“Mommy itu nggak ngasih aku kuliah jauh. S1 aku saja cuma di Indonesia padahal aku maunya setidaknya di luar lah, nggak usah jauh misalnya di Australia atau di Singapura tapi Mommy nggak ngasih. Saat itu dia belum percaya melepas anak yang baru lewat masa puber jauh dari orang tua.”
“Australia kan jauh, nggak bisa secepat kita ke Singapura.”
“Iya. Mungkin ya namanya anak pertama kan waktu itu adik-adik juga masih terlalu kecil-kecil. Jadi mommy belum siap berpisah,”
“Kalau di Belanda itu kebetulan ada pamanku, sebenarnya bukan Paman dekat juga Paman sepupu daddy tapi sangat jauh hubungannya.”
“Setidaknya orang tuaku, terutama mommy bisa tahu lah kabar aku bagaimana, kelakuan aku bagaimana di sana,” jelas Agra.
“Wah kalau dokter Ningrum sudah mengantisipasi seperti itu pasti ada kesalahan yang pernah dibuat, pasti anaknya nakal saat sebelum lulus SMA,” Lesha tanpa sadar mengatakan kalau Agra tak dipercaya kuliah jauh dari orang tua karena nakal saat remaja.
“Mommy kan sudah bilang kamu nggak boleh sebut dokter Ningrum kalau di luar. Sama aku juga dari tadi kamu bilang Pak dokter, janganlah, panggil abang saja kayak adik-adik aku panggil aku ABANG, kalau ke-dua adikku panggil aku kakak,” pinta Agra.
“Aku sejak kecil nggak bandel, aku aktif, sangat hiperaktif mungkin. Tapi kalau untuk nakal dalam hal yang merugikan orang tua enggak. Aku enggak pernah berantem kalau nggak diduluin. Kedua orang tuaku tahu aku berantem kalau belain orang. Tapi kalau untuk urusan pribadi aku, misalnya aku dirugikan, aku lebih baik mundur.”
“Aku tunggu saat yang tepat sampai dia terjatuh, aku nggak menjatuhkan dengan cara berantem tapi aku menjatuhkan dengan cara lain.”
“Dan kalau kenakalan remaja misalnya minum, mer0kok, atau nark0ba apalagi bermain perempuan itu sangat jauh dari aku.”
“Aku ingat aku punya dua adik, walau saat itu mereka masih kecil-kecil tapi contoh yang aku berikan harus yang terbaik. Aku tidak mau merekam bahwa aku contoh yang tidak baik. Bahwa aku kakak yang tidak bertanggung jawab, bahwa aku kakak yang tukang main perempuan dan segala macamnya.”
“Aku selalu punya pagar. Aku tak mau adik-adikku punya contoh buruk dari kakaknya, karena kedua orang tuaku selalu memberi gambaran seperti itu. Mereka tidak mau menjadi contoh buruk buat kami anak-anaknya.”
“Senang ya punya banyak saudara. Aku sebenarnya juga banyak saudara. Dua kakakku meninggal. Yang pertama keguguran saat bubu hamil 4 bulan dan yang kedua meninggal saat dilahirkan karena dia prematur ternyata tidak kuat paru-parunya belum siap,” tanpa sadar Lesha sudah menggunakan frasa AKU dalam bincang mereka selanjutnya.
“Aku anak ketiga, sehabis itu bubu didoktrin oleh dokter tidak boleh melahirkan lagi karena sudah cukup umur dan kemungkinan juga tidak akan bertahan.”
“Tapi sebagai anak tunggal aku tidak dimanja. Ayah malah mendidikku sangat keras dalam hal disiplin, aku harus bertanggung jawab dalam hal apa pun sejak dini.”
“Ayah benar-benar menempa aku dengan sangat hebat, sebagai anak perempuan kelas 4 SD kerapihan kamarku sudah menjadi kewajibanku. Bibik hanya membersihkan satu minggu sekali membantu mengepel, tapi sehari-hari itu sudah tugas aku, dan ayah mengontrol itu dengan baik.”
“Begitu pun ke dapur bubu menyarankan aku mulai mengenal semua masakan sejak kelas 3 SD, aku mulai diajar masak sayur bening yang bumbunya sederhana bahannya pun sederhana. Terus sampai aku SMP semua masakan ribet sudah aku kuasai. Ya masakan ribet sekelas rumah tanggalah maksudnya. Setidaknya aku lulus SMP sudah bisa masak entah itu rendang, semur, segala macam urap dan segala macamnya lah. Pokoknya semua masakan dapur rumahan aku bisa.”
“Bahkan lebaran yang pasti tidak pernah ada pembantu di rumah karena mereka mudik aku dan bubu santai saja. Bagaimana tidak santai kami bisa mengerjakan masakan untuk orang yang datang sekitar 50-an kalau idul Fitri hari kedua, karena Ayah adalah anak pertama.”
“Kerabat, adik, sepupu, keponakan semua datang saat itu. Aku sama bubu enggak keberatan. Paling kami hanya panggil tenaga infaller dari sekitaran rumah untuk bantu-bantu cuci piring dan segala macamnya,”
“Biasanya sesudah acara halal bihalal selesai, jadi hari ketiga mereka baru datang beresin semua peralatan dapur juga rumah, itu saja tapi kalau masak aku dan bubu untuk 50 orang sudah biasa,”
“Wah hebat ya pola asuh kedua orang tuamu,” gantian Agra yang kagum pada pola asuh Gara dan Kemala.
“Mereka tak ingin aku gagal, gimana rasanya punya anak tunggal yang akhirnya gagal dan ternyata harapan mereka gagal di pernikahanku. Aku sungguh nggak tahu bisa gagal, padahal Ayah sudah menscreening Igra sedemikian rupa. Dari mulai keluarganya track record kekasihnya semuanya discreening oleh ayah sejak dia mendekatku.”
“Banyak orang bilang ketika masa mudanya tidak bandel lalu di pernikahan dia ingin cari sensasi yang lain. Tapi ada juga yang lain bilang kalau sudah puas di masa muda maka di rumah tangga dia akan setia.” Lesha terdiam sejak selesai mengatakan hal itu.
“Entahlah aku juga belum tahu, makanya aku suka takut sama pandangan orang yang mengatakan opini pertama yaitu kalau mudanya tidak bandel nanti di pernikahan akan bandel, karena aku memang tidak suka pacaran sama sekali. Sampai sekarang aku belum tergerak untuk punya kekasih walau umur aku sudah seperti ini. Ta pi aku merasa belum sreg saja.”
“Aku selalu memandang gadis yang mendekatiku itu dari sudut pandang orang lain. Apa maksud dia mendekatiku?”
“Cari kemapanan hidup dengan menikah denganku?”
“Cari ketampananku?”
“Cari harta?”
“Atau memang dia tulus cinta sama aku?”
“Dan sampai sekarang aku belum dapat orang yang tulus cinta sama aku. Yang melihat aku apa adanya. Mereka melihat wajahku, kantongku, atau nama besarku,” Agra memberi fakta mengapa dia belum menikah padahal usia bukan muda lagi.
Agra sadar, dia yang harus mengejar perempuan yang akan dia nikahi, bukan dia dikejar, seba peremuan yang mengejar belum tentu tulus melihat dia apa adanya. Bukan ada apanya.
“Eh kamu panggilnya unik ya bukan ibu tapi bubu ya.”
“Iya aku dari kecil panggil bubu. Terbiasa itu. Mungkin dulu panggilannya ibu dan ayah yang mereka pilih, tapi aku menyebutnya bubu bahkan waktu kecil aku memanggilnya Ay-ay, tapi sejak SD nggak enaklah aku panggil Ay-ay, jadi aku mulai panggil dia Ayah,” jelas Lesha.
“Nah ini makanan datang, yok kita makan dulu,” ajak Agra, rupanya dia pesan nasi Padang dengan porsi nasi separo namun lauk double yaitu rendang dan ayam panggang tapi ditambah perkedel kentang
“Eh nasiku masih kebanyakan, sebelum aku makan, mau ditampung atau enggak, tapi tak apa, aku pisah di piring bersih milikku saja,” Lesha berjalan mengambil dua piring bersih, satu untuk nasi yang belum di sentuh dan satu piring lainnya untuk lauk tambahan.
“Biasanya sih aku satu porsi juga habis, tapi ini memang pesan separo, ceritanya jaim depan kamu,” balas Agra membuat Lesha terbahak, dia merasa nyaman saja, tak ada beban bicara dengan dokter jomlo di depannya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Buat apa dilap?” Lesha bingung mengapa piring bekas nasi bersih di lap oleh Agra
“Ini aku kupasin jeruk santhang kamu tinggal makan saja.”
“Aku juga suka banget jeruk santhang, size-nya kecil banget, pas satu suapan, kalau kata temanku yang Jawa sak emplokan,” jelas Echa.
“Sudah Pak Dokter enggak usah dikupasin, aku kupas sendiri saja,” cegah Echa tak enak hati dikupasi jeruk sehabis mereka selesai makan siang yang penuh percakapan hangat yang ringan.
“Tenang, aku di rumah suka banget ngupasin adik-adikku jeruk ini, mereka tinggal makan.”
“Ya saya kan bukan adiknya pak dokter, sudah biar saya kupas sendiri.”
“Kamu masih saja bilang SAYA dan PAK DOKTER, mau dihukum?”
“Ha ha ha, pengacara malah di hukum, ajiiiib nih,” tanpa sadar Echa kembali ngakak. Dia benar-benar tak ada beban. Seperti ngobrol dengan kawan lama saja. Padahal sejak pacaran dengan Igra dulu, dia langsung membentengi dirinya akrab dengan sosok lawan jenis muda agar Igra tak salah duga.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈