Elio memasang senyum lebar ketika melihat lelaki paruh baya dengan rambut yang sudah memutih, tapi masih tetap terlihat gagah. Kakinya bahkan berdiri dan beranjak menghampiri Nick dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Wajah Elio tampak tidak gentar sama sekali. Dia seolah menganggap kedatangan Nick bukanlah suatu masalah. Berbanding terbalik dengan Sascha yang justru masih berusaha menata diri. Hati dan pikirannya belum juga tenang dari kondisi kekacauan.
"Elio De Luca," ucap Nick begitu mereka berdua saling berhadapan.
"Selamat malam, Mr. Schneider."
"Nggak nyangka bisa ketemu kamu disini El."
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda. Sayangnya, saya nggak sempat menyiapkan tempat yang lebih layak," jawab Elio.
Nick tersenyum sepintas saja, lalu menjabat uluran tangan Elio. Setelah itu, dia segera mendekati Sascha yang masih duduk dengan kepala yang menunduk. Di dunia ini, memang hanya Nick yang sukses membuat Sascha selalu merasa takut.
Sebenarnya, Sascha ingin bersikap biasa saja. Nick akan bisa membaca suasana jika anak gadisnya bertindak mencurigakan seperti ini. Sialnya, nyali Sascha sudah hilang entah kemana walau sekeras hati dia sudah mencoba untuk menjadi lebih berani.
"Papa," lirih Sascha.
Sascha sempat mengangkat wajah untuk sejenak menyapa ayahnya. Hanya sekilas, dia kembali menunduk sambil berpura-pura meminum kopi yang bertengger di atas meja. Ah, sial. Bahkan Sascha sampai tak sadar minum dari bekas bibir milik Elio.
"Kenapa kabur pas liat Papa? Sengaja menghindar?" tanya Nick.
"Aku nggak liat Papa."
"Really? Kamu noleh ke mobil Papa beberapa kali," balas Nick.
Sascha mendesahkan napas panjang. Mulai sekarang, otaknya harus dibiasakan untuk mencari alibi dan kebohongan dalam jangka waktu yang sangat singkat.
"Ok, aku emang liat mobil Papa. Tapi aku pikir yang di mobil itu Rich. Aku males ketemu dia lagi, Pa. Aku udah bilang kalo mau pergi sama Elio," terang Sascha.
Nick mengangguk beberapa kali. Wajah yang semula kaku, kini mulai berubah menjadi lebih lembut. Bahkan, di akhir ekspresi, Nick sempat memberikan sebuah senyum tipis.
"Jadi, kamu nggak pengen kencan kalian terganggu?" ucap Nick dengan nada sedikit menggoda.
Sascha sontak membulatkan mata. Dia seperti tidak percaya kalau ayahnya bisa berkata seperti ini. Biasanya, jika berkaitan dengan lelaki, Nick cenderung sulit diajak kompromi. Dan kali ini, Sascha sungguh tidak menyangka. Cukup hanya dengan membawa nama Elio saja sudah mampu memberikan dampak yang besar. Tak bisa dipungkiri lagi, Elio memang memiliki nama baik yang bisa memberikan efek yang sangat ajaib.
Segala ketakutan dan ketegangan pada diri Sascha seketika sirna. Dia tak lagi merisaukan jika saja Nick curiga akan keberadaan Allan. Sascha yakin, munculnya Elio di hadapan Nick sudah cukup membuat ayahnya itu percaya.
"Kok diem gitu, Sha? Salting?" tanya Nick ketika melihat anak gadisnya ternganga.
"Dih, apaan. Lagian ngapain sih Papa kesini? Aku bukan anak kecil yang harus selalu diawasi."
Nick tertawa. Dia seperti mengulang kejadian saat Sascha marah karena Nick datang ke acara gathering sekolah hanya demi memastikan Sascha baik-baik saja. Di mata Nick, Sascha memang akan selalu menjadi gadis kecil yang harus selalu dijaga sekalipun dia sudah dewasa.
"Ada pertemuan bisnis. Abis ini juga Papa mau langsung ke Florence," balas Nick.
"Ada masalah? Minggu lalu semua laporan disana masih aman," ucap Sascha.
Mendengar nama kota itu, Elio langsung memasang telinga. Dia harus menyimak jika saja ada informasi penting yang bisa dia dapat. Biar bagaimanapun, Florence adalah salah satu tempat perusahaan Schneider berjaya sekaligus tempat yang dulu turut mengalami peledakan massal.
Elio sudah hapal dimana saja letak aset milik Schneider tersebar. Ada beberapa hotel mewah yang berada di pusat kota dengan mengusung arsitektur khas daerah sana. Satu yang terbesar adalah hotel yang berada di dekat Palazzo Pitti.
Di antara sekian banyak hotel, milik Schneider ini adalah yang termahal. Letaknya berada di tepi sungai Arno dekat dengan jembatan Ponte Vecchio. Arsitektur bangunan serta pemandangan dari hotel itu memang sangat menakjubkan. Di siang hari, jernihnya sungai tampak memantul seperti kaca yang menggambarkan suasana kota. Sementara ketika malam, sorot lampu di sepanjang sungai hingga jembatan cukup bisa menciptakan suasana yang memanjakan mata.
Tentu fasilitas, pelayanan, serta segala sesuatu yang ada di hotel ini memiliki rate di atas rata-rata. Dan Elio tidak bisa memungkiri kalau hotel tersebut memang mengalahkan hotel lain milik warga asli Italia. Jika Elio berhasil memecahkan misi ini dan mengenyahkan Schneider, hitung saja berapa banyak pengusaha warga Italia asli yang diuntungkan.
"Nein. Papa cuma pengen kesana aja sekalian liburan. Ibu juga udah disana duluan," jawab Nick.
"Terus kenapa malah kesini?" balas Sascha.
"Emang nggak boleh?"
Sascha memberengut. Wajahnya ditekuk seperti sengaja menampakkan rasa kesal karena ayahnya mengacaukan jadwal kencan.
"Iya iyaaa, ini Papa juga udah mau pergi," ucap Nick kemudian.
"Ya udah sana."
Nick terkekeh lalu menggelengkan kepala. Pembicaraan dengan Sascha hampir selalu terdengar seperti percakapan antara ayah dan seorang anak kecil. Sascha hanya tampak dewasa saat mereka membicarakan tentang pekerjaan.
"Pengen oleh-oleh apa?" tanya Nick.
"Enggak. Udah deh, Pa. Sana. Hush hush."
Nick tidak bisa lagi menahan tawa. Setelah menyelentikkan jari di dahi Sascha, Nick lantas berbalik untuk berhadapan dengan Elio.
"Jadi, kamu yang nyulik anak saya?" tanya Nick dengan bekas tawa yang belum pudar dari wajahnya.
Elio tersenyum sambil menunduk sedikit. "Maaf. Saya yakin anda juga pernah muda."
"Rich told me that you date her."
Elio tersenyum lalu mengangguk dan berkata, "Iya."
Nick kemudian melangkah mendekat, lalu sengaja menarik kursi di hadapan Elio. Hitungan detik, raut wajah Nick sudah berubah menjadi lebih serius.
Sebagai sesama lelaki, Elio dapat membaca munculnya proteksi dari seorang ayah. Elio bisa mengerti kalau Nick tetap memiliki kekhawatiran terhadap Sascha. Tidak ada ayah yang merasa mudah membiarkan anak gadisnya dikencani oleh seorang lelaki. Sebaik apapun lelaki itu, rasa waspada seorang ayah tetaplah ada.
"Saya liat Sascha duduk sendiri tadi. Tiba-tiba dia kabur, terus pas di persimpangan jalan, saya liat mobil kamu, El," terang Nick.
"Mobil saya?"
Nick terkekeh. "Saya tau plat mobil kamu. Kombinasi nomornya dibuat khusus 'kan?"
Elio cukup terkejut, tapi masih mencoba agar tidak tampak tercengang. Desas-desus tentang keluarga Schneider ternyata memang benar. Seluruh orang-orang Schneider akan mempelajari dengan baik dengan siapa mereka berhadapan.
"Iya. Anda selalu luar biasa, Mr. Schneider," ucap Elio.
"I know. Dan saya pikir, nggak ada salahnya kan saya kesini? Liat kamu bawa anak saya, membuat saya pengen ketemu kamu," terang Nick.
Elio sedikit merasa terancam dan tertekan. Aura kewibawaan Nick memang sangat terasa. Namun, selang beberapa detik saja, Elio sudah bisa kembali membawa diri.
"Saya minta maaf sebelumnya. Bukan maksud saya bawa Sascha menghindari ayahnya sendiri," ucap Elio.
Well, langkah pertama menghadapi orang yang lebih tua memang harus dengan meminta maaf dan merendahkan diri. Sascha sampai menunjukkan raut tidak enak karena Elio harus rela menyalahkan dirinya sendiri demi bisa menjaga kelangsungan sandiwara mereka.
"Saya nggak berniat bawa Sascha pergi. Saya cuma merasa nggak enak kalo ketemu anda di suasana dan tempat seperti ini," lanjut Elio.
"Lalu?"
"Saya sudah berniat mengunjungi anda dan Mrs. Schneider di Jerman minggu depan. Rencananya, besok pagi, saya akan menelepon anda untuk membuat janji dan menanyakan ketersediaan anda menerima saya sebagai tamu di rumah anda. Tapi ... kita malah akhirnya ketemu disini," terang Elio.
Nick tidak bisa menyembunyikan senyum. Semula, dia ingin kembali mendesak Elio. Namun, ketika lelaki muda di hadapannya menunjukkan tanda-tanda keseriusan terhadap Sascha, Nick lantas luluh. Di jaman sekarang, cukup sulit menemukan lelaki yang berani datang ke rumahnya.
Lagipula, Nick sudah sedikit tahu siapa Elio. Rich juga mengenalnya. Nama Elio berkibar sebagai pebisnis sukses di kalangan pengusaha dunia. Dan yang terpenting adalah, Elio terkenal sebagai lelaki yang sangat baik. Sepertinya bukanlah suatu kesalahan jika Nick mengizinkan Elio menjalin hubungan dengan anaknya.
"Jadi, minggu depan, apakah saya bisa datang? Saya akan ke Hamburg di hari Sabtu jika anda berkenan memberikan saya kesempatan," lanjut Elio lagi.
"Untuk?" tanya Nick.
"Untuk menjalin hubungan yang lebih baik."
"Saya nggak suka basa-basi, El. Saya pikir, kita nggak perlu jamuan resmi buat ngomongin ini. Jadi, katakan apa tujuan kamu, barangkali minggu depan saya akan menerima kamu sebagai sosok yang berbeda. Bukan lagi lelaki yang bawa kabur anak saya," ucap Nick.
Elio mengalihkan pandang ke arah Sascha. Wanita itu tampak tidak siap. Namun, Elio tak punya jalan lain. Elio tetaplah seorang lelaki, dan dia tidak mau harga dirinya sebagai lelaki terlukai. Apalagi, di hadapan ayah wanita yang akan dia nikahi.
"Mr. Schneider, saya mencintai anak anda. Begitu pun perasaan anak anda terhadap saya," ucap Elio seraya berpura-pura melempar senyum manis pada Sascha.
Sascha memilih menunduk, lalu membuang wajah. Dia sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi lagi-lagi Sascha tidak menyangka kalau akan secepat ini berada dalam pembicaraan seperti ini bersama ayahnya.
"Kami sudah saling mengenal sejak beberapa tahun lalu ketika kami kuliah di Inggris. Dan kami juga sudah menjalin hubungan sejak lama," lanjut Elio.
Masih memilih bungkam, Sascha kini mulai berani mengangkat wajah menatap manik mata Elio. Sungguh, tak pernah dia sangka kalau Elio bisa menyusun percakapan sandiwara dengan sedemikian sempurna. Pun dengan suasana dan ekspresi berbunga-bunga layaknya lelaki kasmaran yang sedang jatuh cinta.
"Saya sudah berkomitmen dengan anak anda untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius. Dan ... ."
Elio diam menjeda pembicaraan. Dia berdehem sambil menata napas yang tertahan. Damn! Acting lelaki satu ini sungguh luar biasa. Bahkan dia bisa menunjukkan raut gugup seperti sedang benar-benar melamar wanita yang sangat dia cinta.
"Dan ... jika anda mengizinkan, saya akan menikahi anak anda."