14. Ketika Darah Tidak Lagi Diam

781 Words
Bab 14 — Ketika Darah Tidak Lagi Diam Paviliun itu semakin sunyi dari hari ke hari. Bukan karena tak ada suara, melainkan karena Alana mulai kehilangan kepekaan terhadapnya. Jam dinding yang berdetak pelan, langkah kaki perawat yang datang dan pergi, suara pintu logam yang selalu tertutup rapat—semuanya menyatu menjadi satu dengung panjang yang melelahkan. Tubuhnya tidak lagi merespons seperti dulu. Bangun tidur kini membutuhkan waktu lebih lama. Jari-jarinya sering mati rasa. Pandangannya mengabur jika berdiri terlalu cepat. Bahkan bernapas pun terasa seperti usaha yang harus disadari, bukan lagi refleks alami. Namun yang paling mengganggu bukanlah tubuhnya. Melainkan pikirannya yang semakin jernih. Alana mulai menghitung. Bukan hari, bukan jam—tetapi jumlah prosedur yang ia jalani. Jumlah darah yang diambil. Jumlah rasa sakit yang ditelan tanpa suara. Semua itu membentuk pola. Dan pola itu memberinya satu kesimpulan pahit: Ia tidak akan bertahan lama jika semuanya terus berjalan seperti ini. Hari itu, prosedur dilakukan lebih lama dari biasanya. Jarum menusuk, tabung berganti, mesin berdengung dengan ritme yang menekan. Alana menatap langit-langit putih, menghitung napasnya sendiri agar tidak pingsan. Tangannya gemetar, tetapi ia menahannya di sisi tubuh. Ia tidak ingin terlihat lemah. Bukan lagi karena takut—melainkan karena ia mulai memahami nilai dari kelemahannya sendiri. Arka Dirgantara berdiri di balik kaca satu arah. Jasnya rapi, rambutnya tersisir sempurna, ekspresinya seperti biasa: dingin, terkendali. Namun matanya tidak sepenuhnya fokus pada layar monitor. Ia memperhatikan cara Alana menahan sakit. Tidak ada rengekan. Tidak ada permohonan. Bahkan tidak ada air mata. Itu yang mengganggunya. Perempuan itu seharusnya sudah hancur. Data medis mengatakan demikian. Dokter-dokter memberi peringatan samar yang selalu ia abaikan. Tetapi Alana tetap bangun, tetap berjalan, tetap menatap lurus—dan itu bukan reaksi normal seseorang yang perlahan dikuras hidupnya. “Kurangi volumenya,” perintah Arka tiba-tiba. Perawat terdiam sesaat. “Tapi, Tuan—” “Aku bilang kurangi.” Nada itu tidak bisa dibantah. Alana tidak mendengar percakapan itu, tetapi ia merasakan perubahan. Tekanan di lengannya berkurang. Prosedur selesai lebih cepat. Saat jarum ditarik, tubuhnya terasa ringan—bukan lega, melainkan kosong. Ia hampir jatuh ketika berdiri. Tangan Arka menangkap lengannya sebelum ia menyentuh lantai. Kontak itu singkat. Terlalu singkat. Namun cukup untuk membuat keduanya membeku sepersekian detik lebih lama dari seharusnya. Alana mendongak. Untuk pertama kalinya, ia tidak segera menunduk. “Jangan pingsan di sini,” ucap Arka datar, melepaskan tangannya. Nada suaranya dingin, tapi sentuhan tadi meninggalkan sensasi aneh—bukan hangat, melainkan nyata. Terlalu nyata. “Aku belum mati,” jawab Alana pelan. Kalimat itu bukan tantangan. Bukan keluhan. Hanya fakta. Dan justru karena itulah Arka menatapnya lebih lama. Mereka berjalan menuju paviliun tanpa banyak kata. Lorong panjang terasa semakin sempit, seolah dinding-dindingnya mendengarkan. Alana melangkah perlahan, menyimpan tenaga, sementara Arka berjalan di sampingnya—bukan di depan seperti biasanya. Perubahan kecil. Tapi berarti. “Kondisimu memburuk,” kata Arka akhirnya. Alana tersenyum tipis. “Itu bukan hal baru.” “Kau harus lebih patuh.” “Kau harus lebih jujur,” balas Alana, sebelum ia sempat berpikir. Langkah Arka terhenti. Udara menegang. “Ulangi,” katanya pelan. Alana berhenti juga. Jantungnya berdetak keras, tetapi kali ini bukan karena takut. “Jika aku mati,” ucapnya perlahan, “kau akan kehilangan lebih dari yang kau kira.” “Jangan berpikir terlalu tinggi tentang dirimu sendiri.” “Aku tidak,” jawabnya. “Aku hanya mulai berpikir.” Dan itulah masalahnya. Narator tahu, saat korban mulai berpikir, keseimbangan kuasa mulai goyah. Arka menatapnya tajam. “Kau ada di sini karena kau dibutuhkan.” “Tidak,” Alana menggeleng pelan. “Aku ada di sini karena aku mudah digunakan.” Kejujuran itu telanjang. Tidak menyerang, tidak memohon. Arka membencinya. Ia membenci bagaimana kalimat itu terasa benar. “Kau tahu apa yang terjadi jika kau berhenti bekerja sama,” katanya dingin. “Aku tahu,” jawab Alana. “Aku mati.” Hening. “Dan kau tahu apa yang terjadi jika aku mati?” lanjutnya. Arka tidak menjawab. “Masalahmu tidak selesai,” kata Alana lirih. “Hanya berpindah bentuk.” Untuk pertama kalinya, Arka tidak langsung membalas. Malam itu, Alana kembali ke kamarnya dengan tubuh yang nyaris ambruk, tetapi pikirannya menyala. Ia duduk di tepi ranjang, menatap tangan sendiri—uratnya jelas, kulitnya pucat. Ia masih hidup. Dan selama itu, ia akan memastikan hidupnya berarti. Di sisi lain rumah, Arka berdiri sendirian di ruang kerjanya. Ia membuka berkas medis Alana yang selama ini hanya ia lihat sekilas. Angka-angka itu kini terasa berbeda. Bukan statistik—melainkan hitungan mundur. Untuk pertama kalinya, Arka Dirgantara mempertimbangkan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia izinkan masuk ke dalam hidupnya: Bagaimana jika alatnya benar-benar hancur? Dan lebih berbahaya lagi... Bagaimana jika ia tidak siap kehilangannya? ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD