“Ada yang ingin kau bicarakan denganku?” Pria berwajah penuh bekas luka pada bagian sebelah kiri itu pun menegakkan tubuhnya untuk mengambil map yang dilemparkan Ruis ke atas meja. Namun, belum sampai tangannya terulur Ruis sudah terlebih dulu meraihnya lagi dengan cepat dan tidak terduga. “Kau mau bermain-main denganku? Sebaiknya jangan, kau akan menyesal!” Nada peringatan kini meluncur dari bibir gelap pria itu dengan tatapan tajam. Ia merasa Ruis mempermainkan dirinya dan ia merasa tidak sabar untuk menyudahi pertemuan ini dengan memberikan Ruis pelajaran. “Kau yang telah bermain-main denganku!” tegas Ruis tak kalah garang. “Apa maksudmu!” teriak pria itu meradang. Namun, baru saja ia hendak bangkit dari kursi, tiga pengawal Ruis datang dengan membawa satu pria yang dikenalnya de

