Pagi hari di Mandalika sudah terasa ramai meski matahari belum terlalu tinggi. Suara mesin kendaraan bersahut‑sahutan, alunan musik dari area paddock terdengar sesekali, bendera‑bendera sponsor berkibar ditiup angin, dan ratusan orang berjalan lalu lalang. Pembalap, mekanik, panitia, hingga penonton—semua sibuk dengan urusan masing‑masing. Sebuah SUV berhenti di area khusus peserta. Pintu terbuka, sepasang sepatu olahraga putih turun lebih dulu, diikuti sosok gadis berjaket balap hitam yang melepas kacamata hitamnya. “Finally.” Keira menarik napas panjang. Aroma aspal, suara mesin, dan keramaian di sekelilingnya terasa begitu akrab. Seolah ia baru saja pulang ke tempat yang memang menjadi dunianya. Seorang pria berlari kecil mendekat. “WOI!” Keira langsung menoleh, lalu tertawa. “Raka

