16. Kebohongan Yang Mulai Dibangun

826 Words
Bab 16 — Kebohongan yang Mulai Dibangun Keputusan yang diambil Arka malam itu tidak mengubah dunia secara langsung. Tidak ada ledakan. Tidak ada pengumuman besar. Namun sistem yang selama ini berjalan sempurna mulai mengalami sesuatu yang jarang terjadi dalam kehidupan Arka Dirgantara: penyesuaian diam-diam. penyesuaian selalu membutuhkan kebohongan. Pagi berikutnya, ruang kerja Arka dipenuhi laporan medis yang diperbarui. Beberapa angka diganti, beberapa catatan dihapus, dan jadwal prosedur yang sebelumnya ketat kini terlihat… lebih longgar. Tidak ada yang berani bertanya. Namun semua orang melihatnya. Dokter utama berdiri di depan meja Arka dengan ekspresi hati-hati. Ia sudah lama bekerja di rumah ini, cukup lama untuk mengetahui kapan sesuatu tidak boleh dipertanyakan terlalu dalam. “Tuan Dirgantara,” katanya akhirnya, “jika prosedur utama terus ditunda, kondisi pasien penerima bisa memburuk.” Arka tidak langsung menjawab. Ia menutup berkas di tangannya dengan tenang. “Buat laporan alternatif,” katanya. Dokter mengerutkan kening. “Maksud Anda?” “Katakan stabil,” jawab Arka datar. “Gunakan metode lain untuk menjaga kondisinya sementara.” Itu bukan perintah medis..Itu manipulasi. Dokter itu menelan ludah pelan. “Jika keluarga mengetahui perubahan ini—” “Mereka tidak akan tahu.” Nada Arka dingin, tetapi bukan itu yang membuat dokter tersebut berhenti berbicara. Yang membuatnya diam adalah sesuatu yang jauh lebih tidak biasa: Arka tidak terlihat sepenuhnya yakin. Keraguan sekecil apa pun pada pria itu adalah anomali. Namun dokter itu cukup cerdas untuk tidak menyinggungnya. “Saya mengerti,” katanya akhirnya, lalu pergi. Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Arka berdiri di depan jendela besar, memandang taman luas di luar rumah utama. Dari posisi itu, paviliun belakang hampir tidak terlihat hanya bayangan kecil di antara pepohonan. Tempat Alana berada. Ia mengingat kata-kata perempuan itu malam sebelumnya. Ia hanya perlu membuatnya terus memilih dirinya. Arka mendengus pelan. “Tidak mungkin,” gumamnya. Namun semakin ia mencoba menolak pikiran itu, semakin jelas kenyataan yang tak bisa disangkal: keputusan semalam bukanlah keputusan rasional. Itu impuls dan Arka Dirgantara tidak pernah hidup dari impuls. Di paviliun belakang, Alana duduk di tepi ranjang, memegang cangkir air yang sudah lama dingin. Tubuhnya masih lemah, tetapi tidak separah beberapa hari lalu. Istirahat atau lebih tepatnya, penundaan prosedur memberi tubuhnya sedikit ruang bernapas. Namun Alana tidak cukup naif untuk menyebut ini kemenangan. Ia tahu pria seperti Arka tidak pernah memberikan sesuatu tanpa alasan. Pintu terbuka. Arka masuk tanpa mengetuk seperti biasa. Namun kali ini ia tidak langsung berbicara. Ia berdiri di dekat jendela kecil paviliun, menatap keluar seolah ruangan itu kosong. “Kau terlihat lebih baik,” katanya akhirnya. Alana tersenyum tipis. “Karena kau berhenti mengambil sesuatu dariku.” Arka menatapnya sekilas. “Sementara.” “Semua hal bersifat sementara,” jawab Alana pelan. Hening kembali mengisi ruangan. Ada ketegangan baru yang tidak pernah ada sebelumnya bukan hanya antara korban dan pelaku, tetapi antara dua orang yang sama-sama menyadari bahwa sesuatu telah berubah. “Kau harus berhenti berpikir terlalu jauh,” kata Arka. “Aku hanya berpikir cukup jauh untuk bertahan,” jawab Alana. “Kau tidak akan bertahan jika kau terus menantangku.” Alana mengangkat bahu kecil. “Aku tidak menantangmu.” “Lalu apa?” “Menunggu.” Arka mengerutkan kening. “Menunggu apa?” Alana menatapnya lurus, tenang seperti seseorang yang tidak lagi takut kehilangan apa pun. “Menunggu kapan kau berhenti berbohong pada dirimu sendiri.” Kalimat itu menghantam tepat di tempat yang paling ia sembunyikan. Arka tidak menjawab. Ia hanya menatap Alana lama, mencoba mencari celah, mencoba memastikan bahwa semua ini hanyalah permainan psikologis seorang perempuan yang kehabisan pilihan. Namun yang ia lihat justru sesuatu yang lebih berbahaya yaitu ketenangan. Alana tidak terlihat seperti seseorang yang berharap diselamatkan. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah menerima kemungkinan terburuk—dan karena itu tidak lagi bisa dikendalikan sepenuhnya. Arka berbalik pergi tanpa kata. Namun langkahnya berhenti di ambang pintu. “Jika kondisimu memburuk lagi,” katanya tanpa menoleh, “prosedur akan dilanjutkan.” Ancaman atau pengingat Alana tidak terlihat terkejut. “Kalau itu terjadi,” katanya pelan, “pastikan aku masih cukup hidup untuk berguna.” Pintu tertutup. Arka berjalan menyusuri lorong paviliun dengan langkah panjang. Rahangnya mengeras. Setiap kata yang keluar dari mulut Alana terasa seperti cermin yang memaksanya melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat. Ketergantungan. Ia benci kata itu. Namun semakin ia mencoba menyingkirkannya, semakin jelas kenyataan yang tidak bisa dihindari: sistem yang ia bangun mulai berputar bukan hanya di sekitar istrinya… melainkan juga di sekitar perempuan yang seharusnya hanya menjadi sumber darah dan begitu seseorang menjadi pusat sistem menghancurkannya tidak lagi semudah yang ia kira. Di kamar paviliun, Alana memejamkan mata kembali. Tubuhnya masih lemah. Jantungnya masih berdetak tidak stabil. Namun pikirannya tenang. Karena sejak dua tahun lalu, keseimbangan kekuasaan di rumah itu mulai bergeser. Sedikit. Sangat sedikit. Namun cukup untuk membuat Arka Dirgantara melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya terus memikirkan seorang perempuan yang seharusnya tidak penting baginya dan itu adalah awal dari sesuatu yang tidak akan bisa ia hentikan lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD