Enam bulan kemudian. “Ning! Muning!” teriak Rindang sembari menaruh bungkusan di tangannya ke atas meja makan. Dia baru saja pulang dari membeli sarapan. Dan di dalam bungkusan itu ada dua bungkus bubur ayam. “Ya, bang! Ada apa?” tanya Kemuning dari dalam kamar. Karena perempuan, Kemuning agak lama dalam berdandan. Apalagi dia memakai hijab. Kadang-kadang akan menjadi lebih lama hanya karena perkara bros. Meskipun tidak ada yang sudi memakan bros, sebanyak apa pun Kemuning membeli aksesoris itu, pasti akan habis juga. Hebatnya dalam waktu yang tidak lama. “Ayo, sini ke meja makan! Abang sudah membeli sarapan.” “Iya, bang. Sebentar lagi aku selesai berdandan kok,” jawab Kemuning masih dari dalam kamar. “Abang tidak lupa pesananku bukan?” “Tentu saja tidak. Abang membeli apa yang kamu i

