Bab 9 — Kesalahan yang Disamarkan Kuasa
Keputusan Arka Dirgantara selalu lahir dari logika. Selama puluhan tahun, itu yang membuatnya bertahan, menguasai, dan menang. Tidak ada ruang bagi simpati, tidak ada celah bagi perasaan. Segala sesuatu yang hidup di rumah ini bergerak sesuai kehendaknya—termasuk manusia.
Namun pagi itu, ketika ia kembali berdiri di depan paviliun belakang, Arka tahu satu hal yang tidak ingin ia akui: keputusan yang akan ia ambil bukan lagi sepenuhnya rasional.
Ia menatap pintu tertutup itu lama. Terlalu lama.
Di dalam, Alana duduk bersandar pada dinding, selimut tipis melingkari tubuhnya. Tubuhnya masih lemah, tetapi pikirannya tidak pernah setajam ini. Ia mendengar langkah kaki yang tidak jadi menjauh. Ia tahu Arka ada di sana.
Dan ia membiarkannya. Pintu akhirnya terbuka.
“Aku tidak suka perubahan yang tidak bisa kukendalikan,” ucap Arka tanpa basa-basi.
Alana mengangkat wajah perlahan. Tidak kaget. Tidak takut. “Perubahan selalu terjadi, Tuan Arka. Bahkan pada orang yang merasa dirinya paling berkuasa.”
Kalimat itu membuat rahang Arka mengeras. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ruangan terasa lebih sempit, udara terasa lebih berat.
“Kau mulai terlalu berani.”
“Aku hanya berhenti pura-pura takut.”
Ucapan Alana kini bukan lagi percakapan antara penguasa dan korban. Ini adalah tarik-ulur dua kehendak, satu terang-terangan, satu tersembunyi.
Arka berhenti tepat di hadapan Alana. “Kau lupa siapa yang memberimu hidup.”
Alana menatapnya lurus. “Dan kau lupa siapa yang mengorbankan hidupnya agar orang lain tetap bernapas.”
Keheningan yang menyusul bukan keheningan kosong. Itu penuh dengan sesuatu yang berbahaya. Arka merasakan dadanya mengencang, bukan oleh amarah semata, tetapi oleh perasaan asing yang menuntut pelampiasan.
“Kau akan dipindahkan,” katanya tiba-tiba.
Alana tidak langsung bereaksi. “Ke mana?”
“Ke rumah utama.”
Kalimat itu jatuh seperti pisau bermata dua.
ini keputusan yang salah. Terlalu cepat. Terlalu emosional. Terlalu dekat. Alana juga tahu.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Arka membenci pertanyaan itu. Ia membenci bahwa ia tidak memiliki jawaban yang terdengar masuk akal bahkan di kepalanya sendiri. “Agar lebih mudah diawasi.”
Kebohongan yang rapi. Tapi tidak cukup rapi untuk Alana. Ia tersenyum tipis. Sangat tipis. Senyum yang tidak menyentuh mata. “Kau takut aku menghilang?”
Arka mencengkeram pergelangan tangannya sebelum sempat berpikir. Sentuhan itu kasar, refleks, penuh kuasa. “Jangan menguji batas kesabaranku.”
Alana menahan napas, bukan karena sakit, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya bergetar—bukan takut, melainkan kesadaran. Kesadaran bahwa Arka mulai kehilangan kendali.
Ia tidak menarik tangannya. Ia membiarkan sentuhan itu terjadi.
“Kalau aku menguji,” ucapnya lirih, “apa yang akan kau lakukan?”
Untuk sesaat, Arka tidak menjawab. Ia menatap wajah pucat itu dari jarak terlalu dekat. Melihat garis lelah. Melihat mata yang tidak lagi memohon.
Untuk pertama kalinya, ia sadar: ia tidak tahu jawabannya sendiri.
Ia melepaskan tangan Alana dengan kasar. “Bersiap. Kau pindah hari ini.”
Keputusan itu dieksekusi cepat. Terlalu cepat. Alana dipindahkan ke kamar tamu di sayap timur rumah utama—ruang yang lebih besar, lebih mewah, dan jauh lebih terbuka terhadap dunia yang selama ini ia hanya lihat dari jendela.
Para pelayan menunduk, tetapi mata mereka penuh tanya. Mereka melihat Alana berjalan di lorong utama, tubuh lemah namun punggung tegak. Keberadaannya terasa salah, seperti noda di karpet mahal—atau seperti retakan kecil di tembok kokoh.
Arka memperhatikan dari kejauhan. ia merasakan sesuatu yang tidak ia sukai: rasa ingin tahu bercampur cemburu yang tidak beralasan.
Malam tiba. Di kamar barunya, Alana duduk di tepi ranjang besar, menyentuh seprai halus dengan ujung jarinya. Kemewahan ini bukan hadiah. Ini jebakan. Tapi ia tahu—jebakan juga bisa menjadi senjata, jika kau tahu cara berjalan di dalamnya.
Ia berdiri, melangkah ke jendela tanpa jeruji. Udara malam menyentuh wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, tidak ada penghalang. Ia tersenyum kecil.
Di lantai bawah, Arka berdiri di ruang makan kosong. Ia seharusnya merasa puas. Ia seharusnya merasa kembali berkuasa. Tapi yang ia rasakan justru kegelisahan yang merayap.
Ia memindahkan Alana karena ingin mengontrolnya lebih dekat. Namun yang tidak ia sadaridengan membawa Alana ke jantung rumahnya, ia juga membawa ancaman ke wilayah yang paling ia jaga.
Di kamar, Alana memejamkan mata, merasakan detak jantungnya sendiri. Ia tahu permainan ini baru saja naik level.
Arka membuat langkah pertama yang salah.
an ia berniat memastikan pria itu membayar mahal sedikit demi sedikit.