Bab 4

1111 Words
​"Kemana kamu, Nai?" bisik Arif parau. Arif baru saja hendak keluar dari ruangan Naira dengan hati hancur, ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Mya. ​"Arif, Mama tiba-tiba pusing sekali. Bisa tolong mampir ke Apotek di seberang Restoran Sky Lounge sebentar? Beli obat darah tinggi Mama ya, Nak." ​Arif, yang selalu merasa berutang budi pada kebaikan Mya, langsung menuju apotek tempat biasa dia menebus obat Mya. ​Saat Arif baru saja memarkirkan mobilnya di depan apotek. Di restoran mewah yang berseberangan dengan apotek tersebut, Arif melihat sosok yang dia tunggu sejak tadi. ​Di balik kaca transparan itu, di meja paling pojok, ia melihat Naira. Istrinya itu sedang tertawa lepas bersama seorang pria sambil menyesap wine mahal. Tangannya menggenggam tangan pria tampan Itu yang Arif kenali sebagai dokter senior di rumah sakit tempat sang istri bekerja. ​Tepat saat itu, ponsel Arif kembali berdenting. Pesan dari nomor tidak dikenal masuk, berisi foto-foto close-up kemesraan mereka dari sudut pandang yang sangat dekat. ​Arif terpaku di balik kemudi. Di tangan kirinya ada dompet lusuh yang sudah hampir robek. Bukan karena tak sanggup membeli, ia hanya ingin berhemat agar bisa segera membelikan mobil untuk Naira yang setiap kali mengeluh jika naik mobil bututnya. Arif berdiri mematung di balik kemudi. Dunianya seolah runtuh melihat pemandangan di balik kaca Restoran Sky Lounge yang megah itu. Di sana, Naira, istri yang ia puja, istri yang ia biayai hingga bisa menjadi dokter spesialis seperti saat ini —sedang tertawa lepas dalam dekapan pria lain. Sebotol wine mahal di meja itu seolah menjadi ejekan bagi Arif yang rela makan nasi bungkus di kantor demi menghemat uang belanja bulanan mereka. ​Namun, Arif tidak memutar balik mobilnya. Sesuatu di dalam dirinya terbakar. Ia keluar dari mobil, membanting pintu dengan keras, dan melangkah masuk ke restoran tersebut. ​Kehadiran Arif dengan kemeja kantor yang sedikit kusut dan wajah kaku tampak sangat kontras dengan pengunjung restoran yang berpakaian tuksedo dan gaun malam. Ia tidak peduli. Langkahnya mantap menuju meja pojok itu. ​BRAK! ​Arif menggebrak meja hingga gelas wine di depan Naira berguncang. Tawa Naira terhenti seketika. Wajahnya yang tadinya cerah berubah menjadi pucat pasi saat matanya bertemu dengan tatapan gelap Arif. ​"M-mas Arif?" suara Naira bergetar. ​Lelaki di sebelah Naira—seorang dokter senior bernama dr. Adrian—mengerutkan kening. "Siapa ini, Nai? Pasien kamu?" ​Naira tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. ​"Naira! Pulang sekarang, atau kamu ingin aku membuat keributan yang lebih memalukan di restoran mewah ini!" gertak Arif dengan suara rendah namun penuh penekanan yang mengerikan. ​"Mas, tolong ... jangan di sini," bisik Naira ketakutan melihat urat leher Arif yang menonjol. Ia tahu betul, jika Arif sudah seperti ini, pria sabar ini bisa menjadi sangat berbahaya. ​Tanpa sepatah kata pun, Naira meraih tasnya dan mengikuti langkah lebar Arif keluar dari restoran. Adrian mencoba memanggil, namun Naira memberikan isyarat tangan agar pria itu diam. Di parkiran, Arif membukakan pintu mobil dengan kasar. Naira masuk dengan tubuh gemetar. ​Sepanjang perjalanan menuju rumah, keheningan di dalam mobil terasa lebih menyesakkan daripada badai di luar. Naira menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap lampu-lampu jalan yang membias karena air mata yang mulai menggenang. ​Ia tidak menangis karena menyesal. Ia menangis karena rencananya gagal. Baginya, Arif adalah rantai yang membelenggu sayapnya untuk terbang lebih tinggi. Ia ingin Arif marah, ia ingin Arif memukulnya agar ia punya alasan kuat untuk menggugat cerai. Namun, kebisuan Arif justru membuatnya lebih terintimidasi. ​"Mas nggak mau dengar penjelasan aku?" tanya Naira memecah kesunyian dengan nada yang sengaja dibuat menantang. ​"Diam, Naira. Aku tidak butuh penjelasan apapun dari mulut manismu," sahut Arif dingin tanpa menoleh sedikit pun. ​Begitu mobil memasuki halaman rumah, Arif langsung turun. Ia tidak menunggu Naira. Saat Naira baru saja melangkah masuk ke ruang tamu, Arif langsung menarik pergelangan tangan istrinya dengan kuat. ​"Mas, sakit! Lepasin!" ​Arif tidak peduli. Ia menyeret Naira naik ke lantai dua, menuju kamar utama mereka, dan membanting pintu hingga suaranya bergema ke seluruh penjuru rumah. Di balik pilar lantai bawah, Mya berdiri sambil tersenyum kecil melihat kehancuran yang mulai terbentuk. ​Sementara di dalam kamar, Arif mendorong Naira hingga wanita itu terjungkal ke ranjang. ​"Mulai besok, kamu tidak usah bekerja jika kamu masih saja tidak tahu batasan antara lelaki dan perempuan!" teriak Arif. Napasnya memburu. "Kamu pikir aku buta? Kamu pikir aku tidak tahu alasanmu melarangku ke rumah sakit adalah karena kamu ingin bersenang-senang dengan para dokter senior itu?" ​Naira mendongak, matanya berkilat penuh kebencian. "Ya! Aku melakukannya karena aku muak menjadi istrimu, Arif! Lihat dirimu! Kamu itu cuma manajer di perusahaan kecil yang bahkan tidak pernah didengar orang. Teman-temanku semua suaminya direktur, dokter spesialis, atau pengusaha. Sedangkan kamu? Kamu itu cuma lelaki payah yang seharusnya sudah aku tinggalkan sejak aku dilantik menjadi dokter spesialis!" ​"Kamu lupa, lelaki payah inilah yang membiayai hidupmu, Naira!" ​"Aku nggak pernah minta dibiayai! Itu pilihanmu sendiri!" balas Naira berteriak. "Ceraikan aku, Arif. Kita sudah tidak selevel. Lepaskan aku, agar aku bisa hidup dengan orang yang setara!" ​Arif tertawa. Tawa yang terdengar sangat hambar dan menyakitkan. Ia melangkah mendekat, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Naira. ​"Cerai? Itu yang kamu mau? Agar kamu bisa bebas bersama Adrian atau siapapun pria kaya yang kamu incar?" Arif mencengkeram dagu Naira. "Dengar baik-baik, dr. Naira yang terhormat. Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku. Besok, kamunharus sudah mengajukan resign. Tapi jika kamu tetap tidak mau berhenti dan tetap bersikap seperti jalang di rumah sakit itu, aku yang akan membuatmu berhenti." ​Naira mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" ​"Aku akan melaporkan perbuatanmu dua tahun lalu saat kamu masih menjalani residensi di rumah sakit cabang. Perbuatan yang kamu pikir sudah terkubur bersama uang tutup mulut yang kamu berikan. Aku akan membongkarnya, Naira. Dan aku akan pastikan, izin praktikmu dicabut dan kamu dipecat secara tidak hormat!" ​Bagai disambar petir di siang bolong, seluruh tubuh Naira mendadak kaku. Matanya membelalak lebar, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya. Rahasia itu. Satu-satunya noda hitam yang ia pikir sudah hilang selamanya. ​"Mas ... kamu nggak akan berani," bisik Naira dengan bibir bergetar. ​"Coba saja aku," tantang Arif dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan. "Aku memegang salinan berkas aslinya. Berkas yang seharusnya sudah dimusnahkan itu, masih ada di tanganku." ​Naira menutup mulutnya dengan tangan. Ia merasa mual. Pria yang ia anggap remeh, pria yang ia anggap "hanya manajer biasa", ternyata memegang kendali penuh atas hidup dan kariernya. ​"Tidur, Naira. Dan jangan pernah berpikir untuk keluar dari rumah ini besok tanpa izin dariku," ucap Arif sebelum ia berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Naira yang hancur dalam ketakutan. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD