12. Wedding Kiss

1428 Words
Sebuah kastil yang berdiri sejak abad ke-18 menjadi tempat terselenggaranya pesta pernikahan Elio dan Sascha. Mereka berdua memilih bangunan serupa istana kuno dengan arsitektur memukau yang menjadi inspirasi film sleeping beauty. Pemilihan tempat ini sangat cocok dengan konsep pernikahan mereka yang mengusung tema royal wedding. Selama satu hari ini, Sascha menjelma bak putri raja, sementara Elio adalah pangerannya. Walau tidak sama persis seperti pernikahan para penghuni Britania Raya, tapi pesta hari ini sungguh dapat menyihir para tamu undangan yang datang. Sebanyak ribuan tamu hadir dari berbagai macam kota dari beberapa negara. Mayoritas dari mereka adalah warga Jerman dan Italia. Sisanya merupakan para rekan kerja dan kerabat dari beberapa penjuru Eropa, pun kerabat Sascha dari Indonesia. Sungguh, ini menjadi salah satu pesta pernikahan terbaik di tahun ini. Tak sia-sia para tamu datang jauh-jauh ke Jerman bagian ujung selatan. Para tamu dimanjakan oleh indahnya upacara sakral yang menjadi awal menyatunya dua insan dalam ikatan suci. "Sascha, sayang, anak Ibu," lirih Jenna seraya terus memeluk anak perempuannya. Rasa haru dan bahagia bercampur dengan perasaan asing lainnya. Jutaan harapan juga memenuhi benak Jenna. Tak semua bisa Jenna ungkapkan, tapi hal terpenting yang bisa dia katakan adalah semoga Sascha selalu bahagia. Melepas seorang anak gadis bersama lelaki tidak akan pernah terasa mudah. Jenna sampai tak henti menyeka air mata di detik-detik menjelang dimulainya acara. Walau sudah menata hati selama satu bulan ini, tapi nyatanya ketika hari ini tiba, Jenna tetap tidak bisa tidak menangis. "Ibu udah dong nangisnya, ntar Sascha ikut nangis," keluh Sascha yang masih tenggelam dalam pelukan Jenna. "Semoga ini awal kebahagiaan kamu, dan awal hidup kamu yang lebih baik," balas Jenna. "Iya, pasti. Elio baik, Elio juga sayang banget sama aku. Kami pasti bisa saling membahagiakan dan pasti bisa punya hidup yang lebih baik," jawab Sascha. Jenna mengangguk, lalu membiarkan Rich bergantian memeluk adik perempuannya. Lelaki itu tidak mengatakan apa-apa, tapi Sascha tahu kalau Rich juga merasakan apa yang Jenna rasa. Rich seolah kehilangan seorang adik, tapi juga bahagia karena Sascha sebentar lagi akan menyandang gelar istri. "Kak Feyra," ucap Sascha ketika kakak iparnya itu melangkah mendekat. "Kamu sebentar lagi bakal sering di Italy, tapi kita harus tetep keep in touch. Telpon aku, chat aku, kabarin aku kalo ada apa-apa." Feyra mengatakan hal itu seraya menyeka air mata Sascha menggunakan selembar tissue. "Pasti, Kak." Setelah tim make up kembali menyempurnakan riasan Sascha, Nick muncul dari arah pintu. Lelaki itu datang menggunakan tuksedo hitam dengan mawar putih di bagian saku. Setelah melempar sebuah senyuman, Nick lantas mendekat ke arah Sascha. "Sha," lirih Nick. Sascha mengangguk, tapi wajahnya tetap menunduk. Perlahan, Nick lantas mengulurkan tangan. Jemarinya menggenggam punggung tangan Sascha demi memberikan kekuatan. Nick tahu, anak gadisnya ini sedang sibuk menahan suasana hati yang berkecamuk. "Sascha, sayang, yuk keluar," ucap Nick. Sascha mengiyakan, tapi kepalanya masih belum terangkat. Jantung Sascha berdebar dengan luar biasa kencang. Sudah saatnya Nick mengantarnya langsung ke altar pernikahan. Namun, Sascha tetap merasa belum siap. Ini adalah hari besar bagi dirinya dan Elio. Hanya dalam hitungan menit dari sekarang, Sascha dan Elio akan segera berganti status. Mereka berdua akan menjadi suami istri, dan sumpah mereka di hadapan Tuhan adalah untuk sehidup semati. Sungguh, tidak pernah Sascha bayangkan kalau sebuah pernikahan ternyata terasa seberat ini. "You ok?" bisik Nick. "Deg degan, Pa. I'm nervous." "Peluk?" Sascha seketika mendongak dan menatap wajah ayahnya. "Iya." Walau alunan lagu sudah terdengar, tapi Nick masih menyempatkan diri untuk mendekap anak gadisnya. Dia tahu, hal ini akan berhasil membuat Sascha menjadi lebih baik. Sejak dulu, pelukan adalah sesuatu yang selalu Sascha butuhkan. "Udah siap?" bisik Nick seraya mengusap pelan rambut Sascha yang sudah tertutup oleh kain tipis berwarna putih. Sascha menarik napasnya dalam-dalam. Jika menunggu sampai benar-benar siap, maka Sascha tak tahu entah sampai kapan. Namun, sejauh suasana hatinya sudah menjadi lebih baik, maka sebaik-baik waktu adalah sekarang. "Udah, Pa," jawab Sascha. Langkah pendek dan pelan terayun seirama dengan iringan musik. Nick membawa langsung anak gadisnya untuk berjalan sebagai mempelai wanita. Sascha menggenggam lengan Nick dengan sangat kencang. Sementara Nick membalas dengan usapan pelan untuk meredam tubuh Sascha yang sedikit gemetar. Sepanjang Sascha melangkah, dia benar-benar tidak berani mengangkat pandangan. Walau kepalanya lurus ke depan, tapi matanya sama sekali enggan menatap Elio yang sedang berdiri di ujung ruangan. Sascha bahkan seperti ingin lari. Walau sudah sepakat sejak awal, tapi rasanya tetap seperti mimpi ketika Sascha harus menikah hanya berdasarkan perjanjian saling menguntungkan. Semakin dekat dengan posisi Elio berdiri, Sascha semakin mengeratkan jemarinya pada tangan Nick. Bahkan, ketika mereka sudah sampai di depan altar, Sascha seperti enggan terlepas dari ayahnya. Namun, tentu saja tidak bisa. Nick hanya mengantar sampai altar, lalu dia kembali duduk setelah menyerahkan Sascha pada Elio. "Kamu cantik," bisik Elio. "Cantik banget." "Hah?" Untuk pertama kalinya, Sascha akhirnya berani mendongakkan kepala dan menatap wajah Elio. Elio tersenyum, lalu mengulangi ucapannya sekali lagi. "Istri aku cantik banget." Sascha lantas meringis dengan canggung. Sudah kencang deru jantung Sascha, kini Elio justru membuat detaknya semakin tidak beraturan. Untung saja segala kecemasannya mulai mereda begitu acara sakral mereka dilangsungkan. Sumpah di hadapan Tuhan berlangsung dengan lancar dan penuh rasa haru. Semua orang tersenyum dan beberapa lainnya menangis karena bahagia. Namun, walau tampak seolah sedang tertawa, Elio dan Sascha kini sedang digandrungi oleh rasa bersalah luar biasa. Hanya mereka berdua yang tahu alasan sebenarnya mereka menikah. Walau acara ini berlangsung tanpa cela, tapi keduanya seperti sedang membohongi semua orang. Seperti sedang bermain-main dengan sumpah atas nama Tuhan. "Sha, kamu nggak papa?" bisik Elio. "Nggak tau." Ada rasa sesal yang teramat besar. Sascha tidak bisa menampik rasa ini. Hatinya pilu ketika menyadari bahwa Sascha telah melakukan kesalahan yang besar dan fatal. Nick, Jenna, Rich, Feyra, dan seluruh keluarga dan teman-temannya tampak bahagia atas pernikahan Elio dan Sascha. Namun, Sascha seolah sedang memberikan kebahagiaan yang palsu. Senyum yang semu. Terlebih, ini Sascha lakukan hanya untuk bisa leluasa bersatu dengan Allan, lelaki yang tidak mereka sukai. Ya Tuhan. Seketika, Sascha merasa menjadi manusia yang paling jahat sedunia. "Sascha," bisik Elio sekali lagi. Kedua tangan Sascha sudah berubah menjadi sangat dingin. Matanya berkaca menahan bendungan air mata. Tubuhnya juga seolah lemas. Kalau saja Sascha sedang tidak disaksikan oleh banyak orang, mungkin Sascha sudah memilih untuk tumbang. Namun, Sascha tercipta untuk selalu tampak kuat. Dia bisa tegak berdiri sekalipun jiwanya seperti hampir mati. "Liat aku, Sha," ucap Elio. Sascha menurut dan membiarkan matanya tenggelam dalam manik kehijauan milik suaminya. "Iya?" Elio segera menggenggam tangan Sascha dengan sangat erat. Walau tidak berhasil mengenyahkan segala resah dalam diri Sascha, tapi Elio ternyata berhasil sedikit memberikan Sascha kekuatan. "Aku pengen nangis, El," bisik Sascha. Mendengar hal itu, Elio langsung membawa Sascha dalam sebuah pelukan yang sangat dalam. Adegan ini tidak ada dalam script. Semua Elio lakukan secara spontan. "Aku kayak nggak kuat," bisik Sascha lagi. "Don't be, ada aku disini." Elio bisa merasakan betapa kacaunya diri Sascha. Walau hati Elio juga sedang tidak baik-baik saja, tapi Elio tetap ingin mencoba membuat Sascha agar mau membagi derita kepadanya. Melalui rengkuhan tangannya, Elio memberi tanda bahwa Sascha tidak sendiri menjalani semua ini. "Inget nggak waktu aku bilang kalo semua bakal baik-baik aja?" tanya Elio. Sascha mengangguk. Matanya yang berkaca lantas menatap lekat ke wajah Elio. "Aku serius. Semua bakal baik-baik aja. Aku yang jamin," lanjut Elio. Walau belum seutuhnya yakin, tapi Sascha memilih untuk lebih baik percaya. "Ok." Elio lantas tersenyum tipis dan tampak sangat manis. Beberapa detik, dia masih sempat mengusap kepala Sascha dan memeluk tubuhnya. Walau selama beberapa hari ini mereka seperti anjing dan kucing, tapi Sascha bisa merasakan bahwa kali ini, pelukan Elio benar-benar tulus. Sascha bisa merasa jauh lebih baik. Dia juga sudah bisa ikut menyunggingkan senyum di bibirnya yang merah muda. Jujur Sascha akui, dekapan Elio cukup bisa menenangkan dan mendamaikan. "Sha," bisik Elio ketika mereka saling melepas peluk. "Hmm?" "Should we kiss?" "What?" ucap Sascha balik bertanya. Elio kembali tersenyum. Gerakan di bibir dan bola matanya mampu menyadarkan Sascha bahwa mereka berdua tengah diperhatikan. Semua orang kini tengah menanti wedding kiss yang biasanya dilangsungkan setelah sumpah pernikahan. "Kalo nggak mau, nggak papa," ucap Elio. Sascha sedikit ragu. Dia ingin melewatkan detail satu ini, tapi yang ada justru sebaliknya. Kakinya bergerak mendekat ke arah Elio, dan kedua tangan mendarat di bagian pundak. Setelah sekian detik saling pandang, Sascha lantas memejam. Sascha membiarkan Elio mendaratkan bibirnya pada bibir Sascha di hadapan sekian banyak orang. Suara tepuk tangan dan teriakan saling bersahutan. Seharusnya ciuman ini tidak perlu berlangsung dengan terlalu lama. Namun, entah mengapa keduanya belum juga saling melepaskan. Dan entah mengapa, keduanya sama-sama merasakan bahwa ini adalah kali pertama dimana mereka bisa saling menikmati sebuah ciuman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD