11. Usaha Alvin

1670 Words
“Ma, aku titip anak-anak untuk sementara ya,” kata Alvin pada Juliet, ibunya. Juliet tentu saja senang bisa bertemu dengan cucu-cucunya. Alvin sengaja menitipkan anak-anak pada Juliet siang itu hingga keesokan harinya. Mumpung ini akhir pekan dan Alvin sudah merencanakan sesuatu untuk Emma. Ya, seperti yang kusarankan. Membangun suasana yang nyaman untuk mengobrol berdua dengan Emma. Alvin berangkat menuju mesin ATM, melihat ada berapa banyak uang yang ia miliki. Namun ia hanya bisa mengelus d**a, karena angka yang tertera di mesin ATM hanyalah beberapa ratus ribu. Ya, itu adalah uang penghasilannya selama ini. Uang yang ia tabung sedikit demi sedikit dari hasil kerjanya. Alvin memang mengakui situasi yang ia hadapi sulit. Banyak kompetitor yang membanting harga jasa mereka dan tidak memperhatikan kualitas. Alvin kalah harga. Tak ingin mengorbankan kualitas, Alvin memasang tarif jasa foto yang lumayan tinggi di kelasnya. Namun rupanya selera pasar berbeda dengan dugaan Alvin. Para klien lebih menyukai harga yang murah dibanding kualitas foto yang bagus. Melihat angka di dalam layar ATM saja membuat hati Alvin miris. Alvin tidak pernah senang dalam situasi ini, tapi usaha apapun yang ia lakukan pada bisnisnya rasanya percuma. Tidak berhasil. Tapi Alvin bukan tipe orang yang mudah putus asa. Ia masih mencoba berbagai cara lain untuk membesarkan bisnisnya. Bekerja dengan orang lain? Alvin tidak suka diperintah. Terbiasa sejak kecil selalu diberikan apa yang diinginkan membuat Alvin seperti itu. Katakanlah ia manja, mungkin. Namun untuk urusan membangun bisnis, Alvin memiliki pandangan yang berbeda. Dia ingin berdiri di kaki sendiri, tanpa bantuan Juliet dan waktu itu Emma mendukungnya penuh. Entah karena Emma tidak sabar menunggu kesuksesan Alvin atau mungkin karena Emma sering ditekan banyak pihak hingga stress, Emma tiba-tiba saja berubah menjadi sangat penuntut. Itu sebabnya mereka tidak pernah bisa berbicara dengan santai dan enak. Ucapanku siang tadi rupanya menginspirasi Alvin. Dengan uang yang terbatas itu, ia mengambil separuhnya lalu memutar otak. Memikirkan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membangun komunikasi dengan Emma lagi. Berangkatlah Alvin menuju ke sebuah supermarket. Ia membeli beberapa bahan makanan. Saat ia lewat di deretan rak yang menjual keperluan piknik, Alvin tiba-tiba saja terlintas sebuah ide unik yang akan menjadi berkesan bagi Emma. Tanpa menunggu lama, Alvin menyambar sebuah tenda, kantong tidur, alat barbecue dan perlengkapan membuat api unggun. Namun saat di kasir, ia sadar uang yang ia ambil tidak cukup untuk membayar semuanya itu. Bahkan ditambah dengan uangnya di mesin ATM pun masih kurang. Ingin mengembalikan rasanya sayang, namun apa boleh buat ia tidak mampu membayar. Ia meletakkan semua peralatan tenda dan teman-teman pikniknya itu di kasir. Membawa pulang hanya bahan makanan dan alat memanggang yang lebih murah. Meskipun sudah banyak barang yang dikurangi, masih saja saldo tabungan Alvin tidak cukup untuk membayar. Alhasil, dengan berat hati ia akan meminjam uang Emma dengan menggunakan kartu kredit Emma yang diberikan pada Alvin. Toh, nanti Alvin akan mengganti dana yang dipinjam, hanya... Alvin butuh waktu untuk mengumpulkannya. Sekarang semuanya sudah siap. Alvin pulang dan mempersiapkan segalanya. Mulai dari memasak, mengatur halaman belakang rumah menjadi bernuansa piknik. Tak ketinggalan lukisan raksasa itu, Alvin tempatkan di tembok belakang rumah. Semuanya sudah siap, tapi Alvin melupakan satu hal. Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah hadiah untuk Emma di kantor. Alvin berharap malam ini akan menjadi akhir dari perang dingin mereka. *** Di kantor, Emma yang sedang super sibuk tiba-tiba saja kedatangan seorang tamu. Seorang pria yang berdiri sambil membawa sebuah rangkaian bunga lily putih. Bunga favoritnya. Emma menerima rangkaian bunga itu dan sudah bisa menebak Alvin pelakunya. Hanya suaminya yang tahu bunga kesukaannya. Bukan mawar seperti kebanyakan orang. Emma mendengus sebal. Lagi, Alvin belanja hal tidak penting lagi. Untuk apa membeli bunga yang sekejap saja akan layu dan tidak berguna. Ia tidak habis pikir, berapa banyak uang lagi yang akan pria itu hamburkan untuk hal-hal tidak penting seperti ini. Di saat kening Emma berdenyut, Michael datang ke dalam ruangan Emma sambil membawa beberapa berkas untuk didiskusikan bersama. Pria itu duduk di kursi depan Emma. Saat ia baru saja bersandar, ia menangkap rangkaian bunga lily tergeletak di atas meja. Dibiarkan begitu saja, seolah tidak terlalu penting. “Bunga dari siapa?” tanya Michael penasaran. “Tidak penting. Sudah, ayo kita bahas!” Emma meninggalkan bung aitu begitu saja hingga beberapa kelopaknya jadi layu dan pupus. Sebegitu tidak pentingnyakah bunga itu bagi Emma? Padahal itu ungkapan ketulusan hati Alvin padanya. Tapi Emma tidak menganggapnya begitu. Saat sedang berdiskusi dengan Michael, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Dari Alvin yang menanyakan jam berapa Emma pulang. Emma tidak menghiraukan pesan dari suaminya. Ia masih meneruskan diskusinya dengan Michael sambil tangannya menelungkupkan ponselnya. Sekali tidak direspon, Alvin menelepon bahkan hingga berkali-kali karena tidak Emma angkat. Lambat laun Michael merasa risih dengan gangguan telepon Emma. Ia mengambil ponsel Emma dan menyerahkannya. “Angkat teleponnya. Mungkin ada sesuatu yang penting,” kata Michael memberi tanda. “Tidak. Alvin Cuma menanyakan jam berapa pulang. Nggak perlu dihiraukan. Kita lanjut saja pembahasannya.” Michael mengendikkan bahunya lalu kembali menelungkupkan layar ponsel Emma. *** Selepas jam pulang kantor, Emma turun ke depan lobby kantornya. BEEM… BEEMM… Suara klakson yang tiba-tiba itu membuat Emma berjingkat. Emma menoleh ke arah datangnya klakson sialan itu. Matanya memicing saat Alvin turun dari mobil. Suaminya terlihat berbeda. Mencukur rambut-rambut halus di area wajahnya, memotong rambutnya dan menatanya dengan sentuhan pomade. Alvin terlihat berbeda. Ada apa gerangan? Emma menggelengkan kepalanya, menyadarkan kembali dirinya yang terpesona melihat suaminya. Mungkin Emma salah. Ia hanya terkejut dengan perubahan suaminya tapi hanya sesaat. Ia berjalan cuek ke arah berlainan. Masih marah dengan Alvin. Alvin bergegas masuk ke dalam mobil dan mengejar langkah kaki Emma. Sambil melongokkan kepalanya keluar, Alvin menjalankan mobilnya pelan di sisi Emma. “Ayo pulang, Emm… Kita makan malam bersama.” “Nggak perlu. Percuma kamu baik-baikin aku, keputusanku sudah bulat,” jawab Emma ketus, seolah mengerti Alvin hendak melakukan sesuatu. Emma tidak akan berhenti. Alvin pun menutup jalan Emma dengan melintangkan mobilnya di tengah jalan. Membuat Emma berhenti. “ALVIN!!!” Emma tersentak dan langsung marah. Alvin turun dari mobil lalu menarik tangan Emma masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Emma mengerucutkan bibirnya. Enggan menatap Alvin yang hari ini terlihat seperti tersambar sesuatu. “Mau dengar musik?” Alvin memutar music player mobil yang melantunkan lagu “Di Kuta Bali” yang dinyanyikan Andre Hehanusa di tahun 90-an. Lagu kenangan antara Alvin dan Emma saat kencan pertama mereka dalam sebuah konser di Bali, persis di Kuta Bali. Alvin bersenandung sambil melirik Emma. Tapi lagi-lagi Emma tak bergeming. “Bersemi dan entah kapan kembali… Mewangi dan tetap akan mewangi… Bersama rinduku, walau kita jauh… kasih… Suatu saat di Kuta Bali,” Alvin ikut menyanyikan lirik lagu itu menghadap Emma. Berharap Emma membalas atau merespon. Tapi lagi-lagi ekspresi Emma datar. Memandang jalanan dan tidak tertarik pada Alvin. Senyuman Alvin memudar. “Kamu inget lagu ini?” Emma tidak menjawab. “Ini lagu di kencan pertama kita di Bali waktu itu. Kamu bilang kamu suka sama lagunya. Melodinya, kata-katanya romantis banget. Apalagi waktu itu persis saat matahari terbenam kita dengernya. Inget nggak, Emm?” Emma memainkan jemarinya dan hanya mengangguk tidak bersemangat. Tidak mengeluarkan sepatah katapun. Melihat respon Emma yang tidak bergeming, Alvin memilih diam. Ia makin malas dengan Emma. Ia berusah membangun komunikasi tapi nyatanya Emma tidak bergeming. Sesampainya di rumah, Alvin turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Emma. Emma turun tanpa mempedulikan Alvin. Ia berjalan masuk lebih dulu dan Emma terkejut. Pintu halaman belakang terbuka dengan halaman yang sudah disulap jadi seperti tempat piknik di tepi pantai. Apalagi lukisan besar bergambar pantai itu. Emma mendengus. Ia menoleh Alvin yang sedang tersenyum di belakangnya. “Kamu suka? Aku bahkan sudah siapkan barbecue untuk kita,” kata Alvin yakin. Tapi yang ia dapat malah tatapan malas Emma. “Jadi ini lima ratus ribu yang kamu habiskan di supermarket? Kamu memang boros, Alvin!” Bukannya mendapatkan pujian atau penghargaan, Emma kembali menyalahkan. Alvin serasa dipukul seperti samsak tiba-tiba. Darahnya naik ke ubun-ubun tapi ia masih tahan. “Untuk apa kamu belikan benda-benda yang nggak penting seperti ini sih? Ini nggak guna!” Emma sudah berjalan cepat ke halaman belakang dan menarik kain alas duduk lalu membantingnya di depan Alvin. “Uang lima ratus ribu itu bisa untuk kebutuhan makan dan air kita selama sebulan. Kamu habisin gitu aja untuk hal-hal nggak penting. Dan juga, mengapa kamu kirim bunga ke kantor? Suka bikin aku malu di depan temen-temen? Lagian itu bunga juga nggak berguna. Buat apa dibeli? Palingan besok juga sudah layu!” Bukannya menghargai usaha Alvin, Emma malah mengkritik pedas semuanya. Alvin kembali disalahkan. Lihat kan? Mereka tidak bisa lagi berkomunikasi dengan enak. Bagaimanapun cara Alvin kembali membangun kedekatan dengan Emma, sepertinya akan berakhir tragis. “ASTAGA!!! Kamu memang keterlaluan, Emm! Nggak lihat apa usahaku untuk berbaikan sama kamu? Aku nggak akan mungkin jadi seperti ini kalau nggak buat kamu! Aku cuma mau kamu rileks sejenak untuk kita bisa ngobrol enak. Eh… aku sudah siapkan semuanya, kamu malah marah-marah, nggak terima dan bilang semua yang kukerjakan itu nggak berguna.” “Nyatanya memang nggak berguna kan? Sama kaya hidupmu yang nggak berguna jadi suami!” “EMMA!!!” Alvin tidak bisa menahan emosinya lagi. “APA??? KAMU MAU TAMPAR AKU? TAMPAR! TAMPAR! Memang nggak salah kalau aku meminta cerai. Aku benci kamu!” BRAAK!!! Emma berlari masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Alvin makin emosi. Ia tidak bisa menahan lagi semua amarahnya yang berkecamuk. Ia harus melampiaskan pada sesuatu. Alvin mengambil semua barang-barang yang ia siapkan lalu diserakkan begitu saja di tanah. “ARRRGGGHHH!!!” PRANG… PRANG… PRANG… Hanya bunyi peralatan yang jatuh yang terdengar di telinga Emma yang menangis. Sejujurnya, ia terharu dengan semua yang Alvin lakukan hari ini. Memberikannya bunga favoritnya, memasang lagu kesayangannya, menyiapkan piknik impiannya saat pertama menikah dulu. Tapi ia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Lidahnya berkata lain walau hatinya tidak demikian. Kini Emma menyesal. Tidak, sangat menyesal lebih tepatnya! Seharusnya ia mengatakan yang sejujurnya pada Alvin. Tapi kini terlambat. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Menyesal ia sudah membuat Alvin malah makin marah seperti sekarang. A/N: Kapan ini berakhir? Sabar… Bikin panas dulu, ademnya kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD