AUTHOR POV
Mereka semua sampai di Apartement milik Bryan. Charlie duluan memasuki dan mencari tempat yang bisa membuatnya tidur. Jasmine & Hugo berjalan ke ruang tengah dan merebahkan badannya ke atas sofa besar yang empuk milik Bryan. Sedangkan, Bryan tidak tega membangunkan Reina yang sedang tidur di pundak besar miliknya.
"Reina... bangunlah. Kita sudah sampai" ucap Bryan pelan karna tidak ingin membuat Reina kaget dengan suara berat miliknya.
"Aaahh... yah. Sorry, Aku sangat lelah" Jawab Reina dengan nada lembut dan masih terasa ngantuk.
"Kau boleh tidur di kamarku, masuklah ke dalam" Pinta Bryan.
"Tidak usah, Bryan. Aku akan di ruang tengah bersama Hugo & Jasmine, Aku pikir disana masih ada tempat untukku" Jawab Reina kembali sambil menguap dan berjalan.
Bryan yang mengetahui kalau sofa miliknya itu memang sangatlah besar membuatnya berlari mendeluani Reina yang berjalan pelan, sesampainnya Bryan membuat posisi tidur Hugo & Jasmine semakin luas sehingga tidak ada tempat lagi buat Reina. Otak licik Bryan mulai bekerja semenjak ciuman erotisnya tadi bersama Reina.
Reina yang baru sampai diruang tengah melihat Hugo & Jasmine sedang lelap dan tidak ada tempat baginya lagi untuk berbaring. Reina yang sangat mengantuk berjalan menuju kamar Bryan mengingat tadi Bryan menyuruhnya tidur di kamarnya. Bryan yang melihat Reina berjalan dengan cepat berlari dan menaiki tempat tidurnya seolah-olah dia akan tidur, menarik perlahan selimutnya sehingga waktunya pas saat Reina tiba.
----
BRYAN POV
"Bryan...? Apa kau sudah tidur?" Ucap Reina dengan nada serak yang mengantuk.
"Ada apa Reina?" Jawabku dengan menegaskan suara kantukku.
"Aku pikir Hugo & Jasmine tidak memberikanku tempat" Lanjut Reina.
"Ohyaaa.. jadi kau mau tidur disini?" Tanyaku. "Baiklah.. silahkan. Biar Aku mencari tempat yang lain" Lanjutku yang berharap dia mengatakan kalau kita tidak apa-apa berdua dalam kamar ini.
"Oh tidak perlu Bryan, kau bisa tetap disini. Aku tidak apa-apa bila kita seranjang, lagi pula jika kau berani macam-macam padaku Aku akan membunuhmu" Jawab Reina dengan tertawa kecil memperlihatkan matanya yang sudah sangat mengantuk.
Reina berjalan mendekatiku yang sudah berada posisi di dalam selimut sutra putih lembut milikku. Aku melihatnya sudah tertidur lelah, Aku semakin mendekat melihat wajah cantik miliknya. Bulu mata yang lentik, hidungnya yang kecil dan bibir merahnya yang tadi sudah Aku cium. "Apakah Aku harus melakukannya lagi seperti di rumah Jasmine kemarin?" Fikiran kotorku pun mulai berdatangan. Aku harap, Aku bisa mengendalikan nafsuku yang saat ini sudah hampir memuncak. Reina yang sementara tidur berbalik ke arahku dan semakin dekat di dadaku, nafasnya yang sangat terasa membuatku semakin menggila. "Aku harus menahan diri" ucapku dalam hati, "Tahan Bryan.. tahan... tahan... kau pasti bisa" yakinku lagi.
Pagi telah tiba, posisi Reina masih sama seperti semalam berada dekat di dadaku. Reina yang perlahan-lahan membuka matanya dan langsung tertuju ke dadaku tepatnya di depan Tatto yang baru Aku buat sebulan yang lalu.
"Haii... pagi, Bryan" Jawabnya dengan suara yang masih parau di pagi hari.
Mendengar suaranya saja sudah membuatku menegang lagi.
"Sesuai perkataanmu, Aku tidak melakukan apa-apa semalam denganmu Ms. Mondley" Ucapku dengan membuat senyum tipis di wajahku.
"Yaaahh... Aku rasa begitu" jawabnya sambil berbalik ke arah berlawanan dariku tapi posisi kami masih ada di ranjang yang sama.
"But, Reina. Bolehkah Aku mencium keningmu sebagai tanda terima kasih kau telah mempercayaiku yang tidak akan berbuat apa-apa kepadamu semalam" Jawab dengan sedikit ragu takut dia akan tersinggung dengan kata-kataku.
Aku sangat berharap Reina mengatakan 'Iya'. Reina berbalik menatap ku kembali dan mendekatkan wajahnya tepat di bawah wajahku yang mengartikannya 'Yah... silahkan'. Dengan lembut Aku mencium keningnya dan Aku tak bisa menyembunyikan senyuman bahagiaku.
"Apakah itu sudah cukup buatmu, Bryan?" Tanya Reina yang masih berada di posisi yang tadi.
"Ehhhmmm... yaaahh. Aku pikir itu sudah cukup membuat hatiku menjadi tenang" Jawabku yang menatap mata hazel dengan bulu mata lentik miliknya.
Tapi, seketika juga sebuah bibir mendarat kembali ke bibirku. Dan itu adalah bibir Reina.
"Tapi, itu belum cukup membuat hatiku tenang" Ucapnya tersenyum memperlihatkan ku senyumannya yang indah di pagi hari sambil berjalan keluar meninggalkanku.
*****