10. Kepatuhan Yang Menyesatkan

645 Words
Bab 10 — Kepatuhan yang Menyesatkan Perpindahan Alana ke rumah utama mengubah segalanya, meski tidak ada yang berani mengatakannya dengan lantang. Tidak ada protes. Tidak ada penolakan. Tidak ada air mata. Dan justru karena itulah, keberadaannya terasa mengganggu. Ia terlalu tenang. Di pagi pertama di kamar barunya, Alana bangun lebih awal. Ia tidak menunggu pelayan datang. Tidak memanggil. Tidak meminta apa pun. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap bayangan dirinya sendiri—pucat, kurus, tetapi matanya berbeda. Lebih jernih. Lebih sadar. Ia memilih pakaian yang sederhana. Tidak mencolok. Tidak menantang. Gaun berwarna netral, longgar, menutupi tubuhnya yang rapuh. Kepatuhan yang sempurna dan itulah senjata pertamanya. Ketika ia melangkah keluar kamar, beberapa pelayan membeku sesaat. Mereka menunduk terlalu cepat, terlalu gugup. Alana membalas dengan anggukan kecil, sopan, nyaris tak terlihat. Tidak ada sikap sombong. Tidak ada rasa takut berlebihan. Ia berjalan seperti seseorang yang memang seharusnya berada di sana. Di ruang makan, Arka sudah duduk. Meja panjang itu terasa terlalu besar untuk dua orang, tetapi kehadiran Alana justru membuat jarak itu terasa lebih sempit dari sebelumnya. “Kau bangun cepat,” ucap Arka tanpa menoleh. “Aku tidak ingin merepotkan,” jawab Alana lembut. Nada itu tepat. Tidak pasrah. Tidak menantang. Netral—dan justru itu yang membuat Arka mengangkat pandangan. Ia memperhatikan bagaimana Alana duduk tanpa diminta. Bagaimana ia menunggu sebelum menyentuh makanan. Bagaimana ia hanya mengambil sedikit, seolah tahu batas yang tidak pernah diucapkan. “Kau tampak… beradaptasi,” kata Arka. Alana tersenyum kecil. “Bukankah itu yang kau inginkan?” Jawaban itu aman. Tapi ada sesuatu di baliknya. Arka merasakannya, meski tidak bisa menunjuknya dengan jelas. Hari-hari berikutnya, Alana melakukan hal yang sama. Ia patuh—tetapi bukan patuh yang kosong. Ia mendengarkan. Mengamati. Mengingat. Ia tidak pernah menolak perintah, tetapi juga tidak pernah berusaha terlihat lemah. Jika Arka meminta sesuatu, ia melakukannya tanpa keluhan. Jika Arka mengabaikannya, ia tidak mengejar. Jika Arka hadir, ia tidak menyusut. Ia ada, stabil, konsisten, dan itu mulai mengganggu. Arka menyadari dirinya lebih sering mencari keberadaan Alana. Bukan dengan niat jelas—hanya sekilas pandang di lorong, pertanyaan singkat pada pelayan, atau berhenti sesaat ketika melewati pintu kamar tamu. Ia membenci itu. Sore itu, ia memergoki Alana di perpustakaan kecil sayap timur. Gadis itu duduk di dekat jendela, membaca buku lama. Cahaya sore jatuh lembut di wajahnya. “Kau boleh ke sini?” tanya Arka dingin. Alana menutup buku perlahan. “Aku tidak diberi larangan.” Kalimat itu bukan pembelaan. Itu fakta. Arka mendekat. “Kau seharusnya bertanya.” “Kalau aku bertanya,” jawab Alana tenang, “apakah jawabannya akan berbeda?” Arka terdiam sepersekian detik. ini bukan perlawanan. Ini umpan. Alana tidak mendorong. Ia membiarkan Arka sendiri yang melangkah. “Kau semakin pintar bicara,” kata Arka akhirnya. “Aku hanya belajar mendengarkan,” Alana tersenyum tipis. “Dua tahun cukup lama untuk itu.” Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Arka duga. Bukan karena tuduhan, tetapi karena kebenarannya. Malam itu, Arka berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap taman yang gelap. Ia memikirkan Alana—terlalu sering. Terlalu detail. Cara ia duduk. Cara ia menatap tanpa menantang. Cara ia patuh tanpa terlihat tunduk. Ia merasa sedang dimainkan dan ia tidak tahu bagaimana caranya menghentikan itu tanpa mengakui bahwa ia sudah terlibat. Di kamarnya, Alana duduk di ranjang, memijat pergelangan tangannya yang masih sering nyeri. Ia lelah. Tubuhnya masih rapuh. Tetapi pikirannya bekerja tanpa henti. Ia tahu satu hal: Arka mulai memperhatikannya bukan karena ia melawan, tetapi karena ia berhenti takut. Dan itu jauh lebih berbahaya. Ia tidak ingin Arka mencintainya. Ia tidak ingin Arka berubah baik. Ia hanya ingin satu hal: membuat pria itu cukup dekat hingga ketika kebenaran dan dendam akhirnya terungkap, Arka tidak punya ruang untuk menghindar. Alana berbaring, menatap langit-langit kamar yang terlalu tinggi. Permainan ini baru saja benar-benar dimulai, dan Arka Dirgantara masih mengira ia memegang kendali. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD