11. Retakan Dalam Kendali

726 Words
Bab 11— Retakan dalam Kendali Perubahan tidak selalu datang dengan ledakan. Kadang, ia hadir sebagai hal kecil yang nyaris tak disadari—sebuah jeda terlalu lama, pandangan yang tertahan, atau ketidaksabaran yang muncul tanpa sebab jelas. Dan di rumah besar Arka Dirgantara, perubahan itu mulai terasa di udara. Para pelayan tidak pernah membicarakannya secara terbuka. Mereka terlalu terlatih untuk tahu mana yang boleh dan tidak. Namun bisikan tetap ada—di dapur, di lorong sempit belakang, di tatapan yang saling bertukar cepat. Nama Alana tidak lagi diucapkan dengan nada kasihan. Ada kehati-hatian baru. Bahkan, pada beberapa orang, ada rasa hormat yang belum berani disebutkan. Alana merasakannya. Ia tidak perlu mendengar langsung untuk tahu. Cara pelayan mengantarkan teh dengan lebih rapi. Cara mereka menunggu instruksi darinya—sekadar memastikan suhu air, atau menanyakan apakah tirai ingin dibuka sedikit. Hal-hal kecil, tetapi konsisten. Ia tidak menolak. Ia juga tidak memerintah. Ia membiarkan semuanya berjalan natural, seolah posisi itu memang perlahan menyesuaikan dirinya sendiri. Dan Arka melihat semuanya. Pagi itu, ia menghentikan langkah ketika melihat Alana berdiri di ujung tangga utama. Gadis itu memegang pegangan tangga dengan satu tangan, turun perlahan. Rambutnya terikat sederhana. Tidak ada riasan. Tidak ada usaha untuk terlihat menarik. Namun ada ketenangan di setiap langkahnya. “Siapa yang menyuruhmu turun sendiri?” tanya Arka tiba-tiba. Alana berhenti satu anak tangga di bawahnya. “Tidak ada.” “Kau seharusnya ditemani.” “Aku tidak jatuh,” jawab Alana lembut. Nada itu lagi. Nada yang tidak defensif, tidak menantang—tetapi membuat Arka merasa tidak dibutuhkan dan justru itu yang mengusiknya. Ia menatap pergelangan tangan Alana. Terlalu kurus. Terlalu pucat. Bekas tusukan lama masih samar terlihat. “Kau tidak boleh lupa kondisi tubuhmu,” kata Arka. “Aku tidak lupa,” jawab Alana. “Aku hanya tidak ingin diperlakukan seperti kaca.” Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat rahang Arka mengeras. Sejak kapan gadis ini berani mendefinisikan batas? Hari itu, Arka lebih mudah tersulut. Ia membentak staf karena kesalahan kecil. Membatalkan dua pertemuan. Dan setiap kali pikirannya berusaha fokus pada pekerjaan, bayangan Alana menyelinap tanpa izin. Ia tidak menyukainya. Sore menjelang ketika hujan turun deras. Alana duduk di ruang baca, mendengarkan suara hujan menghantam kaca. Tubuhnya terasa sedikit lebih lemah hari ini—efek donor terakhir belum sepenuhnya hilang. Namun ia memaksakan diri tetap duduk tegak. Arka masuk tanpa suara. “Kau seharusnya beristirahat,” katanya. “Aku sudah terlalu lama berbaring,” jawab Alana. Arka mendekat. Terlalu dekat. Jarak mereka menyempit tanpa disadari. Ia bisa melihat jelas urat halus di leher Alana, napasnya yang sedikit lebih cepat, tapi matanya tetap tenang. “Kau menguji kesabaranku,” ucap Arka rendah. “Tidak,” Alana menggeleng pelan. “Aku hanya berhenti takut.” Itu dia. Kalimat yang akhirnya memicu retakan. Tangan Arka terangkat—bukan untuk memukul, bukan untuk menyentuh—tetapi berhenti di udara. Untuk sesaat, ekspresinya kehilangan kendali. Ada sesuatu yang mentah, gelap, dan jujur di sana. “Kau pikir kau mengerti posisimu sekarang?” tanya Arka pelan, berbahaya. “Aku mengerti posisiku sejak awal,” jawab Alana. “Yang berubah hanya caraku berdiri di dalamnya.” Hening menelan ruangan. Hujan di luar terdengar semakin keras. Arka mundur satu langkah. Ia membenci kenyataan bahwa ia tidak bisa mematahkan gadis ini dengan kata-kata lagi. Ia membenci bahwa ketenangan Alana membuatnya terlihat… goyah. Malam itu, Alana kembali ke kamarnya dengan langkah berat. Tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan. Ia duduk di tepi ranjang, napasnya sedikit terengah. Tangannya gemetar ketika ia membuka laci kecil di meja samping tempat tidur. Di dalamnya, tersimpan botol obat tambahan—obat yang seharusnya tidak ia konsumsi terlalu sering. Ia menatapnya lama. Jika ia meminumnya, tubuhnya akan bertahan sedikit lebih lama. Tapi risikonya besar. Di saat yang sama, di ruang kerjanya, Arka membuka laporan medis terbaru Alana. Matanya berhenti pada satu catatan kecil di bagian bawah. “Cadangan tubuh pasien semakin menipis. Risiko kolaps meningkat jika prosedur dilanjutkan dengan intensitas saat ini.” Tangannya mengepal. Ia tidak tahu mana yang lebih mengganggunya: kemungkinan kehilangan “alat”-nya, atau kenyataan bahwa pikirannya langsung membayangkan Alana terbaring tak bernyawa. Kembali ke kamar, Alana akhirnya menggenggam botol itu. Ia belum membukanya. Belum. Namun untuk pertama kalinya sejak dua tahun terakhir, ia sadar permainan ini tidak hanya melelahkan Arka. Ia juga mempertaruhkan dirinya sendir dan jika satu langkah saja meleset…seseorang akan hancur lebih dulu. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD