Kelopak mata Sascha masih rapat dan terasa berat. Dia sempat melirik ke arah jendela yang sudah membiasakan cahaya matahari. Setelahnya, Sascha kembali memejam. Walau sudah tidur hingga cukup siang, tapi kantuknya belum juga hilang.
Sambil berusaha mengumpulkan kesadaran, Sascha mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke kiri dan ke kanan. Awalnya, dia masih merasa tak ada yang salah. Namun, begitu tangannya bertubrukan dengan benda asing, Sascha seketika membelalakkan mata. Dia sadar bahwa dia baru saja menyentuh seonggok manusia.
"El!" Sascha berteriak kencang seraya mendorong Elio. Sialnya, tubuh raksasa di hadapannya tidak bergeser sedikit pun.
Sascha langsung panik ketika melihat lelaki itu tidur di sampingnya. Sambil membelalakkan mata, Sascha melancarkan teriakan yang kedua. Sayangnya, Elio tampak santai. Elio hanya mengangkat tangan guna menutup telinga, tanpa mau repot-repot membuka mata.
"Elio!" pekik Sascha sekali lagi.
"Apa sih, Sha?"
"Kamu ngapain disini?"
Elio perlahan membuka mata. "Tidur."
"Iya, ngapain tidur disini?" tanya Sascha lagi.
"Kan kamu udah bolehin. Lupa?"
Otak Sascha yang belum bisa diajak beroperasi, kini terpaksa harus diforsir untuk mengingat kejadian semalam. Jujur saja, Sascha memang lupa. Namun, sedikit demi sedikit kepingan yang terjadi sebelum dia tidur, perlahan mulai muncul.
Waktu itu, Elio sempat hampir menata selimut untuk berbaring di lantai. Namun, tentu saja Sascha tidak tega. Alhasil, Sascha menyuruh Elio untuk tidur di sebelahnya. Bukan cuma-cuma. Syaratnya, Elio tidak boleh mengatakan hal ini kepada Allan.
Elio tentu saja setuju. Dia mengiyakan sambil tertawa tanpa jeda. Bicara pada Allan saja sudah malas, apalagi kalau membahas sesuatu yang bagi Elio tidak penting?
"Terus kamu ngapain deket-deket aku tidurnya?" tanya Sascha sambil masih mendorong lengan telanjang milik Elio.
"Aku udah mepet. Kamu yang deket-deket aku, Sha."
Sascha seketika bangkit, lalu terduduk. Dia menoleh ke sisi ranjang miliknya yang memang masih cukup lengang. Berbeda dengan bagian yang Elio tiduri. Damn! Lelaki itu benar-benar sudah berada di ujung tempat tidur.
"See?" tanya Elio sambil meringis geli.
Sascha sontak menggerutu. Dia tetap menyangkal walau harus sambil sedikit menahan malu. "Ya namanya lagi tidur, kan nggak sadar."
"Kamu juga sempet peluk aku, Sha," ucap Elio seraya tertawa tanpa suara.
"Nggak mungkin."
"Beneran."
"Enggak, El," bantah Sascha.
"Iya, Sha."
"Kamu mimpi. Saking pengennya dipeluk, sampe kebawa mimpi." Sascha masih berkilah seraya kembali berbaring dan merapatkan selimut.
"Bukan mimpi," balas Elio.
"Mimpi, El."
"Bukan, Sha."
Wajah Sascha lantas berubah kesal. Bagaimana bisa Elio menjadi seperti ini? Biasanya lelaki itu cenderung datar dan menghindari percakapan tidak penting. Sungguh, Elio yang sekarang seperti bukan Elio yang selama ini Sascha kenal. Entah berapa banyak jumlah kepribadian yang lelaki itu miliki.
"Aku mau tidur lagi boleh?" tanya Elio dengan suara yang masih sedikit serak.
"Tidur tinggal tidur," jawab Sascha yang juga sedang merapatkan selimutnya. Jujur, dia juga ingin kembali tidur.
"Kan kamu dari semalem ganggu tidur aku terus, Sha."
Sebenarnya Sascha masih ingin mendebat ucapan Elio. Namun, niatnya harus segera diurungkan karena ponselnya berdering dengan cukup kencang. Ketika Sascha meraihnya dari atas nakas, dia langsung bisa melihat nama Allan.
"El, Allan video call," ucap Sascha seraya menunjukkan layar ponselnya.
"Ya tinggal diangkat."
Sascha lantas sedikit merapikan rambut. Sementara di sebelahnya, Elio memilih untuk kembali memejam dan merapatkan selimut.
"Halo, sayang. Guten Morgen," ucap Allan dari seberang.
"Hai."
"Kamu baru bangun? Pasti kamu capek banget."
Sascha mengangguk, lalu berbaring pada bantal dengan kedua tangan terangkat memegangi ponsel.
"Aku kangen, Sha," ucap Allan.
"Aku juga."
"Pengen peluk."
Sascha tertegun dengan canggung. Sudut matanya bisa menangkap bentuk mulut Elio yang sedang menahan tawa. Raut wajahnya menyebalkan, dengan ekspresi yang seolah sedang mengejek.
Melakukan panggilan video dengan Allan di hadapan Elio memang bukan ide yang bagus. Jika tidak sedang berada di mansion ini, Elio pasti sudah enyah dan memilih pergi. Elio akan dengan senang hati memberikan ruang pada Sascha dan Allan. Namun, hari ini berbeda. Elio bahkan tetap tidak beranjak dari tempat tidurnya.
"Elio disitu?" tanya Allan yang sepertinya bisa membaca keadaan. Sascha tampak canggung dan dia bisa menerka suasana.
"Iya."
"Dimana dia?"
"Masih tidur kok." Sascha harus berbohong kali ini.
"Aku tanya dimana?"
"Di sofa. Kayak biasanya," jawab Sascha.
"Ok," balas Allan seraya mengembuskan napas lega.
Allan sama sekali tidak curiga. Sialnya, Elio justru berulah. Entah iblis apa yang hari ini merasuki tubuh Elio. Lelaki itu dengan sengaja mendekatkan diri ke tubuh Sascha. Tidak sampai tertangkap kamera, tapi cukup bisa memberikan sport jantung.
Sekuat tenaga, kaki Sascha lantas menendang Elio agar lelaki itu menjauh. Sambil masih mengobrol dan sesekali bercanda dengan Allan, Sascha sebenarnya sedang menahan rasa kesal pada Elio. Sascha tahu, Elio sengaja melakukannya.
"Sha, aku liat sekelebat ada tangan. Tangan siapa?" tanya Allan
"Tangan? Tangan aku lah."
Sascha mulai sedikit panik. Dia lantas menendang kaki Elio dengan lebih kencang. Untungnya, kali ini Elio mau diajak kompromi. Lelaki itu dengan sadar diri berpindah ke sofa sambil membawa selimut dan bantalnya.
"Bukan, Sha. Tadi ada tangan di pundak kamu. Kamu beneran tidur sendiri kan, Sha?" Allan mulai meninggikan suara.
"Beneran," balas Sascha yang lantas mengarahkan kamera ke seluruh bagian ranjang.
"Ok."
"Tu, Elio masih tidur di sofa," lanjut Sascha. Elio tampak sedang meringkuk seperti seonggok kepompong.
"Ok, sorry. Aku berarti cuma salah liat."
Baru saja Sascha bernapas lega, dia harus diganjar dengan kepanikan selanjutnya. Pagi ini, Sascha harus berkali-kali mendapatkan sport jantung.
Bagaimana tidak? Ketukan pintu kamarnya terdengar ketika dia masih melakukan panggilan dengan Allan. Ini berbahaya. Wajah Sascha langsung panik seketika. Apalagi saat sadar kalau semalam dia lupa mengunci pintu.
"Lan, aku tutup dulu. Ada yang dateng," ucap Sascha yang lantas menekan tombol merah.
Ketukan kedua terdengar lagi. Kali ini diiringi dengan sebuah panggilan dari seseorang. Jika tidak salah menduga, itu adalah suara Feyra.
"El, pindah sini! Buruan! Pintunya lupa nggak aku kunci," ucap Sascha.
Mendengar hal itu, Elio buru-buru naik ke atas ranjang. Setelahnya, mereka pura-pura saling berdekatan.
"Sascha, aku buka ya," pekik Feyra dari luar.
"Iya, Kak."
Kepala Feyra lantas muncul dari celah pintu yang setengah terbuka. Dia meringis melihat sepasang pengantin baru yang masih bergelung di dalam selimut.
"Sorry, ganggu ya? Maxwell mau pulang ke Indonesia. Dia udah di bawah. Agak buru-buru, soalnya katanya ada hal penting di perkebunan," terang Feyra.
"Ok, Kak. Abis ini aku turun."
Setelahnya, suara Rich lantas ikut menimbrung. Walau Rich tidak menampakkan wajahnya, tapi ucapannya tetap terdengar dengan jelas.
"El, lanjut ntar lagi, El. Morning s*x bisa diganti afternoon s*x," pekik Rich dari luar kamar.
Feyra hanya bisa tertawa, kemudian kembali menutup pintu. Sedangkan di sebelahnya, Sascha juga mendapati Elio ikut tertawa mendengar celetukan kakaknya. Ah sial! Apakah hanya Sascha seorang yang berdebar ketika membahas tentang hal yang berkaitan dengan hubungan badan?
Setelah pintu sudah benar-benar rapat, barulah bibir Elio ikut merapat. Ekspresinya tidak terbaca, tapi lelaki itu lantas menoleh ke arah Sascha.
Tak ada pembicaraan apapun. Namun, Sascha tidak berniat mengalihkan pandangan dari tatapan Elio. Walau tajam dan dalam, tapi manik hijaunya kali ini tampak tenang. Detik selanjutnya, baru Sascha sadari kalau kedua mata Elio ternyata sedikit menyesatkan. Melalui jeratan kedua matanya, Elio seolah sedang membawa Sascha berkelana.
Entah sadar atau tidak, sengaja atau tidak, Elio mulai mendekatkan wajahnya ke arah Sascha. Tanpa sekali pun berkedip, kedua tangan Elio lantas terulur. Semula, Elio hanya membingkai wajah Sascha dengan kedua telapak tangannya. Namun, tak pernah Sascha duga kalau tangan itu menuntun kepala Sascha agar bibir mereka beradu.
Tubuh Sascha membeku. Matanya nanar menatap Elio yang mulai memejam. Kiranya, lelaki itu seperti sedang menikmati bibir hangat yang sedang sibuk dia lumat.
Ini tidak boleh terjadi. Ini salah. Ini terlarang. Sascha sekuat hati meyakinkan diri agar tidak ikut hanyut dalam ciuman panjang yang Elio lakukan tanpa aba-aba, tanpa izin, dan tanpa pemanasan.
Sensasi ini begitu asing sekaligus memabukkan. Apalagi ketika Elio menuntun tubuh Sascha untuk merebah. Bahkan, lelaki itu tak segan merangkak naik ke atas. Tanpa sedikit pun melepaskan tautan bibirnya, Elio mulai melancarkan beberapa sentuhan. Sungguh, Sascha seperti sedang berada dalam kungkungan surga.
Ingin menolak. Namun, mengapa rasanya begitu nikmat?