18. Indah Pada Waktunya

1832 Words

Zia menangkupkan wajahnya di meja kantin. Hari ini wanita itu terlihat lesu, tidak seperti biasa. Berkali-kali ia menghela napas memandang kosong keramaian di sekitarnya. “Tumben lo dateng pagi?” Sapa Meta menepuk punggung Zia super keras. Tapi anehnya Zia tidak bereaksi yang signifikan, biasanya wanita itu akan langsung mencak-mencak mengeluh kesakitan pada Meta, tapi kali ini dia ia diam aja. Meta duduk di samping Zia yang masing menopang kepalanya di meja kantin. Setelah memesan jus jeruk kesukaannya, gadis itu kembali memusatkan perhatiannya pada Zia. “Lo kenapa sih, Neng?” Zia menoleh, memiringkan kepalan menghadap Meta. Pengantin yang baru beberapa bulan resmi itu menghela napas lalu kembali tertunduk. “Ya elah! Ditanya malah hela napas doang! Lu kira gue ngerti bahasa hela napa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD