tega memberikan informasi yang sebenarnya. Apalagi saat melihat mata kedua orang tua di depannya yang menyiratkan kekhawatiran yang besar. Dalam hati ia sangat menyesali akan tindakan gegabah dari Hikmah dan Hans. Padahal Hikmah terlihat seperti anak baik-baik, tetapi nyatanya, itu hanyalah kedok belaka. Begitu sekiranya pemikiran seorang polisi yang tengah berdiri gagah dk depan Nina. "Anak ibu berada di kantor polisi karena hal yang tak senonoh di sebuah rumah tak berpenghuni."
Deg!
Prang!
"Aahhss ...." desis Juno karena kakinya terkena air panas dari gelas teh yang ia pegang tadi, ia kaget saat mendengar keterangan dari polisi itu hingga dengan mudahnya gelas itu jatuh dari tangannya begitu saja.
"Ayah?!" ucap Nina kaget dan langsung menengok pada Juno yang nampak membersihkan bekas pecahan gelas.
"Enggak apa-apa, Bu. Enggak apa-apa," ucap Juno kemudian berlalu ke dapur dan membuang pecahan gelas itu dan tidak lupa mengelap air teh yang berceceran. Tak lama Juno kembali dan berhadapan langsung dengan beberapa polisi tadi.
"Apa maksud, Bapak? Anak saya tidak mungkin melakukan hal itu!" desisnya tajam merasa tak terima anaknya yang selalu ia banggakan dan sayangi itu berbuat hal tak senonoh.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Pak. Termasuk anak Bapak yang tadi digelandang warga ke kantor polisi," ujar polisi itu tenang dan berhasil menyulut kemarahan Juno, dengan berani ia mengangkat kerah petugas polisi di depannya, mengabaikan Nina yang mulai menangis terisak dan berusaha mencegahnya.
"Jangan menuduh anak saya yang tidak-tidak, Pak. Dia anak yang baik, saya yakin itu!" tegas Juno lalu melepas tarikannya pada kerah polisi itu yang masih tidak bereaksi.
"Saya tidak ingin berlama-lama, Bapak harus ikut saya ke kantor polisi dan di sana Bapak akan mengetahui segalanya."
Mendengar hal itu Juno terdiam, matanya menatap nanar dan hatinya masih menolak keras. Tidak, tidak mungkin Hikmah melakukan semua itu, tetapi otaknya mengatakan bahwa semua ini memanglah benar, tidak mungkin petugas polisi yang dikenal dengan kegagahannya itu mempermainkan kasus sesuka hatinya.
Rasa penasaran yang membumbung tinggi membuat Juno dan Nina bertekad untuk mendatangi kantor polisi, mengabaikan banyaknya mata yang menatap mereka rendah.
Mereka harus tahu yang sebenarnya!
***
Perjalanan menuju kantor polisi terasa sangat menegangkan. Air mata Nina tak kunjung surut memikirkan nasib anaknya yang katanya berada di kantor polisi atas kasus dugaan asusila. Juno yang berada di sisinya sedang menyetir mobil pun nampak berbeda, tidak ada Juno yang selalu bersikap hangat padanya atau bercanda mengisi perjalanan mereka seperti biasanya. Untuk sekarang hanya ada Juno yang memasang wajah datarnya dan mata tajamnya, sama sekali tidak menoleh saat lampu berwarna merah barang sebentar saja padanya, atau minimal mengusap tangannya yang sejak tadi bertengger di paha suaminya.
Wajah Juno sangat menyeramkan saat ini, ia tahu dan paham betul bagaimana Juno, ia tahu saat ini Juno diliputi kebingungan, marah, dan juga tidak terima, Juno tidak terima anak yang ia besarkan dengan susah payah dituduh berzina.
"Ayah, percaya sama Hikmah, kan?" tanya Nina sangat pelan nyaris tidak terdengar jika Juno tidak sigap memasang indra pendengarannya dengan baik.
Juno tetap diam sambil matanya menatap ke arah depan di mana ada sebuah mobil polisi yang menuntun jalannya, seumur-umur Juno sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki ke kantor polisi selain alasan mengurus beberapa kepentingan. Namun, kali ini Juno datang sebagai alasan melanggar aturan negara, hal yang sangat Juno tidak sukai.
"Mas Juno?" cicit Nina, ingin mendapat respon dari suaminya. Juno hanya menggumam sebagai jawaban. Ia tahu jika Nina telah memanggilnya dengan sebutan 'Mas Juno' maka itu artinya Nina sedang meminta sesuatu yang tidak bisa ia tunda-tunda, harus saat itu juga terlaksana.
"Mas, jawab!" desak Nina dengan d**a yang sesak, ia kesal dan kecewa dengan reaksi suaminya yang seakan mengabaikan dirinya secara sengaja.
"Apa?" tanya Juno pelan, ia enggan menatap wajah istrinya karena saat istrinya menatap wajahnya, ia takut semuanya akan terbongkar begitu saja. Bohong jika ia mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, karena nyatanya hatinya gundah luar biasa. Bagaimanapun Hikmah adalah anaknya, anak yang mereka dapatkan setelah perjuangan panjang. Ia adalah pemimpin dan baginya pantang seorang pemimpin menunjukkan kekalutan dalan wajahnya, terlebih saat seluruh keluarganya terjebak dalam emosi yang tidak terkendali.
"Jawab pertanyaanku, Mas," tekan Nina membuat Juno menengok padanya sebentar lalu beralih lagi menatap jalanan agar fokus dalam mengemudi.
"Mas percaya sama Hikmah, anak yang kita besarkan dengan penuh kasih dan perjuangan itu selalu membanggakan kita sehingga Mas merasa tak ada celah untuk menegur Hikmah," ujar Juno pelan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat mengingat anaknya yang selalu membuatnya bangga. Nina sedikit tenang, tetapi jantungnya terasa berhenti mendadak saat mendengar kelanjutan dari jawaban Juno.
"Tapi jika memang benar kejadian itu nyata dan Hikmah adalah orangnya, Mas rasa saat itu adalah titik terendah dalam hidup Mas yang pernah Hikmah berikan sebagai kenangan pahitnya untuk Mas."