Bab 8 — Retakan di Dalam Diri
Rumah Dirgantara selalu berdiri dalam ketertiban yang nyaris kejam. Setiap langkah diatur, setiap suara terkendali, setiap manusia tahu batasnya. Arka membangun rumah itu seperti ia membangun hidupnya: rapi, dingin, dan tidak memberi ruang bagi kesalahan.
Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, ia merasa rumahnya terlalu sempit.
Ia berdiri di depan jendela ruang kerja, memandang halaman luas yang seharusnya menenangkan. Tangannya mengepal tanpa sadar. Tidurnya semalam gelisah, dipenuhi potongan-potongan bayangan yang tidak ia pahami sepenuhnya. Wajah pucat. Mata yang menatap lurus tanpa memohon. Tubuh lemah yang menolak runtuh sepenuhnya.
Alana.
Nama itu muncul tanpa ia undang.
Arka membenci kenyataan bahwa pikirannya kembali ke paviliun belakang. Ia membenci bahwa ketenangan yang selama ini ia banggakan kini terusik oleh satu keberadaan yang seharusnya tidak berarti apa-apa.
Ia menekan tombol interkom. “Laporan kondisi hari ini, subjek stabil, Tuan,” jawab suara di seberang. “Namun tekanan darahnya menurun sejak prosedur terakhir.”
Subjek, kata itu seharusnya cukup. Seharusnya membuat jarak. Tapi justru terasa asing di telinganya sendiri.
“Kurangi frekuensi donor,” perintah Arka tiba-tiba. Ada jeda singkat di seberang. “Dokter menyarankan—”
“Aku yang menentukan,” potong Arka dingin.
Ia memutus sambungan, dadanya terasa berat. Ia tidak tahu kapan keputusan itu berubah dari perhitungan medis menjadi dorongan emosional. Dan kesadaran itu membuatnya muak pada dirinya sendiri.
Di paviliun, Alana merasakan perubahan itu tanpa perlu diberi tahu. Tidak ada prosedur pagi itu. Tidak ada jarum. Tidak ada darah. Hanya keheningan yang menggantung, lebih mencekam daripada rasa sakit fisik.
Ia duduk di ranjang, memeluk lutut. Tubuhnya lemah, tetapi pikirannya waspada. Setiap perubahan berarti sesuatu. Dan perubahan mendadak seperti ini selalu membawa harga.
Langkah kaki terdengar, bukan penjaga. Pintu terbuka tanpa ketukan. Arka masuk.
Alana menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut semata, tetapi karena ada sesuatu dalam cara pria itu berdiri—terlalu dekat, terlalu diam, terlalu intens.
“Kau tidak dipanggil untuk prosedur hari ini,” ucap Arka.
“Aku tahu,” jawab Alana pelan.
Tatapan Arka turun ke wajahnya, lalu ke tangan kurus yang menggenggam kain seprai. Ada sesuatu yang mengganggu di dadanya, seperti tekanan yang tidak bisa ia jelaskan.
“Kau kelihatan… berbeda,” katanya.
Alana mengangkat wajah. “Karena aku tidak sekarat hari ini?”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Arka perkirakan. Ia mengeras, rahangnya mengatup. “Jaga bicaramu.”
“Aku hanya jujur.”
Keheningan jatuh di antara mereka, berat dan berbahaya. Untuk sesaat, Arka merasa seperti berdiri di hadapan sesuatu yang tidak ia pahami. Alana tidak lagi menunduk seperti dulu. Tidak memohon. Tidak gemetar. Ada ketenangan aneh yang justru membuatnya gelisah.
“Kau mulai merasa aman?” tanyanya rendah.
Alana menatapnya lurus. “Aku mulai merasa tidak peduli.” Jawaban itu seperti tamparan.
Entah bagaimana ketidakpedulian Alana lebih mengganggunya daripada kebencian. Kebencian bisa dikendalikan. Ketidakpedulian tidak.
Arka melangkah lebih dekat, terlalu dekat. “Jangan salah paham. Hidupmu masih di tanganku.”
“Aku tahu,” jawab Alana. “Tapi rasa takutku tidak lagi sepenuhnya milikmu.”
Ada sesuatu di mata Arka yang berubah. Bukan kemarahan. Bukan kebencian. Melainkan sesuatu yang lebih berbahaya—posesif yang tidak ia akui.
Ia membalikkan badan dengan kasar. “Kau tidak boleh keluar paviliun. Tidak boleh bicara dengan siapa pun selain penjaga dan dokter. Apa pun yang kau pikirkan, simpan untuk dirimu sendiri.”
Alana tidak menjawab. Tetapi di dalam dadanya, sesuatu mengeras.
Malam turun perlahan. Arka kembali ke ruang kerjanya, mencoba menenggelamkan diri dalam angka dan dokumen. Namun fokusnya buyar. Setiap laporan berakhir pada kesimpulan yang sama: Alana tidak lagi bisa diperlakukan seperti sebelumnya.
Ia menyalakan kamera pengawas. Layar memperlihatkan Alana duduk di lantai paviliun, bersandar pada ranjang. Rambutnya terurai, wajahnya pucat, tetapi matanya… matanya tajam. Tidak kosong. Tidak kalah.
Arka menatap layar terlalu lama. Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya menegang: ia tidak ingin orang lain melihat Alana seperti ini. Tidak ingin ada mata lain yang membaca ketenangan itu, kekuatan diam itu.
Kesadaran itu membuatnya marah. Ia menutup layar dengan kasar, berdiri, berjalan mondar-mandir seperti singa terkurung. Ini salah. Semua ini salah. Ia tidak seharusnya merasa seperti ini terhadap seseorang yang keberadaannya hanya alat.
Namun semakin ia menyangkal, semakin kuat perasaan itu menekan.
Di paviliun, Alana berbaring tanpa tidur. Ia tahu Arka mengawasinya. Ia tahu pria itu gelisah. Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang nyaris seperti kepuasan pahit.
Ia tidak perlu melawan dengan tenaga. Tidak perlu teriak. Cukup bertahan. Cukup berubah dan perubahan itu mulai memakan Arka dari dalam.
Malam semakin larut. Arka berdiri di depan pintu paviliun, tangannya terangkat seolah hendak membuka, lalu berhenti. Ada perang di dalam dirinya—antara kendali dan keinginan, antara kuasa dan ketakutan kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia akui sebagai miliknya.
Ia mundur selangkah. Namun di kepalanya, satu pikiran terus berulang, semakin jelas dan semakin berbahaya—
Jika Alana lepas dari genggamannya,
ia tidak tahu siapa dirinya tanpa itu dan di saat yang sama, Alana membuka mata, menatap langit-langit gelap, menyadari satu hal yang mengubah segalanya:
Arka Dirgantara mulai retak dan retakan itu… bisa ia gunakan.
---