"Apakah kau sengaja menggodaku dengan membuka kancing bagian atas kemeja ini?" Lanjutku.
Dia yang terpaku akibat ulahku hanya diam dan menikmatinya. Aku sudah begitu dekat dengannya, sedikit lagi Aku bisa mencium bibir lembutnya. Tapi dia malam meninju perutku dan berjalan meninggalkanku.
Oh God!!! I Need Her!!! Ucapku teriak dalam hati.
AUTHOR POV
Reina salah tingkah setelah kejadian yang canggung terhadap dirinya dan Bryan. Dia menuju dapur dan mencari air minum untuk menenangkan pikirannya. Dia berjalan melewati ruang tamu Apartement milik Bryan. Tapi Reina terhenti karna sekilas melihat seseorang yang dia kenal berada di ruang tamu itu. Reina sangat kaget melihat Jasmine yang saat itu sedang berciuman dengan Hugo.
Mata Reina melotot dan menutup mulutnya agar tidak berteriak!! Tapi posisi Hugo yang mencium Jasmine tepat berada di depan Reina, dan sekilas Hugo melihat Reina sedang berlari kembali menuju kamar yang tadi ia tempati.
Reina membatalkan niatnya untuk ke dapur dan berlari menuju kamar Bryan. Reina sangat tergesa-gesa karna kaget melihat hal sahabatnya berciuman dengan Hugo.
"Aaauwww..." Teriak Reina saat menabrak sesuatu yang keras dan basah.
Reina menabrak Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Bryan yang masih mengenakan handuk putih di pinggangnya, memperlihatkan tubuhnya yang berotot dan di penuhi tatto, rambut yang masih setengah basah, dan rintik-rintik air itu membasahi d**a milik Bryan.
"Astaga... apa ini?" Ucap Reina dalam hati yang membuatnya sangat gugup.
Posisi Reina dan Bryan saat ini adalah sedang berpelukan, karna Reina yang berlari menabrak tubuh keras milik Bryan hampir terjatuh tapi dengan tangan yang berotot Bryan memegangi pinggang Reina agar tidak terjatuh. Reina & Bryan saling bertatapan dengan posisi canggung. Air dari rambut Bryan, berjatuhan membasahi kemeja putih miliknya yang sedang di pakai oleh Reina dan itu membuat kemejanya tampak transparan menujukkan bra milik Reina. Reina tidak berkutik hanya menatap mata hitam pekat milik Bryan. Sama dengan Bryan, dia pun terpaku melihat gundukkan milik Reina.
BRYAN POV
"Oh God!!! Apa yang harus ku lakukan? Aku tak bisa menahan nafsu yang kini perlahan mulai naik di kepalaku" Ucap Bryan dalam hati. "Apakah Aku harus menciumnya sekarang?" Lanjutnya lagi.
Posisi ini sangat menguntungkan buatku.
Reina yang hanya menatapku, membuat jantungku semakin berdebar. Aku menaruh kedua tanganku tepat dipinggang kecil miliknya, dan mendorongnya lebih dekat kepadaku. Aku memiringkan sedikit kepalaku, dan kurasa nafas Reina berhembus di wajahku membuatku semakin tidak tahan akan nafsuku. Ku melanjutkan aksiku memiringkannya dan menunduk sedikit karna Reina lebih pendek dariku dan akhirnya Aku berhasil menyentuh bibir lembut itu dengan bibirku. Aku hanya menyentuh dan melepaskannya, tapi ku lihat mata Reina tertutup seakan dia sedang menikmatinya dan tidak memberontak terhadap apa yang kulakukan kepadanya.
Aku melanjutkannya dan membuka sedikit bibirku melumat bibir manisnya, terus dan terus seperti itu. Tapi, Reina sedikitpun tidak meresponku dia sama sekali tak membuka mulutnya dan membiarkan lidahku masuk kedalam. Tapi, Akhirnya dia membukanya setelah kehabisan nafas. Dan itu membuatku mulai beraksi dan memasukkan lidahku, menjelajahi mulut Reina. Jantungku sangat berdebar kencang.
"Apakah Reina baru melakukannya?" Tanyaku dalam hati. Dia sama sekali tidak membalasku, dia hanya membuka mulutnya akibat kehabisan nafas tadi. Tapi itu tidak membuatku berhenti, karna rasanya sangat nikmat menikmati bibir kecil tipis miliknya. Aku menarik tangan Reina dan melingkarkannya di leherku, Aku melangkah mundur dan akhirnya Aku & Reina jatuh di tempat tidur milikku.
Tapi itu menyadarkan Reina dan melepaskan ciumanku, dan itu sangat membuatku frustasi.
"Bryan... stop!!" Ucap Reina yang masih berada di depanku.
"Ayolah Reina... Aku mohon" Kataku memohon padanya. Kepalaku sangat sakit, karna belum merasa puas.
"Bry-----" belum sempat dia melanjutkannya Aku melumat kembali bibir kecil itu.
Dia terus mendorong tubuhku, tapi tenaga Reina sangat kecil. Posisiku saat itu sedang berada di bawah Reina, tapi Aku membaliknya dengan Reina berada di bawahku. Aku terus melumat bibirnya, dia kelelahan dan akhirnya Aku berhenti karna merasa kasihan kepadanya.
"Reina... kamu tidak apa-apa?" Tanyaku, tapi mata Reina masih tertutup.
Rein...?" Tanyaku lagi yang membuatnya membuka mata.
Dia langsung bangun dari posisi itu dan menutup mulutnya, mengusap bibirnya yang masih basah karenaku.
"Bryan... kau sudah gila" Ucap Reina melihat sinis kepadaku.
"Maafkan Aku Reina... Aku sungguh tak tahan melihatmu, Kau sungguh menggoda" Jawab Bryan yang berdiri di depanku lagi. "Aku sudah lama tidak melakukan hal itu" lanjutku dengan senyuman kecilku.
*****