8. Mengaburkan Fakta

1318 Words
Berparas sempurna, wajah bak dewa, otak cemerlang, old money, dan memiliki reputasi tinggi. Seperti itulah orang mendeskripsikan bagaimana seorang Elio De Luca. Memang terdengar sangat ideal. Namun, adakah yang memberi nilai minus untuk ucapan pedasnya? Sascha sampai harus menggertakkan gigi ketika mendengar Elio bicara. Jika dilihat sekilas, Elio memang tipe lelaki idaman. Sascha pun sempat sedikit menaruh hati ketika pertama kali bertemu Elio beberapa tahun yang lalu. Namun, ketika sekarang mendapat kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat, anggapannya selama ini ternyata salah besar. "Kamu boleh pergi," ucap Sascha. Elio seketika menoleh. Ekspresi angkuh masih bertahan di setiap gurat wajahnya. Bedanya, kali ini Elio juga menampakkan raut kebingungan. Tidak pernah Elio sangka kalau hal sepele seperti ucapannya tadi ternyata ditanggapi dengan serius oleh Sascha. "Silakan pergi," tegas Sascha sekali lagi. Wajah Sascha sudah berubah menampakkan raut dingin dan datar. Dia tidak ingin mengatur Elio untuk menjadi baik di hadapannya. Elio bebas menjadi seperti apapun yang lelaki itu mau. Namun, bukan berarti dia bisa merendahkannya. Walau hanya sebaris kata yang mungkin tanpa makna, tapi Sascha merasa cukup terluka. Seumur hidup, tidak ada satu pun yang berani berucap seperti ini. Dan Sascha tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Dia bukan tipe wanita lemah yang hanya bisa menangis saat disakiti, menerima ketika dilukai, dan berdiam diri jika dia dihina. Elio memang tidak terang-terangan mengatakan hal buruk tentang Sascha. Namun, kalimat pedasnya cukup mewakilkan sebuah nada merendahkan. Mungkin kemarahan Sascha ini terkesan berlebihan, tapi seorang Sascha Schneider memang bukan wanita yang suka direndahkan. "El, hubungan kita cuma atas dasar saling menguntungkan. Jadi, kalo kamu nggak mau saling menghargai, kamu masih punya waktu buat pergi. Kita bisa batalin semuanya," ucap Sascha. Elio cukup terkejut dengan reaksi Sascha. Biasanya, wanita yang dia temui hanya akan diam dan tunduk juga takut. Atau, ada pula yang marah hingga meledak-ledak, lalu kemudian si wanita itu sendiri yang terlebih dahulu meminta maaf. Namun, Sascha berbeda. Dia menyikapi semua sebagaimana cara bersikap manusia berdarah biru. Terlalu anggun. Terlalu elegan. Elio lantas menarik napas panjang. Dia harus ingat siapa wanita yang kini tengah berhadapan dengannya. Elio tidak boleh lupa kalau Sascha adalah pewaris keluarga Schneider sekaligus pemilik perusahaan Schneider. Sebuah nama yang memang tidak akan pernah bisa diremehkan. "Sascha," lirih Elio seraya melangkah mendekat. "Kita lagi berbisnis, El. Semua bisnis punya aturan. Kalo nggak sesuai aturan, aku pikir nggak ada gunanya dilanjutin. Bisnis itu saling menguntungkan, bukan merugikan," pungkas Sascha. Sebenarnya, Elio merasa ini tidak adil. Elio mengatakan hal seperti itu karena Sascha yang terlebih dahulu memulai. Wanita itu yang terlebih dahulu mengutarakan bahwa ciuman mereka menjijikan. Jadi, tak ada salahnya Elio membalas dengan hal serupa. Namun, ya sudahlah. Elio sadar kalau pembalasannya terlalu berlebihan. Elio sadar dirinya melakukan kesalahan. "Aku minta maaf, Sha," ucap Elio pada akhirnya. Sascha tersenyum sinis. Bibirnya bahkan sempat berdecih. "Maaf karena udah nyakitin hati kamu," lanjut Elio. Sebuah tawa hambar keluar dari mulut Sascha. "Kamu nggak memiliki hati aku sedikit pun. Jadi, kamu nggak akan bisa nyakitin hati aku." Elio diam menyimak. Mendengarkan tanpa sedikit pun mendebat. "Harga diri aku yang kamu lukai," lanjut Sascha. Selama menggeluti pekerjaannya, Elio sudah berhadapan dengan berbagai jenis manusia. Elio sudah cukup hapal dengan trik pura-pura terluka demi mendapatkan simpati. Banyak orang menggunakan cara murahan seperti ini. Namun, hal itu sama sekali tidak dia temukan pada diri Sascha. Wanita itu jujur. Tatap matanya memang menunjukkan sebuah luka. Sejak awal, Elio bisa menilai kalau Sascha bukan wanita yang manipulatif. Dia tulus, jujur, dan cenderung polos. Namun, dia tidak bodoh. Sascha memiliki nilai diri yang tidak terbeli. Sayangnya, Elio juga tidak mau mengalah. Mereka berdua adalah kombinasi dua manusia dengan harga diri tinggi yang sama-sama tidak mau menurunkan harga diri. Untungnya, Elio masih tidak kehabisan cara. Dia mulai mencoba memperbaiki keadaan tanpa melukai harga diri masing-masing. Elio sadar kalau dia salah karena telah menyakiti Sascha, dan dia akan mencoba menebusnya. "Sha," panggil Elio dengan nada suara yang sudah berubah rendah. "Sacha." Elio menyebut nama itu lagi demi bisa membuat mata Sascha menatap ke arahnya. "Ini gara-gara ucapan aku tadi?" tanya Elio. Mulut Sascha terkatup, tapi matanya berkata iya. "Kamu cantik, pinter, terpandang, dihormati, dan kamu bukan orang yang sembarangan." Sascha masih membeku. Dia tidak bisa luluh dengan pujian. "I respect you so much. Dan kamu bisa bayangin nggak gimana rasanya jadi aku waktu harus cium wanita kayak kamu?" Dahi Sascha mengernyit. Dia mencoba mencerna ucapan Elio tanpa mau menanggapi dengan satu kata pun. "Aku masih lelaki normal yang suka sama hal-hal kayak gitu, tapi nggak akan mudah buat ngelakuin itu sama wanita yang aku hormati," lanjut Elio. Sascha masih diam tidak menanggapi. "Sha, aku nggak bermaksud ngomong kayak tadi. Itu cuma karena aku sedikit ... nervous. Jadi, ... maaf." Sascha mengedipkan mata satu kali seraya menarik napas dalam-dalam. Dan ketika dia membuka mata, raut wajahnya lantas berubah melunak. Detik selanjutnya, Sascha mengangguk. Bibir Elio tersenyum tipis. Tunai sudah kewajibannya menebus salah. Kini saatnya dia mengembalikan lagi harga dirinya ke posisi semula. "Tapi kalo dipikir-pikir, kita ini sederajat. Mungkin ke depan, kita nggak perlu lagi naruh respect yang terlalu tinggi," ucap Elio. "Maksudnya?" "Maksudnya, mau kita ulangi lagi? As a couple. Aku janji nggak akan muntah asal kamu nggak usap bibir kamu pake tisu," jawab Elio dengan sebuah senyum di akhir kalimatnya. Sascha membulatkan mata. Dia menyesal sempat menganggap Elio telah bersikap baik padanya. Nyatanya, Elio memang selalu mengesalkan. Hampir saja Sascha melayangkan beberapa makian. Sayangnya, suara ketukan pintu sanggup mengalihkan perhatian. Seorang pekerja dapur datang membawakan satu baki berisi makanan dan minuman. Setelah mereka kembali terkunci berdua saja di dalam kamar, Sascha sudah berniat melanjutkan perdebatan tadi. Namun, dia lantas sadar kalau ada sesuatu yang lebih penting. "Jadi, apa alesan kamu sebenernya? Bukan cuma Anna, 'kan?" Sascha bertanya tanpa basa-basi. Dia ingin menagih janji Elio untuk bisa saling terbuka sebagai partner kerja. "Bukan. Ada banyak yang lain. Emma, Monica, Charlotte, Chloe dan ... aku lupa namanya siapa aja." Elio sengaja menggiring Sascha untuk lebih tertarik dengan pertanyaan kedua. Jangan sampai Sascha fokus pada pertanyaan pertama. Alasan sebenarnya Elio menikahi Sascha adalah sesuatu yang tidak mungkin dijawab dengan terang-terangan. Walau berusaha mengaburkan fakta, tapi Elio tetap ingin menjadi jujur. Dia hanya sekedar mengalihkan perhatian Sasha saja. Tidak ada niatan mengarang cerita dan Elio juga tidak mau berbohong pada Sascha. Bagi Elio, menutupi misi rahasianya tidak sama dengan dusta. Elio tetap akan menjawab semua pertanyaan Sascha. Dan supaya rahasia itu tetap tidak tersentuh, Elio dengan cerdas mengerucutkan percakapan mereka ke satu hal yang pasti akan Sascha minati. Wanita akan selalu bersemangat untuk membahas wanita lain. Elio tahu itu. Jadi, Elio lebih baik mengutarakan beberapa fakta mencengangkan tentang dirinya dengan para wanita yang mengejarnya. "Satu yang paling parah itu sepupu aku sendiri. Namanya Emma. Dia minta aku buat nikahin dia," lanjut Elio. "What? Terus gimana?" tanya Sascha antusias. "Dia sering nginep di rumah aku, dan aku nggak nyaman. Dia tau kalo aku nggak punya pacar, jadi dia selalu ngerasa kalo dia adalah wanita terdekat aku." "Terus?" Sascha semakin tampak antusias. Sesuai dugaan, Sascha seketika mengesampingkan sebuah kemungkinan tentang adanya alasan tersembunyi mengapa Elio menikahinya. Sascha berhasil digiring untuk meyakini bahwa niat Elio menikahinya adalah karena ingin terbebas dari wanita, terutama sepupunya. Sascha tidak lagi mengulang pertanyaan tentang apa alasan Elio sebenarnya. Dia berhasil ditarik untuk lebih banyak membahas tentang Emma. Lagipula ini masuk akal. Elio tampak sangat tertekan dan terganggu dengan keberadaan Emma. Jadi, Sascha menyimpulkan kalau alasan terbesar adalah Emma. "Emma baru lulus kuliah. Tadinya, dia kuliah di Milan. Terus bulan depan dia bilang kalo mau kerja di Napoli pindah ke Napoli," lanjut Elio. "Dan dia minta tinggal di rumah kamu?" tebak Sascha. "SÌ. Kalo kita nikah dan kamu tinggal sama aku, dia nggak mungkin berani ke rumah aku lagi," jawab Elio. Lelaki itu bercerita dengan jujur. Kisah tentang Emma ini memang benar adanya. Elio tidak merasa salah. Elio juga tidak merasa mencurangi Sascha. Dia hanya sedikit melakukan trik dengan membahas Emma untuk mengesampingkan fakta utama. Dan Elio berhasil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD