07.TAMU YANG TIDAK SEHARUSNYA DATANG

802 Words
Bab 7 — Tamu yang Tidak Seharusnya Datang Pagi di rumah Dirgantara datang tanpa kehangatan. Cahaya matahari hanya sekadar menyelinap melalui celah-celah kaca besar, memantul dingin di lantai marmer. Tidak ada yang berubah secara kasatmata, tetapi sesuatu telah bergeser di dalam dinding rumah itu—seperti retakan halus yang belum terlihat, namun siap merobohkan segalanya. Alana merasakannya sejak bangun tidur. Penjaga berganti lebih cepat. Kamera pengawas lebih sering bergerak. Bahkan udara di paviliun terasa lebih berat, seolah setiap tarikan napas diawasi. Arka menepati kata-katanya—ia mengunci pergerakan Alana dengan cara yang tidak kentara, namun sangat terasa. Ia tidak lagi dibiarkan sendirian terlalu lama. Namun justru di dalam tekanan itu, datang sesuatu yang sama sekali tidak ia duga. Sebuah mobil hitam memasuki halaman utama menjelang siang. Bukan mobil keluarga. Bukan pula kendaraan medis. Platnya asing, dan gaya berhentinya terlalu santai untuk rumah dengan tingkat keamanan setinggi ini. Arka berdiri di ruang tamu ketika pintu dibuka. Seorang pria masuk dengan langkah percaya diri, mengenakan setelan abu-abu muda, senyum profesional terpasang rapi di wajahnya. Tatapannya tajam, penuh perhitungan—tatapan orang yang terbiasa membaca rahasia orang lain. “Sudah lama, Arka,” ucap pria itu ringan. “Kau makin sulit ditemui.” Arka tidak tersenyum. “Aku tidak mengundangmu, Adrian.” Adrian Wijaya. Nama itu bukan nama sembarangan. Seorang konsultan hukum korporat yang dikenal licin, cerdas, dan berbahaya. Pria yang bergerak di wilayah abu-abu—antara hukum dan manipulasi. “Aku datang bukan sebagai tamu,” jawab Adrian sambil melirik sekeliling. “Tapi sebagai orang yang mencium bau masalah.” Ketegangan langsung mengisi ruangan. Di paviliun belakang, Alana tidak tahu apa yang terjadi di rumah utama. Tetapi tubuhnya bereaksi lebih dulu. Jantungnya berdebar tanpa sebab jelas, seolah instingnya berteriak memperingatkan sesuatu yang buruk. Ia sedang duduk di ranjang ketika suara langkah asing terdengar mendekat. Bukan langkah penjaga. Terlalu ringan. Terlalu santai. Pintu paviliun terbuka. Seorang pria yang belum pernah ia lihat berdiri di ambang pintu, ditemani satu penjaga yang tampak tidak nyaman. Tatapan pria itu langsung tertuju padanya—bukan tatapan merendahkan seperti Arka, melainkan tatapan menilai. “Jadi ini dia,” gumam pria itu pelan. “Gadis yang disembunyikan.” Alana menegang. “Siapa Anda?” Pria itu tersenyum tipis. “Seseorang yang seharusnya tidak melihatmu… tapi terlanjur penasaran.” Namanya Adrian, dan sejak detik itu, hidup Alana kembali berubah arah. Arka datang terlambat. Ketika ia melangkah masuk ke paviliun, Adrian sudah berdiri terlalu dekat dengan Alana. Jarak yang membuat rahang Arka mengeras. “Keluar,” perintah Arka dingin. Adrian mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Tenang. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” “Tidak ada yang perlu kau pastikan.” “Oh, justru sebaliknya.” Adrian menoleh pada Alana sekali lagi. “Kau jauh lebih hidup dari yang kubayangkan.” Kalimat itu membuat Arka tersentak. Ia menatap Alana, lalu kembali ke Adrian. Ada kemarahan yang berpendar di matanya—bukan karena rahasia terbongkar, melainkan karena seseorang berani menyentuh wilayah yang ia klaim miliknya. “Jangan ikut campur,” ancam Arka. Adrian tertawa kecil. “Arka, Arka… kau selalu berpikir semua hal bisa dikunci. Tapi rahasia sebesar ini?” Ia mendekatkan wajahnya. “Cepat atau lambat, akan bocor.” Alana tidak sepenuhnya mengerti pembicaraan mereka. Tetapi ia menangkap satu hal penting: keberadaannya adalah rahasia. Dan rahasia itu berharga. Setelah Adrian pergi dari paviliun, Arka memerintahkan semua penjaga keluar. Ia berdiri menatap Alana lama, terlalu lama. “Kau tidak bicara apa pun padanya?” tanyanya. “Tidak,” jawab Alana jujur. “Aku tidak tahu harus bicara apa.” Tatapan Arka menusuk, mencoba mencari kebohongan. Namun ia hanya menemukan kelelahan dan kewaspadaan. Dan itu membuatnya semakin tidak nyaman. “Kau harus ingat,” katanya rendah, “semakin banyak orang tahu tentangmu, semakin pendek umurmu.” Alana menelan ludah. “Atau semakin sulit kau menyingkirkanku.” Keheningan kembali jatuh, lebih berat dari sebelumnya. Adrian bukan sekadar tamu. Ia adalah pemantik. Kehadirannya mengguncang keseimbangan yang rapuh. Ia melihat Alana bukan sebagai alat, melainkan sebagai kartu yang bisa dimainkan dan ia mulai tertarik. Malam itu, Adrian duduk di mobilnya sambil menatap rumah Dirgantara dari kejauhan. Senyum tipis terbit di bibirnya. “Kau menyembunyikan sesuatu yang mahal, Arka,” gumamnya. “Dan aku baru saja menemukannya.” Di paviliun, Alana berbaring dengan mata terbuka. Untuk pertama kalinya, ada seseorang dari luar yang melihatnya. Bukan sebagai benda. Bukan sebagai darah berjalan. Sebagai manusia yang bernilai. Ia tidak tahu apakah itu pertolongan atau bencana. Sementara di rumah utama, Arka berdiri sendirian di ruang gelap. Kepalanya dipenuhi satu kesadaran yang tidak bisa ia bantah lagi— Alana tidak lagi aman. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah ia ingin melindunginya… atau menghancurkannya sebelum orang lain merebutnya. Di kejauhan, ponsel Adrian bergetar. Sebuah pesan masuk, singkat, dingin, penuh makna. “Cari tahu semua tentang gadis itu.” Permainan pun benar-benar dimulai....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD