5. Menyelamatkan Sascha

1691 Words
Elio menyalakan mobil sambil meraih sebuah ponsel yang dia sembunyikan di dalam dasbor. Setelah menginjak pedal gas, dia memecah fokusnya menjadi dua. Tangan kiri bertugas mengatur stir kendaraan, sementara tangan kanan bergulir pada layar ponsel yang baru dinyalakan. Warna iris kehijauan dengan gradasi hazel di area pupil tampak semakin kentara ketika wajah Elio tersorot lampu jalan. Sesekali, Elio menantang silaunya headlamp mobil yang berjalan berlawanan, sesekali pula dia harus menunduk demi bisa mengoperasikan telepon genggam. Ibu jari Elio menuntun sistem gawai ke arah tombol hijau. Di antara sederet riwayat panggilan, Elio hanya pernah tersambung dengan satu orang. Setiap harinya, selalu dengan orang yang sama, seolah ponsel itu diciptakan khusus hanya untuk mereka berdua bicara. Jejeran angka dengan kode Italia itu tidak memiliki nama. Namun begitu telepon mereka tersambung, Elio memanggilnya dengan sebutan Henry. "Ciao, El. Udah ketemu Rich?" tanya seseorang dari seberang. "Udah. Tapi rencanaku berubah. Aku nggak sengaja ketemu Sascha," balas Elio. Secara singkat, Elio menjelaskan dengan jujur garis besar interaksinya dengan Sascha. Mulai dari awal mereka berjumpa, hingga saat mereka sepakat untuk menikah. "Menikah? Kamu gila, El!" "Memang. Baru tau?" "Pernikahan itu sakral, El. Jangan sangkut pautkan misi kita sama urusan perjanjian di hadapan Tuhan," balas Henry. "Hen, kamu tau kalo keluarga Schneider itu lawan yang sangat berat. Agen sebelum aku bahkan selalu gagal sama misi satu ini. Tugas yang berat harus diimbangi dengan usaha yang besar juga," terang Elio. "Ok, aku percaya kamu. But, one thing. Sascha sedikit berbeda, dan hubungan kalian juga berbeda. Jangan sampai kamu jatuh cinta sama cucu dari musuh besar negara kita," tegas Henry. Elio tertawa. "Aku bahkan tidak percaya cinta." Sebagai seorang agen rahasia yang bekerja untuk pemerintah Italia, Elio memang sering menyamar sebagai kekasih seorang wanita demi bisa melancarkan sebuah misi. Dia pernah mengencani anak SMA, wanita pekerja prostitusi, putri mafia pengusaha narkoba, bahkan menjadi selingkuhan dari istri seorang perdana menteri. Semua tugas yang dilimpahkan padanya selalu menuai hasil yang sempurna. Berbagai kasus berhasil Elio selesaikan dengan baik. Walau begitu, identitasnya selalu terjaga. Hingga sekarang, para wanita itu bahkan tidak ada yang tahu bahwa Elio adalah seseorang yang berada di balik terkuaknya kasus yang menjerat keluarga mereka. Dan kini, Elio sedang menjalani misi untuk membongkar keterlibatan Peter Schneider dalam kasus pengeboman beberapa kota di Italia Utara sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Laporan kepolisian dan badan penyidik menyatakan kalau ini adalah semacam aksi terorisme. Namun, seiring berjalannya waktu, badan intelejensi mencium adanya tujuan bisnis. Pemerintah Italia mengalami kerugian puluhan hingga ratusan juta euro untuk memperbaiki kota tersebut. Dan di tengah pemulihan wilayah pariwisata, mendiang Peter Schneider datang sebagai investor untuk mengembalikan dunia hospitality Italia menjadi lebih baik. Saham asing dari warga Jerman ini memang sempat membuat pariwisata Italia pulih. Namun, semakin lama, perusahaan Schneider semakin menghimpit beberapa sektor dalam negeri di kota tersebut. Bahkan, hingga Peter tiada dan semua bisnis dipegang oleh Nick Schneider, perusahaan mereka masih tetap berjaya di beberapa kota bekas pengeboman. Badan intelejen di bawah pemerintahan Italia sudah melacak kasus ini sejak dua puluh tahun yang lalu. Sayangnya, kegagalan terus menjadi hasil yang harus mereka teguk. Schneider cukup berat dan benteng pertahanan mereka terbilang sangat kuat. Kasus ini sempat ditutup hingga beberapa tahun, dan kini kembali coba diusut lagi dengan menurunkan Elio sebagai agen yang bertugas. Jika Peter terbukti bersalah, pemerintah Italia akan bisa mengambil alih wilayah mereka dan akan mengenyahkan keterlibatan perusahaan Schneider. Italia hanya ingin daerahnya kembali dikelola oleh negara. Bukan oleh investor asing seperti mereka. "Jadi, rencana ketemu sama Rich kamu batalin?" tanya Henry. "SÌ. Sascha nawarin rencana yang lebih baik. Dengan aku masuk langsung ke keluarga Schneider, maka aku bakal lebih banyak punya ruang disana. Ini akan jadi lebih mudah." Rencana semula, Elio akan mendekati Schneider melalui Rich. Dia sudah memata-matai Rich dan akan berpura-pura untuk tak sengaja bertemu di Roma. Strategi Elio adalah mendekati Schneider dengan menjalin lagi pertemanan lama dengan Rich. Namun beruntung, Elio mendapatkan ikan yang lebih besar. Sascha Schneider. "Waktu kamu nggak banyak, El." "I know. Itulah kenapa aku ngajak dia nikah bulan depan," jawab Elio. "Ok, then. Aku tutup teleponnya. Hubungi aku kalo kamu butuh bantuan." "Ok. Grazie, Hen." Setelah panggilan mereka usai, Elio kembali mematikan lagi ponsel satu itu. Kini, fokusnya seutuhnya sudah tertuju pada padatnya jalan raya. Ingin rasanya segera enyah dari kota super padat ini. Namun, sekedar untuk menambah kecepatan mobil saja tidak bisa. Bahkan, Elio harus berhenti selama tiga periode lampu merah di setiap persimpangan jalan. "Shitt!" umpat Elio pelan. Lagi-lagi dia harus ditahan oleh kemacetan panjang. Hari sudah malam, tapi kota Roma tidak pernah tidur. Elio sampai harus rela membuang waktu memindai pedestarian yang berisi banyak orang berlalu-lalang. Beberapa tampak duduk di kursi coffee shop, ada yang hanya berjalan-jalan, ada pula yang ... berlari? Wait, what? Di tengah keramaian seperti ini, ada sepasang kekasih sedang tampak berlari. Pergerakan mereka yang terburu-buru sangat mencolok. Elio tidak mungkin tidak melihatnya. Dan ... "Shitt!" umpat Elio seraya memukul stir bulat di hadapannya. "What's going on, Sascha," desis Elio. Melihat wanita itu berlari bersama Allan membuat Elio bisa menerka bahwa di sekitar sini pasti ada anggota keluarga Schneider atau mungkin orang-orang suruhannya. Pasti keduanya sedang kabur dan sembunyi dari mereka. Elio ingin tidak peduli. Ini bukan urusannya. Lagipula, Sascha tidak meminta tolong padanya. Namun, demi kelancaran sandiwara hubungan mereka ke depan, sepertinya Elio harus turun tangan. Toh, mereka berdua memang harus saling menguntungkan. Kali ini, giliran Elio yang bertindak. Mungkin, suatu saat nanti, Sascha yang akan membantu di kala Elio kesulitan. Setelah lampu berubah hijau, Elio mengarahkan mobil untuk berbelok ke kanan. Setelah itu, pada patahan jalan, Elio harus berputar menuju arah yang sebaliknya. Sedikit rumit membelah keramaian jalan dengan suara klakson yang terus bersahutan. Namun, Elio tetap merasa harus ada untuk Sascha. Setelah berhasil keluar dari jalan besar, Elio harus rela menguji kemampuan menyetirnya karena Sascha dan Allan memilih jalan sempit di tengah gang. Sedikit harus bersabar saat berpapasan dengan kendaraan lain. Namun, Elio tidak juga melambatkan laju mobil hingga dia berada cukup jauh dari posisi dimana Sascha dan Allan berlari. Setelah menemukan sebuah pusat perbelanjaan, Elio lantas memarkirkan mobilnya. Bukan untuk berbelanja, tapi sekedar membeli secangkir espresso yang dijual di tenant depan. Tepat saat Elio menyeruput minuman pahit di tangannya, suara derap langkah dua orang samar-samar terdengar. Pun diikuti dengan teriakan kencang menggunakan bahasa Jerman. Intinya, Allan menyuruh Sascha untuk berlari lebih cepat. Elio berdecih sambil tersenyum separuh. Ternyata, keputusannya untuk turun adalah pilihan yang tepat. Solusi dan ucapan dari Allan selalu membuat Elio muak. Bisa-bisanya dia menyuruh wanita dengan sepatu hal tinggi untuk berlari sejauh ini. Begitu Elio bisa menerka kalau jarak mereka sudah dekat, dia lantas berdiri. Elio berjalan menjauh dari kursi lalu mendekat ke arah jalur pejalan kaki. Perhitungan lelaki satu ini selalu tepat. Begitu dia melewati sebuah dinding pembatas bangunan, saat itu juga dia berhadapan dengan tubuh Sascha. Sebelum wanita itu melangkahkan lagi kakinya, Elio segera menarik tangan Sascha dengan sebuah gerakan cepat. "Kesini, Sha," ucap Elio. "Nein!" pekik Sascha yang spontan berusaha melepaskan diri. Sascha memberontak hingga segelas kopi di tangan kiri Elio tumpah sedikit. Sebelum sadar kalau pelakunya Elio, Sascha juga hampir kembali memekik. Namun, ketika manik abu-abunya menangkap wajah Elio, Sascha seketika mematung. Dia seperti tidak percaya kalau Tuhan mengirimkan malaikat penyelamat untuk ke dua kalinya. "El," ucap Sascha dengan napas yang masih memburu. "Duduk sini." "Iya, tapi ... ." Sascha menoleh ke belakang mencari sosok Allan. "Sha, udah sama dia, 'kan? Berarti aman. Aku mau nyari taksi dulu di ujung jalan depan," ucap Allan. "Iya, kamu ati-ati." "Ok," jawab Allan yang kemudian menoleh ke arah Elio. "El, sorry, kita ngerepotin kamu lagi." Elio tidak menanggapi sama sekali. Dia justru fokus mengelap tangannya menggunakan selembar tisu. Walau Allan berbicara dengan cukup kencang, tapi Elio bersikap seolah tidak mendengar apa-apa. Allan ingin kembali mengulang pembicaraannya pada Elio, tapi urung. Sebaiknya, dia segera pergi dari sini. Lebih cepat, lebih baik. "El, makasih, dan maaf," ucap Sascha setelah Allan pergi. Elio hanya bergumam, tapi dia tetap menyimak gerak-gerik wanita di hadapannya. Sascha masih tampak panik dan takut. Peluh sudah membasahi dahi dan sebagian anak rambut. Napasnya juga masih terengah menampakkan rasa lelah. "Kamu kok bisa ada di sini? Kamu liat aku? Ngikutin aku?" tanya Sascha. "Non." "Terus?" "Aku mau pulang. Harus nyetir jauh, jadi aku mampir beli kopi. Aku butuh kafein," jawab Elio seraya mengangkat espresso di tangan kanannya. "Kok bisa tau kalo ada aku? Aku malah nggak liat kamu." "Nggak sengaja denger suara Allan, terus aku samperin kamu." "Arah Napoli bukannya ke sana?" tanya Sascha yang masih belum puas dengan jawaban Elio. "Eh, kesana ya? Atau —" "Apa kamu selalu suka ikut campur urusan orang?" sahut Elio dengan nada ketus dan tatapan tajam. "Eeeee... ." "Lari dari siapa lagi sekarang? Rich lagi?" tanya Elio kemudian. Sebaiknya Elio mengganti topik pembicaraan. Dia tidak nyaman ketika Sascha terus mendesak ingin tahu tentang alasan dia duduk di sini. "Mungkin. Yang jelas mobil Schneider," jawab Sascha. "Dia liat kalian?" "Mungkin. Yang jelas, dia kayaknya liat aku karena aku duduk di kursi cafe yang depan. Tapi kayaknya dia nggak liat Allan karena waktu itu lagi ke toilet. Aku nggak sempet makan, terus buru-buru masuk dan ngajak Allan keluar lewat pintu yang tembus ke jalan belakang." "Dia ngikutin kamu?" tanya Elio. "Aku nggak tau, tapi lebih baik aku menghindar. Tadinya aku mau nyari taksi, tapi resiko juga karena jalanan macet, ntar malah aku nggak bisa kemana-mana. Mau masuk ke swalayan atau tempat lain juga rawan ketahuan. Akhirnya kita cuma bisa lari menjauh dari sana," terang Sascha. "Lain kali, biar Allan aja yang pergi. Kamu diem. Kalopun ketahuan, nggak masalah. Kan kamu lagi sendiri," balas Elio. "Biasanya gitu, tapi aku keburu panik. Lagian sebelum keluar dari hotel, Rich sempet telpon minta ketemu, dan aku terlanjur bilang lagi keluar sama kamu. Kalo Rich liat aku sendiri, kan jadi ketahuan boongnya. Jadi mendingan kabur aja. Ntar kalo Rich tanya, tinggal bilang kalo yang Rich liat pasti bukan aku." Belum juga Sascha selesai menjelaskan kronologi kejadian, sebuah Buggati merah sudah muncul dan berhenti bersisian dengan mobil milik Elio. Selang sekian detik, seorang lelaki keluar dari kursi kemudi. Namun, ternyata bukan Rich, melainkan ayahnya. Ya, Nick Schneider.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD