Pernikahan Elio dan Sascha seperti mengadaptasi tema pernikahan keluarga kerajaan Inggris. Setelah melakukan upacara pernikahan, mereka melanjutkan pesta di sebuah kastil megah yang sudah dihadiri oleh ribuan tamu undangan.
Sepasang suami istri baru itu duduk bersisian di atas sebuah kereta kuda. Ada beberapa arak-arakan penari tradisional Jerman yang berbaris di belakang kereta pengantin. Selanjutnya, ada beberapa baris penari dengan baju khas Italia. Mereka akan membawakan tarian La Tarantella di akhir acara. Pernikahan ini sengaja mengusung dua tradisi sekaligus, Jerman dan Italia.
Berada tak jauh dari kereta pengantin, keluarga Schneider dan keluarga De Luca juga turut serta. Mereka turun di area halaman kastil, sementara Elio dan Sascha dibawa hingga ke depan gerbang utama.
"Bisa turun nggak?" tanya Elio ketika tiba giliran Sascha turun dari kereta.
"Susah, El."
Sascha sibuk mengatur ballgown putih yang dia kenakan. Langit Bavaria sore ini sangat terik. Gaun mengembang ala putri kerajaan itu sampai-sampai menampakkan kilau layaknya berlian. Tak ayal, tidak ada mata yang tidak tertuju ke arah Sascha.
Ada dua asisten yang membantu mengatur bagian bawah gaun. Mereka berdiri setengah menunduk di belakang Sascha. Sayangnya, walau sudah ada yang mengurus baju pengantinnya, Sascha tetap saja kesulitan melangkah dari pijakan kereta kuda.
Beberapa fotografer dan videografer berhasil menangkap betapa serasi pasangan pengantin baru mereka hari ini. Elio yang tengah menggunakan jas berwarna kombinasi hitam dan abu-abu berhasil tertangkap kamera sedang setengah memeluk Sascha yang dibalut gaun putih dengan lace super mewah.
"El," pekik Sascha ketika merasakan tubuhnya terangkat tiba-tiba.
Suara sorak sorai terdengar beriringan dengan teriakan dari Sascha. Para tamu seperti sedang melihat pernikahan yang ada di film romansa. Bagaimana tidak? Sang pengantin laki-laki sengaja menggendong tubuh istrinya demi bisa turun dari kereta kuda.
Bidik kamera serta kilat lampu tak henti mengabadikan momen langka ini. Elio tetap dengan senyumnya yang tampak hangat, sementara Sascha cenderung lebih tampak terkejut.
"Elio." Kali ini, Sascha lebih memilih berbisik dan menurunkan suara.
"Iya?"
Tubuh Sascha masih berada di atas dua lengan Elio yang tampak kuat dan liat. Lelaki itu sepertinya tidak sedikit pun merasa berat. Justru Sascha yang tampak sedikit gemetar karena terlampau canggung dengan aksi Elio yang sangat tiba-tiba.
"Kamu ngapain? Malu diliatin orang," bisik Sascha.
Elio tersenyum simpul. "Katanya susah turun dari kereta."
"Ya tapi nggak gini juga."
Tangan Sascha mengalung pada leher Elio. Mereka saling bicara dengan wajah yang berjarak kurang dari lima senti. Walau sedang berdebat, sebisa mungkin mereka tetap harus selalu menyunggingkan senyuman.
"Turunin, El," ucap Sascha.
Setelah kedua kaki Elio berhasil menapak tanah, dia segera menurunkan Sascha dan membantunya ikut memijak. Masih dalam keadaan saling memandang, Elio lantas kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Sascha. Jemarinya juga terulur mengusap pipi Sascha yang dingin ulah terpaan angin.
"El, hari ini kamu udah terlalu banyak melakukan kontak fisik," bisik Sascha.
"Cuma demi menyempurnakan sandiwara. Kamu nggak suka?"
"Apa harus seintens ini?"
Elio tersenyum. Orang-orang tidak sedikit pun mengalihkan pandangan dari mereka berdua. Namun, Elio seperti sengaja membuat kemesraan mereka berlangsung sedikit lebih lama.
"Menurutku, ini nggak intens sama sekali," jawab Elio sambil pura-pura membetulkan hiasan rambut di kepala Sascha.
Sascha diam mematung. Matanya masih tercengang melihat senyum Elio yang tak lagi sinis, justru cenderung manis.
"Intens itu, kalo tiba-tiba sekarang aku ... ," bisik Elio yang sengaja mendekatkan bibirnya ke sisi wajah Sascha. "Cium bibir kamu."
Napas hangat Elio terasa di pipi, telinga, hingga leher Sascha. Sebenarnya, otak Sascha sudah menyuruh tubuhnya agar bergerak menghindar. Namun, sialnya, yang Sascha bisa lakukan saat ini hanyalah diam. Bahkan, Sascha sampai rela tak bernapas. Jantung adalah satu-satunya bagian tubuh yang justru bergerak dengan beringas.
Sascha pikir, Elio benar-benar akan mendaratkan lagi bibirnya di hadapan semua orang. Namun, ternyata tidak. Lelaki itu hanya mendekat ke telinga, menyapu permukaan kulit Sascha dengan embusan napas hangat yang membuat tubuh Sascha meremang, lalu melanjutkannya dengan sebuah bisikan pelan.
"Tapi aku nggak mau melakukan itu, Sha. Kita nggak seharusnya se-intens ini, kan?"
"Iya," tegas Sascha singkat.
"Tapi kayaknya kalo cium kepala sah-sah aja," balas Elio. Tanpa izin, tanpa menunggu jawaban dari Sascha, Elio segera memberi sebuah kecupan ringan.
Sascha berkedip cepat seraya sekuat tenaga menelan saliva. Apa yang Elio lakukan baru saja cukup membuat tenggorokan Sascha tercekat. Damn! Lelaki ini selalu di luar prediksi. Sebentar-sebentar dingin, terkadang jahat, sesekali manis dan romantis, dan ternyata Elio juga bisa bersikap agresif.
Riuh suara tamu kembali terdengar seiring dengan lampu flash kamera yang tak henti menyorot ke arah mereka berdua. Rasanya ingin memaki lelaki di sebelahnya, tapi yang Sascha bisa lakukan hanya menunduk dan pura-pura membenarkan gaun yang sudah benar.
"Sha," panggil Elio.
"Hmm."
"Pengantin itu kalo jalan biasanya gandengan tangan," ucap Elio seraya memberi isyarat agar tangan Sascha berpegangan pada lengannya.
Sascha mendongak dan sedikit terbengong memandang senyum Elio yang hari ini tampak berbeda. Detik selanjutnya, Sascha mengangguk dan mengiyakan. Sambil mengayunkan langkah pertama, Sascha menuruti ucapan Elio dengan melilitkan tangan pada lengannya.
"Good," ucap Elio. "Kita lagi disorot kamera, Sha. Aku pikir, kamu bakal keliatan lebih cantik kalo kamu senyum."
Sascha menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke depan dengan senyum yang sudah mengembang.
Ah, sial! Apa yang telah Elio lakukan padanya? Lagi-lagi, Sascha benar-benar seperti tersihir oleh apa yang Elio ucapkan. Mengapa tubuh Sascha semudah itu menuruti oleh ucapan Elio? Sascha sampai seperti kesulitan mengendalikan dirinya sendiri.
"Ini bakal jadi hari yang panjang. Semoga kamu nggak kecapekan," ucap Elio kemudian.
Kali ini, Sascha memilih untuk tidak menanggapi. Dia hanya berdehem kecil, lalu mengangguk.
Sepanjang pesta pernikahan berlangsung, keduanya hampir tidak pernah tidak tersenyum. Semua tamu yang datang sudah turut berbahagia, jadi mereka harus terlihat lebih bahagia.
Tamu undangan silih berganti memberi selamat dengan antusiasme yang tinggi. Mayoritas yang datang adalah rekan bisnis Sascha dan Elio. Namun, setelah Sascha amati, ternyata ada juga tamu dari jajaran pemerintah Italia.
"Kamu kenal mereka?" tanya Sascha yang sedang menatap janggal.
"Iya."
Dahi Sascha mengernyit. Sedikit aneh mendapati kedekatan Elio dengan beberapa orang berpangkat tinggi di negaranya. Namun, Sascha tidak sempat memikirkan tentang satu kemungkinan seperti fakta bahwa suaminya adalah seorang agen rahasia yang bekerja untuk negara. Sascha justru berasumsi positif tentang betapa hebat Elio yang memiliki relasi bisnis yang sedemikian kuat.
"Selamat, El," ucap Henry.
"Grazie."
"Gimana?" tanya Henry. Walau hanya satu pertanyaan singkat, tapi ini sudah mewakili berbagai macam pertanyaan mengenai kemajuan penyelidikan Elio terhadap Peter Schneider.
"Perfetto," jawab Elio.
"Tetap berhati-hati, El."
Elio mengangguk lalu menyambut uluran tangan atasannya di badan intelejensi. Tanpa ada obrolan selanjutnya, Elio lantas membawa Sascha mendekat lalu mengenalkannya kepada Henry secara resmi. Mereka harus saling bicara agar Sascha tidak curiga.
"Sha, ini Henry, temen aku. Dia suka bantu bisnis perusahaan aku. Pokoknya semua yang berkaitan sama perizinan, pemerintahan, semua Henry yang urus," terang Elio tanpa disuruh. Tentu Elio melakukan ini bukan tanpa tujuan. Ini semua demi mengaburkan pekerjaan Elio yang sebenarnya.
"Henry, ini Sascha. Mia moglie," ucap Elio kepada Henry.
Henry dan Sascha sempat saling berbasa-basi. Mereka mengobrol ala kadarnya, dan beruntung Sascha sama sekali tidak curiga. Sascha tentu tidak tahu kalau kedatangan Henry kesini adalah untuk melihat langsung perkembangan penyelidikan Elio.
Setelah sekitar sepuluh menit mereka saling bicara, Elio dan Sascha lantas berpindah ke area taman untuk menyapa beberapa tamu yang lain. Ini cukup melelahkan, tapi mau tak mau harus mereka lakukan.
Sambil menemui beberapa rekan kerja Sascha, Elio sedikit mencuri pandang ke arah yang lain. Dia meneliti satu persatu keluarga Schneider yang tengah berkumpul. Walau tidak pernah bertemu dengan mereka secara langsung, tapi Elio sudah menghapalkan semua profil anak keturunan Peter. Misinya sudah harus mulai dijalankan, dan Elio harus segera mencari banyak informasi tentang Peter.
"Papamu 3 bersaudara?" tanya Elio basa-basi.
"Iya. Papa anak pertama. Dia punya dua adik tiri," jawab Sascha seraya menunjuk ke arah dua wanita paruh baya yang sedang berkumpul dengan keluarga mereka. "Yang itu, El. Tante Nora sama Tante Mia. Mereka kembar."
Elio menyimak setiap penjelasan dari Sascha. Istrinya itu cukup bersemangat ketika mengenalkan satu per satu anggota keluarga mereka. Termasuk, siapa saja saudara sepupunya.
Tidak ada satu pun anggota keluarga yang alpa. Sascha menyebut semua nama termasuk Peter Schneider, anak tunggal dari John Schneider.
"Nama kakek kamu udah dikenal banyak pebisnis," puji Elio.
"Iya, terutama opa buyut aku, John Schneider."
"Aku penasaran sama kakek kamu, Peter Schneider," timpal Elio.
"Aku nggak tau banyak soal dia, El. Dia meninggal waktu aku masih kecil. Terus sepuluh tahun lalu, rumah dia dijual, karena nggak dipake. Aset dari Opa yang sengaja disisain cuma mansion yang di Baden-Baden," terang Sascha.
"Dan malem ini kita kesana?"
"Iya. Itu tempat kumpul kita kalo keluarga besar aku lagi pada di Jerman semua."
Elio mengangguk puas. Mansion milik John Schneider adalah tempat yang sejak dulu menjadi target para agen rahasia dari Italia. Sejak rumah Peter dijual, segala barang peninggalannya dipindahkan ke Baden-Baden. Berkas rahasia dan dokumen kerja milik Peter dipastikan juga ada di mansion itu.
Tujuan utama para agen rahasia adalah menemukan petunjuk apapun tentang rekam jejak Peter Schneider. Mereka butuh terjun langsung ke mansion super megah milik John itu. Sialnya, semua agen rahasia yang dulu pernah diturunkan, tidak ada satupun yang berhasil masuk mansion itu.
Elio adalah agen pertama yang berhasil menembus pertahanan Schneider. Ini adalah kesempatan emas bagi Elio, dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.
"Sha, kita mau berapa hari di Baden-Baden?" tanya Elio.
"Dua malem. Kan kita mau ke Iceland. Kamu udah janji mau bawa aku kesana."
"Iya, tapi kayaknya aku masih butuh istirahat. Kamu tau sendiri sebulan ini kita ribet banget. Gimana kalo tiga malem?" ucap Elio.
Menelusuri jejak Peter tidak akan mudah. Elio tahu itu, dan demi melancarkan aksinya, Elio sepertinya harus tinggal di sana sedikit lebih lama.
"Kalo tambah satu hari di Baden-Baden, berarti ntar di Iceland tambah satu minggu," timpal Sascha dengan senyum lebarnya.
Mata Elio memicing mendengar penawaran Sascha yang memang sangat mirip dengan negosiasi para pebisnis. Ini tidak adil. Dua minggu di Iceland sebenarnya terlalu lama. Namun, Elio merasa harus bersikap baik kepada Sascha. Dia sudah diberi peluang besar untuk tinggal tiga hari di mansion milik John, jadi tidak ada alasan Elio untuk menolak permintaan Sascha.
"Ok. Deal," jawab Elio.