"Masuklah, Arif. Kenapa hanya berdiri di sana?" Suara Mya yang rendah dan serak menyambut Arif tepat saat kakinya melewati ambang pintu kamar yang remang-remang itu. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu tidur berwarna jingga redup, menambah kesan intim sekaligus mencekam.
Arif terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan. "Aku ... aku cuma mau memastikan Mama baik-baik saja."
Mya tertawa kecil, suaranya terdengar seperti denting gelas kristal. Ia bangkit dari tepian ranjang, membiarkan kimono satinnya terjatuh ke bawah.
"Mama baik-baik saja, Nak. Hanya sedikit kedinginan karena hujan di luar begitu awet," sahut Mya sambil melangkah mendekat.
Langkah wanita itu begitu anggun. Arif bahkan sampai tidak bisa memalingkan wajahnya. Bohong jika ia bilang ia tidak tertarik. Di bawah cahaya temaram itu, tubuh mertuanya itu terlihat begitu nyata dan menggiurkan. Lekuk tubuhnya yang sempurna bak gitar Spanyol, matang dan berisi di bagian-bagian tertentu, jauh lebih 'bernyawa' dibanding tubuh kurus Naira yang selalu tertutup jas putih yang selalu dipakainya.
"Kamu berkeringat, Arif. Padahal udara di sini sangat dingin," bisik Mya saat jarak mereka kini hanya menyisakan beberapa sentimeter.
"Mungkin karena s**u hangat tadi, Ma," jawab Arif terbata.
Keringat dingin tak henti-hentinya mengalir di pelipisnya. Mya tersenyum, lalu perlahan mengalungkan kedua tangannya di leher Arif. Aroma vanila dan mawar yang tadi ia hirup di dapur kini menyergap hidungnya sepuluh kali lebih kuat. Sensasi lembut kulit Mya di tengkuknya membuat jantung Arif berdetak kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
"Kamu tidak perlu membohongi dirimu sendiri. Mama bisa merasakan detak jantungmu yang liar ini," Mya menempelkan telapak tangannya di d**a Arif, tepat di atas jantung lelaki itu. "Kamu perlu teman bicara malam ini, Nak? Atau mungkin ... sesuatu yang lebih dari sekadar bicara?"
Mya sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Arif hingga napas hangatnya menyapu kulit. "Naira tidak akan tahu. Dia sedang sibuk dengan dunianya di rumah sakit. Mengapa kamu harus menyiksa dirimu dalam kesepian?"
Seketika, bayangan wajah Naira terlintas di benak Arif. Ia teringat wajah istrinya yang terlelap kelelahan minggu lalu. Perasaan bersalah muncul seketika, menghujam ulu hati Arif. Meskipun Naira cuek, meskipun istrinya itu sering merendahkannya secara tidak langsung, Arif tetaplah suaminya. Ada janji di atas altar yang masih mengikatnya.
"Maaf, Ma ..." ucap Arif dengan suara serak, hampir seperti bisikan.
Mya sedikit menarik wajahnya, menatap Arif dengan tatapan bertanya yang penuh gairah. "Ada apa, Sayang?"
Arif dengan lembut namun tegas melepaskan tangan Mya dari lehernya. Ia mengambil satu langkah mundur, menciptakan jarak yang aman.
"Maaf, Ma. Aku hanya ingin memastikan Mama sudah tidur. Aku baru ingat, ada beberapa pekerjaan kantor yang belum selesai. Selamat malam," ucap Arif cepat, tidak berani menatap mata Mya lebih lama lagi.
Ia berbalik dan hampir berlari keluar dari kamar itu. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tangannya masih gemetar saat dia mengunci pintu kamar mandinya. Tanpa melepas pakaiannya sepenuhnya, ia berdiri di bawah shower dan menyalakan air dingin dengan kekuatan penuh.
"Sial! Apa yang barusan aku pikirkan?" umpatnya pelan di sela gemericik air.
Guyuran air dingin itu perlahan memadamkan api yang tadi sempat tersulut di dalam dadanya. Ia membiarkan tubuhnya menggigil, berharap rasa dingin yang menusuk tulang ini bisa menghapus bayangan lekuk tubuh Mya dari kepalanya. Ia perlu mendinginkan pikirannya agar khayalan liar itu tidak merusak sisa harga diri yang ia miliki.
"Dia mertuamu, Arif! Sadarlah! Kamu bukan binatang!" ia membentak dirinya sendiri dalam hati.
Setelah hampir lima belas menit di bawah guyuran air, Arif keluar. Ia mengganti pakaiannya dengan kaus oblong biasa dan celana tidur. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terasa sangat luas tanpa kehadiran Naira.
Ia memejamkan mata, namun bayangan Mya tetap menari-nari di balik kelopak matanya. Ia mencoba menggantinya dengan kenangan masa-masa awal ia mengejar Naira, saat ia bekerja keras lembur di kantor hanya untuk membiayai semester akhir kuliah kedokteran wanita itu.
"Tidurlah, Arif. Besok pagi semuanya akan kembali normal," bisiknya pada diri sendiri.
Pukul empat subuh, suara pintu kamar depan yang terbuka perlahan membangunkan Arif dari tidurnya yang tidak nyenyak. Ia melihat siluet wanita masuk ke dalam kamar. Langkahnya terdengar sangat berat dan letih.
"Naira?" panggil Arif lirih.
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya melempar tasnya ke kursi, melepas sepatu dengan kasar, lalu langsung merebahkan tubuhnya di samping Arif. Tanpa mengganti baju, tanpa membersihkan riasan tipis di wajahnya yang pucat.
"Gue capek banget, Rif. Jangan tanya-tanya dulu," gumam Naira pelan sebelum akhirnya napasnya menjadi teratur, tanda ia sudah terlelap seketika karena kelelahan yang luar biasa.
Arif terdiam sejenak. Namun, saat ia merasakan lengan Naira yang tanpa sadar melingkar di perutnya, kebiasaan lama Naira saat sangat mengantuk, seulas senyum tipis mengembang di bibir Arif. Di tengah sikap dingin dan kata-kata tajamnya, momen seperti ini adalah satu-satunya saat di mana Arif merasa benar-benar memiliki istrinya kembali.
Lelaki itu bergeser sedikit, lalu dengan lembut mencium kening Naira yang terasa dingin. "Istirahatlah, Nai. Aku tidak akan mengganggumu."
Arif kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, bersiap-siap untuk shalat subuh dan memulai rutinitas paginya sebagai seorang manajer yang akan menghadapi permasalahan karyawan.
Setelah berpakaian rapi dengan kemeja kantornya, Arif melangkah menuju dapur untuk sekadar mengambil segelas air putih. Namun, langkahnya terhenti saat melihat lampu dapur sudah menyala terang dan aroma gurih menyengat indra penciumannya.
Mya sudah ada di sana. Wanita itu kini mengenakan daster rumah yang jauh lebih sopan, namun tetap terlihat cantik dengan rambut yang disanggul asal ke atas.
"Sudah bangun, Nak? Mama pikir kamu masih tidur karena habis 'lembur' tadi malam," sapa Mya dengan nada bicara yang normal, seolah kejadian di kamar tadi malam tidak pernah terjadi. Namun, ada kilatan jenaka di matanya saat ia menatap Arif.
"Eh, iya, Ma. Aku harus segera bersiap ke kantor," jawab Arif agak canggung.
Mya mengangkat wajan dengan lincah, lalu menuangkan isinya ke atas piring saji. "Sarapan dulu, Nak. Ini, Mama masakin nasi goreng cumi kesukaanmu. Mama ingat kamu pernah bilang kalau masakan cumi Mama itu yang terbaik."
Mya meletakkan piring itu di meja makan, lengkap dengan telur mata sapi yang pinggirannya garing sempurna—persis seperti yang Arif sukai.
"Terima kasih, Ma. Repot-repot sekali," ucap Arif sambil duduk.
"Tidak repot untuk menantu kesayangan Mama. Kamu kan harus cari uang yang banyak buat biaya hidup istri dan juga kebutuhan Mamamu ini," celetuk Mya. Senyumnya manis, namun kalimat selanjutnya terasa seperti duri yang menancap dinhatinya. "Walaupun Mama tahu, bagi Naira, kerja kerasmu mungkin belum sebanding dengan hasil dia memegang pisau bedah."
Arif terdiam, suapan nasi gorengnya terasa sedikit lebih berat untuk ditelan. Mya selalu tahu di mana letak luka yang paling perih di hati Arif, dan wanita itu sengaja menaburkan garam di sana, meskipun dengan cara yang sangat lembut.
"Enak, Arif?" tanya Mya sambil menopang dagu. Daster rumahannya mungkin sopan, tapi posisi duduknya yang condong ke depan membuat Arif kembali teringat pada kejadian di kamar tadi malam.
"Enak, Ma. Banget," jawab Arif singkat, berusaha memfokuskan matanya hanya pada piring.
"Baguslah. Karena Mama ingin kamu selalu rindu untuk pulang ke rumah ini ... bukan karena ada istrimu, tapi karena ada sesuatu yang selalu menantimu dengan penuh perhatian."
Arif tersedak. Ia menatap Mya yang kini sedang tersenyum penuh kemenangan. "Maksud Mama?"