Bab 3

1258 Words
"Nanti Mas jemput ya, Dek? Kebetulan jam kita pulang bareng hari ini," ujar Arif sambil mengulas senyum lebar. Ia baru saja menyesap kopi hitamnya yang masih mengepul, menatap sang istri yang tampak sibuk merapikan jas putih kebanggaannya. Naira yang sedang mengancingkan manset kemeja langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mas nggak usah masuk ke dalam ya. Tunggu aku di parkiran saja. Titik." Arif mengernyitkan dahinya, merasa ada yang aneh dengan nada bicara istrinya yang mendadak ketus. "Memangnya kenapa, Dek? Kok Mas nggak boleh masuk? Mas kan cuma mau jemput istri Mas sendiri, bukan mau demo." Naira memutar bola matanya malas. Di dalam benaknya, ia sudah mencaci maki betapa tidak pekanya lelaki di depannya ini. Tidak mungkin ia jujur kalau ia merasa harga dirinya jatuh jika teman-teman dokter spesialisnya melihat ia dijemput oleh seorang pria yang 'hanya' manajer kantor biasa. Ia bisa membayangkan bisik-bisik di kantin rumah sakit nanti. "Bukannya begitu, Mas," sahut Naira cepat sambil menampilkan senyum yang dipaksakan. "Teman-teman aku di bagian bedah itu kan masih jomblo semua. Mas tahu sendiri mereka itu centil-centil. Aku nggak mau mereka ngelihat Mas. Nanti banyak yang naksir lagi sama suamiku yang cakep ini. Aku kan cemburu." Mendengar pujian langka dari istrinya, wajah Arif seketika memerah. Ia tersipu, merasa sangat dihargai sebagai seorang suami. Perasaan hangat menjalar di dadanya, menghapus rasa curiga yang sempat muncul tadi. "Kamu ada-ada saja, Dek. Masa teman kamu naksir Mas? Mereka kan dokter semua, seleranya pasti tinggi," Arif tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lagipula, kamu nggak perlu cemburu. Kan cinta Mas cuma untuk kamu. Selamanya." Naira merasa mual mendengar gombalan murahan itu. Baginya, kata-kata Arif terdengar seperti kaset rusak yang membosankan. Namun, demi kelancaran rencananya hari ini, ia tetap mempertahankan senyum termanisnya. "Ya sudah, pokoknya tunggu di mobil ya. Jangan keluyuran ke kantin atau lobi. Oke?" "Siap, Bos," jawab Arif dengan tangannya seperti sedang pada bendera. Mya berdiri di balik pilar ruang makan, memperhatikan interaksi pasangan suami istri itu dengan tangan yang mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Sebagai ibu tiri, ia sudah hafal betul bagaimana watak asli Naira. Ia tahu bahwa setiap senyum yang diberikan Naira kepada Arif adalah sebuah kepalsuan. "Dasar istri tidak tahu diri," bisik Mya pelan setelah Naira dan Arif berpamitan untuk pergi. Mya menarik napas panjang, mengingat kembali masa-masa sulit saat ayah Naira bangkrut. Jika bukan karena Arif yang merelakan tabungannya, bahkan meminjam uang ke sana kemari demi membiayai kuliah kedokteran Naira yang selangit itu, Naira tidak akan pernah mencicipi dinginnya ruang operasi. Dan sekarang, setelah semua gelar itu diraih, setelah Naira berada di puncak kariernya, ia justru memperlakukan Arif seperti sampah yang memalukan untuk dipamerkan. "Kasihan kamu, Arif. Kamu memberikan seluruh duniamu untuk wanita yang bahkan tidak sudi menyebut namamu di depan teman-temannya," gumam Mya lagi. Matanya menatap pintu depan yang sudah tertutup. "Dia cuma memanfaatkanmu untuk sampai ke puncak, dan sebentar lagi, saat dia merasa kamu sudah tidak berguna, dia pasti akan mendepakmu begitu saja." Senyum sinis muncul di wajah Mya. Jika Naira memang sebodoh itu menyia-nyiakan permata seperti Arif, maka Mya tidak akan merasa bersalah sedikit pun untuk mengambilnya. Baginya, Arif pantas mendapatkan wanita yang tahu cara melayaninya, bukan wanita yang menjadikannya sebagai alat pelunas hutang budi. Pukul lima sore tepat, Arif sudah memarkirkan mobilnya di sudut parkiran rumah sakit. Ia tidak ingin terlambat satu menit pun. Dengan semangat, ia segera mengambil ponsel dan mengetikkan pesan untuk sang istri. "Mas sudah di parkiran ya, Dek. Mas tunggu di mobil seperti permintaanmu tadi." Arif menunggu dengan sabar. Lima menit kemudian, sebuah balasan masuk. Sangat singkat. "Ya." Hanya dua huruf, tapi sudah cukup membuat Arif tersenyum. Ia pun menyalakan radio, mendengarkan lagu-lagu santai sambil sesekali melirik ke arah pintu keluar rumah sakit. Ia membayangkan malam ini mereka bisa makan malam romantis berdua, merayakan anniversary pernikahan mereka. Akan tetapi, satu jam berlalu, Naira tak kunjung muncul. Arif melirik jam di dasbor mobil. Sudah pukul enam lewat sepuluh menit. Perasaan gelisah mulai merayapi hatinya. Ia kembali mengambil ponsel dan mencoba menghubungi nomor Naira. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan ..." Arif menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai liar. "Apa dia ada operasi mendadak ya?" gumamnya pelan. Kejadian seperti ini memang bukan yang pertama kali. Sebagai suami seorang dokter bedah, Arif sudah sangat hafal dengan risiko profesi istrinya. Seringkali janji makan malam atau sekadar pulang bersama batal karena ada pasien darurat atau kecelakaan beruntun yang menuntut kehadiran Naira di ruang operasi. Biasanya, ponsel Naira memang akan dimatikan jika ia sudah masuk ke zona steril. "Sabar, Rif. Namanya juga tugas mulia," hibur Arif pada dirinya sendiri. Pukul tujuh malam, kegelisahan Arif sudah mencapai puncaknya. Jika memang ada operasi, setidaknya perawat di bagian depan pasti tahu. Arif akhirnya memutuskan untuk melanggar larangan Naira. Ia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit yang megah itu. Lobi rumah sakit masih cukup ramai dengan pengunjung. Arif langsung menuju ke meja resepsionis di mana dua orang perawat sedang bertugas. "Permisi, Sus," sapa Arif dengan sopan. Kedua perawat itu mendongak secara bersamaan. "Iya, Pak? Ada yang bisa kami bantu?" "Saya suaminya Dokter Naira. Saya mau tanya, apa Dokter Naira masih ada jadwal operasi mendadak di dalam? Dari tadi teleponnya tidak bisa dihubungi," tanya Arif dengan raut wajah khawatir yang sangat jelas. Kedua perawat itu saling pandang sejenak. Ada keraguan yang melintas di mata mereka. Perawat yang lebih senior tampak menggigit bibir bawahnya, seolah sedang menimbang-nimbang jawaban apa yang paling tepat untuk diberikan kepada pria yang tampak sangat tulus ini. "Eh, sebentar ya, Mas," jawab salah satu perawat dengan nada agak canggung. "Saya teleponkan dulu perawat yang bertugas di ruangan Dokter Naira untuk memastikan." Arif menunggu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja marmer. Jantungnya berdegup tidak keruan. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua perawat ini melalui tatapan mata mereka yang tampak penuh rasa iba. Setelah berbicara sebentar lewat telepon internal dengan suara yang sangat pelan, perawat itu menutup gagang telepon dan menatap Arif kembali. "Bagaimana, Sus? Naira masih di ruang operasi?" tagih Arif tidak sabar. "Mohon maaf sebelumnya, Mas. Kami sudah cek, tapi pihak perawat di bagian bedah mengatakan kalau mereka tidak tahu di mana Dokter Naira sekarang. Jadwal operasinya hari ini sudah selesai sejak pukul tiga sore tadi," jawab perawat itu dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti berbisik. Wajah Arif seketika pucat pasi. "Pukul tiga sore? Tapi dia bilang ada jadwal pulang bareng saya jam lima. Mungkin dia lagi di ruangannya, Sus? Bisa saya cek ke sana?" "Silakan, Mas. Tapi seingat saya tadi ruangannya sudah kosong," sahut perawat satunya lagi dengan nada yang seolah ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan ini. Arif tidak menunggu lagi. Ia segera berlari menuju lift, menekan tombol lantai tempat ruangan Naira berada. Pikirannya kacau. Jika operasi selesai pukul tiga, ke mana istrinya pergi selama empat jam terakhir? Kenapa ponselnya dimatikan? Langkah kaki Arif bergema di koridor rumah sakit yang mulai sepi. Ia sampai di depan pintu kayu yang bertuliskan 'dr. Naira, Sp.B'. Dengan tangan gemetar, ia mencoba memutar kenop pintu. Pintu itu tidak terkunci. Arif membukanya perlahan, berharap akan menemukan Naira yang sedang tertidur di sofa karena kelelahan atau sedang sibuk membaca berkas pasien. Namun, harapan itu hancur seketika. Ruangan itu gelap. Naira tak ada disana. Hanya aroma parfum cendana dan musk menguar di hidungnya. Matanya kemudian tertuju pada kalender meja milik Naira. Di sana, di tanggal hari ini, Arif sendiri yang menuliskan dengan spidol merah: "Happy 2nd Anniversary, Makan Malam Romantis." ​Naira tidak lupa. Dia tahu hari ini hari apa. Dan dia sengaja mematikan ponselnya. ​"Kemana kamu, Nai?" bisik Arif parau. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD