Richard menatap layar ponselnya lagi dan lagi. Sudah berulang kali dia buka tutup, berharap ada notifikasi masuk yang dia tunggu-tunggu.
Sepuluh menit lewat.
Dua puluh menit lewat.
Satu jam sudah berlalu.
Tapi tetap saja kosong. Nggak ada balasan, nggak ada tanda-tanda pesannya sudah dibaca. Biasanya, meski dia sibuk atau Keira lagi punya kesibukan sendiri, paling lama setengah jam pasti sudah ada jawaban masuk. Kalau telat pun paling cuma sejam, tapi nggak pernah sampai hilang berhari-hari begini.
Selama ini, Keira selalu jawab, meski kadang jawabannya suka bikin emosi sendiri. Percakapan mereka biasanya berjalan santai, kadang bercanda, kadang malah jadi ajang saling sindir yang justru terasa akrab.
Richard: Udah makan belum?
Keira: Udah dong, nggak bakal mati kelaparan kok 😂
Richard: Masak apa tadi? Atau beli di luar?
Keira: Loh kok kayak absen masuk kantor sih? Harus lapor rinci segala 😭
Richard: Cuma mau pastiin kamu masih hidup dan nggak lupa ngisi tenaga.
Keira: Wah, perhatian banget deh bos. Bikin meleleh hati ini 😭
Begitulah biasanya. Tapi dua hari terakhir ini, Keira menghilang begitu saja. Pesannya cuma terkirim, nggak ada tanda dibaca sama sekali. Sudah sempat dia telepon dua kali, tapi yang muncul cuma nada sibuk atau langsung masuk kotak pesan suara. Rasanya ada yang mengganjal di hati, meski dia berusaha bilang ke diri sendiri bahwa mungkin Keira lagi sibuk banget atau ada hal mendesak.
Richard mengetuk-ngetuk ujung jari di atas meja kerjanya pelan-pelan. Di depannya terbuka layar laptop yang menampilkan data keuangan dan grafik proyek, ruang rapat masih penuh dengan orang-orang penting. Rapat pembahasan laporan kuartal ini seharusnya jadi fokus utamanya, para direksi dan kepala divisi sibuk menjelaskan angka, target, dan kendala yang dihadapi. Tapi anehnya, telinganya mendengar suara orang bicara tapi otaknya nggak menangkap satu kalimat pun. Semua pikirannya melayang jauh, entah ke mana.
“Pak Richard?”
Sebuah suara memanggil membuatnya sedikit tersentak.
“Hah? Maaf, tadi ngomong apa?”
“Kami tanya, untuk kelanjutan proyek pengembangan wilayah di Lombok, keputusannya bagaimana? Apakah dilanjutkan atau ditunda dulu?”
Richard baru sadar bahwa semua mata di ruangan itu langsung menoleh ke arahnya serentak. Wajah mereka terlihat penasaran, ada yang bahkan sedikit khawatir melihat bosnya yang biasanya sangat fokus kini tampak melamun.
“Baiklah, untuk sekarang lanjutkan saja tahap persiapannya. Kita bahas lagi lebih detail minggu depan.”
“Siap, Pak.”
Sekretaris yang duduk di sampingnya melirik sekilas dengan tatapan bingung. Dalam hati dia bertanya-tanya, ada apa nih sama bos hari ini? Biasanya dia yang paling tegas dan nggak pernah melenceng dari topik. Hari ini kok rasanya beda banget, ada yang mengganggu pikirannya kelihatan jelas dari raut mukanya.
Begitu rapat selesai dan semua orang keluar meninggalkan ruangan, Richard langsung meraih ponselnya lagi, membuka aplikasi obrolan itu untuk kesekian kalinya. Jari-jarinya bergerak mengetik pelan, hati-hati seolah takut salah kata.
plaintext
Richard: Kamu ada di mana sekarang? Kenapa nggak balas pesan dan angkat telepon? Ada apa?
Dia letakkan ponsel di atas meja, lalu menatapnya tak lepas. Lima belas menit berlalu, layarnya tetap gelap. Dua puluh menit, masih sama. Rasanya perasaan nggak enak itu makin membesar di d**a. Apa dia sedang sakit? Atau ada masalah? Pikiran negatif mulai berdatangan satu per satu, bikin dia makin gelisah.
Belum lama dia sempat berdiri dan berjalan mondar-mandir mengurangi rasa gelisah, tiba-tiba layar ponselnya menyala terang. Jantungnya sempat berdebar sedikit lebih kencang sebelum dia meraihnya cepat-cepat.
Keira: Maaf baru balas, sinyalnya jelek banget di sini 😭 Lagi ada di Mandalika.
Richard mengerutkan dahi membacanya. Mandalika? Bukannya daerah itu sedang ramai dengan ajang balap akhir-akhir ini? Kenapa dia tiba-tiba ke sana? Liburan mendadak? Kalau liburan kenapa nggak bilang dulu, paling nggak kasih kabar biar orang nggak bingung.
Richard: Mandalika? Lagi liburan ya? Sendirian atau sama siapa?
Belum sampai semenit, balasan masuk dengan cepat.
Keira: Bukan liburan biasa. Lagi ada acara balap di sini, aku ikut serta 😎
Jari Richard langsung berhenti melayang di atas layar. Balap? Apa maksudnya ikut serta? Dia sempat mengetik kalimat panjang, lalu dihapus, diketik lagi, rasanya bingung harus mulai dari mana bertanyanya.
Richard: Maksudnya cuma nonton saja kan? Atau cuma bantu-bantu panitia?
Layar sempat menampilkan tulisan “sedang mengetik…” selama beberapa detik, lalu balasan baru muncul.
Keira: Bukan cuma nonton atau bantu. Aku ikut lomba balapnya juga 😭
Richard membaca kalimat itu sekali, dua kali, sampai tiga kali untuk memastikan matanya nggak salah baca. Ikut lomba? Ikut balap? Pakai motor gede yang kencang dan berisik itu? Yang kalau nggak hati-hati bisa bikin celaka kapan saja? Rasanya otaknya sempat macet sebentar, susah mencerna kenyataan ini.
Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung menekan tombol panggilan. Belum sampai tiga kali berdering, suara Keira sudah terdengar di seberang sana, disertai suara hiruk pikuk keramaian, deru mesin motor, dan teriakan orang yang cukup jelas terdengar.
“Halo? Akhirnya nelpon juga. Sinyalnya lagi naik dikit jadi bisa bicara,” sapa Keira dengan nada santai seperti biasa.
Richard langsung bicara tegas, tak pakai basa-basi. “Kamu serius ngomong tadi? Beneran ikut balap?”
“Serius dong, nggak mungkin aku bercanda soal hal ini. Emang kenapa? Ada yang salah?” tanya Keira balik, nada bicaranya masih tetap santai seolah itu hal biasa saja.
“Maksudku, kamu yang beneran ikut turun lintasan? Bukan jadi penonton atau cuma ikut rombongan saja?”
“Iya dong, aku yang naik motornya sendiri. Kenapa, kaget ya?”
“Pakai motor gede itu?”
“Iya Richard 😭 masa aku pakai sepeda ontel atau sepeda lipat buat balapan? Nanti malah jadi bahan tawa semua orang,” jawab Keira sambil tertawa renyah mendengar pertanyaan itu.
Richard langsung bungkam. Ada jeda sekitar tiga detik sebelum dia bisa menyusun kalimat lagi. Rasanya dia harus menarik napas panjang dulu biar nggak langsung ngomong keras-keras.
“Kelihatannya memang kaget ya?” goda Keira lagi, ketawanya makin keras menduga reaksi Richard. “Pasti mukamu sekarang lagi bengong dan kelihatan lucu banget kan? Kayak orang yang baru dengar kabar paling nggak terduga seumur hidup.”
“Aku nggak sedang merasa lucu, apalagi kelihatan lucu,” bantah Richard, meski dalam hati dia mengakui kalau memang otaknya sempat macet sejenak.
“Tapi kaget dan sedikit syok kan? Aku tahu kok reaksimu bakal begini,” kata Keira santai.
“…Sedikit saja sih.” Padahal kalau jujur, rasanya dia butuh waktu lama buat mencerna informasi ini. Siapa sangka gadis yang dia kenal bisa sesantai ini mengikuti ajang yang berisiko tinggi begini.
“Kenapa nggak bilang dari kemarin? Kalau tahu kamu ke sini dan ikut acara begini, aku nggak bakal bingung nunggu balasan pesan terus-terusan,” tanya Richard lagi.
“Kamu juga nggak nanya kan dari awal. Aku kira kamu nggak terlalu tertarik sama hobi anehku ini,” jawab Keira ringan.
Richard mengembuskan napas panjang yang terdengar jelas di telepon. “Ini bukan hal yang bisa dianggap sepele begitu saja, Keira. Balap itu berisiko tinggi, bahaya kalau sampai kehilangan kendali atau ada pengendara lain yang ceroboh.”
“Tenang saja, aku nggak sembarangan naiknya. Udah latihan bertahun-tahun, tahu batas kemampuanku, dan selalu pakai perlengkapan lengkap yang standar keamanannya paling tinggi. Nggak bakal sembarangan bawa kencang juga kok,” jelas Keira berusaha meyakinkan.
“Keira…”
“Iya?”
“Hati-hati di sana, ya. Jangan nekat, utamakan keselamatan daripada apa pun itu. Kalau terasa ada yang kurang pas, jangan dipaksakan turun lintasan,” ucap Richard perlahan tapi tegas.
Kalimat itu bikin Keira terdiam sebentar. Nadanya terdengar tulus banget, nggak seperti omelan atau larangan keras, melainkan lebih ke rasa khawatir yang jujur. Rasanya hangat mendengarnya, meski jarak mereka sedang jauh.
“Siap, diterima baik oleh awak peserta! Tenang saja, aku bakal jaga diri baik-baik,” jawab Keira dengan nada lembut tapi tetap ada candanya.
“Jangan bercanda terus dalam hal begini.”
“Iya iya, ngerti kok. Makasih udah khawatir, nggak apa-apa kok di sini.”
Richard masih menahan rasa gelisah itu saat menatap kosong ke luar jendela ruang kerjanya yang menghadap ke pemandangan gedung-gedung tinggi. Entah kenapa hatinya rasanya masih nggak tenang saja. Kenapa dia merasa sangat terganggu dengan kabar ini? Padahal ini kan hak Keira untuk memilih hobinya sendiri. Tapi rasanya ada dorongan kuat dalam dirinya buat memastikan semuanya aman langsung dari depan mata.
Malam harinya, begitu dia sampai di rumah besar tempat tinggalnya, ibunya, Wilhelmina, langsung menyambutnya di ruang tengah dengan tatapan penasaran. Sudah lama dia menunggu kabar terbaru soal Keira yang sering diceritakan oleh anaknya. Begitu Richard mulai menceritakan apa yang baru dia ketahui, reaksi ibunya jauh lebih heboh dari yang dia bayangkan.
“APA?! KEIRA IKUT BALAP MOTOR DI MANDALIKA?!” teriak Wilhelmina dengan suara nyaring sampai memecah keheningan malam.
Richard langsung mengusap pelipisnya yang mulai terasa berdenyut karena mendengar suara itu. “Mama pelankan suaranya dikit dong, bisa kedengaran sampai tetangga sebelah nanti.”
“Tapi ini kabar yang bikin kaget juga lho! Maksudku, dia naik motor gede yang besar dan kencang itu? Beneran?” tanya Wilhelmina lagi sambil melangkah mendekat.
“Iya, begitu katanya tadi pas teleponan.”
Wilhelmina langsung berdiri tegak seolah baru dapat ide paling cemerlang sepanjang masa, matanya berbinar-binar. “Richard! Kalau begitu kamu harus langsung susul dia sekarang juga!”
Richard menatap ibunya dengan wajah datar, nggak kaget dengan usulannya yang tiba-tiba itu. “Mama, aku masih ada jadwal kerjaan yang harus diselesaikan besok. Nggak bisa pergi seenaknya begitu saja.”
“Terus kamu mau diam saja di sini sementara calon istri kamu dikelilingi sama pembalap-pembalap lain yang gagah, tinggi, berotot, dan hobi ngebut itu? Kamu nggak cemburu apa nggak takut dia dideketin orang lain?” tanya Wilhelmina dengan nada mendesak.
Richard hanya diam mendengar omelan itu, pikirannya sempat melayang sejenak. “Dia nggak bakal dideketin orang sembarangan, dan nggak bakal diambil orang lain juga. Aku kenal dia cukup tahu sifatnya.”
“Kamu tahu dari mana? Dunia itu luas lho, banyak kemungkinan terjadi! Kalau kamu nggak bergerak, bisa saja ada yang lebih berani dan lebih dekat di sana bikin hatinya tergerak,” bantah Wilhelmina nggak mau kalah.
“Mama…”
“Sudah, nggak usah banyak alasan! Langsung berangkat saja besok pagi!”
“Aku ada jadwal rapat penting dengan investor luar negeri besok pagi dan siang. Nggak bisa ditinggalkan,” jawab Richard berusaha memberikan alasan yang masuk akal.
“Rapatnya bisa digeser jadwalnya atau diubah jadi rapat daring saja kan? Sekarang jamannya canggih, bisa bicara tatap muka lewat layar tanpa harus bertemu langsung. Masih aja pakai alasan jadwal sibuk,” kata Wilhelmina sambil memicingkan matanya, lalu tiba-tiba tersenyum nakal seolah punya kartu jitu.
“Atau kalau kamu butuh alasan resmi biar nggak dikira pergi cuma main-main, Mama uruskan saja surat tugasnya. Bilang saja perusahaan kita dapat undangan khusus untuk membahas kerja sama dengan pengelola sirkuit di sana. Jadi ini dinas resmi, bukan liburan. Gimana? Pas kan?”
Richard terdiam mendengarnya. Memang ide itu cukup masuk akal, dan sejujurnya dia sendiri sudah mulai merasa ingin pergi memastikan keadaan Keira langsung di sana. Mau nggak mau dia akhirnya menghela napas panjang tanda mengalah.
“…Baiklah, aku setuju. Tapi ingat, aku pergi cuma untuk memastikan kondisinya aman dan melihat langsung situasinya di sana. Bukan untuk hal lain,” ucapnya tegas berusaha meyakinkan diri sendiri juga.
Wilhelmina langsung menyeringai lebar mendengar jawaban itu, tahu persis isi hati anaknya yang sebenarnya. “Iya iya, cuma memastikan saja, nggak lebih 😏 Nanti Mama siapkan tiket dan penginapannya, besok pagi sudah bisa berangkat.”
Richard hanya mengangguk pelan, sambil dalam hatinya sudah mulai membayangkan reaksi Keira kalau nanti tahu dia datang tiba-tiba ke Mandalika. Rasanya perjalanan ini bakal membawa banyak hal tak terduga.