3. Untuk Selamanya

1556 Words
Sascha menatap selembar kertas kecil bertuliskan nama Elio De Luca lengkap dengan nomor ponsel berawalan +39. Di sana, tertulis juga alamat kantor Elio yang berada di jantung kota Napoli. Sebelum Sascha pergi, Elio sempat memberikan kartu nama. Lelaki Italia itu menawarkan kerjasama untuk bersandiwara lagi dengannya. Sascha bisa menduga kalau wanita yang mendekati Elio cukup banyak, tidak hanya Anna. Bisa dipastikan, Elio membutuhkan Sascha untuk mengenyahkan wanita yang Elio anggap sebagai gangguan. "Kamu setuju soal tawaran dia itu?" tanya Allan. Sascha menggeleng. Dia berucap kepada Elio bahwa dia akan terlebih dahulu mendiskusikan semuanya dengan Allan. Dia tidak mungkin mengiyakan jika Allan berkata tidak. "Agak berat buat aku liat kamu punya hubungan sama cowok lain walaupun cuma pura-pura. Menurut aku, kalo enggak mendesak, mending nggak usah," balas Allan. "Aku mikirnya, kalo aku sama Elio, keluarga aku nggak akan curiga lagi sama kamu. Kita bisa bebas. Selama ini, aku berasa selalu dimata-matai," keluh Sascha. Jujur saja, Sascha sudah cukup lelah menjalin hubungan ini secara diam-diam. Tidak mudah menutupi keberadaan Allan dari keluarganya, pun dengan orang-orang Schneider yang mereka pekerjakan. Setiap pertemuannya dengan Allan, Sacha harus mengatur taktik. Mulai dari mengarang pertemuan bisnis, hingga liburan ke luar negeri. Dan semua itu sudah berlangsung selama hampir tiga tahun. Ini bukan waktu yang singkat. "Aku capek," lanjut Sascha. Allan menahan napas. Dia beringsut mendekat ke arah Sascha, lalu segera memeluknya. Usapan lembut di kepala pun tak lupa Allan berikan. "Maaf, Sayang. Kamu harus ada di situasi yang kayak gini demi bisa bertahan sama aku," lirih Allan. Sascha mendongak menatap wajah kekasihnya. Setelah mata mereka saling beradu, Sascha lantas tersenyum. Ini memang berat. Namun, Sascha sendiri yang memilih jalan ini. Jadi, tidak ada pilihan lain selain berjuang. "I'm ok," ucap Sascha. Tidak. Sebenarnya, Sascha tidak baik-baik saja. Dia hanya sedang mencoba agar selalu baik-baik saja. Sejak bertemu dengan lelaki berdarah Afghanistan ini, Sascha memang sudah bisa meraba bahwa hubungan mereka akan sulit. Ketika kali pertama Allan bertemu dengan keluarga Schneider, mereka masih menyambut Allan dengan baik. Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai pengusaha di bidang Farmasi. Dia mensuplai obat-obatan ke ratusan apotek di Jerman. Walau berasal dari Afghanistan, tapi Allan sudah resmi menjadi warga negara Jerman sejak ayahnya memperistri wanita asal Berlin. Semula, tak ada larangan tentang kedekatan Sascha dan Allan. Namun, pada pertemuan kedua, keluarga Schneider sudah tampak bersikap dingin pada Allan. Dan begitu lelaki itu pulang, Rich dengan lantang memarahi Sascha dan menyuruhnya untuk mengakhiri hubungannya. Saat itu, Rich menyebutkan kalau Allan adalah salah seorang yang terlibat dalam usaha produksi heroin dan opium. Dan sialnya, Nick dan Jenna - kedua orang tua Sascha, sangat percaya dengan ucapan Rich. Berangkat dari sana, seluruh keluarga Schneider akhirnya mulai menentang keberadaan Allan. Sascha sempat marah besar. Baginya, tuduhan Rich sangat tidak berdasar. Sascha tahu betul bagaimana pekerjaan kekasihnya. Bahkan Sascha sering melihat secara langsung skema kerja Allan, mulai dari laporan pabrik hingga pemasaran di apotek. Sascha sudah menjelaskan berkali-kali kalau Allan bersih dari bisnis kotor itu. Namun, keluarganya tetap tidak percaya. Allan memang berdarah Afghanistan, negara penghasil heroin dan opium terbesar di dunia. Bahkan, semua orang tahu kalau 90% suplai heroin dan opium di Eropa memang dari Afghanistan. Namun, Sascha yakin kalau Allan tidak terlibat di dalam sana. "Maaf, sampe sekarang, aku masih nggak bisa yakinin keluarga kamu," ucap Allan. "Mereka emang nggak akan pernah percaya," jawab Sascha. "Percuma." Allan menunduk mengecup puncak kepala Sascha. "Dan maaf karena aku nggak bisa berbuat banyak." Sascha menggeleng tidak setuju atas ucapan Allan. Baginya, Allan pun kini sedang sama-sama berjuang. Dia rela melakukan apapun, demi bisa menemui Sascha. Allan baru saja menempuh perjalanan dari Afghanistan ke Jerman, tapi dia langsung mengiyakan saat Sascha mengajaknya bertemu di Italia. "Sha, kalau menurut kamu ini adalah yang terbaik, ya nggak papa. Hubungi Elio, dan bilang kalo aku udah setuju," ucap Allan pada akhirnya. "Kamu yakin?" Allan tersenyum. "Iya." Sascha kembali memantapkan diri lalu meraih lagi kartu nama yang sebelumnya sudah dia taruh. Sambil bersandar pada bahu Allan, dia lantas mengetikkan sederet tulisan. Intinya, Sascha mengundang Elio untuk bertemu dengannya besok. Balasan dari Elio muncul ketika hari berubah petang. Elio menyetujui ajakan Sascha, tapi sayangnya dia menginginkan pertemuan malam ini juga. Elio bilang, dia akan segera meninggalkan Roma. "How? Dia emang agak sulit orangnya," ucap Sascha. "Nggak papa. Diiyain aja." Sascha mengangguk, lalu bersiap pergi ke kamar milik Elio. Mereka bertiga sepakat untuk tidak keluar dari hotel. Khawatir jika saja Rich masih ada di sekitar sini. "Kita perlu tau nggak tujuan Elio yang sebenarnya itu apa?" tanya Allan seraya berjalan di sebelah Sascha. "I'm not sure. Kayaknya, dia nggak bakalan ngomong sekalipun kita tanya. Aku sendiri nggak tau banyak tentang dia." "Bukannya dia temen kuliah kamu?" tanya Allan. "Iya, tiga tahun di atas aku. Tapi aku nggak lama kenal dia. Satu tahun sejak aku masuk, dia udah lulus." "Kayaknya dia casanova." Sascha tersenyum. "Bisa iya, bisa enggak." Sejak masih kuliah, Elio memang terkenal di kalangan kaum hawa. Dia tidak perlu berburu, tapi para wanita sudah merubung untuk sekedar bisa makan siang atau bahkan menghabiskan malam dengannya. Sayangnya, tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil masuk ke dalam kehidupan Elio. Beberapa temannya berucap kalau mereka sempat beberapa kali mendapati Elio bersama wanita. Namun, wanita itu bukan dari kalangan kampus mereka. Elio cukup sering terlihat bersama wanita yang berbeda, tapi entah yang mana yang benar-benar Elio suka. Yang jelas, bisa dipastikan kalau Elio tidak pernah berpacaran dengan siapa pun. "Dia keliatannya tertutup banget," ucap Allan. "Sangat." Setahu Sascha, Elio tidak memiliki teman dekat. Dia cenderung membatasi pergaulan. Walaupun dia bisa membaur dengan siapa saja dan memiliki banyak kenalan, tapi seluruh temannya itu tidak pernah diizinkan untuk mengenal Elio dengan lebih dalam. Elio seperti sengaja membuat benteng agar lingkaran pertemanannya hanya ala kadarnya. Tidak ada yang pernah benar-benar dekat. Pun tidak ada yang tahu dengan detail seperti apa sosok Elio dan seperti apa kehidupannya. "Keluarganya gimana?" tanya Allan. "Katanya dia punya adik cowok. Tapi denger-denger, dia juga nggak deket sama keluarganya. Keluarga dia ada di Milan. Tapi dia milih tinggal di Napoli. Kayak sengaja hidup sebatang kara aja gitu," terang Sascha. Allan manggut-manggut. Kalau dari cerita Sascha, Elio yang ada di pikirannya masihlah lelaki baik yang ramah. Buktinya, dia digandrungi banyak wanita dan sering tampil di acara kampus. Namun, saat berhadapan langsung, segala ekspektasi Allan seketika sirna. Elio sangat berbeda dari dugaannya. Oh my God! batin Allan. Elio membuka pintu kamar seraya menatap Sascha dan Allan secara bergantian. Hanya dengan sedikit gerakan kepala, dia segera masuk tanpa mau mengatakan sebuah ajakan untuk mepersilakan tamunya masuk juga. Elio benar-benar hanya diam. Sofa sudut dengan meja di tengah menjadi pembatas atara Elio dan sepasang kekasih di hadapannya. Tidak ada sapaan, tidak pula perkenalan, Elio langsung menembak pada inti permasalahan. "Apa tujuan kamu?" tanya Elio pada Sascha. "Masih sama. Aku mau kita pura-pura punya hubungan. Jadi, keluarga aku nggak perlu lagi curiga sama Allan," terang Sascha yang lantas menoleh pada kekasihnya. "By the way, kenalin, ini Allan." Allan lantas melebarkan senyum untuk Elio. Awalnya, Allan ingin mencoba bersikap hangat dan baik pada lelaki yang telah menyelamatkan hubungannya dengan Sascha. Namun, sepertinya Elio bukan seseorang yang mau berbasa-basi. Elio tidak membalas senyum dari Allan. Jabatan tangan, atau perkenalan diri juga tidak Elio lakukan. Lelaki itu hanya mengangguk sedikit sebagai upaya menghargai sesama manusia. "El, makasih karena udah mau bantu aku sama Sascha," ucap Allan memecah keheningan. Elio tidak ada niatan bicara.Jadi, Allan sendiri yang memutuskan untuk terlebih dahulu memulai obrolan. Hanya saja, hingga Allan berucap kata terimakasih, Elio masih memilih sebuah kebisuan. Lagi-lagi, dia hanya mengangguk dengan mulut yang tertutup. "Kamu gimana, El? Masih soal Anna? Atau ... ada yang lain?" Kini giliran Sascha yang berusaha menghidupkan suasana. Elio tampak tak nyaman dengan pertanyaan itu. Dia lantas mengubah posisi duduk, lalu mengarahkan pandang ke arah Sascha. Sebuah tatapan tajam cukup bisa memberi peringatan bahwa Elio tidak suka kalau ada yang ikut campur dengan urusannya. "Rencananya mau sampai kapan?" tanya Elio. Bukannya menjawab pertanyaan Sascha, Elio justru mengubah topik dengan melempar pertanyaan yang berbeda. Kini, fokus mereka mulai meruncing pada sandiwara hubungan yang akan mereka jalin. "Aku belum bisa mastiin," jawab Sascha. "Kamu berharap bisa selamanya sama dia?" tanya Elio yang sempat menatap Allan, lalu setelahnya kembali menyorot lurus ke arah Sascha. "I hope." Elio tersenyum tipis. Sangat tipis, nyaris tidak terlihat. "Kalo gitu, aku mau kita pastiin jangka waktu yang pasti." "Kayaknya kita bisa lebih fleksibel, El. Mungkin selama kita masih bisa saling menguntungkan, kita masih tetep bisa pacaran," ucap Sascha. "Aku nggak mau," pungkas Elio. "Maksudnya?" "Aku bisa mastiin kalo kita bakalan terus bisa saling menguntungkan." Sascha sempat mengernyitkan dahi. "Iya, emang tujuan kita saling menguntungkan. Terus?" "Selamanya," jawab Elio. Sascha semakin dibuat tidak mengerti dengan ucapan Elio. Ada beberapa clue di kepala Sascha saat Elio mengatakan kata 'selamanya'. Namun, Sascha belum berani menyimpulkan jika Elio tidak menjelaskannya sendiri secara gamblang. "Aku masih nggak ngerti," ucap Sascha. Elio lantas menyodorkan beberapa lembar kertas berisi presentasi dari wedding planner. Semuanya lengkap, mulai dari pilihan tempat di hall dan outdoor, opsi makanan, desain gaun, tawaran dekorasi, bahkan hingga berbagai macam contoh detail susunan acara yang akan digelar. "Kamu boleh tentuin apa pun, dimana pun, dan gimana pun yang kamu mau, tapi aku yang tentuin tanggalnya," ucap Elio. Wajah Sascha berubah kaku. Pun dengan Allan yang masih tidak bisa berkata apa-apa. Semua ini sangat tidak disangka-sangka. Ya. Elio menawarkan sebuah pernikahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD