Masih Tidak Percaya

1157 Words
Semuanya pemandangan di atas sana masih tampak biasa dengan berpegangan tangan dan bersandar tapi hal itu sudah berhasil membuat hati Natalie semakin perih. Namun di pertengahan film yang sedang diputar tanpa rasa malu Rehan mulai mencium bibir milik Ratu. Memang saat itu keadaan bioskop sedang tidak ramai. Entah karena film yang diputar tidak terlalu bagus atau hal lainnya. Ayu sendiri terlihat tampak gregetan karena wanita itu ikut melihatnya sambil merekam kemesraan keduanya. “Kita pergi sekarang karena bukti yang kita sudah lebih dari cukup, Nat.” Ayu menarik tangan sahabatnya agar segera keluar dari area bioskop dengan topi agar tidak ketahuan. Walau saat itu sempat gaduh karena beberapa penonton complaint ketika mereka menghalangi layar. Sesampainya di luar gedung bioskop, Ayu melihat wajah sahabatnya yang sudah basah karena air mata yang masih mengalir deras. “Nat.” “Gue sayang sama Rehan tapi kenapa dia tega selingkuh sama sahabat gue sendiri?” Tanpa mengatakan hal apa pun Ayu langsung memeluk tubuh sahabatnya. Wanita itu seakan membiarkan Natalie menumpahkan rasa sedihnya. “Apa yang salah dari gue? Apa yang kurang dari gue?” lirih Natalie yang masih tidak percaya jika apa yang selama ini diabaikannya ternyata benar. Dua bulan sudah wanita itu menutup telinga serta berusaha percaya dengan kekasihnya. Bahkan, bodohnya Natalie sempat bertanya tentang sosok wanita yang sedang dekat dengan Rehan kepada Ratu. Dua minggu sebelumnya. “Nat, sorry kalau gue harus tanya hal ini tapi beneran deh lo pernah enggak sih ketauan liat calon suami lo itu jalan sama cewek lain dan bersikap lebih dari sekedar teman?” tanya Rini, teman sekantor Natalie tapi di divisi yang berbeda. “Maksud lo, Rin?” Natalie terlihat emosi karena ini sudah kesekian kalinya dalam satu bulan terakhir wanita itu mendengar kabar kurang mengenakkan tentang kekasihnya. Entah itu dari teman kantor atau orang lain yang tahu tentang hubungannya dengan Rehan. “Please, lo jangan marah dulu karena kali ini gue punya buktinya tapi muka sih cewek memang enggak kelihatan.” Rini sebenarnya tidak ingin ikut campur tentang hubungan Natalie atau mungkin membuat wanita itu ragu tapi setelah berkonsultasi dengan Ayu yang notabene-nya adalah sahabat Natalie akhirnya wanita itu memberanikan diri. Natalie meraih ponsel milik Rini dan melihat sebuah rekaman video yang dengan jelas memang merekam sosok Rehan walau wanita itu tidak bisa melihat dengan jelas sosok wanita yang tengah bersama kekasihnya. Kedua bola mata wanita itu membulat dengan sempurna dan tubuhnya hampir saja jatuh jika saja tidak ada kursi di sana. “Rin, tolong kirim video itu ke gue ya,” mohon Natalie sambil mengembalikan ponsel milik Rini. “Iya Nat, sebentar ya.” Rini dan juga Ayu yang ada di dekat Natalie terlihat khawatir setelah melihat respons wanita itu yang tampak syok. Bahkan, kini Natalie menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya sebagai tumpuan. Terdengar suara isak tangis yang membuat keduanya semakin panik. “Udah gue kirimin ya Nat, tapi gue mohon lo jangan marah sama gue soal ini dan gue janji enggak akan cerita hal ini sama yang lain kok.” Kali ini Natalie tidak memberikan respons apapun karena hatinya terasa sangat sakit. Dan yang hanya wanita itu inginkan adalah menumpahkan rasa sakitnya dengan menangis. “Rin, mending sekarang lo break dulu deh soal Natalie biar gue yang nenangin, mungkin dia masih syok,” ucap Ayu yang tidak tega melihat Rini yang sedang menunggu balasan dari sahabatnya. “Oke tapi kalau ada apa-apa kabarin gue ya,” balas Rini yang kini merasa bersalah. Wanita itu pergi setelah Ayu menganggukkan kepalanya. “Nat, gue tahu lo sedih dengan apa yang baru aja lo lihat tapi sebaiknya kita break dulu ya sebelum jam istirahat kantor habis,” ajak Ayu sambil mengusap punggung sahabat sekaligus rekan kerjanya tersebut. Natalie mengangkat kepalanya lalu menatap Ayu dengan rambutnya yang berantakan serta kedua matanya yang terlihat sembab. “Bilang sama gue kalau di video itu bukan Rehan ‘kan, Yu?” Ayu mengedikkan bahunya karena wanita itu tidak bisa memastikan kebenaran tentang video tersebut apalagi jika tidak melihatnya sendiri dengan mata kepalanya. *** Sore harinya Natalie memutuskan untuk datang dan menanyakan kebenaran video itu kepada kekasihnya. “Natalie.” Wanita yang baru saja masuk ke dalam cafe langsung menoleh ke sumber suara yang terdengar familiar baginya. “Ratu, di mana Rehan?” “Re–Rehan? Ada kok di gudang tapi tumben kamu enggak minta jemput dia dan juga wajah kamu– tunggu ada apa, Nat?” “Kalau gitu gue ke gudang sebentar,” pamit Natalie yang segera menemui kekasihnya. Rehan langsung menoleh ketika pintu gudang terbuka, wajahnya yang awalnya tersenyum langsung berubah bingung dengan sosok Natalie. “Sayang, kapan kamu sampai?” Wanita itu tidak merespons pertanyaan kekasihnya dan hanya melangkahkan kakinya untuk mengikis jarak. “Kamu lihat ini….” Rehan meraih ponsel yang diberikan kekasihnya dengan dahinya yang berkerut. “Apa cowok di dalam video itu benar kamu? Kalau iya terus siapa cewek di dalam video itu?” “Ini bukan aku, Sayang. Selama ini kamu ‘kan tahu kalau aku selalu sibuk di cafe, kalau kamu enggak percaya kamu bisa kok tanya Ratu atau karyawan yang lain.” Natalie bergeming sambil mengingat kembali kebersamaannya dengan Rehan bahkan ketika mereka terpisah jarak. Memang selama ini tidak ada yang janggal sama sekali. Pria itu melangkahkan kakinya keluar dari gudang serta mendapati Ratu yang ternyata sejak tadi sengaja menguping. “Kebetulan kamu ada di sini Ratu, tolong bantu aku jelaskan sama Natalie kalau selama ini aku sibuk ngurus cafe dan kamu coba lihat baik-baik cowok di video ini.” Rehan memberikan ponsel milik Natalie lalu pria itu pergi untuk menenangkan diri. “Apa pendapat lo tentang cowok di video itu, Tu?” tanya Natalie yang sudah berada di hadapan wanita itu. Ratu meraih tangan sahabatnya lalu meletakkan ponsel itu di tangan Natalie sambil tersenyum tipis. “Menurut gue, cowok yang ada di video itu cuma mirip deh, emang lo enggak curiga ya?” Dahi Natalie berkerut. “Curiga?” “Iya curiga.” Ratu menganggukkan kepalanya. “Maksud gue, lo denger kabar soal Rehan yang jalan sama cewek bukan sekali dua kali dan juga hal ini terjadi setelah lo dilamar Rehan, ‘kan?” Jelas Ratu tahu hal itu karena Natalie yang selalu mengeluh seperti itu kepadanya. “Gue rasa lo lagi dihasut deh sama entah siapa yang seolah mau hancurin hubungan kalian dengan kabar hoax begini, apalagi tahun depan kalian mau married, ‘kan?” Natalie berusaha mencerna semua ucapan sahabatnya dan pikirannya seakan menemukan fakta lain kalau mungkin saja memang benar ada oknum yang tidak senang jika dirinya dan Rehan melanjutkan hubungan mereka sampai ke jenjang yang lebih serius. “Iya lo bener, Tu.” Natalie tersenyum setelah emosinya mereda. “Astaga, kenapa gue enggak berpikir sampai jauh ke situ, sekarang pasti Rehan bakalan marah banget sama gue.” Ratu menepuk bahu sahabatnya. “Saran gue lain kali jangan lagi telan bulat-bulat informasi dari orang lain, kasihan loh Rehan selama ini berjuang buat lo dari pagi sampe malem buat masa depan kalian.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD