06. Retakan Di Singgasana

902 Words
Bab 6 — Retakan di Singgasana Paviliun belakang kembali tenggelam dalam sunyi yang menyesakkan. Tidak ada suara selain detak jam dinding yang lambat dan tarikan napas Alana yang semakin dangkal. Tubuhnya masih lemah setelah prosedur donor terakhir, tetapi pikirannya justru semakin tajam. Di dalam keterbatasan fisik, sesuatu di dalam dirinya mulai bangun—bukan harapan, melainkan kewaspadaan. Dua tahun membuatnya paham satu hal, penderitaan tidak pernah datang tanpa pola. Setiap jadwal donor, setiap obat yang diberikan, setiap penjaga yang berganti sif—semuanya memiliki celah. Dan celah sekecil apa pun bisa menjadi awal kehancuran. Alana duduk di tepi ranjang, memandangi bekas tusukan jarum di lengannya. Kulitnya mulai dipenuhi tanda-tanda kelelahan kronis. Ia tahu tubuhnya tidak akan sanggup bertahan lama jika ritme ini terus berlanjut. Arka mungkin tidak peduli, tetapi ia peduli pada dirinya sendiri. Jika ingin hidup, ia tidak bisa terus pasrah. Di sisi lain rumah utama, Arka Dirgantara berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya. Lampu-lampu kota berpendar di kejauhan, tetapi pikirannya tertambat pada satu tempat: paviliun belakang. Pada satu nama yang seharusnya tidak penting. Alana. Ia tidak menyukai gangguan ini. Ia terbiasa memegang kendali penuh atas segala hal—bisnis, rumah, manusia. Namun belakangan, ia mulai merasa ada sesuatu yang bergerak di luar kendalinya. Gadis itu terlalu tenang. Terlalu menerima. Tidak ada perlawanan, tidak ada tangisan, tidak ada permohonan, dan justru itu yang mengusiknya. Arka menekan tombol interkom. “Dr. Raka. Aku ingin laporan lengkap kondisi Alana. Sekarang.” Beberapa menit kemudian, dokter pribadi keluarga Dirgantara berdiri di hadapannya dengan raut hati-hati. Ia tahu betul bahwa setiap kata yang keluar bisa berakibat fatal. “Kondisinya stabil, Tuan… tapi menurun,” jawabnya jujur. “Jika donor terus dilakukan dengan frekuensi seperti ini, tubuhnya akan mengalami kegagalan organ secara perlahan.” Arka mengerutkan kening. “Berapa lama?” “Sulit dipastikan. Bisa bulan. Bisa lebih cepat.” Jawaban itu tidak memberi rasa puas. Justru menimbulkan sesuatu yang tidak ia sukai: ketegangan. “Pastikan dia tetap hidup,” perintah Arka dingin. “Aku tidak peduli bagaimana caranya.” Dokter itu mengangguk, tetapi ada keraguan di matanya. Keraguan yang tidak luput dari pengamatan Arka. Dan untuk pertama kalinya, Arka menyadari bahwa keberadaan Alana bukan hanya soal menyelamatkan istrinya. Gadis itu telah menjadi variabel berbahaya dalam sistem yang selama ini sempurna. Sementara itu, di paviliun, Alana menerima kunjungan yang tidak terduga. Seorang perawat baru—lebih muda, dengan wajah yang belum sepenuhnya terbiasa menyembunyikan empati. Perawat itu membersihkan lukanya dengan tangan sedikit gemetar. “Kak Alana… kalau sakit, bilang ya.” Kalimat sederhana itu membuat Alana terdiam. Sudah lama tidak ada yang memintanya bicara. Ia mengangguk pelan, lalu berkata lirih, “Kalau aku pingsan… jangan panik. Aku cuma butuh waktu.” Perawat itu menatapnya dengan mata membesar, seolah menyadari betapa abnormalnya situasi ini. Dan dari tatapan itu, Alana tahu: masih ada manusia di rumah ini. Tidak semuanya mesin. Setelah perawat itu pergi, Alana kembali sendiri. Namun kini pikirannya bekerja lebih cepat. Ia mulai menyusun potongan-potongan kecil: siapa yang datang, siapa yang pergi, jam berapa kamera berpindah sudut, kapan penjaga lengah. Arka memutuskan sesuatu malam itu. Ia turun sendiri ke paviliun belakang. Langkahnya bergema di lorong sempit, membawa aura d******i yang membuat udara terasa lebih berat. Alana sedang berdiri di dekat jendela ketika pintu terbuka. Tubuhnya refleks menegang. “Apa yang kau lakukan berdiri?” suara Arka dingin, memotong sunyi. “Mencari udara,” jawab Alana pelan. “Dokter bilang kau seharusnya beristirahat.” “Aku bukan barang pecah belah.” Kalimat itu keluar begitu saja—tenang, datar, tanpa nada menantang. Namun justru itu yang membuat Arka berhenti melangkah. Ia menatap Alana lebih lama dari biasanya. Wajah pucat itu tidak lagi hanya menunjukkan kelemahan. Ada sesuatu di balik matanya. Keteguhan yang tidak ia perintahkan. “Kau mulai lancang,” kata Arka. “Tidak,” balas Alana. “Aku hanya jujur.” Keheningan di antara mereka menegang. Dua kekuatan yang berlawanan saling menguji, tanpa suara. Arka mendekat. Terlalu dekat. Alana bisa mencium aroma maskulin jasnya. Ia menolak mundur, meski jantungnya berdebar keras. “Kau tahu posisimu di rumah ini,” bisik Arka rendah. “Aku tahu,” jawab Alana. “Tapi aku juga tahu… tanpa aku, semuanya akan runtuh.” Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan. Arka menegang. Untuk sepersekian detik, ekspresinya retak. Lalu ia tersenyum tipis—senyum berbahaya. “Jangan pernah lupa,” katanya pelan, “aku bisa menggantimu kapan saja.” Alana membalas tatapannya. “Kalau memang bisa… kau sudah melakukannya sejak lama.” Sunyi. Alana baru saja melangkah melewati batas. Arka berbalik tanpa berkata apa pun lagi. Namun langkahnya lebih berat dari saat datang. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergeser. Gadis itu tidak lagi sekadar alat. Ia telah menjadi ancaman potensial. Malam semakin larut. Di kamar, Alana duduk sambil memeluk lutut. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut—melainkan karena adrenalin. Ia tahu apa yang baru saja ia lakukan berbahaya. Tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa hidup. Mulai malam ini, Arka akan mengawasinya lebih dekat. Dan Alana juga akan bergerak lebih hati-hati. Permainan telah berubah. Di luar paviliun, lampu taman padam satu per satu. Kamera pengawas beralih sudut. Dan di dalam kegelapan yang tersisa, Alana menatap jendela dengan mata menyala—tidak lagi hanya sebagai korban, tetapi sebagai seseorang yang siap mengambil kembali takdirnya, meski harus menukar segalanya. Ia tidak tahu kapan, tidak tahu bagaimana. Namun satu hal pasti, langkah pertama sudah ia ambil, dan Arka Dirgantara baru saja menyadarinya. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD