14. Malam Pertama

1718 Words
Sascha sedang melepas sendiri aksesoris di rambutnya. Ini sudah dini hari, tapi tubuhnya masih dibalut gaun pernikahan. Sebenarnya, pesta sudah berakhir sejak pukul sepuluh malam. Namun, seperti biasa, para anak muda masih saja berkumpul hingga pukul dua. Dansa, obrolan ringan, dan berbagai botol minuman adalah kombinasi yang selalu mampu membuat mereka terjaga hingga pagi. "Mau aku bantu?" tanya Elio yang baru saja selesai mandi. "Enggak. Kamu mabuk." Elio berdecih. "Aku nggak mungkin mabuk cuma gara-gara sebotol wine." Sascha menanggapi dengan tawa kecil. Memang tidak bisa dipungkiri kalau orang Italia terkenal sebagai peminum yang baik. Bahkan, wine dari Italia juga merupakan salah satu wine terbaik di seluruh dunia. Jelas saja, akan selaras dengan para penghuninya. "Sini," ucap Elio singkat seraya berjalan mendekat. Walau dengan raut tanpa ekspresi dan tidak ramah sama sekali, Elio tetap membantu Sascha melepaskan headpiece dari rambut. Jemarinya bergerak dengan sangat lembut. Elio bahkan menahan beberapa helai rambut dengan tangan kiri ketika tangan kanannya menarik headpiece. Tujuannya, apalagi kalau bukan agar Sascha tidak merasa sakit karena rambutnya tertarik. "Grazie," ucap Sascha lirih. Elio tidak menjawab. Dia hanya berbalik, lalu sibuk menyugar rambut basahnya dengan jemari tangan. Seperti biasa, jika sudah tidak di hadapan orang lain, Elio akan kembali bersikap dingin seperti ini. But, wait. Ada yang berbeda dengan Elio malam ini. Entah sadar atau tidak, Elio dengan sukarela mau memberikan bantuan pada Sascha. Walau tidak terlalu kentara, tapi Elio menjadi sedikit lebih baik. Lelaki itu juga tidak sungkan menunjukkan perhatian. Sascha pikir, hanya cukup sampai disini saja perbedaan pada diri Elio. Namun, ternyata, Elio juga melalukan hal lain untuknya. Ketika Sascha masuk ke dalam kamar mandi, Elio ternyata sudah menyiapkan air hangat dalam bathtub. Tak lupa, Elio juga menambahkan bath bomb berwarna ungu. Satu lagi, ada pula lilin lavender yang sepertinya baru saja dinyalakan. Sascha tersenyum simpul. Ini sedikit menggelikan, tapi entah mengapa, Sascha sangat suka. Bath bomb dan lilin yang ada di hadapannya memanglah favoritnya. "El," panggil Sascha yang memutuskan keluar lagi dari kamar mandi. "Hmm." Elio tampak sedang berbaring dengan mata tertutup. Tubuhnya terlentang dengan kedua tangan yang dilipat di bawah kepala. Sudah tersedia bantal empuk, tapi Elio memilih tidur di atas tangannya sendiri. "Itu air di bathtub kamu siapin buat aku?" Perlahan, kelopak mata Elio terbuka. Dia lantas menoleh ke arah Sascha. Masih dengan wajahnya yang datar, Elio lantas menjawab, "Emang ada orang lain di kamar ini selain kamu?" Sebenarnya, Sascha cukup kesal dengan jawaban sinis yang Elio lontarkan. Namun, tak ayal senyumnya tetap mengembang. Sascha sudah hapal bagaimana cara Elio bersikap dan berucap. Lelaki satu itu memang tidak pernah ramah. Namun, Sascha akui malam ini suaminya itu menjadi sedikit lebih manis. "Grazie, mio marito," balas Sascha. Mendengar sebutan 'suami' dari mulut Sascha, Elio lantas mendelik. Alisnya bertaut dengan dahi yang mengernyit. Giginya juga sedikit meringis seperti sengaja menampakkan raut jijik. "Kenapa mukanya gitu amat?" tanya Sascha sambil menahan tawa. "Geli banget, Sha." "Ya kan kamu emang suami aku," balas Sascha dengan ekspresi jahil yang sengaja dibuat-buat. "Dah sana mandi." Elio berucap sembari memiringkan badan memunggungi Sascha. Matanya sudah berat, dan Elio ingin segera beristirahat. Tak mau menanggapi candaan Sascha yang hanya akan membuang tenaga. "SÌ, mio marito," balas Sascha. Elio tidak menjawab. Dia hanya menggerakkan lengannya ke atas demi bisa menutup telinga. Elio benar-benar merasa geli ketika dipanggil dengan sebutan suami. Sascha sempat tertawa melihat respon suaminya. Ingin kembali menggoda, tapi sepertinya lebih baik Sascha segera mandi. Tubuhnya sudah menuntut untuk segera melakukan relaksasi. Berendam sejenak di dalam air hangat adalah pilihan yang tepat. Rasanya baru sekejap Sascha terlelap. Tak sengaja matanya memejam dalam keadaan tubuh yang masih terendam. Namun, ketika Sascha menilik jarum jam, baru dia sadari kalau ternyata dia sudah tertidur selama sekitar lima puluh menit. Lilin berwarna ungu tinggal sisa separuh. Sascha buru-buru membilas tubuh lalu menyambar bathrobe yang ternyata juga sudah Elio siapkan. Beruntung, Sascha tidak membasahi rambutnya. Jadi, dia hanya perlu untuk segera berganti baju tanpa repot-repot mengeringkan rambut. Secepat mungkin, Sascha ingin segera melanjutkan tidur lelapnya. "Damn!" lirih Sascha ketika keluar dari kamar mandi. Niat hati, Sascha ingin segera merebah dan pergi ke alam mimpi. Sialnya, keinginannya tidak bisa langsung dia wujudkan. Ada seonggok manusia yang seenaknya terlelap di atas ranjang. Elio tampak sudah sangat nyenyak. Sebenarnya tidak tega jika harus membangunkan dan mengusir lelaki satu itu, tapi Sascha juga butuh tidur. Jujur saja, dia sudah sangat mengantuk. "El," panggil Sascha seraya menepuk lengan Elio. Karena tak mendapat jawaban, Sascha lantas mengulangi lagi panggilan itu dengan tepukan yang sedikit lebih kencang. "Hmm." Elio hanya bergumam. Tidak bergerak, tidak pula membuka matanya. "Pindah ke sofa sana. Aku mau tidur," ucap Sascha. Elio tidak merespon sama sekali. Dia justru melanjutkan tidurnya dengan embusan napas yang sangat teratur. "Elio, bangun," ucap Sascha dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Kini, tangannya tampak menggoyangkan tubuh Elio dari lengan hingga pundak. "Apa si, Sha?" Elio sudah menjawab, tapi matanya masih terpejam sempurna. "Aku mau tidur." Elio lantas sedikit bergeser ke sisi kiri. Setelahnya, tangannya terulur ke samping sambil menepuk bagian kosong di sebelahnya. Walau tanpa kata, Sascha sudah paham kalau maksud Elio adalah untuk menyuruhnya tidur di sisi ranjang sebelah kanan. "Nggak mau. Kamu pindah aja ke sofa. Biasanya juga gitu," gerutu Sascha. "Sofa kamu yang ini kecil. Aku capek banget, Sha. Santai aja, nggak akan ada apa-apa. Aku cuma mau tidur." "Pokoknya nggak mau." Elio masih tidak merespon ucapan Sascha. Dia benar-benar tampak lelah dan tak ada lagi daya untuk sekedar berpindah ke sofa. "El." Sascha masih berkeras hati membangunkan Elio. Sayangnya, lelaki itu memilih tetap abai. "Elio." Kali ini, Sascha terang-terangan menarik selimut yang sebelumnya menggulung tubuh Elio. Namun, betapa menyebalkannya ketika Elio tetap tidak tampak terganggu. Lelaki itu masih saja ingin melanjutkan tidurnya. "El!" bentak Sascha dengan suara yang cukup kencang. Mendengar Sascha memekik, Elio akhirnya membuka mata. Kedua manik hijau Elio lantas memicing ke arah Sascha. Matanya sedikit memerah menahan kantuk. Namun, sorotnya tetap terlihat sangat tajam. Elio tidak bicara. Diam. Bisu. Beku. Detik selanjutnya dia segera bangun dan beranjak menjauh dari tempat tidur. Sascha sempat terpaku melihat reaksi Elio yang seperti ini. Ada rasa bersalah yang menyeruak di setiap sudut hati. Walau begitu, Sascha tetap memilih pura-pura tak peduli. Tanpa sedikit pun menoleh ke arah Elio, Sascha lantas berbaring. Sebenarnya, tetap saja ada rasa tidak tega. Sascha tak masalah jika harus satu ranjang bersama suaminya. Lagipula, Sascha yakin kalau Elio memang tidak akan melakukan apa-apa. Namun, sekelebat bayangan Allan membuat Sascha harus menyuruh Elio pergi. Sejak sepakat menikah dengan Elio, Allan sudah mewanti-wanti agar jangan sampai Sascha tidur bersama Elio. Walau harus tinggal bersama, tapi Allan melarang keras Sascha untuk berada satu ranjang bersama Elio. Jadi, Sascha ingin memegang teguh komitmen dan janjinya pada lelaki yang sangat dia cinta. "Maaf, El," lirih Sascha dengan sangat pelan. Bahkan, mungkin hanya bisa terdengar oleh dirinya sendiri. Biasanya, Sascha akan segera tidur setelah membiarkan Elio tergolek di atas sofa. Sialnya, malam ini berbeda. Ada geliat asing dalam hatinya yang membuat Sascha menjadi tidak tenang. Sascha tidak bisa mendefinisikan seperti apa perasaannya, yang pasti, dia merasa sangat bersalah. Sekuat tenaga Sascha mencoba terlelap, tapi rasa kantuknya mendadak hilang. Beberapa menit, dia sempat berhasil tidur. Namun, tak sampai setengah jam, Sascha kembali terbangun. Ah, sial! Sascha menjadi berkali lipat tidak tenang. Sascha yakin, kali ini dia pasti gagal terlelap lagi. Walau matanya masih memejam, tapi benak Sascha sudah penuh dengan segala sesuatu tentang Elio. Dia ingat betul bagaimana wajah kesal Elio ketika Sascha menyuruhnya bangun dengan paksa. Bahkan, Sascha masih ingat jelas bagaimana ekspresi Elio yang tampak lelah, kusut, dan kuyu. Sejenak, Sascha mulai menimbang. Sepertinya, malam ini dia akan sedikit melanggar janjinya kepada Allan. Hanya untuk kali ini saja, Sascha ingin membiarkan Elio tidur bersamanya. Jika terus membiarkan Elio merebah di atas sofa, Sascha yakin kalau dirinya tidak akan bisa tenang. Sascha tidak mungkin tidur dengan kondisi hati yang berkecamuk seperti ini. Maaf, Lan. Untuk kali ini aja, batin Sascha. Sascha meyakinkan diri kalau ini bukan suatu hal yang salah. Tidak ada niat apapun pada diri Sascha ketika dia hendak meminta Elio untuk kembali ke ranjangnya. Hati Sascha hanya sedikit tersentuh. Itu saja. Setelah menarik napasnya dalam-dalam, Sascha lantas bangkit dan berbalik. Dia berniat untuk menyuruh Elio agar lebih baik istirahat bersamanya. Namun, ketika kedua mata Sascha memindai ke arah sofa, ternyata dia tidak mendapati siapa-siapa. Sofa di hadapannya kosong. Sascha segera turun dari ranjang untuk meneliti seisi ruang. Sayangnya, Sascha tetap tidak menemukan Elio dimana-mana. Kamar mandi dalam keadaan sepi, sedangkan pintu balkon juga masih terkunci. Setelah memastikan kalau dirinya hanya sendirian, barulah Sascha yakin kalau Elio benar-benar tak lagi ada di kamarnya. Suasana hati Sascha menjadi semakin berantakan. Berbagai macam pemikiran muncul di benaknya. Satu yang paling Sascha yakini adalah kemungkinan bahwa Elio marah padanya. Jujur saja, Sascha sedikit merasa takut. Walau terkenal jahat dan dingin, tapi Elio hampir tidak pernah marah pada Sascha. Bahkan, ketika Sascha bertingkah sangat menyebalkan, Elio tetap masih tampak sabar. Namun, malam ini, apakah lelaki itu benar-benar marah? Semarah apa sampai-sampai Elio keluar dari kamar tanpa sepengetahuan Sascha? Atau mungkin Elio punya niat dan alasan lain? Perasaan bersalah menyeruak di hati Sascha. Sejak siang hingga malam, Elio sudah bersikap sangat baik padanya. Namun, Sascha merasa dirinya membuat Elio kecewa. Walau pernikahan mereka bukan atas dasar cinta, tapi tetap terasa aneh ketika Elio pergi begitu saja di malam pertama. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Elio, Sascha tidak tahu. Dia juga tak mau menerka dan menduga. Sascha hanya berpikir kalau sekarang Sascha harus mencari Elio dan membawanya kembali ke dalam kamar. Keluarganya pasti akan curiga jika melihat Elio tidak ada di kamarnya. Secepat kilat, Sascha segera menggunakan kimono satin lalu membuat ikatan asal di bagian tali pinggang. Sambil mengikat rambut, Sascha lantas keluar. Dia berharap, Elio berada tak jauh dari kamar khusus pengantin. Namun, di sepanjang koridor kamarnya, kamar Rich, dan di sekitar kamar milik keluarganya, Sascha tetap tidak melihat Elio. Bahkan, hingga Sascha turun ke lantai satu, Elio tetap tidak ada. Lampu di hampir semua ruangan mansion ini sudah padam. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Sascha tidak tahu harus berjalan kemana, tapi kakinya tetap melangkah ke segala arah. Sascha sudah mencari Elio hingga dapur dan area sunroom yang dekat dengan taman. Ruang makan yang bersisian dengan pintu kaca dekat kolam renang juga tak lupa Sascha telusuri. Namun, Sascha tetap tidak melihat siapa-siapa. Elio menghilang entah kemana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD