11. Capa Tosta

1870 Words
Hari-hari seperti berjalan dengan terlalu cepat. Semenjak keluarga Schneider menyatakan persetujuan atas pernikahan Elio dan Sascha, segala persiapan mulai dilakukan. Sascha juga sudah sempat berkunjung ke Milan menemui keluarga Elio, dan mereka semua cenderung tidak mau ikut campur. Kedua orang tua Elio dan adik lelakinya memilih untuk memberikan kebebasan. "Sampe selesai acara nikah nanti, jangan ketemu Allan dulu," ucap Elio. "Why?" "Berita pernikahan kita udah tersebar, Sha. Kita berdua lagi jadi spotlight. Jadi, jangan ceroboh." Kedua alis Sascha masih bertaut menampakkan wajah masam. "Aku udah janji mau ketemu dia minggu ini." "Batalin," pungkas Elio. "Ya nggak bisa gitu dong, El." Elio tetap tampak tidak peduli dengan segala bentuk protes yang Sascha layangkan. Baginya, semua ini Elio lakukan demi kebaikan mereka juga. Tak hanya keluarga Sascha dan Elio saja yang saat ini memperhatikan kebersamaan mereka berdua. Namun, juga sebagian warga Jerman dan Italia. Pernikahan mereka sangat menarik perhatian para pebisnis kalangan atas. Bagaimana tidak? Perusahaan Schneider dan perusahaan De Luca merupakan dua perusahaan super besar yang sama-sama bergerak di industri pariwisata. Mereka merajai bidang perhotelan, restoran, beberapa transportasi, event, dan pengembangan daerah pariwisata. Bersatunya dua pebisnis raksasa dari dua negara menjadi hal yang banyak diperbincangkan. Beberapa majalah bisnis juga ikut menerbitkan kabar pernikahan mereka. Beruntung, tak ada kabar kontroversial pada pernikahan keduanya. Media menyebut, dua manusia super power itu wajar-wajar saja jika bersatu. Sudah sewajarnya seorang raja menikahi ratu. "Emang kamu mau kalo ntar muncul berita 'Sascha Schneider pergi bersama lelaki lain ketika akan menikah dengan Elio De Luca'?" tanya Elio. "Ya enggak. Tapi kan kamu udah janji mau jamin hubungan aku sama Allan tetep aman," keluh Sascha "Iya, kalian bisa bebas ketemu di rumah aku kayak yang aku bilang dulu. Tapi setelah nikah. Bukan sekarang." Setelah mengatakan sederet kalimat itu, Elio lantas beranjak keluar dari mobil. Selama beberapa hari ini, mereka tengah sibuk bolak balik mengurus persiapan pernikahan. Walau sebenarnya malas dan lelah, tapi mau tak mau mereka memang harus kemana-mana berdua. "El!" pekik Sascha. Elio sudah terlebih dahulu melesat menuju sebuah gedung di pusat kota Berlin. Mereka sudah memiliki janji dengan pihak wedding planner yang mengurus semua detail acara. Hampir saja Sascha menampakkan raut kemarahan. Dia juga sudah bersiap membombardir Elio dengan sederet kalimat pembelaan lengkap dengan beberapa kata umpatan. Namun, Elio seketika mampu mengguyur api amarah pada diri Sascha hanya dengan satu tindakan. Setelah keluar dari mobil, Elio ternyata berputar menuju sisi mobil yang lain. Dia memasang senyum tipis sembari membukakan pintu untuk Sascha. Setelahnya, dia mengusap kepala Sascha sambil meraih tangannya dan memberikan satu kecupan. "Kita udah ditunggu. Jangan ngajak berantem dulu ya," lirih Elio. Sascha masih ingin marah, tapi pada akhirnya dia mengangguk. Walau begitu, Sascha tetap teguh pada keinginannya. Jujur saja, Sascha dan Allan sudah sangat saling merindukan. "El, tapi aku udah janji sama Allan." Kali ini Sascha berucap dengan kalimat lembut dan nada yang jauh lebih pelan. Elio masih diam. Dia lantas meraih pinggang Sascha agar berjalan di sisinya. Mereka sedang di tempat umum, dan sebisa mungkin, keduanya harus terlihat mesra sekalipun sebenarnya mereka sedang membahas lelaki lain yang Sascha cinta. "Allan nggak mungkin dateng di nikahan kita, El. Kamu bisa bayangin nggak perasaan dia beberapa hari ini? Dia lagi down banget. Aku harus ketemu dia, at least sekali sebelum kita nikah," lanjut Sascha. "Sejak awal, aku nggak pernah peduli sama Allan. Lagian, dia udah tau resikonya," balas Elio. Sascha merasa ada seberkas kecewa. Sebenarnya, Sascha juga paham kalau bertemu dengan Allan di waktu sekarang memang sangat riskan. Namun, Sascha merasa kekasihnya itu sudah cukup menderita, dan Sascha ingin menebus sedikit saja luka yang Allan rasakan. Sejak pagi tadi, Sascha terus membujuk Elio untuk membantunya agar bisa bertemu dengan Allan. Sascha ingin mengabulkan permintaan Allan yang terus mendesak akan pertemuan. Namun, sayangnya, Elio tetap tidak berubah pikiran. "El, aku harus ketemu dia. Kalo kamu nggak mau bantu, aku bisa sendiri," ucap Sascha. "Kenapa harus? Emangnya kalo nggak ketemu bisa bikin kalian mati?" Tangan Sascha yang sedang berpegangan pada lengan Elio langsung mendaratkan cubitan kencang. Kesal sekali rasanya. Terlalu sulit menjelaskan tentang perasaan kepada lelaki yang tidak pernah memiliki perasaan. Anehnya, Elio sama sekali tidak menampakkan sedikit pun wajah kesakitan. Wajahnya datar seperti biasa walau Sascha sudah mengeraskan tekanan pada jemarinya. "El," lirih Sascha. "Enggak." "Please." "Pokoknya enggak." "Ah, kamu emang nggak pernah bisa ngerti perasaan orang. Kamu kan nggak punya hati," gerutu Sascha. Elio seketika menghentikan langkahnya. Dia mendesahkan napas panjang, lalu menoleh ke arah Sascha. "Se-urgent apa sih emang? Kalian berdua bisa pertimbangin nggak dampaknya kalo kalian maksa ketemu. Resikonya terlalu besar, Sha. Please, jangan bodoh," ucap Elio tegas. "Iya, tapi —" "Tapi apa? Kamu kangen? Feeling guilty? Butuh ngobrol?" pungkas Elio. "Iya." "Kalian bisa chat, telepon, atau video call." Semenjak mereka sepakat menikah, Elio juga terlibat untuk membuat hubungan Sascha dan Allan tetap aman. Elio memberikan dua ponsel yang sudah diisi dengan identitas anonim sebagai sarana komunikasi khusus untuk Sascha dan Allan. Jadi, mereka berdua hanya bisa berkirim pesan dan melakukan panggilan melalui nomor rahasia. Sementara itu, nomor pribadi milik Sascha tidak boleh ada nama lelaki lain kecuali Elio. Lagi-lagi, Elio harus bersandiwara dengan sebaik mungkin. Pun harus menepati janji untuk menyembunyikan hubungan Sascha dan Allan dengan serapi mungkin. "El, seandainya kamu ngerti kalo virtual doang itu nggak cukup." Sascha masih saja membujuk walau mereka hampir sampai di ruang meeting. "Enggak, Sha." "Please. Aku sama Allan perlu ketemu langsung. Nggak cukup cuma sekedar telepon," balas Sascha Mendengar rengekan wanita di sebelahnya, Elio justru semakin memasang wajah kaku. Sekali tidak, maka seterusnya Elio akan tetap berkata tidak. "El, aku janji nggak akan ketahuan," ucap Sascha seraya sedikit menarik lengan jas milik Elio. "Enggak." "Elio, c'mon." "Capa tosta." Kali ini, Sascha tidak bisa lagi menyembunyikan raut cemberut. Sascha akui dirinya memang keras kepala. Namun, Elio juga tak kalah keras kepala. Dia tetap tidak mengalah sekalipun Sascha sudah memohon berkali-kali. "El, aku punya perhitungan dan pertimbangan sendiri," ucap Sascha. "Aku juga. Dan keputusanku tetep enggak. Dan kalo aku bilang enggak, berarti enggak. Kamu harus sama aku terus 24 jam." Sascha menahan napas, pun juga menahan langkah. Dia berhenti seraya beralih menatap wajah Elio. Selama beberapa detik, Sascha berhasil membuat pandangan mata mereka saling terkunci. "Kenapa sih, kamu selalu ambil keputusan sesuai sudut pandang kamu sendiri? Kenapa kamu nggak liat juga sudut pandang orang lain, sudut pandang aku?" tanya Sascha dengan suara yang mulai bergetar. Elio bungkam. Dia sibuk meneliti wajah Sascha yang sudah diliputi oleh jutaan emosi. "El, kamu selalu mikir kalau sudut pandang kamu itu yang paling bener, sementara orang lain salah. Why?" lanjut Sascha. Tidak. Itu tidak benar. Elio justru sangat memikirkan Sascha dan keamanan hubungan mereka. Bahkan, Elio sudah memperhitungkan permasalahan ini dengan sangat teliti. Hal besar yang menjadi pertimbangan Elio saat ini adalah sebuah fakta kalau sebenarnya mereka sedang dimata-matai. Pada jarak sekitar tiga puluh meter, seorang lelaki berkemeja putih dengan dasi hijau emerald tengah mengawasi Elio dan Sascha. Dia tampak seperti pelanggan yang lainnya. Membaur bersama karyawan, dan dia bahkan membawa seorang wanita layaknya pasangan yang sedang mencari informasi wedding planner. Penyamaran itu sungguh sempurna. Nyaris tidak ada yang menyadari hal ini, termasuk Sascha. Namun, Elio sudah hapal gerak-geriknya sejak awal. Well, Elio yakin seratus persen kalau itu adalah orang suruhan Nick Schneider. Mereka selalu menggunakan atribut hijau emerald di setiap penyamaran yang mereka lakukan. Elio tidak terkejut dengan keputusan Nick memata-matai anaknya sendiri. Walau sudah memberi restu, tapi Nick pasti ingin lebih meyakinkan diri kalau Sascha dan Elio memang serius atas pernikahan mereka. Nick juga pernah melakukan nikah kontrak bersama Jenna di awal pernikahan mereka. Jadi, mungkin ini adalah alasan mengapa Nick sedikit banyak masih menaruh rasa curiga. Kabar baiknya, kemampuan mata-mata Elio sudah berkali lipat lebih tinggi dibandingkan orang-orang Schneider. Ibarat kata, Elio adalah seorang profesional, sementara mereka hanyalah amatir. Walau begitu, Elio tetap memutuskan mengikuti permainan. Biar saja Nick menyebar orang-orang mereka hingga hari pernikahan tiba. Lagipula, Nick sama sekali tidak punya niat jahat. Nick hanya waspada. Elio anggap, ini adalah sebuah wujud perhatian ayah terhadap anak gadisnya. Sebenarnya, sejak beberapa hari yang lalu, Elio sudah tahu kalau Nick menerjunkan beberapa orang untuk mengikuti dirinya dan Sascha. Bahkan, sampai ketika mereka berdua pergi ke Italia. Namun, Elio sama sekali tidak berniat mengatakan hal ini kepada Sascha. Jika Sascha tahu, mungkin dia akan kesal dengan ayahnya. Elio tidak ingin hal ini terjadi. Selain itu, Elio juga ingin tetap menjaga identitas asli dirinya sendiri. Sascha pasti akan curiga jika Elio bisa tahu tentang keberadaan mata-mata Schneider. Trik, cara kerja, serta, ciri-ciri orang Schneider terkenal sangat rahasia. Hanya segelintir yang bisa tahu soal hal ini. Jika Sascha sampai tahu kalau Elio bisa menebak keberadaan mata-mata Schneider, maka Sascha pasti akan bertanya-tanya tentang siapa jati diri Elio sebenarnya. Dan Elio tidak mau hal itu terjadi. Jadi, alih-alih menjelaskan hal ini kepada Sascha, Elio lebih memilih untuk mengalah dan mengiyakan tuduhan Sascha. Biarlah wanita itu berpikir bahwa Elio adalah seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri. Asalkan semuanya tetap aman. "Kenapa kamu selalu ngerasa paling bener?" tanya Sascha lagi. "Kamu egois, El." "Iya. Aku egois." "Jangan bikin aku nyesel atas kesepakatan kita buat nikah, El." "Enggak, Sha," jawab Elio seraya menggelengkan kepala. Kedua mata Sascha sedikit sendu. Dia tidak menangis, tapi Elio bisa menebak seberapa besar emosi yang sedang Sascha tahan. Oh God! Di antara sederet tantangan, dua bola mata Sascha adalah satu-satunya hal yang paling bisa menyerang titik lemah Elio. "Ini nggak adil, El," lirih Sascha. "Ya udah, aku kasih kompensasi. Kamu pengen ke Iceland kan? Setelah selesai pesta pernikahan, kita bisa langsung terbang kesana. Dan kamu boleh ajak Allan. Aku sewa tempat private, jadi kalian bisa pacaran sepuasnya. Ok?" "Kamu becanda?" "Aku serius," tegas Elio. "Jangan khawatirin apapun, karena orang bakalan mikir kalo kita lagi honeymoon. Dan jangan khawatirin soal aku juga. Aku nggak minat buat ganggu kalian berdua." "You sure?" tanya Sascha masih tidak percaya. "Iya. Asalkan sekarang kamu mau dengerin aku. Jangan ketemu Allan sampe hari pernikahan. Ok?" "Ini artinya, aku boleh ajak Allan selama kita honeymoon?" tanya Sascha lagi. "Iya." "Kamu lebih gila dari aku, El." "Memang. Udah, pokoknya sekarang jangan ketemu Allan dulu. Ok?" ucap Elio. Sascha terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Matanya bulat dengan bibir yang dia lipat ke dalam. "Ok?" tanya Elio. Sascha masih mengunci mulutnya seraya terus menatap mata Elio. "Ok?" tanya Elio lagi. "Ok, tapi aku mau pas di Iceland nanti, aku beneran cuma sama Allan doang. Kamu nyari tempat lain kek, atau —" "Ok," pungkas Elio. "Terus aku mau di sana satu minggu." "Ok." "Terus aku nggak mau keluar biaya sedikit pun. Semua kamu yang bayar." Sascha terus bicara dan sengaja menambah daftar list permintaan. "Ok." "Terus aku mau milih sendiri tempat yang mau aku datengin," lanjut Sascha. "Ok." "Terus... ." Sascha menggantung kalimatnya. Dia mulai kehabisan kata-kata. "Terus aku mau ... ." "Ok." Sascha tersenyum. "Aku belum bilang, El." "Terus apa lagi?" "Terus... ," ucap Sascha sambil tersenyum jahil. "Terus aku mau liat senyum kamu. Coba ditarik bibirnya, El. Jangan kaku gitu jadi orang." Elio mendengus, lalu berbalik dan kembali berjalan. Akhirnya, Elio merasakan juga bagaimana rasanya menghadapi tuan putri yang manja. Sambil memijat pangkal hidung, Elio terus melangkahkan kaki. Tak peduli lagi dengan panggilan dari Sascha yang sedang asik menertawakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD