Bab 15 — Retakan yang Tidak Bisa Ditutup
Paviliun belakang tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menahan napas. Alana menyadari itu ketika malam-malamnya semakin panjang. Bukan karena jam bergerak lebih lambat, tetapi karena tubuhnya menolak tenggelam dalam tidur nyenyak. Setiap kali matanya terpejam, ada sensasi ditarik—seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang terus diambil, bahkan ketika prosedur telah selesai.
Ia duduk di tepi ranjang, membungkus tubuhnya dengan selimut tipis yang tak pernah cukup menghalau dingin. Tangannya gemetar halus. Bukan karena takut.
Karena lelah.
Namun di balik kelelahan itu, ada kejernihan yang semakin tajam. Alana mulai mengingat detail-detail kecil yang dulu ia abaikan: jadwal dokter, jam kunjungan perawat, durasi prosedur, bahkan perubahan ekspresi Arka ketika melihat angka-angka di laporan medis.
Ia tidak bodoh.
Dan sekarang, ia tidak lagi pasrah.
Keesokan paginya, seorang dokter baru datang.
Bukan dokter yang biasanya. Bukan yang selalu menunduk dan bicara seperlunya. Dokter ini lebih tua, rambutnya sudah memutih di sisi pelipis, dan tatapannya terlalu lama bertahan pada wajah Alana.
“Tekanan darahmu rendah,” katanya sambil memeriksa pergelangan tangan Alana. “Dan kadar hemoglobinmu… ini tidak wajar.”
Alana menatapnya balik. Tenang. Terlalu tenang.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya pelan.
Dokter itu menghela napas. “Tidak, Nona. Kau tidak baik-baik saja.”
Kata-kata itu seperti retakan kecil di dinding penjara. Tidak besar. Tidak langsung meruntuhkan apa pun. Tapi cukup untuk membuat cahaya masuk.
Di balik kaca satu arah, Arka berdiri.
Ia tidak menyukai nada dokter itu.
“Berapa lama ini berlangsung?” tanya dokter lagi.
Alana diam sejenak. “Dua tahun.”
Tangan dokter itu berhenti menulis.
“Siapa yang mengawasi kondisimu selama ini?”
Alana tidak menjawab langsung. Ia menoleh sedikit—cukup untuk memastikan Arka berada di balik kaca. Ia tahu pria itu mendengar. Ia ingin pria itu mendengar.
“Orang yang berkepentingan,” jawabnya akhirnya.
Udara di ruangan terasa menegang.
Dokter itu berdiri. “Dengan kondisi seperti ini, prosedur tidak bisa dilanjutkan seperti biasa. Tubuhnya—”
“Lanjutkan.”
Suara Arka terdengar dari interkom. Datar. Tegas.
Dokter itu terdiam. “Tuan Dirgantara, dengan segala hormat—”
“Aku sudah mendengar pendapat medis,” potong Arka. “Sekarang lakukan tugasmu.”
Alana menutup mata sesaat.
Ia tidak terkejut.
Namun sesuatu di dalam dirinya bergerak. Bukan hancur—melainkan mengeras.
Prosedur dimulai. Kali ini lebih menyakitkan. Tubuhnya bereaksi lebih lambat. Pandangannya mengabur. Ia menggenggam seprai, merasakan detak jantungnya sendiri di telinga.
Di balik kaca, Arka memperhatikan grafik monitor yang naik-turun tidak stabil.
Untuk pertama kalinya, ia merasa—bukan cemas—melainkan terancam.
Bukan oleh Alana.
Oleh kenyataan.
“Cukup,” katanya tiba-tiba.
Perawat menoleh. “Tapi, Tuan—”
“Cabut jarumnya.”
Jarum ditarik. Alana terengah. Tubuhnya limbung, dan kali ini ia benar-benar jatuh—namun lantai tidak menyambutnya.
Arka ada di sana.
Ia menangkap Alana sebelum tubuh itu menghantam lantai. Lengan Alana terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti memegang sesuatu yang bisa patah jika digenggam terlalu keras.
“Buka matamu,” kata Arka pelan.
Nada itu… bukan perintah.
Alana membuka mata perlahan. Pandangannya kabur, tapi ia tahu siapa yang memeluknya.
“Aku bilang aku belum mati,” bisiknya.
Arka menegang.
Ia membawa Alana keluar ruangan. Langkahnya cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang mengaku tidak peduli. Para staf menyingkir, tak ada yang berani bertanya.
Di kamar paviliun, Arka meletakkan Alana di ranjang. Ia berdiri beberapa detik, menatap wajah pucat itu, napasnya sedikit lebih berat dari biasanya.
“Kau sengaja,” katanya akhirnya.
Alana tersenyum tipis. “Aku hanya berhenti berpura-pura kuat.”
“Kenapa?”
“Karena kau mulai takut,” jawab Alana jujur.
Kata itu menusuk lebih dalam daripada teriakan.
Arka membenci kejujuran yang tepat sasaran.
“Kau pikir kau menang?” tanyanya dingin.
“Belum,” jawab Alana. “Tapi sekarang kau mendengarkanku.”
Hening.
Itu pengakuan tanpa kata.
Malam itu, Arka duduk di ruang kerjanya hingga larut. Berkas-berkas terbuka di meja. Grafik medis. Catatan dokter. Semua menunjuk ke satu arah yang tidak ingin ia terima.
Jika ini terus berlanjut, Alana akan mati.
Dan masalahnya—
Ia tidak lagi yakin bisa menerima itu.
Ia memanggil kepala dokter secara langsung.
“Kau awasi kondisinya,” perintah Arka. “Laporkan padaku. Tidak pada siapa pun lagi.”
“Dan prosedur?” tanya dokter itu ragu.
Arka terdiam.
Keputusan itu—untuk pertama kalinya—tidak terasa mudah.
“Kurangi,” katanya akhirnya. “Untuk sementara.”
Sementara.
Kata itu menggantung seperti janji yang tidak utuh.
Di paviliun, Alana berbaring dalam gelap. Ia mendengar langkah kaki menjauh. Ia tahu—tanpa diberi tahu—bahwa sesuatu telah berubah.
Namun ia juga tahu satu hal lain:
Perubahan ini datang terlambat.
Ia menekan tangan ke dadanya, merasakan detak jantung yang tidak beraturan. Ada rasa sakit, ada lelah, ada takut—tetapi di atas semuanya, ada kepastian dingin:
Jika ia ingin hidup, ia harus mengambil kendali lebih cepat dan Arka Dirgantara, Pria yang mulai menarik kembali pisaunya..Belum menyadari bahwa luka terbesar bukanlah jika ia kehilangan Alana…
Melainkan jika Alana bertahan cukup lama untuk membalas semuanya.
---