Bab 5 — Bisikan Dendam
Dua tahun hidup di paviliun belakang bukan sekadar hukuman fisik. Itu adalah hukuman jiwa. Alana, gadis yang dulu penuh tawa dan harapan, kini hanya bayangan dari dirinya sendiri. Tubuhnya kurus, kulitnya pucat, dan mata yang dulu bersinar kini redup, menahan penderitaan yang tidak pernah dia minta.
Namun, meski terkurung, meski setiap detik adalah penderitaan, benih benci di dalam hatinya tumbuh. Setiap tetes darah yang keluar dari tubuhnya terasa seperti peringatan diam: suatu hari, ia tidak akan lagi menjadi korban. Suatu hari, ia akan bangkit.
Arka Dirgantara duduk di ruang kerjanya, jas hitamnya tetap rapi, wajahnya datar seperti biasanya. Tapi malam itu, sesuatu mengganggunya. Ada sesuatu dalam cara Alana menatap jendela, cara ia menelan rasa sakit tanpa keluhan, yang membuatnya… terganggu. Ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa gadis itu lebih dari sekadar alat. Ia merasa aneh, tidak nyaman dengan kenyataan bahwa seseorang yang selama ini ia anggap tidak lebih dari objek, kini membuatnya penasaran.
Arka menepis perasaan itu, menganggapnya hanyalah gangguan sementara. Ia tidak punya waktu untuk hal-hal semacam ini. Baginya, Alana hanyalah kantung darah berjalan. Hanya itu.
Di kamar, Alana menekankan tangannya ke d**a, merasakan jantungnya yang lemah. Ia tahu Arka membencinya, tapi ia juga sadar ada sesuatu yang berubah dalam tatapan pria itu. Getaran samar yang entah apa maksudnya. Ia tidak peduli. Benci dan dendam lebih kuat daripada rasa ingin dimengerti.
Siang itu, Alana dipanggil untuk prosedur donor. Jarum menusuk kulitnya dengan presisi. Setiap tetes darah yang keluar terasa seperti api yang menyalakan tekadnya. Dari luar, Arka memperhatikan melalui kamera pengawas, menyadari bahwa gadis itu selalu menahan rasa sakit dengan ketenangan yang mengganggu.
“Dia terlalu tenang,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Terlalu… patuh.”
Namun, di balik kata-kata itu, ada ketertarikan yang ia tolak sendiri. Ia mengalihkan pandangannya ke dokumen di meja, menutupi rasa yang tidak ingin ia akui. Arka selalu membenci kelemahan—termasuk kelemahan emosional. Tetapi melihat Alana menahan sakit dengan begitu tegar, sesuatu dalam dirinya terguncang. Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Alana menyelesaikan prosedur dengan langkah lemah, kembali ke kamarnya. Tubuhnya hancur, tetapi pikirannya tetap tajam. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ke luar jendela. Dunia luar yang bebas terasa begitu jauh, tetapi ia menanam satu niat di hatinya: suatu hari, ia tidak akan lagi menjadi boneka penderitaan.
Narator melihat lebih dari itu. Ia tahu, di balik ketenangan Alana, ada benih balas dendam yang perlahan tumbuh. Setiap tetes darah yang ia berikan bukan hanya untuk menyelamatkan orang lain, tetapi juga menambah kekuatan batin yang kelak akan menghancurkan orang yang telah menyiksanya. Dunia Arka, dengan segala kemewahannya, tidak akan siap menghadapi gadis ini ketika ia bangkit.
Malam itu, ketika lampu-lampu paviliun memantulkan bayangan panjang di dinding, Arka kembali menyadari sesuatu: ketertarikannya yang ia sangkal pada Alana bukanlah sekadar gangguan. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran, sesuatu yang membuatnya gelisah. Namun ia tidak akan mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri. Ia selalu menolak emosi, selalu menolak perasaan. Tetapi gadis itu… gadis itu menembus semua pertahanan itu, meski ia tidak mau mengakuinya.
Alana, di sisi lain, merasakan malam yang panjang dan sunyi. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya tetap tajam. Ia tahu hari-hari mendatang akan semakin sulit. Arka tidak hanya kejam, tetapi juga cerdas, dan ia mulai memahami bahwa gadis ini memiliki sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami: kekuatan yang tersembunyi.
Narator menekankan suasana ini: paviliun besar itu bukan hanya rumah mewah, tetapi juga penjara emosional. Di setiap sudut, di setiap lorong, ada ketegangan yang menekan. Alana adalah korban, tetapi korban yang lambat laun belajar membaca gerak, membaca niat, membaca celah. Dan Arka, meski ia menganggap dirinya penguasa, mulai menyadari bahwa ia telah membiarkan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan berkembang di bawah penglihatannya.
Hari demi hari, interaksi mereka semakin kompleks. Arka tetap kejam, tetap dingin, tetapi ada sedikit getaran yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia mulai menilai, menilai gadis yang selama ini dianggapnya tak berguna. Di matanya, ada campuran antara kekaguman, rasa bersalah, dan ketidaknyamanan yang ia sendiri tidak mengerti.
Alana mulai menyadari perubahan itu, meski ia tidak mau mengakui perasaan yang samar muncul di dadanya. Ia tetap benci, tetap ingin membalas. Tetapi ia juga belajar bahwa kelemahan tidak selalu terlihat, dan kekuatan tidak selalu keras. Kadang, yang terselubung lebih mematikan daripada yang nyata.
Malam itu, narator melihat gambaran keseluruhan: dua jiwa yang saling berhadapan, satu korban yang menanam benih balas dendam, satu penguasa yang perlahan tersadarkan oleh kehadiran alatnya sendiri. Sebuah pertaruhan emosional dimulai—tanpa keduanya sepenuhnya menyadarinya.
Alana menutup mata, menekan tangan ke d**a, merasakan napasnya yang lemah. Tetapi di dalam hati, ada tekad yang terbakar. Suatu hari, ia tidak akan lagi menjadi boneka, tidak akan lagi menjadi korban. Dan Arka Dirgantara, pria yang menganggapnya hanyalah kantung darah berjalan, tidak akan siap menghadapi Alana yang bangkit.
Di luar, paviliun tetap sunyi. Tetapi di dalam, ketegangan semakin membara. Dua jiwa yang berbeda—satu lemah tapi mematikan, satu kuat tapi mulai terguncang—bertemu dalam permainan psikologis yang belum berakhir.
---