Bab 17— Jarak yang Terlalu Dekat
Malam turun lebih cepat di paviliun belakang.
Udara dingin menyelinap melalui celah jendela kecil yang selalu tertutup separuh. Lampu redup di sudut ruangan menciptakan bayangan panjang di dinding, membuat kamar itu terasa lebih sempit dari ukuran sebenarnya.
Alana duduk di tepi ranjang, menyelimuti bahunya dengan kain tipis. Tubuhnya masih lemah, tetapi tidak separah beberapa minggu lalu. Penundaan prosedur yang diputuskan Arka memberikan tubuhnya kesempatan yang hampir terlupakan kesempatan untuk bernapas tanpa rasa sakit yang konstan.
Namun tubuh yang sedikit pulih justru membuat pikirannya bekerja lebih keras.
Ia memikirkan Arka..Bukan dengan kebencian seperti dulu. Bukan juga dengan harapan. Lebih seperti seseorang yang sedang mencoba memahami badai.
Pintu paviliun terbuka. Tidak ada suara ketukan. Arka masuk seperti biasa tenang, rapi, dan membawa aura yang selalu membuat ruangan terasa berbeda. Namun malam ini, ada sesuatu yang tidak biasa: ia tidak langsung berbicara.
Ia hanya berdiri di dekat pintu, memperhatikan Alana.
Tatapan itu membuat Alana merasa seperti sedang dibaca halaman demi halaman.
“Kau tidak tidur,” kata Arka akhirnya.
Suaranya rendah, hampir menyatu dengan sunyi malam.
Alana menggeleng pelan. “Tidur terlalu lama membuatku merasa seperti orang sakit.”
“Kau memang sakit.” Jawaban itu datar, tapi tidak kejam.
Alana tersenyum tipis. “Aku tahu.”
Hening kembali turun di antara mereka.
Namun kali ini, keheningan itu berbeda. Tidak lagi seperti tembok yang memisahkan dua orang, melainkan seperti ruang sempit yang memaksa mereka berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Arka melangkah masuk lebih jauh. Langkahnya berhenti di depan jendela kecil paviliun.
“Dokter bilang kondisimu sedikit membaik,” katanya.
“Karena kau berhenti mengambil darahku.”
“Kau masih menganggap itu hal paling penting di sini?”
Alana menatapnya lama sebelum menjawab.
“Bukankah itu alasan aku ada di rumah ini?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Arka tidak menjawab. Ia berbalik, berjalan beberapa langkah hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. Cukup dekat untuk melihat bayangan kelelahan di mata Alana.
Cukup dekat untuk menyadari betapa rapuhnya tubuh perempuan itu sekarang justru justru karena itulah, sesuatu di dalam dirinya terasa… tidak nyaman.
“Kau terlihat lebih kurus,” katanya tanpa sadar.
Alana tertawa pelan. “Pujiankah itu?”
“Pengamatan.”
“Yang sama saja dengan mengatakan aku hampir mati.”
Arka menatapnya tajam. “Jangan berkata seperti itu.” Nada suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan.
Alana terdiam sejenak, sedikit terkejut oleh reaksi itu. “Aneh,” katanya pelan.
“Apa?”
“Kau mulai terdengar seperti seseorang yang peduli.”Kalimat itu membuat Arka berhenti bergerak.
Ia membenci bagaimana kata itu terasa terlalu dekat dengan kebenaran. “Aku tidak peduli,” katanya akhirnya.
“Kalau begitu kenapa kau terus datang ke sini?”
Alana tidak bertanya dengan nada menuduh. Ia benar-benar ingin tahu. Itulah yang membuat pertanyaan itu lebih sulit dijawab.
Arka mendekat satu langkah lagi. Kini jarak mereka hanya satu lengan. Lampu redup membuat bayangan wajah mereka saling bersinggungan di dinding. Nafas Alana terasa hangat di udara dingin ruangan.
“Kau terlalu banyak berpikir,” kata Arka pelan.
“ kau terlalu banyak menyangkal.” Arka mengulurkan tangan. Gerakan itu lambat, seolah ia sendiri belum sepenuhnya memutuskan apa yang ia lakukan.
Jari-jarinya menyentuh dagu Alana, mengangkat wajah perempuan itu sedikit agar menatapnya.
Sentuhan itu tidak kasar. Tidak juga lembut. Lebih seperti seseorang yang sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Alana menahan napas. Untuk pertama kalinya sejak dua tahun lalu, sentuhan Arka tidak terasa seperti perintah.
Hanya… sentuhan.
“Kenapa kau tidak pernah takut padaku lagi?” tanya Arka lirih.
Alana menatap matanya. “Karena aku sudah kehilangan hampir semuanya.”
“ Lalu sisanya?”
“Sisanya terlalu sedikit untuk ditakuti.”
Jawaban itu membuat Arka diam.
Beberapa detik berlalu.Malam terasa semakin sunyi. Lalu tanpa peringatan, Arka menarik Alana sedikit lebih dekat. Bukan pelukan. Bukan juga dorongan kasar.
Hanya jarak yang dipersingkat, cukup untuk membuat jantung Alana berdetak lebih cepat.
“Kau seharusnya tidak membuatku melakukan ini,” gumam Arka.
“Melakukan apa?”
Namun Arka tidak menjawab dengan kata.
Ia menunduk sedikit, jarak wajah mereka kini hanya beberapa sentimeter. Nafasnya hangat di kulit Alana.
Dan untuk sepersekian detik yang terasa terlalu lama Arka hampir mencium perempuan yang seharusnya hanya menjadi sumber darahnya.
Namun ia berhenti. Tangannya masih di dagu Alana. Matanya masih menatap perempuan itu dan keheningan di antara mereka terasa lebih berbahaya daripada ciuman apa pun.
Arka akhirnya melepaskannya. Ia mundur satu langkah, seolah baru menyadari apa yang hampir terjadi. “Kau berbahaya,” katanya pelan.
Alana tersenyum tipis. “Aku bahkan hampir tidak bisa berdiri.”
“Justru itu.” Arka berbalik menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia berhenti.
“Kau harus tetap hidup,” katanya tanpa menoleh. Kalimat itu terdengar seperti perintah.
Namun bagi Alana… itu terdengar lebih seperti permohonan yang tidak ingin diakui.
Pintu tertutup. Langkah Arka menjauh di lorong paviliun. Di dalam kamar, Alana menyentuh dagunya perlahan tempat jari Arka tadi berada.
Ia tidak tahu apakah itu kemenangan atau awal dari masalah yang lebih besar.
Namun satu hal jelas sekarang, garis antara mereka sudah berubah dan begitu garis itu dilanggar...tidak ada yang bisa kembali seperti sebelumnya.
Sementara di luar paviliun, Arka berhenti berjalan. Ia menekan tangannya ke dinding dingin lorong.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ia inginkan dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka Dirgantara menyadari sesuatu yang sangat berbahaya:
Ia hampir mencium perempuan yang seharusnya tidak boleh ia sentuh dan ia tidak yakin apakah lain kali ia masih bisa berhenti.
---