12. Diambang Kehilangan

633 Words
Bab 12— Di Ambang Kehilangan Tubuh Alana runtuh bukan dengan suara keras, melainkan dengan keheningan yang menakutkan. Pagi itu, ia terbangun dengan rasa dingin yang merambat dari ujung kaki hingga tulang punggung. Pandangannya berkunang-kunang, napasnya pendek. Saat ia mencoba duduk, dunia miring, lalu gelap sejenak. Ia memegang sisi ranjang, menunggu tubuhnya kembali patuh. Namun tubuh itu tidak lagi menuruti perintahnya seperti dulu. Setiap donor, setiap malam tanpa tidur, setiap tekanan yang ia telan diam-diam—semuanya menagih harga. Ia tersenyum pahit. Jadi begini rasanya berada di ujung batas. Di dapur, seorang pelayan panik ketika melihat Alana tidak muncul sesuai jadwal. Pintu paviliun dibuka paksa. Tubuh Alana ditemukan terduduk di lantai kamar, bersandar pada ranjang, wajahnya pucat nyaris transparan. “Nona Alana—!” Nama itu menggema lebih keras dari seharusnya. Dan untuk pertama kalinya, nama itu sampai ke telinga Arka bukan sebagai laporan… melainkan sebagai peringatan. Arka berdiri di ambang pintu kamar Alana dengan napas tertahan. Gadis itu terbaring di ranjang, infus terpasang, dadanya naik turun terlalu pelan. Monitor di sampingnya berbunyi teratur, tapi terlalu pelan untuk menenangkan siapa pun. “Kenapa aku tidak diberi tahu lebih cepat?” suara Arka rendah, mengandung tekanan yang membuat dokter menelan ludah. “Kondisinya menurun cepat, Tuan. Tubuhnya sudah melewati batas adaptasi. Jika prosedur tetap dilanjutkan—” “Katakan saja.” Dokter menatap Arka lurus. “Ia bisa tidak bangun lagi.” Kalimat itu sederhana. Tapi dampaknya menghantam lebih keras dari apa pun. Arka menoleh ke arah Alana. Wajah itu tenang. Terlalu tenang. Seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kemungkinan terburuk. Untuk pertama kalinya sejak dua tahun lalu, Arka merasakan sesuatu yang benar-benar asing. Takut. Bukan takut kehilangan alat. Bukan takut gagal menyelamatkan istrinya. Takut kehilangan Alana. Ia membenci kesadaran itu. Saat Alana akhirnya membuka mata, yang ia lihat pertama kali adalah siluet Arka berdiri di samping ranjangnya. Wajah pria itu keras, rahangnya tegang, tetapi matanya… tidak setajam biasanya. “Kau bodoh,” katanya pelan. Alana tersenyum lemah. “Aku masih hidup.” “Hanya karena keberuntungan,” balas Arka. “Dan aku tidak suka bergantung pada keberuntungan.” Hening menyelimuti mereka. “Kenapa kau tidak bilang?” tanya Arka akhirnya. “Karena tidak ada gunanya,” jawab Alana jujur. “Tubuhku tetap akan dipakai.” Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Arka duga. Ia membalikkan badan, berjalan menjauh dua langkah, lalu berhenti. Tangannya mengepal, lalu membuka lagi. “Aku menghentikan prosedur sementara,” ucapnya tiba-tiba. Alana terdiam. “Apa?” “Aku bilang, donor dihentikan.” Itu keputusan impulsif. Bahkan Arka sendiri sadar akan hal itu. Ia tidak berkonsultasi. Tidak mempertimbangkan konsekuensi. Ia hanya… memutuskan. “Kenapa?” tanya Alana lirih. Arka tidak menjawab langsung. “Karena kau hampir mati.” Itu cukup sejak detik itu, keseimbangan kuasa bergeser. Tidak drastis. Tidak terang-terangan. Tapi nyata. Alana menatap Arka lama. Untuk pertama kalinya, ia melihat retakan jelas di dinding dingin itu. Retakan kecil, tapi cukup untuk membiarkan cahaya masuk. Namun Alana tidak merasa aman. Ia merasa… waspada. Malam turun dengan berat. Alana terjaga, mendengar suara langkah Arka di luar kamar. Ia tahu pria itu belum pergi. Ia tahu keputusan hari ini bukan akhir—melainkan awal dari sesuatu yang lebih berbahaya. Karena ketika Arka Dirgantara kehilangan kendali, ia tidak menjadi lemah. Ia menjadi nekat. Di ruang kerja, Arka berdiri di depan jendela, menatap gelap. Ponselnya bergetar—laporan kondisi istrinya memburuk. Dua nyawa. Satu pilihan. Dan untuk pertama kalinya… Arka tidak yakin siapa yang sanggup ia korbankan. Di kamar, Alana memejamkan mata. Dadanya masih sakit. Tubuhnya masih rapuh. Tapi nalurinya berteriak satu hal: Jika Arka mulai memilihnya, maka harga yang harus ia bayar akan jauh lebih mahal dari darah. malam itu, tanpa satu pun dari mereka sadari, sebuah keputusan kecil telah mengubah arah takdir— dan tidak ada jalan kembali. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD