Sebuah pukulan kencang dari Allan mendarat tepat di salah satu sisi wajah Elio. Pergerakannya terbilang sangat cepat. Elio tidak sempat menghindar. Pun dengan Sascha yang hanya bisa berteriak tanpa sempat mencegah.
"Jangan harap bisa nikahin Sascha!" pekik Allan seraya mencengkeram kerah baju Elio.
Allan tampak mengunci tubuh Elio. Posisinya setengah berdiri dengan salah satu lutut bertumpu pada sofa. Tangan kiri masih berada di area leher Elio, sementara tangan kanan mengepal pertanda siap untuk melayangkan pukulan selanjutnya.
Terkejut, marah, benci, dan sederet perasaan tidak nyaman sudah menguasai diri Allan. Berani-beraninya Elio dengan santai mengungkapkan niatnya untuk menikahi Sascha. Allan tentu saja murka, karena tepat di hadapannya, Elio terang-terangan menawarkan pernikahan kepada kekasih yang sangat dia cinta.
Namun, berbanding terbalik dengan Allan, Elio jutsru bersikap santai. Sangat santai, bahkan terlalu santai. Kepalanya sempat terlempar ke samping akibat pukulan di pipi kanan. Namun, wajah Elio segera kembali mengarah ke depan demi bisa menatap manik mata Allan.
Elio tersenyum sambil menampakkan sedikit deret giginya. Tubuhnya tetap bersandar pada sofa dan membiarkan Allan mengunci pergerakan. Kedua tangannya yang bebas bahkan tidak ada niatan untuk membalas. Elio benar-benar hanya diam.
"Stop fuckingg around!" bisik Allan dengan sorot matanya yang tajam. "You're such an asshole!"
Elio terkekeh. Kepala yang semula bersandar pada sofa, lantas bergerak menjadi sedikit lebih tegak. Elio sebenarnya tidak ingin membuang tenaga untuk meladeni lelaki satu ini. Namun, dia benci saat dirinya direndahkan. Terlebih, dengan kalimat yang sangat tidak sopan.
"Fuckk off!" balas Elio.
Sebuah gerakan cepat dari Elio seketika membuat Allan tersungkur ke belakang. Elio menyambar tangan Allan, lalu mengunci tubuh Allan seperti apa yang baru saja lelaki itu lakukan. Elio bahkan tak segan juga untuk melayangkan sebuah pukulan. Impas sudah.
"Elio, udah," ucap Sascha.
Sascha sudah berdiri dan hendak mendekat. Namun, saat Elio menatapnya penuh peringatan, Sascha akhirnya hanya bisa mematung dari balik meja.
"Aku bukan pembunuh. Jadi, santai aja, Sha. Kita cuma lagi main-main," ucap Elio yang lantas kembali menatap Allan. "Iya, kan?"
Allan tetap menatap benci wajah Elio. Masih tak mau kalah, Allan kembali melawan dan berusaha melepaskan diri. Setelah kedua tangan dan kaki Elio terlepas dari tubuhnya, Allan lantas berdiri. Begitu berhasil bangkit, dia kemudian mendorong kencang tubuh Elio hingga punggungnya merapat pada dinding.
Elio sudah tampak jengah. Kali ini, Elio lantas memutuskan untuk lebih baik tidak melawan. Dia membiarkan Allan menekan lehernya dengan lengan. Biarlah dirinya pasrah berada di dalam kendali Allan.
Sebenarnya, napas Elio sedikit sesak. Dia ingin membalas, tapi kali ini Elio memilih untuk menempuh jalan lain. Elio akan menunjukkan tentang bagaimana lemah diri Allan tanpa harus mengotori tangan.
"Jangan bikin diri kamu sendiri menyesal," ucap Elio.
Lelaki itu lantas menurunkan nada suara untuk bisa mengatakan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Elio tidak mau melibatkan Sascha. Belum perlu. Sementara ini, cukup hanya keduanya yang tahu.
"Aku tau siapa kamu sebenernya. Aku tau jati diri kamu yang selalu kamu sembunyiin dari Sascha. Dan aku punya banyak bukti untuk membuat Sascha percaya. Jadi, jangan memulai masalah sama aku kalo kamu nggak mau hidup kamu hancur," bisik Elio.
Allan mulai mengendurkan tangannya. Dia sedikit tercengang dengan ucapan Elio. Namun, Allan masih merasa sangsi barangkali ini hanyalah strategi Elio untuk membuat Allan takut.
Melihat Allan yang masih menatapnya dengan sorot menantang, Elio lagi-lagi terkekeh. Dia benci saat ada manusia yang bersikap se-angkuh ini.
"Rumah, pabrik, gudang, kebun seluas ribuan hektar di Kandahar, Helmand, Nimruz, dan perusahaan rahasia kamu di Afghanistan, aku pegang semua datanya. Aku tau siapa kamu, tapi rupanya kamu nggak tau siapa aku," lanjut Elio.
Kali ini, wajah Allan mulai tampak pucat. Dia bisa meraba kalau Elio bukan orang biasa. Dia yakin kalau Elio bukan hanya sekedar pengusaha. Elio punya jati diri yang lain. Entah apa.
"Jangan coba-coba bertingkah, karena aku nggak punya urusan sama kamu. Dan satu lagi," ucap Elio menjeda kalimatnya. "Jauhin tangan kotor kamu ini. Sekarang!"
Setelah Elio selesai bicara, Allan segera bergerak mundur. Mulutnya tidak bersuara, tapi tatapan matanya melayangkan sebuah permohonan maaf. Entah mengapa, Allan merasa sangat terancam.
Elio berhasil membuatnya kalah telak. Walau belum berucap banyak, Allan tahu kalau Elio sudah memegang kelemahannya. Allan memang tidak tahu tentang Elio dengan segala kehidupan misteriusnya. Namun, Allan merasa harus sangat berhati-hati dengan lelaki satu ini. Allan bisa menyimpulkan kalau Elio cukup berbahaya.
"Kalian nggak harus kayak gini," ucap Sascha yang kini sudah berlari mendekat.
Wanita itu lantas berdiri di antara Elio dan Allan. Sascha menatap Allan lembut dan menyuruh kekasihnya itu untuk duduk. Setelahnya, dia beralih ke arah Elio yang sudah berjalan menuju arah dekat ranjang. Elio kini tampak sibuk membereskan barang-barangnya.
"Sorry, El," lirih Sascha. "Allan pasti cuma kaget aja denger tawaran kamu. Karena jujur, aku juga sama kagetnya."
Elio tertawa. Namun, tawanya justru terdengar mengerikan.
"Kalian bisa pergi dari sini. Aku nggak punya banyak waktu. Aku anggap kamu tolak tawaran aku," tegas Elio.
"Enggak. Kita bisa obrolin lagi."
Elio kembali tertawa. Hanya saja, kali ini sedikit lebih pelan.
"El, mungkin nggak harus dengan pernikahan. Kamu tau, aku nggak bisa kalo —"
"Sha," pungkas Elio memotong ucapan Sascha sambil menoleh ke arahnya. "Take it or leave it. Aku nggak butuh negosiasi. Hanya 'ya' atau 'tidak'."
Sascha menghela napas. Berhadapan dengan Elio memang sangat tidak mudah. Namun, bukan Sascha Schneider jika tidak bisa melawan. Kali ini, giliran Sascha yang mencoba untuk menjadi lebih unggul. Dia tidak mau jika terus ditekan oleh Elio.
"Ok, El. Business is business. Tawaran kamu cukup berat. Jadi, apa yang bakal aku dapet kalo aku setuju nikah sama kamu? Aku harap keuntungannya setimpal," ucap Sascha.
"Sha, no," sahut Allan dari arah sofa.
"It's ok, don't worry," jawab Sascha.
Melihat interaksi sepasang kekasih di hadapannya, Elio lantas tersenyum. Ini adalah sebuah pertunjukan yang sangat menarik di matanya.
"Good. Aku yakin kamu lebih cerdas daripada pacar kamu, Sha," balas Elio.
Mereka lantas kembali duduk berhadapan. Allan tampak ciut, sementara Sascha terlihat jauh lebih berani.
"Sha, mungkin kamu bisa bayar cowok lain buat jadi pacar kamu. Kamu punya banyak uang, dan kamu bisa beli apapun. Tapi kenapa kamu nggak lakuin itu dari dulu? Ya karena seorang Sascha Schneider tentu nggak bisa sembarangan milih orang. Right?"
Kepercayaan diri Sascha yang sempat melambung dengan sangat tinggi, kini mulai turun. Sascha sudah tahu kemana arah pembicaraan Elio. Dan ... ya. Terlalu sulit menguasai diri seorang Elio De Luca. Lelaki itu selalu mampu mengambil alih dominasii pembicaraan.
"To the point aja, El," ucap Sascha tegas.
"Ok. Aku cuma mau bilang satu hal. Kamu pasti tau kalo Rich sangat percaya sama aku. Akan sangat gampang buat kita memulai sandiwara ini, Sha. Sepanjang kamu punya temen cowok, nggak ada kan yang keluarga kamu percaya sebesar mereka percaya sama aku? Aku tau kalo aku punya nilai lebih. Kalo enggak, kamu nggak mungkin ngejar aku tadi."
Damn! Di satu sisi Elio bisa mejadi sangat tidak ingin dilihat, tapi di sisi ini, dia bisa menjadi sangat percaya diri. Dan, well, kepercayaan dirinya memang sebuah fakta.
"Itu nilai plus. Dan tentu bukan cuma itu yang bakal kamu dapet, Sha," lanjut Elio.
"Apa?"
Elio tersenyum. Dia bisa membaca kalau Sascha pasti akan setuju dengan penawarannya. Elio yakin itu. Sangat yakin. Seratus persen yakin.
"Setelah nikah, kamu tinggal sama aku di Napoli. Kamu bisa kapan aja balik ke Jerman, tapi tentu kamu bakal lebih sering di Itali. Tapi tenang aja, karena kita nggak akan satu rumah. Tempat tinggal aku punya dua bangunan di satu area. Kamu bisa milih mau tinggal dimana.
"Masing-masing bangunan punya akses sendiri, jadi privasi kita terjaga. Dan kamu bisa bebas bawa Allan masuk. Aku yang bakal jamin kerahasiaan hubungan kalian," lanjut Elio.
Sascha mulai tampak menimbang. Jujur saja, ini penawaran yang cukup menggiurkan. Kebebasan bersama dengan Allan adalah sesuatu yang sejak dulu Sascha idam-idamkan.
Walau sudah akan berkata iya, tapi Sascha masih mencoba berpikir ulang. Ini adalah sebuah keputusan yang besar. Jangan sampai dia salah mengambil langkah.
"Gimana? Aku rasa, ini udah cukup setimpal. Aku bisa jamin hubungan kalian aman," ucap Elio saat sedari tadi Sascha hanya terdiam.
"Ok. Tapi apa yang bisa bikin aku percaya sama kamu? Aku nggak mau kalo tiba-tiba aku berada di pihak yang di rugikan."
"Kamu takut aku mengkhianati perjanjian kita? Kamu takut aku bongkar rahasia kamu sama Allan?" tanya Elio.
"Iya. Semacam itu."
Elio menghela napas. Dia lantas mengeluarkan lagi setumpuk kertas berisi rincian aset yang Elio punya, mulai dari perusahaan, properti, hingga sederet daftar usaha hospitality di berbagai negara.
"Ini semua akan jadi milik kamu. Kalo aku berkhianat sama kamu, aku bakalan kehilangan semuanya. Tapi ingat ... kamu juga akan hancur kalo sampe kamu atau Allan berkhianat sama aku," terang Elio.
Sascha memicingkan mata. Dia bisa menilai keseriusan pada diri Elio. Sebagai sesama pebisnis besar, Sascha tahu kalau nilai kekayaan Elio berada di atas rata-rata. Ini bukan sesuatu yang dicapai dengan mudah dan instan.
Sambil kembali menimbang, Sascha lantas berpikir baik buruknya. Pun dia juga memikirkan untung rugi beserta segala resikonya. Dan, ya. Sascha akhirnya yakin Elio bisa dipercaya. Elio tidak mungkin mempertaruhkan semua yang dia punya begitu saja.
"Ada lagi yang kamu minta?" tanya Elio.
Sascha menggeleng. Semakin dia banyak meminta, semakin banyak pula timbal balik yang harus Sascha lakukan. Jadi, sekedar saling menjaga rahasia sepertinya sudah cukup.
"Jadi, apa keputusan kamu, Sha?"
"Aku setuju," tegas Sascha.
Elio lantas tersenyum, sedangkan Allan hanya bisa menahan napas. Di satu sisi, Allan enggan berdekatan dan berurusan lagi dengan Elio, tapi di sisi lain, dia juga butuh Elio untuk melancarkan hubungannya dengan Sascha.
Ini bukan sebuah kompetisi menang atau kalah. Namun, entah mengapa walaupun sama-sama diuntungkan, Allan tetap merasa kalah dari Elio. Lelaki itu terlalu banyak memegang kendali atas segala hal.
"Keputusan yang sempurna, Sha. Aku bakal ke Jerman minggu ini buat ketemu keluarga kamu. Kita nikah bulan depan," tegas Elio.
"What? Enggak, El. Aku butuh waktu, nggak bisa secepet itu," sanggah Sascha.
"Sejak awal, aku udah bilang kalo aku yang akan tentuin tanggalnya. Kamu lupa?"
Sascha ingat. Ingat sekali. Namun, dia tidak berpikir bahwa Elio akan memilih waktu yang secepat ini.
"Aku nggak mau kamu ngerasa rugi, Sha. Kita harus selalu saling menguntungkan tanpa ada salah satu pihak yang ngerasa berat. Tapi, aku juga mau kita sama-sama fair. Aku nggak ngerasa mencurangi kamu karena sejak awal aku udah bilang kalo aku yang bakal tentuin tanggal. Jadi, ada hal lain yang bikin kamu ngerasa terbebani?" lanjut Elio.
Sascha menggeleng, sementara Allan hanya diam dengan beribu kecamuk pikiran. Kali ini, Allan tidak terkejut dengan keputusan Elio. Dia semakin yakin kalau Elio memang berada di pihak yang menang.
"Aku rasa cukup. Aku harus pergi sekarang," lanjut Elio yang kini beranjak menyambar barang bawaannya.
"Tunggu, El," cegah Sascha.
"Iya?"
Sascha lantas berdiri menantang tubuh tinggi di hadapannya. Batinnya mulai mendobrak untuk ikut menunjukkan taring di hadapan Elio.
Mengenai tanggal pernikahan, Elio sudah cukup membuat Sascha tercengang. Kini, Sascha merasa harus membalas. Dia perlu tahu soal kartu rahasia Elio.
"Kamu bicara soal fair dan nggak fair, 'kan? Jadi aku mau kita sama-sama fair juga. Kamu udah cukup banyak tau tentang aku. Dan sebagai partner, aku ngerasa perlu tahu alesan kamu nikahin aku. Bukannya buat mencapai tujuan masing-masing, kita harus sama-sama tau tujuan kita masing-masing juga?"
Elio tersenyum, lalu mengangguk. Jujur saja, Sascha sempat terpaku. Di antara sederet senyum sinis, ini adalah senyum ramah pertama yang Sascha dapatkan.
"Selain karena Anna, ada alesan apa lagi? Bukan mau ikut campur, tapi aku perlu tau, El," lanjut Sascha.
"Ok. Aku bakal cerita. Tapi karena ini tentang kita berdua, jadi aku mau cerita pas kita cuma berdua aja," balas Elio yang lantas melirik ke arah Allan.
"Satu lagi," balas Sascha. "Aku udah percaya sama kamu. Jadi, aku harap kamu nggak menghancurkan kepercayaan aku dengan melakukan sesuatu yang enggak aku mau."
"Of course. I promise. Kamu bisa pegang janji aku, Sha."
Walau masih ingin bicara, tapi akhirnya Sascha mengangguk. Untuk negosiasi hari ini, Sascha harus merasa cukup.
"Minggu besok, aku bakal nemuin kamu dulu sebelum aku ketemu keluarga kamu. Kamu boleh tanya apapun yang kamu pengen tau. Tapi inget, hanya ada kita berdua. Is that ok?" tanya Elio.
"Ok," jawab Sasha singkat.
Elio tersenyum sekali lagi. "Kalo gitu aku pamit. Selamat menikmati liburan kalian."
"Grazie, El," balas Sascha.
"Ok. Sampai ketemu lagi ... calon istri."