BAB 13 — DARAH YANG TAK LAGI TUNDUK
Paviliun belakang itu tak lagi terasa seperti tempat pengasingan semata. Ada sesuatu yang berubah, bukan pada dinding-dindingnya, melainkan pada udara yang mengendap di antara setiap tarikan napas Alana. Tubuhnya masih lemah, jarum infus masih menusuk pembuluh darahnya hampir setiap hari, tetapi pikirannya tidak lagi sepenuhnya pasrah. Ada kesadaran baru yang tumbuh pelan, berbahaya, dan diam-diam menggerogoti ketakutannya.
Arka Dirgantara merasakannya.
Ia adalah tipe pria yang peka terhadap perubahan sekecil apa pun, terutama yang menyangkut hal-hal yang ia anggap sebagai miliknya. Alana termasuk di dalam kategori itu—bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sumber daya. Sebuah aset hidup yang keberadaannya menopang napas perempuan yang ia cintai lebih dari siapa pun.
Namun belakangan, tatapan Alana tidak lagi kosong.
Gadis itu tidak banyak bicara, tidak memberontak secara terang-terangan, tetapi matanya—mata itu—tidak lagi selalu menunduk. Ada momen singkat, sangat singkat, ketika pandangan mereka bertemu, dan Arka melihat sesuatu yang tak ia sukai: keteguhan. Bukan keberanian, bukan pula kemarahan yang meledak-ledak, melainkan keteguhan yang dingin, seperti seseorang yang telah berdamai dengan rasa sakit dan mulai berhenti berharap pada belas kasihan.
Itu jauh lebih berbahaya.
Dokter pribadi Arka datang dengan laporan yang seharusnya bersifat rutin. Angka-angka, grafik, istilah medis yang rumit. Namun di balik semua itu, ada satu kalimat yang membuat rahang Arka mengeras tanpa sadar: kondisi Alana mulai menunjukkan tanda penurunan permanen. Bukan sekadar kelelahan, melainkan kerusakan sistemik yang, jika terus dipaksakan, akan sulit—bahkan mustahil—dipulihkan.
Arka tidak menyukai kata mustahil.
Baginya, segala sesuatu selalu bisa dibeli, dipaksa, atau dikendalikan. Tubuh Alana hanyalah mesin biologis yang mulai aus. Mesin bisa diperbaiki. Atau diganti.
Pikiran terakhir itu membuatnya terdiam lebih lama dari yang ia sadari.
Diganti.
Selama dua tahun ini, ia tidak pernah benar-benar mempertimbangkan kemungkinan bahwa “kantung darah” itu bisa habis sebelum waktunya. Ia menganggap Alana akan bertahan selama diperlukan, sama seperti semua hal lain dalam hidupnya yang selalu tunduk pada kehendaknya. Namun kenyataan bahwa tubuh rapuh itu memiliki batas mulai menimbulkan iritasi yang bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap—sesuatu yang tidak ingin ia beri nama.
Di sisi lain, Alana mulai menyusun kepingan-kepingan kebenaran dari hal-hal kecil yang selama ini luput dari perhatiannya. Percakapan dokter yang terpotong, perubahan dosis, jadwal transfusi yang semakin rapat. Ia bukan bodoh. Ia hanya terlalu lelah selama ini untuk peduli. Sekarang, kelelahan itu justru membuatnya jernih.
Ia menyadari satu hal yang sederhana sekaligus mengerikan: hidupnya tidak dirancang untuk bertahan lama.
Ia bukan pasien. Ia adalah perpanjangan alat medis. Dan alat yang rusak tidak akan diselamatkan—ia akan diganti atau dibuang.
Kesadaran itu tidak membuatnya menangis. Tidak juga membuatnya histeris. Justru sebaliknya, ada ketenangan aneh yang merayap masuk ke dalam dadanya. Jika akhirnya sudah ditentukan sejak awal, maka ketakutan kehilangan hidupnya perlahan memudar. Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan sunyi: apakah ia akan mati sebagai alat, atau sebagai manusia yang sempat memilih?
Hubungan Alana dan Arka memasuki fase yang jauh lebih tegang tanpa perlu banyak kata. Arka menjadi lebih sering datang ke paviliun, lebih sering mengawasinya secara langsung, seolah ingin memastikan bahwa “aset”-nya masih berfungsi. Namun kehadirannya tidak lagi sepenuhnya dingin. Ada kemarahan yang tertahan, kegelisahan yang tidak stabil, dan sikap posesif yang semakin jelas.
Alana merasakannya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak segera mengecil di bawah tekanan itu.
Ada momen ketika Arka berdiri terlalu dekat, ketika bayangannya menelan tubuh Alana yang duduk di ranjang. Biasanya, Alana akan menunduk. Kali ini tidak. Ia menatap balik. Tatapan itu singkat, namun cukup lama untuk membuat sesuatu bergetar di d**a Arka—amarah bercampur ketidaksukaan pada perasaan asing yang tiba-tiba muncul.
Ia tidak ingin melihat Alana sebagai manusia.
Karena jika ia melakukannya, semua yang ia bangun akan runtuh.
Sementara itu, di sayap utama rumah besar itu, kondisi istri Arka menunjukkan stabilitas yang mencurigakan. Terlalu stabil. Data medis yang seharusnya fluktuatif justru tampak seolah-olah tubuhnya beradaptasi secara sempurna. Salah satu perawat senior mulai merasakan kejanggalan, tetapi ketakutan akan kekuasaan Arka membuatnya memilih diam.
Tidak semua orang sepengecut itu.
Seseorang di luar lingkaran dalam Arka mulai mencium aroma kebusukan dari sistem yang ia bangun. Bukan karena belas kasihan pada Alana, melainkan karena ketidakseimbangan data medis yang terlalu rapi. Ada sesuatu yang tidak sesuai prosedur. Ada manipulasi. Dan jika itu terbongkar, bukan hanya satu nyawa yang akan hancur.
Alana, tanpa ia sadari, berada tepat di pusat badai itu.
Bab ini mencapai titik paling sunyi sekaligus paling tegang ketika Alana akhirnya memahami satu fakta yang mengubah segalanya: prosedur yang dijalani bukan lagi sekadar transfusi darah biasa. Ada tahap lanjutan yang dirahasiakan, sesuatu yang akan menguras lebih dari sekadar darahnya—sesuatu yang bisa merenggut sisa hidupnya jauh lebih cepat.
Dan Arka mengetahuinya.
Ia hanya belum memutuskan kapan akan memberitahunya. Atau apakah Alana pantas diberi tahu sama sekali.
Di akhir hari, saat lampu paviliun diredupkan dan suara langkah kaki menjauh, Alana duduk sendiri dengan satu kepastian pahit: waktunya tidak banyak. Namun untuk pertama kalinya, ia juga menyadari satu hal lain—tanpa dirinya, seluruh dunia Arka bisa runtuh.
Kesadaran itu bukan memberi harapan. Ia memberi kekuatan.
Dan di balik pintu yang tertutup rapat, Arka berdiri lama, menatap hasil laporan di tangannya, dengan satu pertanyaan yang mulai menghantui pikirannya tanpa izin: apakah ia siap kehilangan alatnya… atau justru takut kehilangan Alana?
Pertanyaan itu menggantung, belum terjawab, tepat ketika langkah seseorang berhenti di luar paviliun—membawa kabar yang akan memaksa Arka membuat keputusan yang tidak bisa ia tarik kembali.
---