Bab 1
"Belum tidur, Nak?"
Suara itu memutus keheningan dapur yang pekak, membuat Arif hampir menjatuhkan kotak s**u di tangannya. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena terkejut, tapi karena hawa yang tiba-tiba berubah di ruangan itu.
Ia berbalik dan mendapati Mya, ibu mertuanya, berdiri di sana. Mya tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah Arif lihat dari Naira selama setahun pernikahan mereka.
"Eh, Mama. Iya, lagi nggak bisa tidur. Karena haus, jadi pengen bikin s**u hangat," sahut Arif kikuk, tenggorokannya mendadak terasa kering.
Mya melangkah mendekat. Kimono satin merah marunnya bergesekan lembut dengan lantai, menciptakan suara halus yang entah mengapa terdengar provokatif di telinga Arif. Saat wanita itu melewati lampu gantung dapur, Arif bisa melihat dengan jelas betapa tipisnya kain yang membalut tubuh mertuanya. Tali kimononya sengaja dibiarkan lepas, memamerkan lekuk tubuh yang jauh lebih matang dibanding Naira.
"Ya, Tuhan. Sadar, Arif. Itu mertua loe!" batin Arif sambil meraup wajahnya kasar saat pikiran liar tiba-tiba saja menyeruak di pikirannya.
"Biar Mama yang buatkan. Kamu duduk saja di sana, wajahmu pucat sekali," suara Mya terdengar lembut tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Arif berdiri.
Sementara itu, di sebuah kafe 24 jam di sudut rumah sakit...
Naira menyesap kopi hitamnya dengan tenang, sama sekali tidak menunjukkan raut wajah lelah meski baru saja keluar dari ruang operasi selama lima jam. Di depannya, Siska, rekan sesama dokter, menatapnya heran.
"Loe nggak pulang, Nai? Operasi sudah selesai dari jam satu tadi, kan? Ini sudah hampir jam tiga pagi," tanya Siska sambil melirik jam tangannya. "Loe kan pengantin baru, apa nggak kangen sama suami loe? Kasihan Arif sendirian di rumah."
Naira mendengus kasar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan malas. "Gue bosen, Sis. Pulang ke rumah juga paling cuma dengerin dia nanya 'capek ya?' atau 'mau makan apa?'. Flat banget."
Siska mengernyit. "Lho, bukannya itu perhatian namanya? Arif itu ganteng, mapan, dan sabar banget ngadepin jadwal loe yang berantakan."
"Mapan?" Naira terkekeh sinis. "Siska, gue ini dokter spesialis bedah. Masa depan gue cerah. Sedangkan dia? Dia itu, cuma manajer biasa di perusahaan swasta. Paling nggak, level gue itu dapetnya yang sama-sama dokter lah, biar nyambung!"
"Gila loe, Nai. Itu kan suami pilihan loe sendiri. Kalian pacaran udah lama, dari jaman kuliah kan?"
Naira meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras. "Gue terpaksa nikah sama dia, Sis. Loe tahu sendiri gimana kondisi keuangan keluarga gue dulu. Gue bisa kuliah kedokteran sampai jadi spesialis begini kan dia yang biayain semuanya. Masa gue nggak balas budi? Ya udah, gue nikahin aja. Anggap saja melunasi hutang."
"Gue bingung deh, sebenernya, loe dulu pacaran ama dia itu karena cinta nggak, sih?"
Naira mengedikkan bahunya. "Cinta nggak bisa bayar gengsi gue di depan temen-temen sejawat, Sis," jawab Naira dingin.
Kembali ke dapur rumah ...
"Ini, diminum mumpung masih hangat." Mya meletakkan cangkir itu. Sengaja atau tidak, ujung jarinya mengusap punggung tangan Arif cukup lama.
Sentuhan itu singkat, namun sensasinya menjalar seperti sengatan listrik hingga ke ubun-ubun. Arif menatap tangan mertuanya, lalu menatap wajah Mya yang tampak begitu peduli padanya. Berbanding terbalik dengan istrinya yang mungkin saat ini bahkan tidak ingat kalau ia punya suami di rumah.
"Hujan deras begini, Naira masih di rumah sakit, Rif? Dia membiarkan suaminya sendirian lagi?" tanya Mya. Desahan prihatinnya terdengar sangat sensual.
"Ada panggilan operasi darurat, Ma," jawab Arif lirih, meski hatinya mulai terasa perih.
Mya menarik kursi di sebelah Arif, duduk begitu dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan. "Kasihan sekali kamu, Arif. Padahal lelaki sepertimu ... nggak hanya butuh lebih dari sekadar teman tidur. Kamu butuh dilayani, butuh dipeluk, dan diperhatikan."
Tangan Mya kini mendarat di atas tangan Arif, menggenggamnya dengan mantap. "Mama tahu bagaimana rasanya diabaikan. Dan Mama tidak tega melihatmu menanggungnya sendirian."
Arif menelan ludah dengan susah payah. Logikanya berteriak untuk lari, tapi tubuhnya justru terpaku pada kehangatan yang ditawarkan Mya. Kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan dari wanita yang ia cintai selama hampir 5 tahun ini.
"Mama tahu kamu haus, Arif. Tapi mungkin bukan hanya s**u hangat yang kamu butuhkan," bisik Mya tepat di telinganya.
Aroma vanila itu kini menyelimuti kesadaran Arif sepenuhnya.
Mya berdiri, memberikan tatapan yang begitu gelap seolah mengundang. "Kalau kamu butuh teman untuk mengobrol, datanglah ke kamar Mama. Pintu kamar Mama selalu terbuka untukmu. Lupakan sejenak tentang Naira. Kamu butuh sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih hidup."
Mya berlalu, meninggalkan aroma parfum yang tertinggal di udara. Tubug Arif gemetar hebat. Ia menatap ke arah kamarnya yang kosong, lalu beralih menatap pintu kamar mertuanya yang sedikit terbuka.
Sesaat sebelum Arif menatap pintu Mya yang terbuka, tambahkan sebuah pesan singkat dari aplikasi berwarna hijau terlihat. Nama istrinya tertera di layar. Arif pun tersenyum dan segera membacanya.
"Maaf, Mas. Naira nggak bisa pulang malam ini. Ada acara sama temen-temen dokter. Nggak usah nunggu, dan nggak usah telepon-telepon. Nggak enak sama teman-teman."
Senyum di bibir Arif pun memudar. Lelaki itu menatap layar ponselnya dengan d**a sesak. Pesan itu seperti tamparan keras yang mengingatkannya bahwa ia hanya bukanlah prioritas di hidup istrinya. "Jadi, dia malu jika aku meneleponnya?"
Di saat yang sama, dari celah pintu kamar Mya yang sedikit terbuka, Arif melihat bayangan kimono merah marun itu jatuh ke lantai. Aroma vanila yang kuat kembali menyambar indranya, seolah memanggilnya untuk masuk dan melupakan segalanya. Napas Arif memburu, dadanya naik turun saat logika dan hasratnya berbenturan hebat di ambang pintu itu.
Harga diri Arif yang hancur bertemu dengan gairah yang ditawarkan Mya. Tangannya yang gemetar perlahan meraih kenop pintu kamar sang mertua.
"Maafkan aku, Naira. Kamu yang memulai ini semua."