#3 - Bertemu Lagi

1380 Words
Ibu tiri dan adik tiri Kirana memang kurang menyukai Kirana. Menurut mereka, ayahnya terlalu menyayangi Kirana dan memanjakannya. Terlihat raut wajah benci mereka jika menatap Kirana. Namun hanya di depan ayahnya, mereka berusaha bersikap sebaik mungkin pada Kirana. "Suamiku, hari ini arisan dirumah Jeng Desy. Kamu nggak lupa kan?" Ibu tirinya Kirana bergelayut manja di lengan suaminya itu. Menegaskan tentang jatah uang yang harus diberikan padanya hari ini untuk acara emak-emak sosialitanya yang super glamor. "Hemm.. ". Suaminya hanya menjawab dengan tetap meneruskan makannya. "Udah ku simpan di laci kamarmu.." Dibalas dengan senyuman puas sang istri yang hanya membuat suaminya semakin geram dengan tingkahnya yang suka menghambur-hamburkan uang. Dia hanya malas membahas itu di meja makan. Selama istrinya tidak bersikap keterlaluan, dia masih memberinya maklum. "Pa, besok Karin udah harus bayar biaya karyawisata Karin untuk bulan depan. Papa segera ke sekolah ya, sudah ditanyakan Bu Sofi soalnya..." Karina Delia Rudiatmaja, adik tiri Kirana ikut menuntut uang ayahnya. Wali kelas Karina sudah memberi batas pembayaran hingga hari besok. "Iya, nak. Kamu tenang saja. Itu urusan papa. Kamu belajar yang rajin ya! Papa ingin kamu juga bisa melanjutkan sekolah ke luar negri seperti kakakmu..." Dibalas senyuman terpaksa Karina karena malas terus-terusan di samakan dengan kakak tirinya itu. Ditatapnya sinis Kirana yang masih terdiam dengan makanannya. 'Selalu dia, sampai kapan papa terus-terusan bandingin aku dengan dia!'. Sebenarnya sikap Karina cukup penurut, hanya saja karena didikan mamanya yang membuatnya menjadi manja dan tidak suka di banding-bandingkan dengan siapapun. Dalam benak Kirana berpikir juga tentang keuangan keluarganya. Memang sudah saatnya dia membantu ayahnya bekerja. Adiknya juga masih membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit. Memang adik tirinya itu lumayan menghabiskan uang ayahnya untuk keperluan sekolahnya. Mengingat dia bersekolah di sekolah elit dan mahal tanpa mendapat beasiswa. Dia hanya tergolong siswa biasa yang tidak terlalu pintar. Tentu saja karena mamanya yang selalu memanjakannya dan tidak membiarkannya belajar mandiri. "Ma, pa. Karin berangkat dulu ya!". Dia selesai makan dan segera pamit kedua orang tuanya. Tak lupa juga dia mencium tangan Kirana. Hanya dilakukannya saat papanya di rumah. Kirana membalas senyum adiknya itu. "Hati-hati dijalan ya, Rin." "Naik taksi saja ya sayang berangkatnya. Mama tidak mau kamu terlambat sampai ke sekolah." Mamanya seraya menyisipkan uang saku ke tangan kanan sang putri kesayangannya itu. "Siap, ma!" Karin segera pergi menghilang dari ruang makan rumahnya menuju kesekolahnya. Kirana memandang ayahnya yang masih melanjutkan sarapannya yang hampir habis. "Yah, Kiran ikut bantuin ayah kerja ya? Kiran bosen di rumah kalo nggak ada kerjaan..." Belum ayahnya menjawab, ibu tirinya lebih dulu membalas pertanyaan Kirana. "Tentu aja kamu harus bantuin kerja. Memang apa lagi yang mau kamu lakukan disini? Diam saja di rumah seperti tuan putri?" "Ma!". Erik sedikit membentak Fella yang dengan ketus menyindir Kirana. Nampak raut wajah kesal istrinya itu. "Tidak ada yang boleh memaksa Kiran untuk harus bekerja sekarang! Saya juga tidak suka jika kamu bersikap kasar sama anak-anak!! Kiran itu baru saja kembali dari studinya. Biarkan saja dia yang menentukan apa yang mau dia lakukan!" "Terus saja manjain dia! Hemmh..!". Fella kesal suaminya itu terus membela Kirana dan memanjakannya. "Semua itu terserah keputusanmu, nak. Ayah tidak akan memaksamu asalkan kamu melakukannya karena kamu ingin dan kamu merasa bahagia...." Ayahnya sambil menggenggam erat tangan Kirana dengan senyum bangganya. "Iya, yah. Kiran pasti ingat nasihat ayah." "Ya sudah, Ayah berangkat dulu ya, nak. Kamu selesaikan dulu makanmu." Ucapnya seraya berdiri mengusap rambut putrinya itu. "Ma, tolong bantu Kiran apapun yang dia butuhkan ya, Papa berangkat dulu." Fella dan Kirana mencium tangan Erik bergantian. Erik harus segera berangkat bekerja. Karena saat ini dia tengah menjabat sebagai sekertaris dan tangan kanan komisaris sebuah perusahaan besar. Bisa dibilang gajinya saat ini sangat lebih untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Erik Rudiatmaja. Sekertaris pribadi komisaris utama Cakradhana Group, yang sangat kompeten dan sabar dalam setiap pekerjaannya. Juga seorang kepala keluarga yang begitu menyayangi keluarganya. Kirana segera kembali ke meja makan dan mulai membersihkan sisa sarapan mereka. Namun Fella, dia melewatinya tanpa menghiraukan apa yang dilakukan putri tirinya itu. Tujuannya agar dia bisa langsung ke kamar tanpa membantu Kirana di dapur. Kirana juga tampak biasa saja dengan perlakuan Fella. Sudah biasa dia melakukan sendiri semua pekerjaan rumah. "Ma, Kiran pamit pergi belanja ke pasar dulu ya???". Izin Kirana kepada Fella. Namun ibu tirinya itu tidak menjawab. Seolah dia memang sudah tau apa yang akan Fella katakan. Dia memilih untuk langsung pergi belanja. ** Di pasar dekat kompleks rumah Kirana. "Terimakasih, bu!" Selesai berbelanja Kirana selalu saja menyunggingkan senyuman manisnya dan tak lupa berterimakasih pada penjual. Dia memang senang sekali bila berbelanja di pasar. Bukan hanya bisa mendapat harga lebih murah, tapi juga lebih nyaman baginya daripada berbelanja di supermarket. Semua pedagang di pasar juga menyukainya karena sifatnya yang ramah pada semua orang. "Aakh!!" Pekik Kirana. "Maaf, saya tidak sengaja!" Ucapnya dengan sangat menyesal. Namun, raut wajahnya berubah datar ketika tak sengaja badannya menubruk seorang lelaki. Lelaki itu lagi. Mata mereka saling bertatapan cukup lama tanpa sepatah kata lagi. "Maaf... Kamu nggak pa-pa?" Tatapannya masih sinis. Tanda dia tak suka jika bertemu dengan Kirana. Dia juga diam dan tak menghiraukan pertanyaan Kirana. Rey langsung meninggalkannya begitu saja. Benar. Lelaki itu adalah Rey. Lelaki yang ditemui Kirana tadi malam. 'Kenapa bisa ketemu lagi disini sih!?' Batin Rey kesal. Dia segera bangun dan meninggalkan Kirana di sana. Sedangkan Kirana hanya terdiam tak mengerti apa yang harus dia lakukan. Ingin rasanya dia meluruskan lagi kesalahpahaman di antara mereka. 'Ya sudahlah... Toh dia bukan siapa-siapaku!' batin Kirana menatap Rey yang menghilang memasuki area pasar. Rey memang rutin ke pasar untuk menyetorkan dagangannya kepada penjual kue kering langganannya untuk dijual lagi. Dia baru saja akan mengantarkan pesanan dan langsung pulang setelah selesai. Kirana berhenti, dia sepertinya melupakan sesuatu. Dia harus kembali ke dalam pasar untuk membelinya. Tak lama dia kembali dan segera bergegas pulang. Brakkk!!! 'Astaga kenapa bisa begini?' Kirana bergumam dalam hati. Tangannya segera memunguti buah jeruk dan manggis yang baru saja dia beli karena kelupaan. Plastik yang dia bawa sobek karena terburu-buru dan membuat buah-buahannya jatuh berserakan di tanah. "Terimakasih!!!" Kirana seketika langsung mengucapkan terimakasih pada seseorang yang telah membantunya memunguti buah-buahannya dan memberinya plastik kantong baru. Kirana terdiam. 'Dia lagi????' Batinnya setelah dia menoleh dan menatap orang yang menolongnya. Lelaki itu membantunya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Raut wajahnya dingin tanpa ekspresi. Rey, lelaki itu yang lagi-lagi bertemu dengannya dan sekarang membantunya. 'Dasar ceroboh, sama sekali tidak berubah!!' Gumamnya sambil menyodorkan kantong plastik baru untuk buah-buahan Kirana yang terjatuh tadi. Kirana memandang datar wajah lelaki yang telah mengambil ciuman pertamanya itu dengan banyak pertanyaan dalam batinnya. Rey berlalu meninggalkan Kirana begitu saja tanpa menghiraukan Kirana yang masih tertegun karenanya. Diapun segera beranjak dan mengejarnya. "Tunggu, tolong berhenti sebentar ku mohon! Dengerin penjelasanku dulu, please!!". Ucapnya sambil sedikit berlari mengejar Rey yang terlebih dahulu meninggalkannya dibelakang. Dia tidak ingin terjadi salah paham diantara mereka. Brukk!! "Aakh!!" Di sebuah lorong yang agak sepi, Rey berhenti mendadak, membuat Kirana yang dibelakangnya menabrak punggung Rey hingga oleng dan hampir terjatuh. Refleks Rey menarik pinggul Kirana, menangkapnya yang hampir terjatuh dan mendekapnya segera. "Mm... Bisa tolong lepaskan..." Kirana memohon lirih pada Rey agar melepaskan pelukannya. Wajahnya berada tepat di d**a Rey, dia dapat merasakan detak jantung Rey yang berdenyut cepat tak beraturan. Kirana hanya terdiam merasakan pelukan Rey yang begitu dalam dan hangat. "Kiran.." Mata Rey terpejam, masih memeluk Kirana dalam dekapannya. "Aku kangen banget sama kamu..." Dekapannya begitu erat hingga Kirana tak mampu bergeming lagi. "Sebentar aja..." Dengan tangan kirinya memeluk punggung Kirana dan tangan kanannya mengusap lembut rambut Kirana yang dibiarkan tergerai. Rey tergoda lagi akan pesona Kirana. Wanita yang sudah dipilihnya sejak pertama kali bertemu. Jujur dia masih belum rela melepaskan Kirana begitu saja. Jika masih ada kesempatan dia ingin Kirana mengakuinya cintanya walau hanya sebentar. "Tolong lepasin aku mohon!" Kirana masih berusaha memohon dengan lirih. Kedua tangannya masih memegang ujung kantong belanjaannya. Dia masih sungkan karena lelaki ini yang tadi sudah menolongnya. Terlebih dia sangat menghargai perasaan Rey yang sangat dalam dan takut menyakitinya. Rey perlahan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya meraih wajah Kirana dan menghadapkannya tepat ke wajahnya. Kini wajah mereka hanya terpaut beberapa senti saja. "Ran, aku mohon hentikan sandiwaramu.. Apa kamu nggak kangen sama aku???" Wajahnya berubah memelas menatap Kirana dalam. Dia sungguh berharap Kirana akan menghentikan sandiwaranya dan kembali kepadanya. "Tapi aku emang bukan wanita yang kamu maks-"  - Bersambung - 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD