Mobil Jake meninggalkan Kirana sendiri yang langsung berpaling menuju ke rumahnya. Belum gerbang terbuka tiba-tiba seseorang menarik tangannya kebelakang hingga membuatnya hampir terjatuh.
"Aakh!!". Kirana kesakitan karena tangannya ditarik dengan kasar, lagi. Matanya membelalak melihat lelaki gila yang berani menciumnya itu ternyata mengikutinya hingga ke rumah. Kirana menatapnya kesal.
"Kamu!!!!". Kirana memberontak melepaskan tangannya dari Rey.
"Sekarang hanya tinggal kita berdua Kiran, kamu udah gak perlu pura-pura lagi!!" Rey menarik Kirana jatuh ke pelukannya, lagi. Rey memeluk Kirana erat hingga Kirana memekik kesakitan.
"Lepasin aku! Tolong lepasin aku mohon!" Kirana memberontak ingin melepaskan diri.
"Nggak, Ran. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi!". Rey benar-benar sangat rindu. Orang yang dia sangat cintai malah berbalik melupakannya tanpa rasa penyesalan sedikitpun. Hatinya sakit.
"Maaf... Tapi kamu salah orang! Aku bukan orang yang kamu maksud! Aku bener-bener nggak kenal sama kamu!"
Rey melepaskan pelukannya dengan tetap memegang erat kedua lengan Kirana. Ditatapnya tajam raut wajah takut Kirana. Sungguh dia tidak akan salah mengenali wajah orang yang sangat dia cintai.
"Nggak!!!! Aku nggak mungkin salah orang. Kamu Kirana!!! Kirana Shafia Rudiatmaja kekasihku! Nggak mungkin aku salah!"
"I-iya benar!!. Kirana melepaskan tangan Rey dari lengannya. "Memang benar namaku Kirana! Tapi aku bukan orang yang kamu maksud! Aku belum pernah ketemu sama kamu dan kita juga nggak pernah ada hubungan apapun sebelumnya!!"
"KENAPA!?" Emosi Rey memuncak. "Kenapa kamu bisa kejam padaku, Ran!! Kenapa kamu lupain aku gitu saja?"
"Aku nggak tau siapa wanita yang kamu maksud. Tapi aku harap kamu bisa segera menemukannya... Permisi!" Kirana segera lari ingin membuka gerbang rumahnya. Rey berlari memeluk Kirana dari belakang hendak mencegahnya masuk ke dalam rumah.
"Ran, please!! Tolong jangan menyiksaku lagi. Aku nggak bisa hidup tanpamu. Aku terus mencarimu selama setahun ini. Sekarang setelah aku mencoba melupakanmu, malah kamu muncul lagi di hidupku yang hampir terpuruk!". Air matanya jatuh ke pundak Kirana. Kirana merasakan betapa besarnya rasa cinta Rey yang begitu dalam kepada wanita yang bernama sama seperti dirinya itu.
"Aku mohon, Ran... Kembalilah padaku.. Aku janji akan bahagiain kamu... Aku akan bekerja keras agar bisa buat kamu bahagia.." Lanjutnya sambil merintih.
"Lepaskan aku mohon..." Pinta Kirana lirih.
"Aku mohon, Ran!!"
"Aakh!! Sakiit.. Lepasin aku!! Kamu menyakitiku! Aku mohon lepasin..!"
"Nggak, Ran. Aku nggak akan lepasin sebelum kamu mengatakan sejujurnya mengapa kamu tega meninggalkanku!?"
"Apa karena aku miskin, Ran?". Lanjutnya.
Perkataan Rey membuat Kirana yang tadinya terus berontak menjadi terdiam tak mengerti.
"Katakan, Ran! Katakan!"
"I-iya benar!!! Benar apa yang kamu katakan! Sekarang kamu puas!?" Kirana terpaksa berbohong agar Rey segera melepaskannya.
Rey perlahan melepaskan pelukannya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Dia mundur perlahan dari hadapan Kirana yang sudah berbalik menatapnya.
"Jadi benar dugaanku selama ini. Ternyata aku salah karena begitu percaya sama kamu! Ternyata kamu gadis murahan yang cuma mengincar harta!"
Rey mendekati Kirana, mendongakkan dagu Kirana tepat ke wajahnya. "Wajah cantik ini sama sekali nggak berubah. Tapi hatimu ternyata sungguh sangat busuk!".
PLAKK!!
Kirana menampar keras pipi kiri Rey dengan tangan kanannya. Dia begitu kesal dengan ucapan Rey padanya. Dia masih terdiam meresapi perkataan Rey yang begitu kejam menganggapnya serendah itu. Kenal saja tidak.
"Kenapa? Kamu nggak terima ucapanku? Bukankah itu yang sebenarnya?" Rey mengguncang bahu Kirana keras.
"Terserah apa katamu. Aku bilang lepasin sekarang juga atau aku akan teriak!"
"Oke. Kalau itu maumu. Aku benci pada diriku sendiri yang terlalu bodoh karena percaya wanita busuk sepertimu!" Rey menunjuk tepat ke arah wajah Kirana. Menggertakkan giginya keras. "Aku turut sedih bagaimana jika orang tuamu tau tentang kelakuanmu yang sebenanya seperti apa! Anak yang mereka besarkan dengan susah payah dan segala kemewahan, tetapi dibelakang dia menggoda para lelaki untuk kepuasannya sendiri!! Sungguh memalukan!"
Kirana sangat kesal karena perlakuan buruk Rey padanya, juga karena Rey sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang Kirana jelaskan. Tangan Kirana berusaha menampar Rey lagi. Tapi di tahan Rey dengan cepat.
"Kamu mau menamparku lagi!? Hah?". Rey melepaskan tangan Kirana dengan kasar. "Tangan kotormu ini berani-beraninya menyentuhku!"
"Cukup! Aku bilang cukup! Aku nggak mau dengar apapun lagi yang kamu ucapkan!! Aku harap kita nggak akan pernah ketemu lagi!" Kirana berbalik segera masuk gerbang rumahnya dengan gusar.
Rey menatap Kirana yang masuk ke dalam gerbang rumahnya dan menghilang masuk ke dalam rumah. Rey masih tidak habis pikir tentang apa yang terjadi pada Kirana hingga dia benar-benar tega meninggalkan dan melupakannya seperti ini.
**
Flashback 1 tahun yang lalu.
"Rey, aku seneng banget bisa ketemu kamu. Terimakasih ya, Rey. Kamu itu udah jadi orang yang paling penting buat aku..." seorang wanita bergelayut manja pada lengan Rey. Dengan tubuh mereka masing-masing yang masih polos hanya tertutup selembar selimut tebal.
"Sama-sama, Kiran. Kamu juga adalah orang yang paling penting buat aku. Kamu jangan pernah tinggalin aku ya!"
Rey dengan seorang wanita yang dikenalnya selama seminggu ini. Mereka bertemu di Bali saat Rey sedang bekerja sebagai seorang pegawai marketing biasa di salah satu perusahaan di Bali. Mereka telah menghabiskan malam mereka berdua disebuah resort dekat pantai.
"Mmh. Rey, boleh aku tanya sesuatu?"
"Ada apa, sayang?"
"Emang keluargamu kerjanya apa sih? Kok kamu sampai merantau jauh kesini?" Rey memang sedang ditugaskan ke Bali selama hampir sebulan ini.
"Oh itu, aku tinggal sendiri sama ibuku. Ayahku udah meninggal... Ibuku membuat kue kering dan menjualnya di pinggiran kota. Yaa walaupun ayahku hanya meninggalkan sebuah rumah sederhana, tapi kami sangat bahagia. Bulan depan tugasku disini selesai. Dan mungkin aku akan resign... Aku akan fokus membantu ibuku di toko. Saat nanti kita pulang, kamu mau kan bertemu dengannya??"
"Mmhh... Oo, itu. Bo-leh. Mmh.. Boleh deh" Ucap wanita itu sedikit ragu. Entah apa yang ada di benaknya.
Rey tidak menyangka bahwa itu adalah obrolan terakhirnya dengan orang yang sangat dia cintai.
**
Kirana masih tidak habis pikir tentang kejadian semalam. Pikirannya kalut. Bagaimana bisa lelaki itu mengira orang lain adalah dirinya. Seorang wanita berparas mirip sepertinya dan menggunakan nama lengkapnya untuk menggoda lelaki.
'Apa mungkin ada orang yang mirip sepertiku??? Atau aku punya saudara kembar?' Batinnya mengerutuk pada sesuatu yang sangat tidak mungkin. 'Hah? Apa benar mungkin seperti itu?' Batinnya kembali terperanjat. Dia sama sekali tidak fokus, bahkan untuk menghidangkan masakannya dia hampir menumpahkan semangkuk besar sayur sop.
"Kiran, kenapa denganmu nak? Kenapa kamu tidak fokus begitu? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?". Sahut ayahnya yang sedari tadi memperhatikan gelagat aneh putrinya itu. Sambil membantunya meletakkan mangkuk sayur di meja makan.
Kirana terdiam, menghembuskan nafasnya berat. Menatap kosong pada ayahnya yang membantunya menyiapkan sarapan pagi ini. Seperti setiap harinya semenjak dia dirumah, dia yang bertugas menyiapkan makan untuk makan serumah.
"Ayah, sebenarnya memang ada yang mengganggu pikiranku.." Sang ayah menghentikan pekerjaannya. Menatap heran pada wajah putrinya.
"Ada apa, nak? Siapa tau ayah bisa membantumu?"
"Ayah, apa... mungkin aku punya saudara kembar???" Ayahnya hanya termenung mendengar pertanyaan putrinya yang sama sekali tidak disangkanya.
"Tentu saja tidak, nak... Mm.. Memang, apa yang membuatmu bertanya seperti itu?" Jawab ayahnya dengan pertanyaan lain yang membuat putrinya semakin bingung.
"Apa ayah yakin?". Terlihat ayahnya itu hanya terdiam dan memikirkan sesuatu. Dia sangat berharap ayahnya menceritakan sesuatu yang belum dia ketahui. "Ayah??"
"Eh i-iya nak". Ayahnya terdiam sedikit meragu untuk menjawab pertanyaan putrinya itu. "Sebenarnya apa yang terjadi nak? Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Ada yang aneh, yah. Sebenernya kemarin malam waktu Kiran pergi sama Dea, ada seorang lelaki yang menghampiri Kiran. Dia sepertinya sangat mengenal Kiran bahkan tau nama lengkap Kiran, yah. Padahal Kiran sendiri sama sekali tidak mengenalnya!"
"Teman sekolahmu mungkin?"
"Tidak, ayah. Wajahnya sangat asing bagi Kiran. Tapi dia bilang kalau dia bertemu Kiran di Bali tahun lalu. Ayah tau sendiri, Kiran baru saja pulang beberapa hari kemarin kan? Bagaimana mungkin Kiran ke Bali meninggalkan studi Kiran di kampus??"
Ayahnya terlihat berpikir keras. 'Mungkinkah? Ah.. Tidak mungkin benar!' Batinnya berkecamuk antara percaya dan tidak dengan apa yang diyakininya.
"Sudah, nak. Biarkan saja dia. Mungkin dia hanya salah mengira orang yang dikenalnya adalah kamu."
"Tapi ayah! Orang yang dia kenal itu sengaja pakai nama Kiran. Kiran nggak habis pikir--". Kirana terdiam mendongak ke arah tangga tidak melanjutkan ucapannya. Ibu tiri dan adik tirinya baru saja turun dari kamarnya hendak ikut sarapan bersama. Dia hanya berusaha tidak membuat ribut suasana dirumah.
"Nanti kita bicarakan lagi, nak. Sekarang kita sarapan dulu yuk!" Ayahnya menggeser kursi tempat duduknya dan segera mengajaknya duduk juga untuk sarapan bersama ibu tiri dan adik tirinya.
Kirana bertanya-tanya dalam benaknya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya suara sendok piring yang beradu mengisi keheningan pagi ini.
Ibu tiri dan adik tiri Kirana memang kurang menyukai Kirana. Menurut mereka, ayahnya terlalu menyayangi Kirana dan memanjakannya. Terlihat raut wajah benci mereka jika menatap Kirana. Namun hanya di depan ayahnya, mereka berusaha bersikap sebaik mungkin pada Kirana.
- Bersambung -