7. A Kiss

1535 Words
Mata Elio harus menyipit saat mendapati matahari kota Hamburg yang sangat terik. Dia baru saja mendarat di Jerman setelah dua jam lebih mengudara dari Italia. "El, kamu udah sampe?" Suara Sascha terdengar dari telepon yang baru saja Elio nyalakan. "Udah." "Ada supir yang jemput kamu." Elio melayangkan pandang ke sekitar terminal kedatangan. "Ok. Grazie." Sejak pertemuan dengan Nick minggu lalu, Elio menjadi sering berkirim kabar dengan Sascha. Mereka saling memberi tahu tentang kebiasaan dan juga apa yang mereka suka dan tidak suka. Nick sudah menerima Elio untuk menjadi tamu di kediamannya besok hari. Jadi, Elio dan Sascha harus mulai saling membangun kedekatan. Melalui beberapa pesan, mereka saling bertukar tips agar bisa sukses memainkan peran. Namun, tentu bukan melalui w******p atau aplikasi sejenisnya. Elio cukup cerdas untuk tidak menggunakan fitur yang mudah dilacak oleh para peretas. Elio membuat sebuah dokumen yang tersimpan di dalam cloud, lalu mengatur privasi agar hanya bisa diakses oleh dirinya dan Sascha. Tentu hal seperti ini terbilang mudah bagi Elio yang sudah terjun dalam dunia mata-mata. Namun, ini adalah hal baru bagi Sascha. Wanita itu sampai beberapa kali memuji Elio karena lelaki itu mengajaknya untuk bermain dengan sangat rapi. Sascha tidak pernah berpikir kalau keluarganya akan meretas percakapan yang ada di ponselnya atau milik Elio. Namun, memang tidak ada salahnya waspada. Pernikahan mereka yang tiba-tiba bisa jadi mengundang kecurigaan. Jangan sampai ada yang tahu kalau percintaan mereka hanya kebohongan. Alhasil, segala percakapan rahasia dan sederet rencana, hanya mereka bagi dalam private document. Sascha memaparkan bagaimana hal yang mungkin terjadi hari ini dan besok, sementara Elio menyampaikan pesan balasan berisi tanggapan dengan cara mengedit berkas yang sudah Sascha tulis. Semua skenario mereka tersimpan dengan aman. Sedangkan isi pesan w******p dan riwayat panggilan keduanya hanya berisi kata-kata mesra layaknya pasangan tengah saling bertukar sayang. Sesekali, mereka sengaja berkirim foto untuk menampakkan sebuah kerinduan. Ya. Bahkan, mereka harus bersandiwara di hadapan ponsel mereka. Sascha: Can't wait to see you. I miss you, El. Aku tunggu di rumah. Sebenarnya berkirim pesan seperti ini cukup memuakkan. Namun, sebisa mungkin Elio tahan. Tak apa. Lama-lama pasti akan terbiasa. Elio: I miss you too. Can't wait to kiss and hug you. Sascha: Hati-hati di jalan. Elio: Sì. Ti amo. Mengucapkan kata cinta membuat perut Elio mual seketika. Dia sudah sering bersandiwara seperti ini ketika menjalani misi. Namun, tetap saja ada rasa muak. Bagi Elio, bermesraan adalah sesuatu yang menjijikan. Elio sudah mempertimbangkan hal ini. Dia akan bersandiwara seumur hidup setelah menikah dengan Sascha. Namun, Elio pikir ini setimpal. Selain dia tak perlu meladeni kejaran wanita yang selalu mengerubunginya, Elio juga akan dapat memberikan jasa pada negara. Dia harus ingat kalau tujuan utama adalah untuk membebaskan Italia dari Schneider sebagai investor asing yang dinilai merugikan. "Buongiorno. Elio De Luca?" ucap seorang lelaki dengan setelan berwarna hitam. Elio mengangguk seraya menjawab, "SÌ." Begitu tubuh Elio tampak dari pintu kedatangan, seorang supir Schneider sudah datang menyambut. Dia lantas memperkenalkan diri dan menjelaskan kalau dia akan membawa Elio menuju rumah Sascha. Dan lagi, Elio harus terkesan dengan Schneider. Mereka bahkan memiliki supir yang fasih berbahasa Italia. Elio yakin, walaupun hanya sekedar supir, tapi Schneider melatihnya dengan berbagai macam keahlian. Berdasarkan informasi yang Elio dapat, orang-orang Schneider bahkan dituntut untuk memiliki kemampuan beladiri dan harus piawai menggunakan senjata api. Oh iya. Satu yang tidak kalah penting adalah, Sascha sempat menulis dalam private document mereka kalau semua orang yang bekerja untuknya masih tetap berada di bawah komando Nick. Termasuk supir dan asisten rumah tangga serta pengawal yang ada di rumah Sascha. Mereka memang bekerja untuk Sascha. Namun, seluruh orang Schneider itu selalu memberikan laporan kepada Nick jika mereka menemukan sebuah kejanggalan. Contohnya, mereka pernah mengadu kepada Nick saat mendapati Sascha menelepon Allan. Biar bagaimanapun, Nick tetap menjadi orang nomor satu. Jadi, kesimpulan adalah, sekalipun mereka berhadapan dengan bawahan Sascha, mereka berdua harus tetap berpura-pura sebagai sepasang kekasih. "Siamo arrivati, Mr. De Luca," ucap supir setelah mobil mereka terparkir di depan bangunan megah milik Sascha. "Grazie." Elio menatap sekilas rumah bernuansa modern minimalis ini. Di antara sekian banyak aset milik Schneider, rumah Sascha adalah satu-satunya mansion yang tidak memiliki sentuhan arsitektur Eropa klasik. Berbeda dengan rumah milik Nick, Rich, juga mansion peninggalan Peter Schneider dan pendahulu mereka yang bernama John Schneider. "Selamat datang," ucap salah seorang pengawal Schneider ketika Elio turun dari mobil. Semua orang rupanya sudah tahu akan kehadiran Elio di rumah ini. Mereka menyambut sejak dari depan gerbang hingga ke ruang depan rumah Sascha. Beberapa mengurus barang bawaan Elio, ada yang membawakan coat yang baru saja Elio lepas, lalu ada yang mendampinginya melangkah ke dalam. Begitu masuk, rumah ini ternyata lebih besar dari yang Elio pikir. Walau tidak seluas rumah milik orang tuanya, tapi kediaman Sascha terbilang cukup besar dan mewah. Sama halnya seperti Elio, meski hidup seorang diri, tapi Sascha tinggal di dalam bangunan yang ukurannya cukup untuk hidup warga satu Rukun Tetangga. "El," ucap Sacha yang tengah berada di ujung tangga. Sesuai kesepakatan, mereka akan berpura-pura kasmaran di hadapan maid dan para pengawal Schneider. Mereka harus tampak seperti calon suami istri yang saling mencintai. Pun, mereka harus bertindak seolah saling merindukan sebab seminggu tidak bertemu. "Amore mio," balas El seraya sedikit berlari menghampiri Sascha. Elio sempat melepas kancing jas, lalu merentangkan tangan demi menyambut Sascha yang datang memeluk. Sungguh, adegan ini sudah mirip seperti adegan di film Disney ketika sepasang kekasih berpelukan di tengah tangga sebuah istana. "I miss you," ucap Sascha. "I miss you too. Like crazy," balas Elio. Beberapa maid masih berjejer beberapa meter di belakang dua sejoli. Walau hanya diam, tapi tentu saja mereka mengamati. Huft! Sandiwara tetap harus berlanjut. "Cium," bisik Sascha. "What?" balas Elio dengan suara yang tak kalah lirih. "Kita lagi diawasi, El. Buruan!" Begitu mendengar hal itu, Elio langsung melepas peluk lalu tangan yang semula mendekap tubuh Sascha berpindah ke wajah dan tengkuk. Sepersekian detik, mata mereka saling memandang. Setelahnya, bibir mereka sama-sama beradu dan menyatu. Walau ini bukan yang pertama, tapi rasanya tetap agak rikuh. Rasa canggung masih ada walau keduanya berhasil menutupi. Gelagat tidak enak juga sebisa mungkin diredam agar tidak tampak. Kini, apa yang orang lihat adalah binar cinta dan hasrat. Semua mata bisa menangkap gerakan bibir Elio yang perlahan mulai asik melumat. Oh Mein Gott. Ini bukanlah ciuman yang Sascha inginkan. Ciuman yang dia maksud adalah sebuah kecupan tanpa adanya pagutan. Namun, bibir Elio bergerak rakus seperti lelaki yang benar-benar tengah mendambakan kekasihnya. Gerakan bibir Elio cukup menuntut. Tiap cecap seirama dengan rabaan tangan di belakang tubuh Sascha. Ingin hanya diam saja, tapi pada akhirnya mau tak mau Sascha harus mengimbangi ciuman lelaki di hadapannya. Setelah saling bertukar saliva, Elio akhirnya menyudahi sesi kali ini. Bibirnya sempat tersenyum tipis, lalu mengakhiri semuanya dengan sebuah kecupan ringan di dahi. "Mau istirahat dulu? Kamu pasti capek," tanya Sascha. "Iya." Sascha lantas menyuruh beberapa orang untuk mempersiapkan beberapa makanan. Setelah itu, mereka segera berpindah menuju kamar Sascha. Tentu saja bukan untuk melanjutkan kemesraan, melainkan justru untuk memusnahkan. Kamar Sascha adalah satu-satunya tempat aman yang tidak mungkin akan diinjak oleh pekerja rumah ini. Mereka hanya akan berada disana atas izin pemilik. Dengan begitu, Elio dan Sascha bisa langsung menjadi diri mereka sendiri tanpa takut dicurigai. "Finally," lirih Sascha setelah mereka berhasil mengurung diri di dalam kamar. Pintu sudah terkunci dengan baik. Sascha juga sudah memastikan kalau pintu dan jendela kaca yang mengarah ke balkon sudah tertutup oleh tirai putih yang menjuntai hingga lantai. Semuanya aman. Tidak akan ada lagi yang melihat interaksi mereka berdua. Kini, Sascha beranjak menuju depan cermin. Dia mengamati bibir yang masih ada sedikit bekas basah. Setelah sempat menyekanya menggunakan punggung tangan, Sascha lantas beralih menatap tajam ke arah Elio. "Kamu nggak harus cium aku dengan cara kayak gitu, El!" pekik Sacha. "Kamu yang minta," jawab Elio singkat. "Tapi nggak perlu berlebihan kayak gitu." Wajah Sascha tampak geram. "It's disgusting." Elio terkekeh. "Kamu pikir aku suka? Kamu pikir aku menikmati itu semua?" Sejak masuk ke kamar milik Sascha, tempat pertama yang Elio cari adalah kamar mandi. Sambil menjawab ucapan Sascha, lelaki itu melangkahkan kaki mendekat ke arah wastafel. "Maybe. Kamu sengaja cari kesempatan?" Elio tertawa. "Big no, Sascha!" Sascha ingin tidak percaya dengan pengakuan Elio. Sascha pikir, Elio memang ingin mengambil keuntungan dari sandiwara mereka. Namun, ketika Sascha menoleh, ternyata Elio sedang melakukan sesuatu yang diluar dugaan. Elio berdiri di depan wastafel sambil mencuci mukanya. Dia juga menyeka bibirnya beberapa kali. Dengan air. God! Elio mengusap bibirnya kasar seolah dia baru saja bersentuhan dengan kotoran. Ini penghinaan! "Dih, segitunya. Aku nggak penyakitan, El. Aku nggak bakal bikin bibir kamu sakit," ucap Sascha. Elio diam dan masih melanjutkan aktivitasnya menyeka bibir. "Kamu juga pernah cium aku duluan waktu ada Anna. Kamu lupa?" lanjut Sascha. Elio seketika menoleh. Walau tetes air sudah membasahi seluruh wajahnya, tapi ekspresi Elio tetap saja kaku dan beku. "Dan aku langsung minum air banyak-banyak setelah ciuman waktu itu. Kamu lupa?" balas Elio. Damn! Sascha ingat. Sangat ingat. Elio menenggak habis sebotol air begitu Anna meninggalkan kamar mereka. "Kamu tau biar apa?" tanya Elio seraya memicingkan mata. Sascha diam. Walau sedikit merasa ngeri melihat tatapan mata Elio, tapi Sascha tetap berusaha menantang wajahnya. "Biar nggak muntah!" pungkas Elio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD